Share

Chapter 4

Author: Asayake
last update publish date: 2026-01-15 11:19:59

Lima tahun kemudian..

Sebuah sedan hitam melaju cepat melewati jalanan berkelok, di atas tebing dapat terlihat lautan yang jernih dan tenang, bertolak belakang dengan permukaannya yang sibuk dilintasi kapal-kapal besar yang meninggalkan pelabuhan.

Di dalam kendaraan itu, terdapat seorang sopir yang tengah membawa seseorang yang harus diantar menuju satu tujuan di pusat kota North Emit.

“Butuh waktu berapa lama lagi untuk kita akan sampai?” tanya seorang pria mulai merasakan bosan.

“Sekitar satu jam lagi, Tuan,” sahut Cristian, “Anda istirahat dulu?

“Tidak perlu,” jawabnya begitu tenang, setenang sepasang mata birunya yang menyapu membaca kertas-kertas ditangannya, mempelajari kemajuan sebuah perusahaan arsitektur yang beberapa bulan lalu berhasil diakusisi setelah mengalami pailit tidak mampu membayar hutang ke bank.

Pria itu menutup kertas-kertas yang telah dibacanya, dipandanginya keluar jendela, melihat suasana kota yang telah banyak berubah setelah bertahun-tahun lamanya tidak lagi dia kunjungi karena sebuah alasan, Adven Nathaniel mengalami kelumpuhan dan depresi.

Saat hari pernikahannya gagal, dengan bodohnya Adven masih mencari keberadaan Arumy, dia seperti orang gila yang kehilangan arah. Kepergian Arumy seakan telah membuat dunia Adven berhenti saat itu juga.

Butuh ratusan malam yang harus Adven arungi untuk bisa membuatnya sadar, bahwa dia telah menyia-nyiakan hidupnya untuk perempuan yang salah, untuk perempuan yang bahkan tidak pantas lagi berada di hadapannya.

Adven akhirnya tersadar, Arumy memang pernah menjadi surga untuknya, namun pada akhirnya wanita berakhir menjadi nerakanya. Sesuatu yang paling buruk dari yang terburuk, bahkan untuk mendengar namanya dia sudah seperti noda yang harus dihindari.

Adven akhirnya berdamai dan berjuang untuk sembuh dari segala luka dan sakitnya, dia memulai kembali lembaran baru hidupnya hingga akhirnya seperti inilah dia sekarang. Kembali menjadi Adven Nathaniel yang sebelum mengenal Arumy.

Satu jam perjalanan itu akhirnya berakhir di depan sebuah kantor berlantai empat yang berdiri mandiri di sudut kota.

Kedatangan Adven disambut oleh direktur yang telah menjadi orang kepercayaannya memegang perusahaan selama ia tidak ada.

“Saya sangat senang sekali, akhirnya Anda bisa datang,” ucap Jonathan saling berjabat tangan. Mempersilahkan Adven masuk dan melihat kondisi kantornya secara langsung untuk pertama kalinya, sambil mendengarkan hal-hal penting yang Jonathan sampaikan.

Ada cukup banyak orang yang bekerja, mereka dikelompokan di setiap ruangan agar bisa mengefesiensi pekerjaan.

Dalam kesempatan itu, Jonathan memperkenalkan Adven kepada semua orang sebagai, acquirer yang telah mengakusisi perusahaan. Jonathan memperkenalkannya kurang dari satu menit, dan selanjutnya semua orang kembali bekerja tidak memberikan waktu untuk berkenalan lebih jauh.

Setelah menghabiskan cukup banyak waktu untuk melihat keadaan semuanya, Adven cukup puas dengan keputusannya yang telah mengambil langkah besar mengakusisi perusahaan. Adven bisa merasakan ada begitu banyak potensi yang menguntungkannya, lebih dari apa yang telah diperhitungkan.

“Ruangan Anda ada di lantai atas. Mari,” Jonathan kembali mempersilahkan Adven pergi menuju lantai selanjutnya.

Tidak sempat langkah itu Adven lanjutkan, suara benda jatuh di lantai membuatnya menoleh seketika, melihat ke sumber suara.

Riak wajah Adven pucat seketika, matanya terbuka lebar tidak berkedip melihat seorang wanita tengah membungkuk di lantai, membereskan swatch book yang terjatuh dari tumpukan yang dia bawa.

Rambut hitam yang tergerai itu menyapu udara, saat tangan ramping menyampirkannya ke telinga, wajah yang sempat tertutup itu kembali terlihat dengan jelas.

Jantung Adven berdebar kencang, dadanya memanas, kulitnya meremang tidak dapat mengontrol diri dari keterkejutan yang dialaminya saat ini.

Arumy..

Adven tidak salah melihat, Arumy benar-benar berada di hadapannya sekarang. Wanita yang telah pergi meninggalkannya tanpa sepatah katapun penjelasan, wanita yang membuat Adven tampak seperti barang rongsokan yang dibuang ke tempat sampah karena sudah tidak berguna.

Tubuh Adven kaku. Perasaannya campur aduk, rindu, marah, benci dan jijik menjadi satu, darah di nadinya memanas sampai kepala dan telinganya berdenging tidak dapat mendengarkan apa yang kini sedang Jonathan sampaikan.

Rahang Adven mengeras bersama kepalan tangan yang begitu kuat sampai buku-buku jarinya memutih.

Adven sama sekali tidak menyangka, bahwa mereka akan dipertemukan di tempat ini.

Arumy bangkit dari posisinya tidak menyadari tengah diperhatikan, dia kembali berjalan sambil membawa tumpukan swatch booknya.

Mata Adven tidak lepas dari sosoknya yang perlahan hilang dari pandangan, menyisakan bayangan samar akan jejak keberadaannya di lorong kantor.

Apa yang Arumy lakukan disini? Dia adalah seorang pramugari, dia sangat menyukai penerbangan, bahkan meski dia kabur ke luar negeri, ada banyak maskapai yang pasti akan menerimanya.

Mengapa Arumy ada di tempat yang bukan seharusnya?

“Dia, karyawan disini?” bisik Adven dengan suara gemetar menahan begitu banyak perasaan yang meluap hebat di dalam dada.

“Benar, Pak.” Jonthan tertawa sebelum akhirnya sebuah cerita ia sampaikan. “Namanya Arumy, dia sudah bekerja disini selama dua tahun. Saat magang dia sangat teledor, tidak pandai menggunakan komputer, tidak tahu apapun tentang arsitektur hingga sering dimarahi karena melakukan banyak kesalahan. Tapi, dia sangat bekerja keras untuk belajar dan pandai beberapa bahasa asing yang bisa membantu kami bicara dengan klien luar negeri, akhirnya HRD menjadikannya pekerja tetap.”

Ternyata, dua tahun Arumy ada disini menjadi seorang karayawan biasa, tidak lagi menjadi pramugari.

Tanpa sadar Adven mendengus dengan kesal, ada harga diri yang sangat terinjak. Memikirkan jika Arumy memilih kehidupan biasa dan berada dalam kesulitan dibandingkan menemaninya yang hanya sakit sementara waktu.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Cinta yang Patah, sebelum Sah   Chapter 163

    Pupil mata Bjorn melebar, sepasang mata biru jernih itu berubah begitu dingin menatap Martin yang kini tersenyum mengejek, bicara dengan sesuka hati tentang ibunya, bicara dengan bangga tentang apa yang pernah dia lakukan pada Arumy.Bjorn tidak begitu membenci Martin karena saat dia dilahirkan, Bjorn berada di pengasingan, tidak menerima sakit yang terlalu berat berkat keluarga ibunya menyelamatkannya.Bjorn tidak pernah mempermasalahkan apa yang sudah Martin lakukan pada Arumy karena Martin tidak tahu apapun. Tapi kali ini, Martin sudah tahu segalanya, dan ternyata Martin tak menyesalinya…Martin telah meremehkan kebaikan Bjorn. Seorang Hansen Nathaneil bisa Bjorn hancurkan sehancur-hancurnya, apalagi hanya sebatas Martin.Sudut bibir Bjorn terangkat pelan membalasnya dengan senyuman di bibirnya yang ternoda darah. Ketenangan Bjorn menghadapi provokasinya justru membuat Martin semakin tersulut amarah, Martin merasa seperti telah diremehkan dan dianggap tidak memiliki pengaruh apap

  • Cinta yang Patah, sebelum Sah   Chapter 162

    “Pak Adven sudah berangkat bekerja pagi sekali, beliau berpesan akan kembali lebih awal,” ucap Megan menyambut kedatangan Arumy yang baru muncul ke ruang makan.Kursi roda Arumy bergerak mengisi celah yang sengaja dikosongkan, dengan telaten Megan langsung menghidangkan sarapan dan menyiapkan obat yang harus Arumy konsumsi.Tidak berapa lama kemudian Donovan datang menyusul, menemaninya sarapan sambil bercerita tentang poodle-nya yang tidak bisa berlarian bebas karena kukunya telah memanjang dan perlu dipotong.Dengan sabar Arumy mendengarkan sambil berjuang menguyah setiap makanan masuk ke dalam mulut karena telinganya masih sensitif oleh suara.Suara dentingan bel terdengar beberapa kali di depan pintu, Megan meninggalkan ruangan makan untuk pergi melihat siapa yang datang. Tidak lebih dari dua menit ia pergi, Megan kembali datang dengan membawa bouquet tulip putih. “Ini dari pak Adven,” ucap Megan dengan senyuman. “Anda mau meletakannya dimana?”Arumy terdiam sejenak, sampai ak

  • Cinta yang Patah, sebelum Sah   Chapter 161

    “Tuan Bjorn,” inspektur Epstein menyambut kedatangan Bjorn dan Micahelin yang akhirnya datang rumah sakit.Meski seluruh urusan telah Bjorn serahkan pada Adven, sebagai anak tertua Bjorn tetap menjadi orang pertama yang dihubungi jika itu berurusan dengan hal yang darurat.Jika harus jujur, sejak meninggalkan Hansen di ruang interogasi, Bjorn sudah tidak sudi lagi untuk berjumpa dengannya. Namun setelah makan malam di villa Adven, sepanjang perjalanan pulang dari kota North Emit, Bjorn mempertimbangkan perasaan pribadinya yang masih terikat satu hal penting dengan Hansen, yaitu kebencianya pada Hansen yang masih utuh.Kebencian itu sudah seperti denyut dalam nadi, mengiringi setiap hembusan napasnya dan akan hanya akan berhenti dengan kematian Bjorn sendiri.Sepanjang malam`Bjorn bertanya pada dirinya sendiri, apalagi sekarang alasan dirinya masih benci? Bukankah balas dendamnya sudah selesai? Bukankah Hansen sudah teramat menderita seperti apa yang diharapnya?Ratusan kali Bjorn berp

  • Cinta yang Patah, sebelum Sah   Chapter 160

    Adven melepas jass dan melempar ke kursi, pria itu mengambil handpone untuk memanggil dokter agar segera datang memeriksa. Lalu dilihatnya kembali Arumy yang mulai mengejang kaku dibalik selimut.Terburu-buru Adven mendekat, mendengar suara racauannya yang tidak begitu jelas. Suhu tubuh Arumy semakin meningkat, sakit yang dirasa semakin menyiksa, bertegangan hebat sampai sulit dikendalikan.Suara Adven yang memanggil berkali-kali menyapu pendengaran, Arumy sadar dengan kehadirannya, namun dia tidak mampu untuk membuka mata ataupun bicara sekadar minta tolong.Bukan hanya bahunya saja yang sakit, kepalanya kembali berdenyut seperti ditusuk-tusuk. Setiap pagi Arumy mengalami gejala sama, namun kali ini sangat berbeda karena tidak ada bantuan langsung dari dokter selayaknya saat berada di rumah sakit.Ketidak berdayaan Arumy menghadapi sakitnya begitu memilukan untuk Adven lihat. Adven pernah berada di posisinya dan dia tahu bagaimana rasanya setiap siksaan sakit yang harus ditanggungn

  • Cinta yang Patah, sebelum Sah   Chapter 159

    Di depan pekarangan vila itu, Donovan berdiri dengan tangan melambai, matanya berkaca-kaca melihat kendaraannya Bjorn mulai bergerak menjauh. Bjorn tetap pergi sesuai rencananya, tidak bersedia tinggal sedikit lebih lama apalagi menginap.Begitu cepat mereka berpisah, padahal Dovonan baru saja merasakan apa artinya menemukan orang-orang yang berharga dalam hidupnya, menikmati kehangatan yang begitu luar biasa.Dari pantulan spion, Bjorn lihat Arumy yang duduk di kursi roda menyaksikan kepergiannya dari balik jendela kamar kehabisan energy untuk bicara maupun bergerak.Pandangan Bjorn berpindah pada Donovan, sosok anak yang telah memberinya banyak cahaya kebenaran melalui kepolosan. Tangisnya yang mengantar kepergian Bjorn membuatnya merasa seperti berharga, memiliki tempat dan juga dibutuhkan.Kasih sayang yang Arumy ajarkan pada Donovan telah berhasil memeluk dingin jiwanya, mencairkan beku yang lama berdiam, dan melunakkan hati kerasnya yang selama ini dipenuhi duri kebencian.Lebih

  • Cinta yang Patah, sebelum Sah   Chapter 158

    “Apa kau sudah tahu apa yang kini telah terjadi pada ayah?” tanya Adven menghampiri Bjorn yang telah duduk di salah satu kursi makan. “Aku sudah tahu,” jawab Bjorn dengan santai. Adven mengetuk permukaan meja untuk menghiasi keheningan yang kini sedang menjeda percakapan. Jujur saja, Adven tidak dapat menebak apa yang Bjorn pikirkan setelah tahu kondisi Hansen saat ini. Apakah ada simpati di dalam diri Bjorn? Pria itu mampu bersenang-senang hingga merayakan kematian Anna secara terang-terangan dihadapan Adven, bukan hal yang mustahil jika Bjorn juga akan melakukan hal yang sama untuk merayakan penderitaan Hansen. “Polisi mulai membahas tentang kemungkinan euthanasia untuknya karena kondisinya sangat buruk tidak memungkinkan menjalani hukuman penjara. Negara juga tidak bersedia mebiayai seorang penjahat dengan harga mahal untuk seumur hidupnya.” Bjorn terdiam dalam pikiran yang dalam. Suntik mati memiliki dua pandangan yang saling bertolak belakang, yaitu antara hak untuk hidu

  • Cinta yang Patah, sebelum Sah   Chapter 35

    Makanan yang dihidangkan telah Donovan habiskan tanpa sisa, anak itu meneguk minumannya dengan mata berbinar, lidahnya menjilati sisa-sisa manis yang tertinggal di bibir.Rasa iba yang sempat membuat Adven berbasa-basi menawarkannya sedikit kebaikan agar Donovan aman, tanpa terasa justru telah memb

    last updateLast Updated : 2026-03-22
  • Cinta yang Patah, sebelum Sah   Chapter 33

    Beberapa detik Arumy diam terpaku, tawaran Benedic seperti sebuah uluran tangan yang menawarkan keselamatan hidup untuknya. Arumy menggeleng dengan berat, ia melepaskan tangannya dari genggaman Benedic. Dia sama sekali tidak setuju dengan tawaran Benedic yang implusif, menganggap bahwa pernikahan

    last updateLast Updated : 2026-03-21
  • Cinta yang Patah, sebelum Sah   Chapter 34

    Ledakan amarah Arumy membuat Tina beranjak seketika dari kursinya. Ada dua orang pekerja salon disisinya, jika mereka menyaksikan keributan yang kini terjadi, mereka pasti akan menggosipkan Tina kepada teman-teman sosialitanya lain yang mereka layani.Tina segera menarik Charlie yang tengah menang

    last updateLast Updated : 2026-03-21
  • Cinta yang Patah, sebelum Sah   Chapter 32

    “Saya, saya alergi biji wijen.”Mendengar pengakuan Donovan, waiter yang menyajikan makanan langsung menarik kembali piringnya dengan panik. “Maaf.. maaf Tuan, kami tidak tahu jika putra Anda alergi biji wijen. Kami akan memperbaiki menu makan malamnya.”Keterkejutan Adven kian menjadi begitu mende

    last updateLast Updated : 2026-03-21
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status