로그인Baru saja keluar dari rumah sakit setelah menjalani aborsi, aku mengirim pesan kepada suamiku. [Aku sudah menggugurkan kandunganku.] Ardian Mahendra membalas, [Oke]. Aku menatap angka itu, tiba-tiba merasa agak lucu. Bertahun-tahun ini, setiap kali aku memberitahunya sebelum melakukan pekerjaan berisiko tinggi, yang kuterima adalah [Oke]. Mengingatkannya untuk mencariku jika aku tidak bisa dihubungi dalam dua puluh empat jam, yang kuterima juga [Oke]. Saat aku terjebak di bawah reruntuhan akibat tanah longsor dan hilang kontak selama tujuh puluh dua jam penuh. Dalam ketakutan yang luar biasa, aku mengirimkan tiga ratus sembilan pesan minta tolong kepada Ardian. Dia membalasnya dengan tiga ratus sembilan angka [Oke]. Saat itulah aku baru menyadari dengan perasaan terkejut, bahwa yang kuterima selama ini hanyalah balasan otomatis. Ardian tidak pernah membaca pesanku. Tentu saja dia juga tidak tahu bahwa sejak setengah bulan lalu, aku sudah memberitahunya kalau aku akan menerima tugas luar negeri. Dan aku akan menggugurkan kandungan hari ini. Semangat dan energinya selama ini hanya milik wanita yang memenuhi beranda media sosialnya. [Peringatan hari ke-1000, yang juga ulang tahun Selly.] Foto yang dilampirkan adalah tangkapan layar obrolannya dengan Selly Harfa.
더 보기Ardian kembali ke Kota Derada, selama satu bulan penuh dia tidak pernah melangkah keluar dari pintu rumah. Setiap hari, dia hanya berdiam diri di dalam rumah, yang pernah ditinggalinya bersama Lidia. Tirai jendela tertutup rapat, dan dia tidur di antara tumpukan botol minuman keras yang menggunung. Begitu terbangun, dia akan langsung minum dan setelah mabuk dia akan kembali tidur. Ardian tidak sanggup menerima akhir yang seperti ini, sehingga hanya bisa menggunakan alkohol untuk mematikan rasa di hatinya. Setidaknya, di dalam mimpi, dia masih memiliki kemungkinan untuk memimpikan Lidia. Masih bisa berharap bahwa Lidia masih mencintainya. Namun lama-kelamaan, Ardian sangat menyadari bahwa Lidia sepertinya sudah terlalu membencinya. Begitu benci hingga bahkan ke dalam mimpinya pun, wanita itu enggan untuk melangkah masuk. Bahkan sebuah harapan semu pun sepertinya tidak sudi datang kepadanya. Ardian benar-benar runtuh sepenuhnya. Dia mengunci dirinya di masa lalu. Setiap hari, se
Ardian mengerahkan segala cara yang dia bisa untuk mengambil hatiku. Seseorang yang biasanya selalu tinggi hati dan angkuh, bersedia merendahkan diri hingga ke tahap ini adalah hal yang tidak pernah kuduga. Dia bahkan sampai tinggal di lorong tangga. Hanya demi mengadu keberuntungan, agar bisa berpapasan denganku yang sesekali kembali ke apartemen. Bahkan saat pergi ke hotel untuk menyewa kamar untuk mandi pun, dia harus berlari kencang. Karena sangat takut melewatkan kesempatan bertemu denganku. Akibatnya, dia sudah terjatuh berkali-kali di jalan itu, dan luka di lututnya tidak pernah sembuh. "Nggak perlu." Aku kembali menghindar dari sarapan yang disodorkannya. Ardian sudah sangat kelelahan, hingga untuk berbicara pun sepertinya tidak memiliki tenaga lagi. Tubuhnya tampak menyusut drastis, membuat pakaiannya tergantung longgar di badannya. Pergelangan tangannya yang terekspos ke luar, hanya menyisakan kulit membungkus tulang, dengan pembuluh darah yang terlihat jelas. "Lidi
Aku tidak melihat Ardian selama beberapa hari berturut-turut. Tinggal di rumah sakit di negeri orang, tanpa ada yang merawat, pasti tidak mudah. Aku justru berharap dia tahu diri dan mundur. Namun, tidak lama kemudian, Ardian kembali berkeliaran di depan mataku. Mulai dari bawah gedung kantor, di pinggir jalan, hingga akhirnya dia bahkan berhasil menemukan pintu depan rumahku. Sambil mendekap seekor ikan yang masih segar di dadanya, Ardian berkata ingin memasakkanku makanan. Aku baru saja pulang dari jamuan bisnis dan efek alkohol belum hilang sepenuhnya. Karena tidak sempat menghalanginya, dia berhasil memanfaatkan kesempatan untuk menyelinap masuk ke dalam rumahku. Kepalaku terasa pening dan berat, sehingga aku memilih untuk tidak ambil pusing dengannya. Dengan perasaan tanpa beban, aku mulai memberi perintah kepada Ardian. "Buatkan aku sup pereda mabuk." "Siapkan air rendaman kaki, aku mau cuci kaki." Ardian justru tampak sangat senang. Dia menumpu kakiku, lalu mengeringka
Pada sebuah pagi yang biasa. Aku pergi ke kantor untuk bekerja seperti biasanya. Begitu baru berjalan sampai di bawah gedung perkantoran, aku langsung melihat Ardian. Dia sedang duduk berjongkok di bawah pohon Ketapang di pinggir jalan. Dia mengenakan sebuah mantel hitam polos, rambutnya berantakan, dagunya ditumbuhi janggut tipis, matanya terpejam, dan bagian bawah matanya hitam pekat. Aku berjalan melewatinya. Saat kakiku menginjak selembar daun kering hingga berderik, Ardian tersentak bangun seketika. Sisa kantuk di matanya belum sepenuhnya sirna. Begitu melihatku, dia langsung bangkit dan berjalan dengan langkah yang terhuyung-huyung. Namun, dia sempat terjatuh beberapa kali, bahkan pakaiannya pun sampai robek terkoyak oleh ranting pohon. "Lidia ...." "Tunggu, tunggu aku ...!" Dia akhirnya tersadar sepenuhnya, lalu melangkah cepat untuk mengejarku dengan suara yang terdengar sangat serak. Aku sama sekali tidak ingin membuang-buang waktu bersamanya. Tepat saat aku hendak












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.