แชร์

Bab 4

ผู้เขียน: Boni
Irena mengajak Robert berkeliling ke seluruh restoran sambil terus memperkenalkannya.

"Masih ingat nggak? Waktu SMP dulu, impian terbesarku adalah buka restoran barat."

"Ya. Kamu bilang dekorasinya harus bergaya pesisir Eropa, dindingnya penuh lukisan impresionis, meja dan kursi cuma boleh warna hitam dan putih, pengharum harus dipesan khusus, setiap hari aroma bunga juga harus berbeda."

Mendengar Robert mengulang semua perkataan tanpa ada yang terlewat sedikit pun, Irena pun tertegun.

"Kok kamu malah lebih ingat dari aku? Kalau begitu, apa kamu masih ingat ...."

"Tentu saja. Kamu bilang akan kasih aku 30% saham restoran dan undang aku jadi bartender di sini. Apa janji itu masih berlaku sekarang?"

Mata Irena langsung berbinar karena senang, lalu dia memperlihatkan ekspresi malu-malu.

"Candaan waktu itu mana bisa dianggap serius. Lagi pula, meskipun kamu sudah nggak jadi kapten pesawat lagi, masih ada bisnis keluarga bernilai ratusan miliar yang nungguin kamu. Kalau jadi bartender di sini, itu terlalu menyia-nyiakan bakatmu."

Sorot mata Robert sedikit meredup. Bibirnya bergerak seolah ingin mengatakan sesuatu, tetapi pada akhirnya dia tetap diam.

Keira diam-diam memperhatikan semuanya. Dadanya terasa seperti dipenuhi awan gelap. Rasanya sesak dan menekan. Dia tahu bahwa saat Robert mengatakan semua itu, pria itu sungguh-sungguh. Robert benar-benar ingin selalu berada di sisi Irena.

Kalaupun hanya menjadi seorang bartender, selama masih bisa melihat dari jauh, dia sudah merasa puas. Bagaimanapun juga, Robert pernah merasakan sakitnya kehilangan.

Karena itu, ketika akhirnya bisa memilikinya kembali, dia akan menghargai setiap kesempatan untuk bertemu dan bersama Irena. Sama seperti saat ini. Pandangan Robert selalu tertuju pada Irena.

Tidak pernah sekali pun dia menoleh ke belakang. Dia meninggalkan Keira sendirian di posisi itu tanpa seorang pun menyadarinya.

Saat mereka tiba di ruang VIP, Robert langsung mengambil menu seperti biasa. Irena pun duduk di sampingnya.

Begitu mendengar hidangan yang dipesan Robert, dia sengaja berkata, "Robert, kenapa semua yang kamu pesan adalah makanan favoritku? Gimana dengan selera istrimu? Kamu juga harus perhatiin dia."

Tangan Robert yang memegang menu membeku sesaat. Dia melirik Keira, lalu menyerahkan menu kepadanya dengan tenang.

"Aku nggak tahu kamu suka makan apa, jadi aku cuma asal pesan. Kalau ada yang ingin kamu makan, pesan sendiri saja."

Melihat sikap acuh tak acuhnya, lalu melihat kesombongan samar di wajah Irena, napas Keira terasa tertahan. Jari-jarinya mengepal dengan kuat.

Selama ini, dia selalu tahu bahwa Robert adalah orang yang dingin terhadap segala hal. Karena itu, meskipun Robert tidak mengingat hari jadi mereka setelah menikah, tidak pernah menyiapkan kejutan romantis, dan tidak pernah mempertimbangkan perasaannya, dia masih bisa terus bertahan.

Namun, setelah melihat sendiri betapa pedulinya Robert kepada Irena, lalu membandingkannya dengan pengabaian yang diterimanya, Keira hanya merasakan kesedihan dan ketidakberdayaan.

Dia tidak menerima menu itu. Dengan wajah pucat, dia berdiri dan berkata ingin pergi ke toilet.

Dengan alasan ingin menunjukkan jalan, Irena ikut mengikutinya. Sambil meminta kontak Keira, wanita itu juga mengucapkan beberapa kalimat yang sarat makna.

"Keira, jangan salah paham ya. Aku dan Robert sudah berteman selama sepuluh tahun lebih. Kami cuma sangat mengenal satu sama lain. Dia bahkan ingat jadwal menstruasiku, tahu aku sering mengalami nyeri haid."

"Beberapa waktu lalu dia sampai pergi ke kota sebelah untuk cari dokter yang direkomendasikan orang-orang. Beberapa tahun terakhir saat aku tinggal di luar negeri, setiap ada perayaan, dia juga selalu menitipkan hadiah untukku ...."

Mendengar nada bicara yang tampaknya menjelaskan tetapi sebenarnya sedang pamer itu, Keira merasa dadanya tersumbat hingga sulit bernapas. Dia berhenti berjalan dan menoleh ke arah Irena.

Nada bicaranya terdengar tergesa-gesa. "Terus? Apa sebenarnya yang ingin kamu katakan?"

Ekspresi Irena sedikit berubah. Senyum tipis muncul di sudut bibirnya. "Bukannya sudah jelas? Aku ingin kasih tahu kamu, meskipun kamu istri Robert, kamu nggak akan pernah bisa gantiin posisiku di hatinya."

"Cepat atau lambat, Robert akan kembali ke sisiku. Kalau kamu cukup pintar, seharusnya kamu keluar dari hubungan ini atas kemauan sendiri. Itu baik untukmu, untukku, juga untuk Robert. Bukankah begitu?"

Keira tahu, semua yang dikatakan Irena adalah fakta yang tidak bisa dibantahnya. Dia menunduk dan menarik napas dalam-dalam.

Tepat ketika hendak berbicara, sesuatu yang tak terduga terjadi. Lampu gantung mewah di atas mereka tiba-tiba mengendur, lalu jatuh tepat ke arah tempat mereka berdiri.

Para pelanggan di sekitar langsung berteriak histeris. Suasana seketika berubah kacau. Mereka berdua bahkan belum sempat memahami apa yang terjadi. Begitu mendongak dan melihat bayangan hitam yang meluncur turun dengan cepat, mata mereka sontak membelalak karena syok.

Saat lampu gantung besar itu hampir menimpa mereka, Robert yang berlari dari beberapa meter jauhnya langsung menarik Irena dan membawanya ke area aman.

Sedangkan Keira ... dia tertinggal sendirian di tempat itu. Lampu gantung itu pun menghantam tubuhnya hingga darah mengucur di sekujur badan, membuatnya terjatuh ke dalam genangan darah.

Rasa sakit yang luar biasa menjalar dari seluruh tubuh, tanpa henti merobek saraf-sarafnya. Darah mengalir dari keningnya, mewarnai seluruh dunianya menjadi merah.

Dengan susah payah, dia membuka mata. Kemudian, dia melihat sekelompok pelanggan sedang mengerumuni Irena sebagai pemilik restoran dan menuntut penjelasan.

Sementara itu, Robert berdiri di sisinya seperti seorang ksatria. Dia mengadang semua caci maki dan serangan yang ditujukan kepada Irena, melindunginya dan menjauhkannya dari pusat kerumunan.

Melihat dua sosok yang makin menjauh itu, Keira akhirnya tidak mampu bertahan lagi. Pandangannya menggelap. Dia kehilangan kesadaran ....

Saat terbangun kembali, Keira mendapati dirinya berada di rumah sakit. Seluruh tubuhnya dibalut perban. Sedikit saja bergerak, rasa sakit membuatnya menahan napas.

Namun, ruang rawat itu kosong. Tidak ada seorang pun yang menjaganya. Dia terdiam lama.

Sambil menahan rasa sakit, dia mengambil tas yang berada di atas meja, lalu mengeluarkan lembar tabel nilai dari sana. Dia kembali mengurangi 10 poin.

Setelah selesai menulis, dia hendak menyimpannya kembali. Namun, kertas itu terlepas dari tangannya dan jatuh ke lantai.

Seorang perawat muda yang kebetulan masuk untuk memeriksa pasien pun memungutnya. Perawat itu melihatnya sekilas dengan rasa penasaran.

"Ini tabel apa? Kenapa dipotong begitu banyak poin? Kalau poinnya habis, apa yang akan terjadi?"

Tatapan Keira sedikit membeku. Dia mengulurkan tangan untuk mengambil kembali kertas itu dan menjawab dengan nada datar, "Ini tabel poin pernikahan. Nilai penuh 100 poin. Kalau sudah habis dipotong, semuanya akan berakhir."

"Berakhir? Maksudnya cerai? Tapi di tabel itu tersisa 10 poin terakhir lho!" seru perawat muda itu dengan kaget.

Pada detik berikutnya, pintu ruang rawat dibuka. Robert masuk dengan alis sedikit berkerut. Tatapannya langsung tertuju pada Keira. "Sepuluh poin apa?"

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Cinta yang Merasuk Sampai Ke Tulang   Bab 23

    Setelah urusan Irena selesai, Robert mencurahkan seluruh perhatiannya untuk mendapatkan kembali Keira. Setahunya, saat ini Keira masih belum menjalin hubungan dengan Stuart. Artinya, dia masih memiliki kesempatan.Kali ini, dia sudah memikirkannya dengan matang. Apa pun yang terjadi, dia tidak akan pernah lagi mengkhianati Keira.Keira boleh membuat satu, seratus, bahkan seribu lembar tabel nilai. Dia tidak akan membiarkan dirinya kehilangan satu poin pun lagi.Asalkan Keira bersedia, kalaupun dia harus menyerahkan seluruh perusahaan keluarga, dia pun rela.Robert berhasil menemukan alamat Studio Bulir Padi. Dengan membawa seikat bunga, dia mengetuk pintu."Permisi, apa Keira ada?" tanyanya dengan sopan.Tatapan orang-orang di dalam studio langsung berubah penuh selidik. Di antara mereka, sang senior berjalan mendekat dan menatapnya dengan ekspresi rumit."Kenapa kamu datang?" tanya senior itu.Robert mengenalnya. Dialah orang yang mendirikan studio bersama Keira setelah perceraian mer

  • Cinta yang Merasuk Sampai Ke Tulang   Bab 22

    Robert maju selangkah lagi. Baik saat menerima hukuman keluarga maupun saat muak terhadap Irena, kapan pernah dia menunjukkan ketulusan seperti ini?Kini, setelah akhirnya bertemu kembali dengan orang yang selalu dirindukannya siang dan malam, dia hampir ingin mencungkil hatinya sendiri untuk diperlihatkan kepada Keira.Namun, penampilan seperti itu hanya membuat Keira merasa muak. Rasa jijik dan asing di matanya menusuk hati Robert tanpa ampun."Pak Robert, mohon jaga sikap. Kalau Keira berniat memaafkan Bapak, dia nggak akan menyembunyikan identitasnya selama ini. Meskipun aku nggak tahu apa yang terjadi di antara kalian dulu, Keira adalah orang yang sangat baik. Aku rasa Bapak pasti telah melakukan sesuatu yang nggak bisa dimaafkan, sampai hubungan kalian berakhir seperti ini."Stuart berdiri di depan Keira pada saat yang tepat. Tatapannya juga sedingin es saat melontarkan sindiran itu tanpa basa-basi.Perkataan itu membuat tubuh Robert bergetar. Matanya makin merah. Dia memandang d

  • Cinta yang Merasuk Sampai Ke Tulang   Bab 21

    Sejak wawancara itu ditayangkan, Robert segera menerima kabar tentang keberadaan Keira.Baru saat itulah dia tahu bahwa Keira kini tinggal di wilayah selatan. Seperti impian yang pernah Keira ceritakan dahulu, dia benar-benar telah mendirikan sebuah studio desain.Seperti orang yang kelaparan, Robert mulai mencari semua informasi tentang Studio Bulir Padi. Melalui itu, dia akhirnya mengetahui bagaimana kehidupan Keira selama satu tahun setelah meninggalkannya.Keira tidak terpuruk seperti dirinya. Sebaliknya, dia makin bersinar. Dia membangun studionya dari nol hingga kini menjadi nama yang dikenal luas di dunia desain.Robert menatap sosok wanita di bawah cahaya lampu tanpa berkedip. Dorongan di dalam hatinya makin sulit dikendalikan. Dia ingin memeluknya erat seperti dahulu. Namun, saat dia hampir melangkah mendekat, seseorang di sampingnya menarik lengannya."Robert ...." Irena menatapnya dengan tatapan memelas, memohon agar dia tetap tinggal.Namun, Robert bahkan tidak menoleh. Dia

  • Cinta yang Merasuk Sampai Ke Tulang   Bab 20

    Keira menonton wawancara itu tanpa perubahan ekspresi.Sebagian besar isi wawancara membahas karya-karya Studio Bulir Padi. Hanya sebagian kecil yang menyinggung identitas Keira dan hubungannya dengan Robert.Setelah wawancara itu ditayangkan, topik itu sempat mendatangkan gelombang perhatian di internet. Namun, Keira hanya melihatnya sekilas, lalu kehilangan minat.Mungkin karena melihat reaksinya yang datar, Stuart berjalan mendekat. Di tangannya ada sebuah kartu undangan yang sengaja dia ayunkan di depan Keira.Sesuai dugaannya, mata wanita itu langsung berbinar. "Itu ...."Stuart tersenyum bangga. "Ya, baru diterima pagi ini."Keira segera merebut undangan itu. Dengan gembira, dia berputar satu kali sambil mengangkat undangan itu tinggi-tinggi.Undangan itu adalah tiket masuk ke lingkaran profesional dunia desain. Saat acara berlangsung nanti, bukan hanya tokoh paling berpengaruh di dunia desain yang akan hadir, tetapi juga kolektor dan pengusaha dari berbagai penjuru.Nama Studio

  • Cinta yang Merasuk Sampai Ke Tulang   Bab 19

    Setelah minum bersama, Keira naik ke lantai dua untuk menikmati angin malam. Wajahnya sedikit merah karena alkohol, tetapi suasana hatinya sangat baik.Ini adalah tahun kedua sejak dia meninggalkan Robert. Dari rasa sakit dan kebingungan di awal, hingga sekarang dia tidak lagi terikat pada masa lalu. Dia benar-benar telah melepaskan pria itu.Dia tidak akan lagi merasa tak berdaya karena pria itu, meski hanya sedikit pun. Angin malam yang sejuk berembus pelan, mengibaskan rambut panjangnya. Pemandangan itu tampak seperti sebuah lukisan yang indah.Seseorang perlahan berjalan mendekat, lalu berdiri di sampingnya dan menyandarkan diri pada pagar balkon."Kenapa naik ke sini sendirian? Semua orang cari kamu," kata Stuart."Aku cuma ingin menikmati angin. Rasanya semua ini masih nggak nyata. Kita benar-benar berhasil." Keira menyipitkan mata. Senyuman tipis memenuhi wajahnya."Ya, kita berhasil." Stuart menatapnya dan ikut tersenyum.Dua tahun lalu, saat Keira dan seniornya mendirikan stud

  • Cinta yang Merasuk Sampai Ke Tulang   Bab 18

    Sejak terbebas dari Robert, Keira menetap di wilayah selatan. Saat itu, setelah turun dari pesawat, seniornya sudah datang menjemput bersama anggota tim lainnya.Ketika berbicara tentang impian masing-masing, mata mereka semua berbinar penuh harapan.Pemandangan itu membuat Keira teringat pada dirinya yang dahulu. Kalau bukan karena Robert, seharusnya dia sudah melangkah bersama mereka sejak lama.Mereka makan bersama terlebih dahulu. Setelahnya, tanpa membuang waktu, mereka langsung mulai bekerja.Semua hal dalam studio yang baru dirintis harus dikerjakan sendiri. Mulai dari mencari lokasi, renovasi, pendaftaran perusahaan, hingga merekrut karyawan ....Proses membangun dari nol bukanlah hal yang mudah. Namun, Keira mengerjakan setiap hal dengan sungguh-sungguh. Dia tidak lagi memiliki waktu untuk memikirkan Robert.Mereka sibuk tanpa henti selama beberapa bulan. Akhirnya, kerangka awal studio itu pun terbentuk.Seniornya bertanya nama apa yang ingin digunakan. Setelah berpikir sejena

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status