แชร์

Bab 3

ผู้เขียน: Boni
"Nggak perlu. Sekarang kamu kerja di wilayah selatan, 'kan? Alamatnya di sana saja. Aku sudah mau cerai. Aku cuma perlu sedikit waktu buat beresin urusan di sini, terus aku akan pergi cari kamu."

Keira mengucapkan soal perceraian itu dengan nada tenang. Seniornya tampak sangat terkejut hingga terdiam lama.

Namun, karena sopan santun, seniornya tidak melanjutkan pertanyaan dan menyetujui usulan itu.

Setelah telepon ditutup, Keira memesan banyak buku dan majalah, lalu mengeluarkan kembali berbagai materi kuliahnya.

Dia tidak pergi ke rumah sakit dan juga tidak menghubungi Robert. Dia belajar sendirian di rumah, berusaha mengingat kembali pengetahuan profesional yang sudah lama tidak dia gunakan.

Setelah mencurahkan seluruh perhatiannya ke dalam pekerjaan, perlahan dia menemukan kembali dirinya yang dahulu.

Dirinya yang tidak terjebak oleh cinta. Dirinya yang hanya memiliki desain dalam hatinya. Dirinya yang ingin menjadi desainer kelas dunia.

Hari demi hari berlalu. Pada hari ulang tahun pernikahan mereka, Robert akhirnya pulang. Melihat meja yang dipenuhi lembar-lembar sketsa dan rancangan, dia menatap Keira dengan heran.

"Beberapa hari ini, kamu terus mendesain di rumah?" tanya Robert.

Tangan Keira yang sedang memegang pena berhenti sesaat sebelum dia mengangguk tenang. "Aku ingin kembali jadi desainer. Selama beberapa hari ini aku mencari kembali feel-nya, jadi nggak punya waktu buat rawat kamu."

Mendengar alasan itu, perasaan aneh melintas di hati Robert. Dahulu ketika dia terluka ringan akibat turbulensi saat penerbangan, setelah Keira mendengar kabar itu, dia menjaga Robert di rumah sakit selama tiga hari tanpa meninggalkan sisinya. Bahkan mata wanita itu sampai bengkak karena menangis.

Kali ini, luka Robert jauh lebih parah. Namun, Keira bahkan tidak bertanya dan tidak menunjukkan reaksi apa pun.

Robert merasa ada yang aneh. Namun, dia memang tidak pernah mencampuri kehidupan Keira, jadi dia juga tidak bertanya lebih jauh.

"Oke. Kejar saja mimpimu. Kalau ayahmu tahu kamu kembali ke dunia desain, beliau pasti senang."

"Apa kamu akan mendukung semua keputusanku? Kalau begitu ... gimana dengan perceraian?" Keira tanpa sadar mengucapkan pertanyaan itu.

Namun, tepat pada saat itu ponsel Robert berdering. Dia mengangkat telepon, lalu masuk ke ruang kerja, tidak sempat mendengar perkataan Keira sama sekali.

Sebelum pintu tertutup, samar-samar terdengar suara Irena dari ujung telepon. Keira tersenyum pelan. Dia menghela napas dan kembali tenggelam dalam pekerjaannya hingga lupa waktu.

Menjelang sore, Robert keluar dari ruang kerja dan bertanya dengan santai, "Aku sudah pesan restoran. Mau makan malam bareng?"

Setelah bekerja seharian, Keira memang mulai merasa lapar, jadi dia mengangguk setuju.

Setelah menurunkannya di depan restoran, Robert pergi mencari tempat parkir. Ketika kembali, di tangan kirinya ada sebuah kotak hadiah, sementara tangan kanannya memegang seikat mawar merah muda.

Saat Robert berjalan ke hadapannya dan menyerahkan bunga itu, Keira sontak membeku. Selama tiga tahun pernikahan mereka, ini pertama kalinya dia menerima bunga dari Robert.

Perasaan yang rumit langsung bergolak di dalam hatinya. Dia sangat ingin bertanya kenapa Robert tiba-tiba memberinya mawar. Apa isi kotak itu? Apakah mereka akan merayakan hari jadi pernikahan?

Pertanyaan-pertanyaan itu sudah sampai di ujung lidahnya. Namun, sebelum sempat berbicara, dia melihat sosok yang sangat dikenalnya.

Irena berdiri di depan restoran baru yang baru saja dibuka. Dengan senyum cerah, wanita itu berjalan menghampiri mereka. "Robert, kenapa kamu lama sekali?"

Kemudian, dia memandang Keira. "Ini pasti istrimu ya? Halo, senang bertemu denganmu. Aku teman Robert, Irena."

Dengan ekspresi alami, Irena menyapa sambil mengulurkan tangan lebih dahulu. Ekspresi Keira membeku beberapa detik sebelum kembali normal.

Dia mengulurkan tangan dan menjabatnya. "Halo, aku Keira."

Setelah saling menyapa, Robert menyerahkan kotak hadiah yang ada di tangannya kepada Irena dengan ekspresi tenang.

"Hari ini hari pertama restoranmu buka. Nggak pantas kalau aku datang dengan tangan kosong, 'kan? Aku siapkan hadiah dan bunga, makanya terlambat sedikit."

Mendengar perkataannya, Keira menunduk menatap mawar yang mekar dengan begitu indah di tangannya. Jadi, hadiah dan bunga ini ... semuanya dipersiapkan untuk Irena?

Dada Keira terasa sesak. Rasa pahit yang tak berujung menyebar ke seluruh tubuhnya. Dengan tangan yang sedikit gemetar, dia menyerahkan bunga itu kepada Irena, berusaha terlihat biasa saja.

Irena menerima hadiah itu. Saat membuka kotaknya dan melihat tas di dalam, matanya langsung dipenuhi keterkejutan dan kegembiraan.

"Kok kamu tahu aku lagi cari tas ini? Jumlahnya cuma ada sepuluh di seluruh dunia. Ini terlalu mahal. Bunga ini juga cantik sekali. Aku nggak nyangka setelah bertahun-tahun berlalu, kamu masih ingat aku cuma suka mawar merah muda dari toko ini."

Robert mengatakan bahwa tas itu hanya dibeli secara kebetulan, sedangkan toko bunga itu juga kebetulan berada di jalur yang dilewatinya.

Namun, Keira tentu tahu di dunia ini tidak mungkin ada begitu banyak kebetulan. Semua itu telah dipersiapkan secara khusus oleh Robert.

Alasan Robert mengajaknya makan malam bersama pun hanya untuk mencari alasan agar bisa bertemu Irena. Dari awal sampai akhir, Keira tidak lebih dari sekadar alat pelengkap.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Cinta yang Merasuk Sampai Ke Tulang   Bab 23

    Setelah urusan Irena selesai, Robert mencurahkan seluruh perhatiannya untuk mendapatkan kembali Keira. Setahunya, saat ini Keira masih belum menjalin hubungan dengan Stuart. Artinya, dia masih memiliki kesempatan.Kali ini, dia sudah memikirkannya dengan matang. Apa pun yang terjadi, dia tidak akan pernah lagi mengkhianati Keira.Keira boleh membuat satu, seratus, bahkan seribu lembar tabel nilai. Dia tidak akan membiarkan dirinya kehilangan satu poin pun lagi.Asalkan Keira bersedia, kalaupun dia harus menyerahkan seluruh perusahaan keluarga, dia pun rela.Robert berhasil menemukan alamat Studio Bulir Padi. Dengan membawa seikat bunga, dia mengetuk pintu."Permisi, apa Keira ada?" tanyanya dengan sopan.Tatapan orang-orang di dalam studio langsung berubah penuh selidik. Di antara mereka, sang senior berjalan mendekat dan menatapnya dengan ekspresi rumit."Kenapa kamu datang?" tanya senior itu.Robert mengenalnya. Dialah orang yang mendirikan studio bersama Keira setelah perceraian mer

  • Cinta yang Merasuk Sampai Ke Tulang   Bab 22

    Robert maju selangkah lagi. Baik saat menerima hukuman keluarga maupun saat muak terhadap Irena, kapan pernah dia menunjukkan ketulusan seperti ini?Kini, setelah akhirnya bertemu kembali dengan orang yang selalu dirindukannya siang dan malam, dia hampir ingin mencungkil hatinya sendiri untuk diperlihatkan kepada Keira.Namun, penampilan seperti itu hanya membuat Keira merasa muak. Rasa jijik dan asing di matanya menusuk hati Robert tanpa ampun."Pak Robert, mohon jaga sikap. Kalau Keira berniat memaafkan Bapak, dia nggak akan menyembunyikan identitasnya selama ini. Meskipun aku nggak tahu apa yang terjadi di antara kalian dulu, Keira adalah orang yang sangat baik. Aku rasa Bapak pasti telah melakukan sesuatu yang nggak bisa dimaafkan, sampai hubungan kalian berakhir seperti ini."Stuart berdiri di depan Keira pada saat yang tepat. Tatapannya juga sedingin es saat melontarkan sindiran itu tanpa basa-basi.Perkataan itu membuat tubuh Robert bergetar. Matanya makin merah. Dia memandang d

  • Cinta yang Merasuk Sampai Ke Tulang   Bab 21

    Sejak wawancara itu ditayangkan, Robert segera menerima kabar tentang keberadaan Keira.Baru saat itulah dia tahu bahwa Keira kini tinggal di wilayah selatan. Seperti impian yang pernah Keira ceritakan dahulu, dia benar-benar telah mendirikan sebuah studio desain.Seperti orang yang kelaparan, Robert mulai mencari semua informasi tentang Studio Bulir Padi. Melalui itu, dia akhirnya mengetahui bagaimana kehidupan Keira selama satu tahun setelah meninggalkannya.Keira tidak terpuruk seperti dirinya. Sebaliknya, dia makin bersinar. Dia membangun studionya dari nol hingga kini menjadi nama yang dikenal luas di dunia desain.Robert menatap sosok wanita di bawah cahaya lampu tanpa berkedip. Dorongan di dalam hatinya makin sulit dikendalikan. Dia ingin memeluknya erat seperti dahulu. Namun, saat dia hampir melangkah mendekat, seseorang di sampingnya menarik lengannya."Robert ...." Irena menatapnya dengan tatapan memelas, memohon agar dia tetap tinggal.Namun, Robert bahkan tidak menoleh. Dia

  • Cinta yang Merasuk Sampai Ke Tulang   Bab 20

    Keira menonton wawancara itu tanpa perubahan ekspresi.Sebagian besar isi wawancara membahas karya-karya Studio Bulir Padi. Hanya sebagian kecil yang menyinggung identitas Keira dan hubungannya dengan Robert.Setelah wawancara itu ditayangkan, topik itu sempat mendatangkan gelombang perhatian di internet. Namun, Keira hanya melihatnya sekilas, lalu kehilangan minat.Mungkin karena melihat reaksinya yang datar, Stuart berjalan mendekat. Di tangannya ada sebuah kartu undangan yang sengaja dia ayunkan di depan Keira.Sesuai dugaannya, mata wanita itu langsung berbinar. "Itu ...."Stuart tersenyum bangga. "Ya, baru diterima pagi ini."Keira segera merebut undangan itu. Dengan gembira, dia berputar satu kali sambil mengangkat undangan itu tinggi-tinggi.Undangan itu adalah tiket masuk ke lingkaran profesional dunia desain. Saat acara berlangsung nanti, bukan hanya tokoh paling berpengaruh di dunia desain yang akan hadir, tetapi juga kolektor dan pengusaha dari berbagai penjuru.Nama Studio

  • Cinta yang Merasuk Sampai Ke Tulang   Bab 19

    Setelah minum bersama, Keira naik ke lantai dua untuk menikmati angin malam. Wajahnya sedikit merah karena alkohol, tetapi suasana hatinya sangat baik.Ini adalah tahun kedua sejak dia meninggalkan Robert. Dari rasa sakit dan kebingungan di awal, hingga sekarang dia tidak lagi terikat pada masa lalu. Dia benar-benar telah melepaskan pria itu.Dia tidak akan lagi merasa tak berdaya karena pria itu, meski hanya sedikit pun. Angin malam yang sejuk berembus pelan, mengibaskan rambut panjangnya. Pemandangan itu tampak seperti sebuah lukisan yang indah.Seseorang perlahan berjalan mendekat, lalu berdiri di sampingnya dan menyandarkan diri pada pagar balkon."Kenapa naik ke sini sendirian? Semua orang cari kamu," kata Stuart."Aku cuma ingin menikmati angin. Rasanya semua ini masih nggak nyata. Kita benar-benar berhasil." Keira menyipitkan mata. Senyuman tipis memenuhi wajahnya."Ya, kita berhasil." Stuart menatapnya dan ikut tersenyum.Dua tahun lalu, saat Keira dan seniornya mendirikan stud

  • Cinta yang Merasuk Sampai Ke Tulang   Bab 18

    Sejak terbebas dari Robert, Keira menetap di wilayah selatan. Saat itu, setelah turun dari pesawat, seniornya sudah datang menjemput bersama anggota tim lainnya.Ketika berbicara tentang impian masing-masing, mata mereka semua berbinar penuh harapan.Pemandangan itu membuat Keira teringat pada dirinya yang dahulu. Kalau bukan karena Robert, seharusnya dia sudah melangkah bersama mereka sejak lama.Mereka makan bersama terlebih dahulu. Setelahnya, tanpa membuang waktu, mereka langsung mulai bekerja.Semua hal dalam studio yang baru dirintis harus dikerjakan sendiri. Mulai dari mencari lokasi, renovasi, pendaftaran perusahaan, hingga merekrut karyawan ....Proses membangun dari nol bukanlah hal yang mudah. Namun, Keira mengerjakan setiap hal dengan sungguh-sungguh. Dia tidak lagi memiliki waktu untuk memikirkan Robert.Mereka sibuk tanpa henti selama beberapa bulan. Akhirnya, kerangka awal studio itu pun terbentuk.Seniornya bertanya nama apa yang ingin digunakan. Setelah berpikir sejena

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status