Share

Bab 8

Author: Mettiza
Selama dirawat di rumah sakit dua hari, Vino seolah kembali seperti saat mereka baru mulai berpacaran dulu. Dia benar-benar perhatian terhadap Dilla. Namun, masa indah itu tidak berlangsung lama, karena perhatian itu juga berakhir pada hari dia keluar dari rumah sakit.

Awalnya Vino mengatakan ada urusan perusahaan dan meminta sopir mengantar Dilla pulang. Tak lama kemudian, Dilla menerima pesan provokatif dari Serena.

[ Maaf ya, aku dan Vino akan segera menikah. Hari ini dia harus menemaniku pulang ke rumah lama untuk makan malam, jadi sepertinya dia nggak sempat jemput kamu keluar dari rumah sakit. ]

Dilla tidak memedulikan pesan itu. Dia hanya pulang ke rumah dengan tenang, lalu mulai membereskan barang-barangnya.

Di hari keberangkatannya, Dilla bangun sangat pagi.

Tujuh jam sebelum penerbangan, dia memindahkan koper-kopernya satu per satu ke luar rumah. Namun tepat saat itu, dia bertemu dengan Vino yang baru pulang.

Melihat beberapa koper menumpuk di depan pintu vila, ekspresi Vino langsung berubah panik. Di dalam hatinya tiba-tiba muncul rasa tidak tenang.

"Apa yang terjadi?"

"Bukannya aku sudah bilang mau pergi jalan-jalan ke Kota Edo? Tiket pesawatnya juga kamu yang belikan untukku. Kamu lupa?" Ekspresi Dilla sangat tenang, seolah dia benar-benar hanya sedang bersiap pergi berlibur.

Namun, penjelasannya tidak membuat Vino percaya.

"Bukannya cuma pergi satu dua hari? Perlu bawa barang sebanyak ini?"

Dilla tersenyum tipis. "Namanya juga wanita. Bawa beberapa baju lebih biar bisa foto-foto."

Padahal sebelumnya Dilla tidak terlalu suka untuk berfoto. Saat mereka pergi liburan bersama pun, Dilla tidak pernah membawa barang sebanyak ini. Rasa gelisah itu menyebar dalam hati Vino, membuatnya hampir ingin langsung membuka koper-koper Dilla di tempat untuk memeriksa apakah ucapannya memang benar.

Vino baru saja hendak bergerak ketika dering ponsel yang mendesak memotongnya. Telepon itu dari Serena.

Setelah telepon diangkat, entah apa yang dikatakan dari seberang sana, Vino terdiam sejenak. Pada akhirnya, dia tetap melangkah keluar lebih dulu. Sebelum pergi, dia tidak lupa mengingatkan Dilla sekali lagi.

"Dilla, jangan main terlalu lama. Nanti kirim saja jadwal penerbangan pulangmu, aku akan menjemputmu."

Dilla tidak menjawab.

Karena dia tahu, dia tidak akan kembali lagi.

Pertemuan kali ini adalah perpisahan untuk selamanya.

Lima jam sebelum penerbangan, Dilla mengganti kata sandi pintu utama. Dari tanggal ulang tahunnya sendiri menjadi tanggal ulang tahun Serena, lalu dia menempelkan selembar catatan kecil di pintu.

[ Mulai sekarang, bagaimanapun juga tempat ini akan menjadi rumah Bu Serena. Kata sandinya lebih baik diganti jadi tanggal ulang tahunnya. ]

Tiga jam sebelum penerbangan, dia menemukan semua foto dirinya dan Vino di vila itu, lalu melemparkannya satu per satu ke dalam baskom api.

Vino memeluk dan menciuminya di bawah langit penuh kembang api, berulang kali mengatakan bahwa Dilla adalah miliknya.

Di tengah senja dan lautan bintang, Vino pernah berlutut dengan satu kaki, bersumpah akan mencintainya seumur hidup.

Vino pernah melindunginya dari kecelakaan, hingga tiga tulang rusuknya patah. Dia mengingat setiap masa haid Dilla. Media sosialnya dipenuhi tentang Dilla.

Mereka pernah melewati musim semi bersama, menapaki musim panas, menyambut musim gugur, dan mencari jejak musim dingin bersama.

Kini, kenangan itu terbakar sedikit demi sedikit dan mereka pun benar-benar berakhir.

Dua jam sebelum penerbangan, ponselnya berdering. Saat dibuka, Serena mengirimkan sebuah video kepadanya. Dalam video itu tampaknya sedang ada jamuan keluarga. Ada teman-teman Vino, sahabat Serena, dan juga para orang tua dari kedua belah pihak.

Banyak orang mengelilingi Vino dan Serena sambil bersorak tanpa henti.

"Cium! Cium! Cium!"

"Ayolah, Kak Vino. Tinggal beberapa hari lagi kalian menikah, masa masih malu untuk cium? Masa Kak Serena yang harus ambil inisiatif dulu?"

Di tengah sorakan itu, Serena menutup mata dengan pipi memerah, lalu mendekat kepadanya. Teriakan orang-orang semakin keras, mendesak Vino untuk menciumnya.

Vino menatap orang di depannya dengan saksama. Akhirnya, dia menutup mata dan mengangkat tangannya memegang belakang kepala Serena, lalu memberinya sebuah ciuman yang dalam.

Video itu diputar berulang kali. Saat diputar untuk ketujuh kalinya, pesan Serena kembali masuk.

[ Dilla, kamu sudah lihat? Akulah menantu yang diakui seluruh Keluarga Radhika. Keluargamu semiskin itu, mana mungkin Keluarga Radhika memandangmu? Dengan latar belakang seperti itu, kamu lebih cocok menikah dengan pengemis. ]

[ Lalu kenapa kalau Vino mencintaimu? Pertahanannya sedang aku hancurkan sedikit demi sedikit. Mulai dari menemaniku bertemu orang tuaku, bertemu sahabatku, lalu tinggal bersama, dan barusan dia bahkan menciumku. Menurutmu, berapa lama lagi sebelum kami tidur bersama? ]

Dilla tidak membalas pesan itu. Dia hanya diam-diam mencetak semua pesan provokatif yang dikirim Serena selama beberapa hari ini, lalu menyusunnya menjadi setumpuk dan meletakkannya di ruang tamu yang kini kosong.

Satu jam sebelum penerbangan, dia menuliskan satu kalimat terakhir di atas tumpukan kertas itu.

[ Vino, selamat menikah. Kita putus. ]

Lalu, dia menarik koper dan berjalan keluar dari kawasan vila, kemudian memanggil taksi yang melaju kencang menuju bandara.

'Vino, mulai sekarang aku akan kembali menjadi putri sulung keluarga orang terkaya. Kita nggak punya hubungan apa pun lagi!'

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Cinta yang Hanyalah Ucapan Palsu   Bab 24

    "Orang yang menekan Grup Radhika bukan aku. Kenapa kamu nggak mohon sama dia saja?" ucap Dilla sambil tersenyum. Senyumnya tampak tidak tulus."Lagian, Vino, bukannya kamu sudah habisin perasaan kita semua dulu, ya?"Saat Vino diam-diam bertunangan dengan orang lain di belakangnya dan hanya berniat menjadikannya sebagai kekasih gelap.Saat dia berbicara dalam bahasa Prancis bersama teman-temannya dan menertawakan serta merendahkan Dilla dengan bebas, tanpa pernah berpikir untuk menghentikan mereka.Saat Serena dan teman-temannya menyebarkan fitnah tentang dirinya, sementara Vino memilih untuk menjadi orang yang tidak terlihat.Sekarang Vino malah datang untuk membahas tentang hubungan mereka di masa lalu. Namun pada saat-saat itu, kenapa Vino tidak pernah ingat bahwa mereka pernah saling mencintai?Begitu kata-kata itu diucapkan, wajah Vino langsung memucat. Pada saat itu dia hanya merasakan tenggorokannya pahit dan sulit untuk menelan ludah."Dilla, aku tahu aku salah. Aku minta maaf

  • Cinta yang Hanyalah Ucapan Palsu   Bab 23

    Serena benar-benar telah ditinggalkan sepenuhnya.Dilla tidak terlalu memperhatikan kelanjutan dari masalah itu lagi. Dia percaya bahwa dengan kemampuan tim legal Group Prosper, mereka pasti bisa membuat orang-orang itu menerima ganjaran yang setimpal.Hanya saja, Dilla tetap merasa agak terkejut ketika mendengar bahwa tidak ada seorang pun yang menyewa pengacara untuk membela Serena saat dia diadili.Sebenarnya, jika Serena tidak mencari masalah dengan Dilla, dia bisa saja mempertahankan kedamaian dengan Vino dan menjadi pasangan pernikahan politik yang sangat biasa di kalangan keluarga kaya.Namun, dia malah tidak pernah merasa puas.Saat Dilla masih berada di sisi Vino, dia ingin menyingkirkan Dilla. Setelah Dilla pergi, dia malah melampiaskan semua keluhannya kepada Dilla dan bersikeras ingin menginjak Dilla di bawah kakinya. Pada akhirnya, dia malah berakhir seperti ini.Teman-teman Vino yang dipimpin oleh Yufan juga sama. Mereka selalu menyanjung orang yang lebih kuat dan meremeh

  • Cinta yang Hanyalah Ucapan Palsu   Bab 22

    Suara mesin mobil yang melaju semakin menjauh, dan kebencian di mata Serena pun semakin dalam. Apa yang dia lakukan bukanlah tindakan impulsif.Sejak dia kembali dari Kota Edo kali ini, Keluarga Albirru mengetahui bahwa Serena telah merusak proses tender dan bahkan menyinggung putri keluarga terkaya. Oleh karena itu, mereka langsung meninggalkannya tanpa ragu.Serena sebenarnya ingin menggunakan pernikahannya dengan Vino untuk mengokohkan posisinya di Keluarga Albirru. Namun begitu dia baru saja menyinggung hal itu, orang tua Serena langsung menamparnya."Kamu masih berani ngomong soal pernikahan sama Vino? Begitu Vino kembali hari ini, dia langsung datang untuk membatalkan pertunangan. Bahkan seorang pria pun nggak bisa kamu pertahankan. Coba kamu bilang sendiri, kamu ini ada gunanya nggak, sih?"Baru pada saat itulah, Serena menyadari bahwa dia telah ditinggalkan oleh semua orang.Namun, kenapa?'Dilla, karena kamu ... aku ditinggalkan oleh Keluarga Albirru dan dibenci oleh Vino. Lal

  • Cinta yang Hanyalah Ucapan Palsu   Bab 21

    Mendengar kelembutan dan kegelisahan dalam suara Zior, Dilla hanya merasa perasaan sesak di dadanya seketika lenyap. Dia tertawa pelan sebelum berkata, "Nggak apa-apa. Aku nggak selemah itu. Ini cuma rumor, aku bisa menanganinya sendiri.""Baik."Melihat suasana hatinya masih baik, hati Zior yang semula tegang akhirnya sedikit lega. Dia sebenarnya tidak ingin menutup telepon, tetapi juga tidak tahu harus mengatakan apa lagi saat ini. Suasana di antara mereka tiba-tiba menjadi sunyi.Dalam keheningan yang panjang itu, Dilla seolah bisa mendengar napas Zior yang pelan lewat telepon. Pada akhirnya, Dilla yang duluan berkata, "Zior, terima kasih."'Walaupun aku nggak bakal gimana-gimana hanya karena rumor nggak berdasar itu, tapi terima kasih atas perhatianmu.'Kalimat terakhir itu dia tambahkan dalam hati. Setelah itu, Dilla buru-buru menutup telepon.Di sisi lain, Zior memegang ponsel yang sudah terputus sambungannya. Dia hanya merasa waktu berlalu begitu cepat. Seandainya waktu bisa ber

  • Cinta yang Hanyalah Ucapan Palsu   Bab 20

    Zior sudah menunggu selama bertahun-tahun, jadi tentu dia tidak keberatan menunggu sedikit lebih lama lagi. Seperti yang dikatakan Dilla, untuk sementara mereka hanya menjadi teman. Terlebih lagi, dari orang asing bisa berkembang menjadi teman saja sudah membuatnya sangat puas.Malam itu, berbeda dengan dua orang di Kota Harcos yang tidak bisa tidur semalaman, Dilla dan Zior malah tidur dengan sangat nyenyak.Hingga keesokan paginya, Dilla terbangun karena ponselnya terus berbunyi tanpa henti. Dengan mata masih setengah terbuka karena mengantuk, dia baru menyadari bahwa akun media sosialnya sedang dibombardir.Nada notifikasi terus berbunyi tanpa henti. Dilihat sekilas, semuanya dipenuhi makian penuh kebencian. Tepat pada saat itu, sebuah nomor dari Kota Harcos meneleponnya. Setelah dia mengangkatnya, barulah dia tahu penelepon itu adalah temannya di Kota Harcos, Indah."Dilla, kamu sudah lihat komentar-komentar di internet itu belum? Netizen itu benar-benar tukang ikut-ikutan, langsun

  • Cinta yang Hanyalah Ucapan Palsu   Bab 19

    Kata "kami" itu langsung membuat Vino dan Serena terpaku di tempat.Jadi maksudnya, bukan hanya dia, Dilla juga datang untuk ikut dalam tender?Informasi orang lainnya yang ikut dalam tender jelas tidak cocok dengan identitas Dilla. Satu-satunya yang tersisa hanyalah ... putri tunggal keluarga terkaya Kota Edo, Nona Besar Keluarga Safira.Begitu menyadari hal itu, wajah Vino dan Serena seketika menjadi pucat. Ketika mereka menoleh ke sekeliling, mereka melihat orang-orang di sekitar sedang memandang dengan ekspresi seru. Pada saat itu, mereka baru menyadari bahwa sebenarnya merekalah yang sedang menjadi tontonan.Wajah Vino menjadi pucat dan merah secara bergantian. Dia bahkan tidak lagi peduli bahwa mereka datang untuk mengikuti tender. Dia langsung berbalik dan buru-buru meninggalkan aula pesta dengan perasaan malu.Melihat Vino pergi, Serena menatap Dilla dengan penuh kebencian, lalu segera mengejarnya dan pergi dengan langkah tergesa-gesa. Dilla melihat tatapan penuh kebencian itu,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status