MasukDingin ruangan ICU mencengkam ketakutan Tyler yang kini baru datang. setiap pintu yang terlewat dapat Tyler lihat setiap orang di dalamnya melalui celah kaca dipintu. Mereka semua berada dalam kondisi terbaring tidak berdaya dengan begitu banyak alat medis yang tepasang.‘Lantas bagaimana dengan kondisi Arumy?’Baru saja tercetus pertanyaan itu, Tyler lihat siluet Donovan dari balik lapisan kaca.Napas Tyler tertahan ditenggorokan, jantungnya berdebar kencang tidak karuan, telinganya sunyi senyap, pandangannya terpaku pada Arumy tengah duduk di kursi roda berpakaian pasien, tubuhnya begitu kurus sampai sulit untuk dikenali.“Ya Tuhan..” ratap Tyler mengusap dadanya dengan tekanan, menyaksikan Arumy yang selama ini selalu terkanvas sebagai perempuan tegar dan pekerja keras.Kini.. Arumy seperti seorang bayi yang baru belajar makan, berkali-kali dia menjatuhan sendok dari genggamannya setiap kali akan membuka mulut, dia tersedak hanya dengan beberapa kunyahan.Dengan sabar Donovan mengu
Kendaraan bergerak cepat melewati satu persatu kendaraan lainnya yang berada di jalann. Tyler menggenggam erat kemudi agar tidak kehilangan kendali, kekalutan terlihat begitu jelas dimatanya setelah mendengar kabar Arumy mengalami kecelakaan dihari dimana Tyler meninggalkannya di jalan, hari dimana Tyler tidak memiliki waktu untuk berbicara dengan Arumy demi ulah tahun Charlie. Hari itu, ternyata Arumy tidak hanya kehilangan rumah, dia juga mengalami kecelakaan.. Begitu banyak hal penting yang terjadi pada Arumy, namun Tyler tidak mengetahuinya sedikitpun. Termasuk siapa Donovan sebenarnya.. Ternyata, Donovan bukanlah anak Arumy.. Tyler begitu malu dan semakin merasa bersalah.. 2 tahun Arumy tinggal di rumahnya, setiap hari mereka bertemu. Tetapi Tyler tidak tahu apapun tentang Arumy saking tidak adanya percakapan yang terjadi. Sekalinya ada waktu untuk berbicara, Tyler hanya memarahi Arumy dan mencemooh penderitaan yang tengah menimpanya. Tyler tidak menyangka.. ternyata diam
Tawa Bjorn pecah dibawah derasnya hujan, pria itu terhibur mendengar seberapa kukuhnya Adven menginginkan Arumy. “Aku sangat penasaran sekali, apa sebenarnya yang bisa kau jaminkan kepada Rumy untuk bisa membuatnya percaya bahwa kembali denganmu adalah keputusan yang bagus? Memangnya.. kau bisa tegas untuk memilih antara ibumu atau Rumy? Memangnya kau bisa menerima Donovan kebencian dan tanpa mengungkit masa lalunya?” tanya Bjorn dengan sisa-sisa tawanya, dalam satu gerakan pria itu berbalik dan pergi menjauh. Buku-buku jari Adven memutih dalam kepalan kuat, pria itu menatap tajam Bjorn yang mulai menajauh dari pandangan. Andai saja jika bisa jujur, Adven sendiri sudah muak dengan tingkah kedua orang tuanya. Ada perkara yang harus Adven selesaikan dengan ibunya. Adven tahu, segala sesuatu yang diinginkan harus ada pengorbanannya. Hubungan Adven dan kedua orang tuanya telah berbeda sekarang. Ini bukan hanya karena kedua orang tuanya pernikahannya dengan Arumy gagal. Namun karena pers
Setelah memberitahu Donovan tentang status yang sebenarnya dan memberi anak itu sebuah pengertian. Bjorn membawa Donovan kembali masuk ke dalam ruangan tempat Arumy dirawat. Meski murung, Donovan tidak lagi menangis… Ada percakapan mendalam yang telah terjadi diantara dirinya dan Bjorn. Bjorn meminta Donovan untuk belajar menerima diri, tanpa penyangkalan, tanpa membenci, dan tanpa menghakimi. Bjorn mengatakan, Donovan tidak perlu merasa berkecil hati karena tidak ber-ayah dan tidak ber-ibu. Donovan tidak perlu malu karena dia berbeda. ‘Berebda bukanlah aib. Berbeda hanya sebuah penegasan bahwa Donovan spesial. Dan sesuatu yang spesial, selalu lebih berharga dari yang lainnya.’ Donovan melangkah pelan, menggenggam erat jari Bjorn yang menuntunnya masuk. Dengan wajah menengadah, dia lihat Arumy terbaring tidur dalam penjagaan Adven. Diam-diam Donovan memandangi Adven yang terlihat canggung dan tidak seramah biasanya, lalu dilihatnya Bjorn yang berdiri disisinya. Berkali-kali Dono
Donovan terpaku bingung, matanya yang bening itu tampak kosong tidak sedikitpun mengerti dengan apa yang sudah Bjorn ceritakan kepadanya.Bjorn tersenyum mengeluarkan selembar photo berwarna dari dalam saku jaketnya, lalu menunjukannya kepada Donovan yang membeku.“Lihatlah perempuan cantik ini,” tunjuk Bjorn pada Sunny yang duduk di depan sebuah piano, di dalam bingkai potret photo itu juga terdapat Arumy yang masih berseragam sekolah SMA, disisi lain terdapat Bjorn yang sudah menjadi seorang mahasiswa.“Wanita cantik ini, namanya Sunny. Dia seorang guru bahasa asing, dia sangat baik dan penyayang. Perempuan inilah yang dulu telah mengandungmu, dulu kau tumbuh di dalam perutnya hingga akhirnya dilahirkan. Dialah ibumu yang sebenarnya, dan Rumy yang kau panggil ibu saat ini, dia adalah kakakmu,” cerita Bjorn memberitahu sisi terbaik Sunny kepada Donovan, sekaligus memberikan pengertian lebih jelas agar Donovan mencernanya.Bjorn harus memberi Donovan pengertian sebaik mungkin agar ana
Kata ‘maaf’ yang selalu Adven nantikan akan terucap dari bibir Arumy dengan ratapan putus asa karena derita. Kini, ‘maaf’ itu justru terucap dari bibir Adven sendiri.‘Maaf’ yang terucap, adalah sebuah cara paling sederhana mengakui sebuah kesalahan, meski itu tidak sebanding dengan kerusakan yang telah dipikul Arumy.Adven pernah begitu menantikan moment dimana dia bisa menyaksikan penderitaan Arumy. Dan ketika penantian itu akhirnya terjadi, hati Adven justru hancur sehancur hancurnya.Alam bawah sadarnya berteriak memaki diri, menyalahkan setiap sumpah serapah dan do’a-do’a buruk yang yang dia ucapkan setiap malam untuk penderitaan Arumy.Adven menyesal…Adven tidak sanggup melihat setiap garis lukanya, dan keterdiamannya adalah puncak dari penderitannya. “Aku minta maaf Rumy. Aku sangat menyesalinya,” lirih Adven memperjelas perasaan yang melandanya. “Aku tidak ingin mengadu nasib, siapa yang sebenarnya paling terluka diantara kita saat ini. Tapi kau perlu tahu, bahwa 5 tahun la
Makanan yang dihidangkan telah Donovan habiskan tanpa sisa, anak itu meneguk minumannya dengan mata berbinar, lidahnya menjilati sisa-sisa manis yang tertinggal di bibir.Rasa iba yang sempat membuat Adven berbasa-basi menawarkannya sedikit kebaikan agar Donovan aman, tanpa terasa justru telah memb
Beberapa detik Arumy diam terpaku, tawaran Benedic seperti sebuah uluran tangan yang menawarkan keselamatan hidup untuknya. Arumy menggeleng dengan berat, ia melepaskan tangannya dari genggaman Benedic. Dia sama sekali tidak setuju dengan tawaran Benedic yang implusif, menganggap bahwa pernikahan
Suara Donovan yang memanggil, menyentak keterdiaman Adven yang tengah tenggelam dalam lamunan menyakitkan. Pria itu mengepalkan tangannya tanpa bisa berpikir jernih sejenakpun atas yang saat ini sedang terjadi, kehadiran Donovan di depannya sampai berubah menjadi samar dipandangan.Segalanya terasa
“Siapa paman yang kau maksud tadi, Donovan?” tanya Arumy ditengah perjalanan mereka pulang. Arumy ingin tahu, apa yang sebenarnya terjadi antara Donovan dan Adven hingga mereka bisa makan malam bersama.Ini terlalu mustahil jika disebut sebuah kebetulan, sangat tidak masuk akal untuknya.Arumy tid







