INICIAR SESIÓNSatu persatu tamu undangan telah hadir, mereka duduk mengisi kursi yang telah disediakan. Bisikan tawa kebahagiaan terdengar diantara orang-orang, menantikan moment sacral yang akan mereka saksikan.
Sempat, ada tatapan iba yang Adven terima dari mereka saat melihat kondisinya yang tiba-tiba duduk di kursi roda hingga harus didampingi dokter. Hansen, selaku ayah Adven harus menyampaikan sepenggal cerita, memberitahu semua orang yang akhirnya mengerti tentang apa yang tengah terjadi. Semuanya berjalan dengan baik, Adven mampu mengangkat wajahnya dengan percaya diri ditengah jantung yang berdebar kencang menantikan kedatangan Arumy. Menit demi menit telah terlewati.. Matahari mulai bergerak naik mengikuti waktu yang terus berputar.. Kebahagiaan semua orang mulai berubah menjadi pertanyaan, begitu mereka menyadari bahwa pihak keluarga mempelai wanita belum ada satupun yang mengisi kursi yang sudah disediakan. Pertanyaan sederhana itu meruncing menjadi kekhawatiran yang tidak terucap, begitu jadwal jam akad yang sudah ditentukan sudah terlewati satu jam. Tawa bahagia semua orang yang sempat terdengar telah berubah menjadi canggung, mata mereka saling lirik menahan kelancangan untuk bertanya, dimana sebenarnya mempelai wanita? Adven adalah orang paling gelisah di tempat itu. Berkali-kali ia melihat ke gawang pintu yang hanya membingkai kekosongan. Martin sibuk menyuruh beberapa orang untuk pergi menjemput Arumy di rumahnya, sementara kedua orang tuanya pergi ke belakang dan tampak mulai berdebat karena pendeta harus pergi. Waktu terus berjalan, penantian semakin panjang memperparah ketegangan.. Orang tua Adven menahan malu dihadapan keluarga dan tamu undangan. Dengan lirih mereka memohon kebesaran hati semua orang untuk menunggu selama setengah jam lagi. Setengah jam itu berjalan seperti pertaruhan yang mematikan. Ini bukan lagi tentang kehormatan mempelai pria yang disepelekan setelah berjuang dengan pertaruhan nyawa untuk bisa datang di hari pernikahannya, ini juga tentang martabat keluarga yang tengah dipermainkan dihadapan banyak orang. Sikap keluarga mempelai wanita yang tidak memberikan kabar sepatah katapun membuat keluarga Adven tampak seperti sebuah lelucon. Tidak ada lagi suara yang berbicara, semua mata tertuju ke pintu dengan penuh harapan. Sayangnya, semua harus dibayar dengan kecewa, Arumy tidak datang. Dengan berat hati orang tua Adven akhirnya, menyatakan bahwa pernikahan telah dibatalkan. Anna dan Hansen membiarkan semua orang pulang membawa gosip tidak menyenangkan, yang lambat laun pasti akan menyebarkan kepada semua orang. Adven duduk tak berbicara sepatah katapun, semangat yang berusaha ia tampilkan telah retak dan sebentar lagi mungkin akan hancur menjadi serpihan. Sorot matanya terlihat gelap tersapu oleh badai luka yang jauh lebih menyakitkan dari apa yang sedang mendera tubuhnya. Arumy tidak datang.. Menghilang tanpa sepatah katapun penjelasan, meninggalkanya dengan penghinaan yang begitu memalukan. Meninggalkannya sendirian di altar, duduk dengan kursi roda dan tampil sangat menyedihkan. Mengapa Arumy tega melakukan ini padanya? Jika alasan dia pergi, karena takut Adven cacat dan tidak berguna, setidaknya Arumy bisa mengatakannya dengan jujur, meski perpisahan mereka merobek-robek kebahagiaan yang dia mimpikan. Tapi, kenapa dari sekian banyaknya jalan perpisahan, Arumy justru memilih cara yang paling kejam seperti ini? Meninggalkannya dan mempermalukannya. Anna menyeka air matanya berkali-kali dengan isakan. “Ibu sudah berusaha menghubunginya, tapi tidak ada jawaban. Orang-orang Martin sudah datang ke rumahnya, disana tidak ada siapapun, tidak ada yang tahu keberadaan Arumy dan Sunny. Maafkan ibu Adven, ibu sekali tidak tahu ini akan terjadi. Ayo kita pulang, Nak, kita bicarakan hal ini di rumah, jangan memperparah sakitmu.” “Tinggalkan aku sendiri, Bu,” jawab Adven dengan suara yang berat, tetap duduk diam ditempatnya tak ingin beranjak pergi kemanapun. “Kenapa Adven? Apa kau masih mengharapkan kedatangannya?” “Kumohon, tinggalkan aku sendiri.” Hansen menarik lembut Anna agar memberi ruang sejenak untuk putra mereka. Dengan berat hati, semua orang akhirnya meninggalkan Adven sendirian di tengah kemewahan ruangan pesta pernikahan yang gagal. Adven terpaku menggenggam erat serpihan harapan yang kembali ia ais tanpa mempedulikan harga dirinya. Berharap Arumy datang. Arumy tidak perlu membuat alasan apapun, Adven akan memaafkannya dan tidak akan pernah mengungkitnya. Adven sangat mencintainya.. Sungguh, ini seperti mimpi. Sangat sulit untuk Adven percaya, bahwa Arumy mampu memperlakukan dirinya seperti benda yang bisa dia buang dan ditinggalkan setelah rusak dan tidak berguna. Arumy tidak seperti itu! Tapi, bagaimana jika ternyata selama ini penilaian Adven-lah yang salah? Satu tahun mereka menghabiskan waktu bersama, ada begitu banyak hal penting yang terjadi dan saling mereka bagi. Begitu membahagiakan dan sangat tulus. Saat Arumy menerima lamarannya, bukankah seharusnya Arumy sudah tahu bahwa hubungan mereka sangat berharga dan mereka saling mencintai, siap saling menerima untuk selamanya. Adven menarik napasnya dengan sesak, matanya tidak henti menatap pintu yang kini tertutup rapat mengurungnya seorang di dalam ruangan. Sama persis seperti keadaan hatinya yang kini sedang terbelenggu oleh duri yang perlahan menusuk dan merobek-robek hatinya. Satu jam telah berlalu.. Dua jam telah terlewati.. Tiga jam kemudian, hari mulai sore dan ruangan itu masih sama, membalas penantian panjang Adven dengan kecewa. Ketegaran yang Adven coba pertahankan akhirnya runtuh, pria itu tertunduk menangisi satu-satunya pertanyaan yang ingin dia tahu jawabannya. Kenapa Arumy tega melakukan ini padanya?Suara gesekan lembut ujung pensil warna terdengar kala mencoret-coret permukaan kertas. Tangan kecil Donovan menggenggam kuat pensil itu, merangkai gambar sesuka hatinya. Donovan mengangkat wajah dan diam-diam mengintip ibunya dari balik permukaan ranjang yang tinggi, Donovan lihat Arumy tengah mengambil sebuah obat dari dalam kotak sepatu dan menelannya.Donovan tidak ingat, sejak kapan ibunya sudah minum obat, namun sepanjang yang dia ingat, Arumy mengkonsumsinya. Meski tidak tidak setiap hari, namun obat itu tidak pernah lepas dari beberapa kesempatan.Untuk anak seusianya, Donovan tidak memahami apa yang sebenarnya tengah terjadi, satu-satunya yang dia tahu adalah, obat diperuntukan untuk orang yang sakit. “Apa Ibu sakit lagi?” tanya Donovan perlahan bangkit, meninggalkan pensil warnanya di atas meja kecil.“Tidak, ini vitamin agar ibu kuat,” jawab Arumy tersenyum lebar, menjatuhkan tubuhnya ke ranjang untuk mengistirahatakan diri, dari lelah yang telah mendera.Donovan ikut mer
Jawaban menohok Tyler membuat Arumy terpaku beberapa detik. Ada begitu banyak kata yang bisa Tyler sampaikan jika dia menolak, tapi Tyler tetap memilih hinaan untuk Donovan.Tidak cukup untuk Tyler mencela Donovan tetap di depan mukanya, Tyler juga menghina Donovan di belakangnya.Demi Tuhan! Donovan masih berusia empat tahun, dia tidak berdosa, dia bahkan tidak tahu alasan dirinya dibenci. Tapi kenapa, orang-orang dewasa yang yang harusnya sudah dapat berpikir, justru menghinanya hanya sebatas untuk dijadikan pelampiasan amarah!Arumy ingin memberikan Donovan seekor anjing karena kini dia sudah cukup besar dan dapat bertanggung jawab dengan peliharaannya. Donovan kesepian, dia membutuhkan sesuatu yang bisa dia ajak bermain.Selama ini Arumy sudah cukup sering memberikan Donovan mainan, namun Charlie selalu merebutnya. Tidak ada yang pernah menghentikan keinginan Charlie meski dia serba berkecukupan, apapun yang Donovan miliki dianggap milik Charlie juga,Hewan peliharaan tidak mungki
Harumnya aroma makanan tercium begitu disajikan di meja kayu yang sudah lapuk. Donovan menopang dagunya dengan mulut terbuka menahan lapar, dengan sabar anak itu menanti ibunya yang tengah memindahkan banyak sayur dari piringnya ke piring Donovan, menarik beberapa duri yang masih tertinggal agar Donovan bisa langsung makan dengan nyaman. Tubuh Donovan menegak seketika begitu piring makanannya di berikan. “Terima kasih, Bu,” ucapnya terdengar riang dan terburu-buru mengambil alat makan. “Donovan, lain kali kau tidak boleh keluar rumah sendirian saat malam-malam, itu bahaya, bagaimana jika ada orang jahat dan tidak ada yang menolongmu? Jangan buat ibu cemas,” nasihat Arumy ditengah aktivitas makan mereka. Donovan tertunduk menyembunyikan sebaris kesedihan yang tidak ingin dia perlihatkan. “Aku sangat kesepian di rumah.” Arumy menelan makanannya dengan kesulitan, tenggorokannya seperti telah tersangkut sebuah duri yang menancap. Ada seberkas rasa bersalah yang hinggap di ha
Arumy membasuh wajahnya berkali-kali, membersihkan sisa-sisa air mata yang telah dia tumpahkan menghadapi beban yang kembali menghimpit dada. Entah sudah berapa lama waktu yang telah Arumy habiskan untuk diam-diam menangis di toilet. Pertemuannya dengan Adven membuka kembali, tragedy lama yang telah berusaha dia kubur dalam-dalam. Arumy tahu dia telah berbuat salah, karena dia tahu, Arumy sangat sadar bahwa pertemuan ini tidak akan pernah berjalan mudah baginya maupun Adven. Sangat menyakitkan hanya dengan membayangkan, jika mulai sekarang Arumy akan melihat pria yang telah ditinggalkannya menjelang pernikahan mereka, dan kurang ajarnya Arumy masih mencintai pria itu hingga saat ini. Mirisnya, karena cinta itulah, Arumy harus pergi meninggalkan Adven. Apa yang harus Arumy lakukan sekarang? Dia tidak mungkin mengundurkan diri begitu saja untuk menghindari segalanya, Arumy sangat membutuhkan uang dan tidak mudah untuknya menemukan pekerjaan yang layak dalam waktu cepat. Jujur sa
Suara helaan napas berat terdengar dari bibir mungil Arumy, ia menggeliat meregangkan otot bahunya yang terasa pegal setelah seharian penuh bekerja keras meyelesaikan tugasnya.Hari ini, semua orang menjadi lebih sibuk dari biasanya karena pemilik perusahaan yang baru telah datang dan akan melakukan beberapa perubahan baru, salah satunya posisi tugas beberapa karyawan.Terdengar segelintir komentar beberapa wanita yang mengatakan, bahwa boss baru mereka seorang pria yang tampan. Beberapa orang wanita tampak sangat bersemangat seolah menemukan warna baru yang akan menjadi penyegar ditengah lelahnya pekerjaan.Arumy tidak sempat melihat, seharian ini dia berada di gudang untuk menghubungi toko yang menyediakan beberapa bahan kain keperluan furniture ruangan.Deringan telephone terdengar di meja, tangan Arumy terulur meraihnya dan menempatkannya di telinga.“Rumy, bisa kau naik ke lantai atas?” tanya Sisca, sekretaris pribadi Jonathan.“Ada apa Sisca?”“Proyek klinik kesehatan yang sedan
Lima tahun kemudian.. Sebuah sedan hitam melaju cepat melewati jalanan berkelok, di atas tebing dapat terlihat lautan yang jernih dan tenang, bertolak belakang dengan permukaannya yang sibuk dilintasi kapal-kapal besar yang meninggalkan pelabuhan. Di dalam kendaraan itu, terdapat seorang sopir yang tengah membawa seseorang yang harus diantar menuju satu tujuan di pusat kota North Emit. “Butuh waktu berapa lama lagi untuk kita akan sampai?” tanya seorang pria mulai merasakan bosan. “Sekitar satu jam lagi, Tuan,” sahut Cristian, “Anda istirahat dulu? “Tidak perlu,” jawabnya begitu tenang, setenang sepasang mata birunya yang menyapu membaca kertas-kertas ditangannya, mempelajari kemajuan sebuah perusahaan arsitektur yang beberapa bulan lalu berhasil diakusisi setelah mengalami pailit tidak mampu membayar hutang ke bank. Pria itu menutup kertas-kertas yang telah dibacanya, dipandanginya keluar jendela, melihat suasana kota yang telah banyak berubah setelah bertahun-tahun lamanya ti







