LOGINLima tahun kemudian..
Sebuah sedan hitam melaju cepat melewati jalanan berkelok, di atas tebing dapat terlihat lautan yang jernih dan tenang, bertolak belakang dengan permukaannya yang sibuk dilintasi kapal-kapal besar yang meninggalkan pelabuhan. Di dalam kendaraan itu, terdapat seorang sopir yang tengah membawa seseorang yang harus diantar menuju satu tujuan di pusat kota North Emit. “Butuh waktu berapa lama lagi untuk kita akan sampai?” tanya seorang pria mulai merasakan bosan. “Sekitar satu jam lagi, Tuan,” sahut Cristian, “Anda istirahat dulu? “Tidak perlu,” jawabnya begitu tenang, setenang sepasang mata birunya yang menyapu membaca kertas-kertas ditangannya, mempelajari kemajuan sebuah perusahaan arsitektur yang beberapa bulan lalu berhasil diakusisi setelah mengalami pailit tidak mampu membayar hutang ke bank. Pria itu menutup kertas-kertas yang telah dibacanya, dipandanginya keluar jendela, melihat suasana kota yang telah banyak berubah setelah bertahun-tahun lamanya tidak lagi dia kunjungi karena sebuah alasan, Adven Nathaniel mengalami kelumpuhan dan depresi. Saat hari pernikahannya gagal, dengan bodohnya Adven masih mencari keberadaan Arumy, dia seperti orang gila yang kehilangan arah. Kepergian Arumy seakan telah membuat dunia Adven berhenti saat itu juga. Butuh ratusan malam yang harus Adven arungi untuk bisa membuatnya sadar, bahwa dia telah menyia-nyiakan hidupnya untuk perempuan yang salah, untuk perempuan yang bahkan tidak pantas lagi berada di hadapannya. Adven akhirnya tersadar, Arumy memang pernah menjadi surga untuknya, namun pada akhirnya wanita berakhir menjadi nerakanya. Sesuatu yang paling buruk dari yang terburuk, bahkan untuk mendengar namanya dia sudah seperti noda yang harus dihindari. Adven akhirnya berdamai dan berjuang untuk sembuh dari segala luka dan sakitnya, dia memulai kembali lembaran baru hidupnya hingga akhirnya seperti inilah dia sekarang. Kembali menjadi Adven Nathaniel yang sebelum mengenal Arumy. Satu jam perjalanan itu akhirnya berakhir di depan sebuah kantor berlantai empat yang berdiri mandiri di sudut kota. Kedatangan Adven disambut oleh direktur yang telah menjadi orang kepercayaannya memegang perusahaan selama ia tidak ada. “Saya sangat senang sekali, akhirnya Anda bisa datang,” ucap Jonathan saling berjabat tangan. Mempersilahkan Adven masuk dan melihat kondisi kantornya secara langsung untuk pertama kalinya, sambil mendengarkan hal-hal penting yang Jonathan sampaikan. Ada cukup banyak orang yang bekerja, mereka dikelompokan di setiap ruangan agar bisa mengefesiensi pekerjaan. Dalam kesempatan itu, Jonathan memperkenalkan Adven kepada semua orang sebagai, acquirer yang telah mengakusisi perusahaan. Jonathan memperkenalkannya kurang dari satu menit, dan selanjutnya semua orang kembali bekerja tidak memberikan waktu untuk berkenalan lebih jauh. Setelah menghabiskan cukup banyak waktu untuk melihat keadaan semuanya, Adven cukup puas dengan keputusannya yang telah mengambil langkah besar mengakusisi perusahaan. Adven bisa merasakan ada begitu banyak potensi yang menguntungkannya, lebih dari apa yang telah diperhitungkan. “Ruangan Anda ada di lantai atas. Mari,” Jonathan kembali mempersilahkan Adven pergi menuju lantai selanjutnya. Tidak sempat langkah itu Adven lanjutkan, suara benda jatuh di lantai membuatnya menoleh seketika, melihat ke sumber suara. Riak wajah Adven pucat seketika, matanya terbuka lebar tidak berkedip melihat seorang wanita tengah membungkuk di lantai, membereskan swatch book yang terjatuh dari tumpukan yang dia bawa. Rambut hitam yang tergerai itu menyapu udara, saat tangan ramping menyampirkannya ke telinga, wajah yang sempat tertutup itu kembali terlihat dengan jelas. Jantung Adven berdebar kencang, dadanya memanas, kulitnya meremang tidak dapat mengontrol diri dari keterkejutan yang dialaminya saat ini. Arumy.. Adven tidak salah melihat, Arumy benar-benar berada di hadapannya sekarang. Wanita yang telah pergi meninggalkannya tanpa sepatah katapun penjelasan, wanita yang membuat Adven tampak seperti barang rongsokan yang dibuang ke tempat sampah karena sudah tidak berguna. Tubuh Adven kaku. Perasaannya campur aduk, rindu, marah, benci dan jijik menjadi satu, darah di nadinya memanas sampai kepala dan telinganya berdenging tidak dapat mendengarkan apa yang kini sedang Jonathan sampaikan. Rahang Adven mengeras bersama kepalan tangan yang begitu kuat sampai buku-buku jarinya memutih. Adven sama sekali tidak menyangka, bahwa mereka akan dipertemukan di tempat ini. Arumy bangkit dari posisinya tidak menyadari tengah diperhatikan, dia kembali berjalan sambil membawa tumpukan swatch booknya. Mata Adven tidak lepas dari sosoknya yang perlahan hilang dari pandangan, menyisakan bayangan samar akan jejak keberadaannya di lorong kantor. Apa yang Arumy lakukan disini? Dia adalah seorang pramugari, dia sangat menyukai penerbangan, bahkan meski dia kabur ke luar negeri, ada banyak maskapai yang pasti akan menerimanya. Mengapa Arumy ada di tempat yang bukan seharusnya? “Dia, karyawan disini?” bisik Adven dengan suara gemetar menahan begitu banyak perasaan yang meluap hebat di dalam dada. “Benar, Pak.” Jonthan tertawa sebelum akhirnya sebuah cerita ia sampaikan. “Namanya Arumy, dia sudah bekerja disini selama dua tahun. Saat magang dia sangat teledor, tidak pandai menggunakan komputer, tidak tahu apapun tentang arsitektur hingga sering dimarahi karena melakukan banyak kesalahan. Tapi, dia sangat bekerja keras untuk belajar dan pandai beberapa bahasa asing yang bisa membantu kami bicara dengan klien luar negeri, akhirnya HRD menjadikannya pekerja tetap.” Ternyata, dua tahun Arumy ada disini menjadi seorang karayawan biasa, tidak lagi menjadi pramugari. Tanpa sadar Adven mendengus dengan kesal, ada harga diri yang sangat terinjak. Memikirkan jika Arumy memilih kehidupan biasa dan berada dalam kesulitan dibandingkan menemaninya yang hanya sakit sementara waktu.Semua mata langsung tertuju pada Adven, menyaksikan prilaku kurang ajarnya yang berani memukul ayah kandungnya sendiri dengan cara yang sangat tidak pantas dan sangat memalukan untuk seorang pria berpendidikan.Hansen mengerang mengusap sisi keningnya yang berdenyut hebat mengeluarkan darah. “Adven!” teriak Anna dengan gemetar, tidak menyangka putra kesayangannya akan berani mengangkat tangannya untuk menghajar kepala keluarga Nathaneil yang terhormat.Teriakan Anna tidak cukup menghentikan kebringasan Adven, pria itu merangsek pakaian Hansen, dan tanpa kata tangannya menghantam sang ayah dengan pukulan keras hingga kepala Hansen terguncang tidak dapat mengimbangi tenaganya.Hansen tidak akan mungkin berani melaporkan Adven, bisa hancur kredibilitasnya yang dibangun puluhan tahun sebagai pria terhormat.Hati Adven telah gelap dipenuh oleh amarah dan kebencian sampai membuatnya tidak bisa memandang kedua orang tuanya sebagai yang perlu di hormati lagi.Mereka berdua tidak lebih dari d
Teriakan kencang Tyler menyentak Tina dari tidur lelapnya. Dalam keadaan masih mengantuk akhirnya Tina bangun disusul oleh kekasih gelapnya.Tina yang hendak balas berteriak tidak menahan suaranya begitu dia lihat dengan sadar bahwa Tyler berdiri di depan mata.Tina gelagapan mencari selimut untuk menutupi tubuh telanjangnya. “S-s sayang..” panggil Tina ketakutan.Tyler menggenggam erat tongkat baseballnya dengan mata melotot, kepalanya memanas bertegangan tidak kuasa mengendalikan amarahnya menyaksikan isterinya berselingkuh.Tidak ada alasan yang bisa dijadikan bantahan. Memangnya orang gila mana yang tidur telanjang berdua tanpa melakukan apapun! Siang malam Tyler bekerja keras dan memberikan segalanya untuk Tina hingga dia singkirkan Arumy seperti orang asing padahal itu darah dagingnya. Tyler selalu mengusahakan yang terbaik untuk istinya, tapi apa yang Tyler dapat?Dia justru dibalas dengan pengkhianatan, di rumahnya sendiri, di ranjang tempat Tyler tidur!“Bajingan kau Tina! D
Dua orang penjahat yang telah mengejar, mereka mendekat menyaksikan Arumy yang kini terkapar dengan napas yang lemah. Arumy tidak berdaya, untuk menggerakan satu jari pun dia tidak mampu. Gaun putih yang dia kenakan penuh oleh jejak darah, hingga sebagian wajah cantik itu langsung biru memar karena benturan yang begitu keras. Dengan mata setengah terbuka, penglihatan Arumy berkabut, telinganya berdenging sakit dan seluruh tubuhnya gemetar kesemutan. Sakit yang saling bertegangan mulai tidak dapat Arumy hadapi dan berubah menjadi rasa. Kegelapan mulai bermunculan disetiap tarikan napasnya yang dilakukan dengan penuh perjuangan, peralahan akhirnya mata Arumy terpejam kehilangan kesadaran. “Kita habisi dia sekarang?” tanya seseorang itu mengeluarkan senjatanya dibalik jaket dan menodongkannya pada Arumy, bersiap untuk menarik pelatuk, mengakhiri napas Arumy yang kini sudah berada diujung tanduk. “Sebaiknya jangan,” tahan temannya begitu melihat beberapa orang mulai muncul dari
Beberapa pejalan kaki sudah sampai di penyebrangan menyisakan Arumy yang masih berdiri ditempatnya bersama rambu lalu lintas yang belum berubah. Beberapa orang yang menyusul, melewati Arumy untuk menyebrang. Tyler akhirnya menepi dan keluar dari kendaraannya, dia memutuskan menghampiri Arumy dan melihat putrinya lebih dekat tanpa malu meski kini keadaan Arumy tampak pucat dan lusuh. “Bisakah kita bicara, Rumy?” tanya Tyler pelan. Arumy terdiam sebentar, memandang lekat wajah Tyler dibawah cahaya pagi. Sudah terlalu banyak pertengkaran yang mereka lewati akhir-akhir ini, Arumy menyadari bahwa mungkin pertengkaran itu tidak lepas dari keegoisannya juga. Ini kesempatan terakhirnya untuk bicara dengan Tyler, Arumy akan menyampaikan salam perpisahan karena kedepannya mereka tidak akan lagi pernah bertemu. Arumy tidak ingin kembali ke negara ini lagi.. “Kita bicara disana, aku tidak memiliki waktu lagi,” jawab Arumy menunjuk sebuah toko roti. Tyler tersenyum dengan sedikit gel
Jantung Adven berhenti berdetak, pria itu membeku kaku tidak dapat merespon dari hujaman keras sebuah kabar yang merusak akal sehatnya. Adven tidak salah dengar kan? Sunny adalah orang yang telah melahirkan Donovan? Bukan Arumy? Kebenaran macam apa ini! Bibir Adven terbuka, pria itu menarik udara melewati tenggorokannya yang mendadak kering perih. “Katakan sekali lagi,” pinta Adven dengan suara tersendat-sendat, meminta kepastian sekali lagi untuk meyakinkan diri, bahwa apa yang telah didengarnya bukan halusinasi. Adven masih tidak percaya sama sekali… “Dalam catatan medis rumah sakit, Sunny lah orang yang telah melahirkan Donovan bukan Rumy. Karena Sunny melahirkan di usia yang tua, dia mengalami gagal organ ginjal dan jantungnya, karena kekurangan biaya, Sunny terpaksa pulang sehari setelah melahirkan. Dua hari kemudian, Sunny meningal di apartement Rumy karena obat-obatan yang disuntikan padanya,” jawab Asteria memperjelas informasi yang akhirya saling berhubungan dengan a
“Kau darimana saja?” tanya Anna menyambut kedatangan Hansen yang baru pulang sudah menjelang pagi. Setelah pertemuan keluarga yang gagal total dan menyisakan malu, Hansen pergi begitu saja meninggalkan Anna seorang diri yang harus menangani kemarahan kedua orang Prisila karena kedatangan mereka tidak dihargai. Perjodohan yang Anna rencanakan sebaik mungkin. kini berada di ambang kehancuran, Prisila tidak mungkin bisa mempertahankan hubunganya jika pada akhirnya Adven kembali goyah pada Arumy yang kembali datang dalam hidupnya. Arumy.. Wanita sialan itu, dia pasti sudah berbicara sesuatu kepada Adven, karena itulah Adven berubah. Pikiran Anna berkecamuk seperti badai dilautan, semuanya telah menjadi masalah. Dan masalah yang menimpanya pasti sangat disukai Bjorn! Disaat semua orang fokus dengan masalah masing-masing, Bjorn akan diam-diam memperkuat posisinya di perusahaan Hansen dan mencaplok kembali perusahaan ibunya yang akan segera direbut dari tangan Anna. Hansen melep







