Share

Bab 7

Author: Mettiza
Setelah selesai makan, pertemuan di meja Dilla juga berakhir. Vino lalu mengusulkan untuk mengantar Dilla dan Serena pulang.

Mungkin karena pengalaman berebut kursi penumpang sebelumnya, kali ini Vino belajar dari kesalahan. Dia langsung menggunakan Rolls-Royce limusin milik keluarganya, dan mobil itu dikemudikan oleh sopir, sehingga tidak perlu lagi mempersoalkan kursi penumpang.

Mobil melaju dengan stabil menuju rumah Keluarga Albirru. Sepanjang jalan semuanya lancar tanpa hambatan. Tidak ada yang menyangka bahwa kecelakaan akan terjadi saat itu.

Sebuah truk yang kehilangan kendali melaju kencang dari arah lain.

Sopir refleks memutar setir dengan keras, tetapi hanya terdengar suara benturan yang kuat. Kedua kendaraan itu tetap tidak bisa terhindar dari tabrakan.

Saat kaca jendela pecah, tubuh Dilla terdorong ke samping karena momentum. Pada saat itu, dia melihat jelas Vino memeluk Serena dengan erat di sampingnya. Dia tidak membiarkan Serena terluka sedikit pun, bahkan menepuk punggungnya dengan lembut untuk menenangkan dirinya.

Kesadaran Dilla perlahan mulai memudar.

Tiba-tiba dia teringat kecelakaan mobil yang tadi disebutkan oleh para sahabatnya.

Saat itu adalah tahun keempat mereka bersama. Perasaan Vino kepadanya masih berada pada puncaknya.

Persimpangan yang sama. Truk yang melaju kencang seperti waktu itu.

Arah tempat dia duduk kebetulan adalah arah datangnya truk itu. Dalam kepanikan, Vino menyadari bahwa mereka tidak bisa menghindari truk tersebut, sehingga dia terpaksa memutar mobil dengan paksa agar sisi tempat dirinya berada menghadap ke arah tabrakan.

Bagian depan mobil penyok parah. Dia terjepit di kursi pengemudi. Petugas pemadam kebakaran dan dokter bekerja keras cukup lama sebelum akhirnya berhasil mengeluarkannya dari mobil.

Vino hampir saja meninggal pada hari itu.

Namun bahkan setelah dia sadar dan keluar dari masa kritis, kalimat pertama yang dia ucapkan adalah menanyakan keadaan Dilla.

Sekarang, kecelakaan yang sama terjadi lagi.

Perbedaannya hanya satu.

Orang yang refleks dilindungi Vino bukan lagi dirinya.

Bagian belakang Rolls-Royce limusin itu hancur. Setelah semua orang turun dari mobil, Vino yang terus menenangkan Serena akhirnya melihat Dilla yang berdiri diam sambil menekan dahinya yang berdarah.

Untungnya lukanya tidak terlalu parah. Setelah sampai di rumah sakit dan mendapat perban, tidak ada masalah besar lagi. Karena yang terluka adalah bagian kepala, dokter tetap menyarankan agar dia dirawat di rumah sakit untuk observasi selama dua hari.

Vino menatap perban di kepalanya dengan wajah penuh rasa bersalah. "Dilla, maaf. Waktu itu aku hanya berpikir bahwa sebentar lagi aku akan ada kerja sama dengan Serena yang harus menghadiri acara bersama. Wajahnya nggak boleh terluka, jadi aku melindunginya. Kamu boleh mukul atau memarahiku, aku akan menerima semuanya, tapi jangan abaikan aku, ya?"

Sikapnya saat meminta maaf memang sangat tulus dan alasannya terdengar masuk akal. Seandainya saja Dilla tidak teringat bahwa pernikahan mereka yang tinggal kurang dari setengah bulan lagi akan segera dilangsungkan ....

Kerja sama yang dia maksud mungkin adalah pernikahan itu.

Dilla menunduk tanpa berkata apa-apa. Dia tidak mengatakan akan memaafkan, juga tidak menepis permohonan maafnya. Sedari awal sampai akhir, raut wajah Dilla tetap datar tanpa emosi.

Permintaan maaf Vino masih terus berlanjut. Dia terus mengatakan maaf, lalu tiba-tiba seolah teringat sesuatu. Kilatan harapan muncul di matanya.

"Beberapa hari lagi ulang tahunmu. Gimana kalau aku kasih hadiah lebih awal? Kamu mau hadiah apa? Apa pun akan aku belikan."

Mendengar ucapannya, Dilla akhirnya mengangkat pandangannya ke arah Vino. Namun, tatapannya tetap tampak tenang.

"Kalau begitu, belikan aku tiket pesawat saja. Tiga hari lagi, ke Kota Edo."

"Untuk apa ke Kota Edo?" Vino sedikit terkejut, tetapi tidak lama kemudian dia sendiri yang memberikan jawabannya. "Mau pergi liburan?"

Dilla tidak menjelaskan. Dia hanya mengangguk pelan.

Vino juga tidak bertanya lagi. Tepat di depannya, dia langsung membuka ponselnya dan membeli tiket pesawat menuju Kota Edo.

Setelah membeli tiket, dia berkata lagi, "Akhir-akhir ini aku ada urusan, nggak bisa temani kamu. Kamu pergi dulu saja ke Kota Edo untuk jalan-jalan. Kalau nanti ada waktu, aku temani kamu pergi lagi. Tiket pesawat ini terlalu kecil untuk dijadikan hadiah ulang tahun. Nanti aku kasih kamu kejutan yang lebih besar."

Dilla menggeleng, lalu tersenyum tipis. "Nggak kecil. Sama sekali nggak kecil."

Bagaimanapun juga, tiket pesawat itu adalah jalan pulangnya.

'Vino, terima kasih atas hadiahnya. Kamu sendiri yang mengantarkanku pulang.'

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Cinta yang Hanyalah Ucapan Palsu   Bab 24

    "Orang yang menekan Grup Radhika bukan aku. Kenapa kamu nggak mohon sama dia saja?" ucap Dilla sambil tersenyum. Senyumnya tampak tidak tulus."Lagian, Vino, bukannya kamu sudah habisin perasaan kita semua dulu, ya?"Saat Vino diam-diam bertunangan dengan orang lain di belakangnya dan hanya berniat menjadikannya sebagai kekasih gelap.Saat dia berbicara dalam bahasa Prancis bersama teman-temannya dan menertawakan serta merendahkan Dilla dengan bebas, tanpa pernah berpikir untuk menghentikan mereka.Saat Serena dan teman-temannya menyebarkan fitnah tentang dirinya, sementara Vino memilih untuk menjadi orang yang tidak terlihat.Sekarang Vino malah datang untuk membahas tentang hubungan mereka di masa lalu. Namun pada saat-saat itu, kenapa Vino tidak pernah ingat bahwa mereka pernah saling mencintai?Begitu kata-kata itu diucapkan, wajah Vino langsung memucat. Pada saat itu dia hanya merasakan tenggorokannya pahit dan sulit untuk menelan ludah."Dilla, aku tahu aku salah. Aku minta maaf

  • Cinta yang Hanyalah Ucapan Palsu   Bab 23

    Serena benar-benar telah ditinggalkan sepenuhnya.Dilla tidak terlalu memperhatikan kelanjutan dari masalah itu lagi. Dia percaya bahwa dengan kemampuan tim legal Group Prosper, mereka pasti bisa membuat orang-orang itu menerima ganjaran yang setimpal.Hanya saja, Dilla tetap merasa agak terkejut ketika mendengar bahwa tidak ada seorang pun yang menyewa pengacara untuk membela Serena saat dia diadili.Sebenarnya, jika Serena tidak mencari masalah dengan Dilla, dia bisa saja mempertahankan kedamaian dengan Vino dan menjadi pasangan pernikahan politik yang sangat biasa di kalangan keluarga kaya.Namun, dia malah tidak pernah merasa puas.Saat Dilla masih berada di sisi Vino, dia ingin menyingkirkan Dilla. Setelah Dilla pergi, dia malah melampiaskan semua keluhannya kepada Dilla dan bersikeras ingin menginjak Dilla di bawah kakinya. Pada akhirnya, dia malah berakhir seperti ini.Teman-teman Vino yang dipimpin oleh Yufan juga sama. Mereka selalu menyanjung orang yang lebih kuat dan meremeh

  • Cinta yang Hanyalah Ucapan Palsu   Bab 22

    Suara mesin mobil yang melaju semakin menjauh, dan kebencian di mata Serena pun semakin dalam. Apa yang dia lakukan bukanlah tindakan impulsif.Sejak dia kembali dari Kota Edo kali ini, Keluarga Albirru mengetahui bahwa Serena telah merusak proses tender dan bahkan menyinggung putri keluarga terkaya. Oleh karena itu, mereka langsung meninggalkannya tanpa ragu.Serena sebenarnya ingin menggunakan pernikahannya dengan Vino untuk mengokohkan posisinya di Keluarga Albirru. Namun begitu dia baru saja menyinggung hal itu, orang tua Serena langsung menamparnya."Kamu masih berani ngomong soal pernikahan sama Vino? Begitu Vino kembali hari ini, dia langsung datang untuk membatalkan pertunangan. Bahkan seorang pria pun nggak bisa kamu pertahankan. Coba kamu bilang sendiri, kamu ini ada gunanya nggak, sih?"Baru pada saat itulah, Serena menyadari bahwa dia telah ditinggalkan oleh semua orang.Namun, kenapa?'Dilla, karena kamu ... aku ditinggalkan oleh Keluarga Albirru dan dibenci oleh Vino. Lal

  • Cinta yang Hanyalah Ucapan Palsu   Bab 21

    Mendengar kelembutan dan kegelisahan dalam suara Zior, Dilla hanya merasa perasaan sesak di dadanya seketika lenyap. Dia tertawa pelan sebelum berkata, "Nggak apa-apa. Aku nggak selemah itu. Ini cuma rumor, aku bisa menanganinya sendiri.""Baik."Melihat suasana hatinya masih baik, hati Zior yang semula tegang akhirnya sedikit lega. Dia sebenarnya tidak ingin menutup telepon, tetapi juga tidak tahu harus mengatakan apa lagi saat ini. Suasana di antara mereka tiba-tiba menjadi sunyi.Dalam keheningan yang panjang itu, Dilla seolah bisa mendengar napas Zior yang pelan lewat telepon. Pada akhirnya, Dilla yang duluan berkata, "Zior, terima kasih."'Walaupun aku nggak bakal gimana-gimana hanya karena rumor nggak berdasar itu, tapi terima kasih atas perhatianmu.'Kalimat terakhir itu dia tambahkan dalam hati. Setelah itu, Dilla buru-buru menutup telepon.Di sisi lain, Zior memegang ponsel yang sudah terputus sambungannya. Dia hanya merasa waktu berlalu begitu cepat. Seandainya waktu bisa ber

  • Cinta yang Hanyalah Ucapan Palsu   Bab 20

    Zior sudah menunggu selama bertahun-tahun, jadi tentu dia tidak keberatan menunggu sedikit lebih lama lagi. Seperti yang dikatakan Dilla, untuk sementara mereka hanya menjadi teman. Terlebih lagi, dari orang asing bisa berkembang menjadi teman saja sudah membuatnya sangat puas.Malam itu, berbeda dengan dua orang di Kota Harcos yang tidak bisa tidur semalaman, Dilla dan Zior malah tidur dengan sangat nyenyak.Hingga keesokan paginya, Dilla terbangun karena ponselnya terus berbunyi tanpa henti. Dengan mata masih setengah terbuka karena mengantuk, dia baru menyadari bahwa akun media sosialnya sedang dibombardir.Nada notifikasi terus berbunyi tanpa henti. Dilihat sekilas, semuanya dipenuhi makian penuh kebencian. Tepat pada saat itu, sebuah nomor dari Kota Harcos meneleponnya. Setelah dia mengangkatnya, barulah dia tahu penelepon itu adalah temannya di Kota Harcos, Indah."Dilla, kamu sudah lihat komentar-komentar di internet itu belum? Netizen itu benar-benar tukang ikut-ikutan, langsun

  • Cinta yang Hanyalah Ucapan Palsu   Bab 19

    Kata "kami" itu langsung membuat Vino dan Serena terpaku di tempat.Jadi maksudnya, bukan hanya dia, Dilla juga datang untuk ikut dalam tender?Informasi orang lainnya yang ikut dalam tender jelas tidak cocok dengan identitas Dilla. Satu-satunya yang tersisa hanyalah ... putri tunggal keluarga terkaya Kota Edo, Nona Besar Keluarga Safira.Begitu menyadari hal itu, wajah Vino dan Serena seketika menjadi pucat. Ketika mereka menoleh ke sekeliling, mereka melihat orang-orang di sekitar sedang memandang dengan ekspresi seru. Pada saat itu, mereka baru menyadari bahwa sebenarnya merekalah yang sedang menjadi tontonan.Wajah Vino menjadi pucat dan merah secara bergantian. Dia bahkan tidak lagi peduli bahwa mereka datang untuk mengikuti tender. Dia langsung berbalik dan buru-buru meninggalkan aula pesta dengan perasaan malu.Melihat Vino pergi, Serena menatap Dilla dengan penuh kebencian, lalu segera mengejarnya dan pergi dengan langkah tergesa-gesa. Dilla melihat tatapan penuh kebencian itu,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status