Share

Chapter 5

Author: Asayake
last update publish date: 2026-01-15 16:27:44

Suara helaan napas berat terdengar dari bibir mungil Arumy, ia menggeliat meregangkan otot bahunya yang terasa pegal setelah seharian penuh bekerja keras meyelesaikan tugasnya.

Hari ini, semua orang menjadi lebih sibuk dari biasanya karena pemilik perusahaan yang baru telah datang dan akan melakukan beberapa perubahan baru, salah satunya posisi tugas beberapa karyawan.

Terdengar segelintir komentar beberapa wanita yang mengatakan, bahwa boss baru mereka seorang pria yang tampan. Beberapa orang wanita tampak sangat bersemangat seolah menemukan warna baru yang akan menjadi penyegar ditengah lelahnya pekerjaan.

Arumy tidak sempat melihat, seharian ini dia berada di gudang untuk menghubungi toko yang menyediakan beberapa bahan kain keperluan furniture ruangan.

Deringan telephone terdengar di meja, tangan Arumy terulur meraihnya dan menempatkannya di telinga.

“Rumy, bisa kau naik ke lantai atas?” tanya Sisca, sekretaris pribadi Jonathan.

“Ada apa Sisca?”

“Proyek klinik kesehatan yang sedang dikerjakan tim-mu, pemilik perusahaan tertarik untuk mengetahuinya. Pak Jonathan memintamu yang datang dan mempresentasikannya. Sekarang.”

Kening Arumy mengerut bingung, biasanya selalu Nichol yang naik karena dia peminpin tim, bukan Arumy yang hanya anggota tim untuk menjadi pelengkap.

Kenapa kali ini Jonathan meminta Arumy?

Ada keraguan dimata Nichol saat Arumy membicarakan apa yang Jonathan minta. Nichol adalah wanita yang perfections dan dominan, dia juga akan marah jika Arumy membuat sedikit kesalahan karena segala sesuatu yang terjadi di tim adalah tanggung jawab Nichol.

Orang yang akan Arumy temui bukan lagi Jonathan yang sudah mereka kenal lama, namun pemilik perusahaan. Sedikit kesan buruk yang Arumy ciptakan, akan berpengaruh pada kredibilias tim.

Membawa document dan tabletnya, Arumy akhirnya pergi melawan keraguan.

Sisca yang telah menelphone, meminta Arumy langsung masuk ke dalam ruangan yang sudah lama kosong, tidak ditempati oleh siapapun sejak hengkangnya sang founder perusahaan.

Tok tok!

Arumy mengetuknya dua kali, sebelum medorong pintu dan melangkah masuk. Dilihatnya Jonathan yang tersenyum duduk di sofa, namun saat mata Arumy berpindah haluan.

Deg!

Tubuh Arumy membeku terpaku di tempat, pegangannya pada map dan tablet terlepas begitu saja.

Ruangan yang dingin itu berubah hampa dan sangat sesak, mata Arumy gemetar bertatapan dengan sepasang mata biru milik pria yang kini duduk di kursi kebesarannya.

Pikiran Arumy membeku sampai udara tertahan di tenggorokan, Arumy lupa bagaimana caranya untuk bernapas.

Lima tahun, itu bukan waktu yang sebentar, tetapi lelaki itu masih sangat sama persis seperti terakhir kali Arumy lihat.

Adven Nathaniel, pria yang paling Arumy cintai dan dia lukai sekaligus, juga pria yang tidak pernah bisa bersanding dengan Arumy untuk selamanya.

Mata Arumy memanas begitu perih, dia ingin menangis namun malu untuk melakukannya. Arumy tidak pantas untuk bereaksi tragis sementara dia adalah orang yang telah meninggalkan Adven begitu saja.

Ada maaf yang harus Arumy sampaikan kepadanya, namun ada penjelasan yang harus dia simpan selamanya.

Perasaan Arumy campur aduk, kerinduan dan penyesalan menjadi satu, disisi lain dia merasa bahagia bisa melihat Adven dalam keadaan baik-baik saja setelah kecelakaan yang terjadi lima tahun lalu.

Arumy bersyukur, cukup kehidupannya saja yang hancur, tetapi jangan dengan kehidupan Adven.

Arumy berpikir, mereka tidak akan pernah lagi berjumpa, namun yang tidak sangka Adven justru menjadi pemilik perusahaan tempatnya bekerja.

Arumy tertunduk begitu sadar Jonathan telah di hadapannya, memunguti kertas-kertas yang telah berhamburan. Dengan gemetar Arumy ikut membungkuk.

“Maafkan saya,” bisik Arumy dengan tangan gemetar merapikan documentnya.

“Kau bereaksi sama seperti karyawan wanita lain,” komentar Jontahan dengan helaan napas beratnya. “kau harus fokus Rumy, jangan menghancurkan kredibiltasmu,”

Begitu semuanya kembali di tangan, Arumy mendekat dengan langkah yang goyah dibawah tatapan tajam Adven yang penuh dengan kebencian.

“Silahkan duduk Rumy,” ucap Jonathan mempersilahkan.

Di hadapan Adven, Arumy duduk dengan wajah tertunduk tidak mampu untuk menatap ataupun tersenyum. Segala sesuatu yang dia tunjukan di hadapan Adven sama sekali tidak pantas untuk dia perlihatkan, bahkan keberadaannya pun tidak layak.

Tubuh Adven menegak, bibirnya tertutup rapat saat matanya memandang Arumy begitu lama.

Jonatahan yang tidak tahu apapun yang terjadi, melihat Arumy dan Adven bergantian. Satu dua detik keheningan masih bisa dia pahami, tetapi ini sudah dua menit lamanya semua orang diam seperti dua bongkah batu yang disandingkan.

“Ekhem!” Jonathan berdeham keras untuk memecah keheningan. “Rumy, ayo presentasikan pekerjaan tim-mu, jangan diam saja, Pak Adven menunggu,” tegur Jonathan.

Arumy menarik napasnya dalam-dalam, mengumpulkan keberanian untuk berbicara senormal mungkin seperti sepatutnya seorang bawahan pada atasan, mengesampingkan urusan pribadi mereka yang pernah terjadi.

Sepanjang presentasi, Adven tidak berbicara sepatah katapun sebagai tanggapan, tidak ada pertanyaan yang dia sampaikan. Matanya hanya terpaku pada wajah pucat Arumy, sesekali sesekali melihat ujung jari dengan kuku yang hanya terpotong tidak mendapatkan perawatan.

Adven meminta Arumy datang hanya semata-mata untuk menjadikannya sebagai pertunjukan yang sedikit terhormat, bukan murni karena ketertarikannya pada pekerjaan. Tetapi untuk memberitahukan wanita itu dimana posisinya sekarang, tidak lebih baik dari Adven.

“Pak Adven,” panggil Jonathan kembali menjadi orang yang menegur keheningan semua orang.

“Itu sudah cukup,” jawab Adven untuk pertama kalinya berbicara sejak kedatangan Arumy di ruangan itu.

“Kau boleh kembali ke ruanganmu Rumy,” ucap Jonathan.

“Terima kasih,” bisik Arumy dengan suara yang nyaris tidak terdengar. Terburu-buru Arumy membenahi barang-barangnya dan segera pergi, berjalan secepat yang dia bisa agar bisa terlepas dari tekanan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Cinta yang Patah, sebelum Sah   Chapter 163

    Pupil mata Bjorn melebar, sepasang mata biru jernih itu berubah begitu dingin menatap Martin yang kini tersenyum mengejek, bicara dengan sesuka hati tentang ibunya, bicara dengan bangga tentang apa yang pernah dia lakukan pada Arumy.Bjorn tidak begitu membenci Martin karena saat dia dilahirkan, Bjorn berada di pengasingan, tidak menerima sakit yang terlalu berat berkat keluarga ibunya menyelamatkannya.Bjorn tidak pernah mempermasalahkan apa yang sudah Martin lakukan pada Arumy karena Martin tidak tahu apapun. Tapi kali ini, Martin sudah tahu segalanya, dan ternyata Martin tak menyesalinya…Martin telah meremehkan kebaikan Bjorn. Seorang Hansen Nathaneil bisa Bjorn hancurkan sehancur-hancurnya, apalagi hanya sebatas Martin.Sudut bibir Bjorn terangkat pelan membalasnya dengan senyuman di bibirnya yang ternoda darah. Ketenangan Bjorn menghadapi provokasinya justru membuat Martin semakin tersulut amarah, Martin merasa seperti telah diremehkan dan dianggap tidak memiliki pengaruh apap

  • Cinta yang Patah, sebelum Sah   Chapter 162

    “Pak Adven sudah berangkat bekerja pagi sekali, beliau berpesan akan kembali lebih awal,” ucap Megan menyambut kedatangan Arumy yang baru muncul ke ruang makan.Kursi roda Arumy bergerak mengisi celah yang sengaja dikosongkan, dengan telaten Megan langsung menghidangkan sarapan dan menyiapkan obat yang harus Arumy konsumsi.Tidak berapa lama kemudian Donovan datang menyusul, menemaninya sarapan sambil bercerita tentang poodle-nya yang tidak bisa berlarian bebas karena kukunya telah memanjang dan perlu dipotong.Dengan sabar Arumy mendengarkan sambil berjuang menguyah setiap makanan masuk ke dalam mulut karena telinganya masih sensitif oleh suara.Suara dentingan bel terdengar beberapa kali di depan pintu, Megan meninggalkan ruangan makan untuk pergi melihat siapa yang datang. Tidak lebih dari dua menit ia pergi, Megan kembali datang dengan membawa bouquet tulip putih. “Ini dari pak Adven,” ucap Megan dengan senyuman. “Anda mau meletakannya dimana?”Arumy terdiam sejenak, sampai ak

  • Cinta yang Patah, sebelum Sah   Chapter 161

    “Tuan Bjorn,” inspektur Epstein menyambut kedatangan Bjorn dan Micahelin yang akhirnya datang rumah sakit.Meski seluruh urusan telah Bjorn serahkan pada Adven, sebagai anak tertua Bjorn tetap menjadi orang pertama yang dihubungi jika itu berurusan dengan hal yang darurat.Jika harus jujur, sejak meninggalkan Hansen di ruang interogasi, Bjorn sudah tidak sudi lagi untuk berjumpa dengannya. Namun setelah makan malam di villa Adven, sepanjang perjalanan pulang dari kota North Emit, Bjorn mempertimbangkan perasaan pribadinya yang masih terikat satu hal penting dengan Hansen, yaitu kebencianya pada Hansen yang masih utuh.Kebencian itu sudah seperti denyut dalam nadi, mengiringi setiap hembusan napasnya dan akan hanya akan berhenti dengan kematian Bjorn sendiri.Sepanjang malam`Bjorn bertanya pada dirinya sendiri, apalagi sekarang alasan dirinya masih benci? Bukankah balas dendamnya sudah selesai? Bukankah Hansen sudah teramat menderita seperti apa yang diharapnya?Ratusan kali Bjorn berp

  • Cinta yang Patah, sebelum Sah   Chapter 160

    Adven melepas jass dan melempar ke kursi, pria itu mengambil handpone untuk memanggil dokter agar segera datang memeriksa. Lalu dilihatnya kembali Arumy yang mulai mengejang kaku dibalik selimut.Terburu-buru Adven mendekat, mendengar suara racauannya yang tidak begitu jelas. Suhu tubuh Arumy semakin meningkat, sakit yang dirasa semakin menyiksa, bertegangan hebat sampai sulit dikendalikan.Suara Adven yang memanggil berkali-kali menyapu pendengaran, Arumy sadar dengan kehadirannya, namun dia tidak mampu untuk membuka mata ataupun bicara sekadar minta tolong.Bukan hanya bahunya saja yang sakit, kepalanya kembali berdenyut seperti ditusuk-tusuk. Setiap pagi Arumy mengalami gejala sama, namun kali ini sangat berbeda karena tidak ada bantuan langsung dari dokter selayaknya saat berada di rumah sakit.Ketidak berdayaan Arumy menghadapi sakitnya begitu memilukan untuk Adven lihat. Adven pernah berada di posisinya dan dia tahu bagaimana rasanya setiap siksaan sakit yang harus ditanggungn

  • Cinta yang Patah, sebelum Sah   Chapter 159

    Di depan pekarangan vila itu, Donovan berdiri dengan tangan melambai, matanya berkaca-kaca melihat kendaraannya Bjorn mulai bergerak menjauh. Bjorn tetap pergi sesuai rencananya, tidak bersedia tinggal sedikit lebih lama apalagi menginap.Begitu cepat mereka berpisah, padahal Dovonan baru saja merasakan apa artinya menemukan orang-orang yang berharga dalam hidupnya, menikmati kehangatan yang begitu luar biasa.Dari pantulan spion, Bjorn lihat Arumy yang duduk di kursi roda menyaksikan kepergiannya dari balik jendela kamar kehabisan energy untuk bicara maupun bergerak.Pandangan Bjorn berpindah pada Donovan, sosok anak yang telah memberinya banyak cahaya kebenaran melalui kepolosan. Tangisnya yang mengantar kepergian Bjorn membuatnya merasa seperti berharga, memiliki tempat dan juga dibutuhkan.Kasih sayang yang Arumy ajarkan pada Donovan telah berhasil memeluk dingin jiwanya, mencairkan beku yang lama berdiam, dan melunakkan hati kerasnya yang selama ini dipenuhi duri kebencian.Lebih

  • Cinta yang Patah, sebelum Sah   Chapter 158

    “Apa kau sudah tahu apa yang kini telah terjadi pada ayah?” tanya Adven menghampiri Bjorn yang telah duduk di salah satu kursi makan. “Aku sudah tahu,” jawab Bjorn dengan santai. Adven mengetuk permukaan meja untuk menghiasi keheningan yang kini sedang menjeda percakapan. Jujur saja, Adven tidak dapat menebak apa yang Bjorn pikirkan setelah tahu kondisi Hansen saat ini. Apakah ada simpati di dalam diri Bjorn? Pria itu mampu bersenang-senang hingga merayakan kematian Anna secara terang-terangan dihadapan Adven, bukan hal yang mustahil jika Bjorn juga akan melakukan hal yang sama untuk merayakan penderitaan Hansen. “Polisi mulai membahas tentang kemungkinan euthanasia untuknya karena kondisinya sangat buruk tidak memungkinkan menjalani hukuman penjara. Negara juga tidak bersedia mebiayai seorang penjahat dengan harga mahal untuk seumur hidupnya.” Bjorn terdiam dalam pikiran yang dalam. Suntik mati memiliki dua pandangan yang saling bertolak belakang, yaitu antara hak untuk hidu

  • Cinta yang Patah, sebelum Sah   Chapter 44

    Setengah hari setelah Arumy mendapatkan perawatan dan obat-obatan, keadaannya yang mulai pulih membuatnya langsung bangkit tidak lagi bersantai di ranjang. Beralasan istirahat, Arumy langsung memanfaatkan waktunya untuk pulang lebih awal. Hari ini, Arumy harus membawa Donovan pergi meninggalkanm r

    last updateLast Updated : 2026-03-23
  • Cinta yang Patah, sebelum Sah   Chapter 40

    “Apa kau menyesal telah memarahinya?” tanya Tina melihat kemurungan Tyler yang kini duduk diam membisu setelah diberi tahu bahwa Arumy akan pergi meninggalkan rumah.Tyler mengusap bibirnya dengan tekanan, sorot matanya tampak gelap tidak dapat menyangkal bahwa dia memang menyesal karena terlalu k

    last updateLast Updated : 2026-03-23
  • Cinta yang Patah, sebelum Sah   Chapter 36

    Adven menggenggam erat handponenya. Waktu seakan berhenti, segala sesuatu yang ada disekitar berubah hampa sampai membuatnya kesulitan untuk merasakan keberadaan udara.Wajah Adven mengeras, bertahan dari guncangan hebat yang memacu kencang jantungnya.Ada setitik sakit yang telah menghujam hatinya

    last updateLast Updated : 2026-03-22
  • Cinta yang Patah, sebelum Sah   Chapter 38

    “Siapa paman yang kau maksud tadi, Donovan?” tanya Arumy ditengah perjalanan mereka pulang. Arumy ingin tahu, apa yang sebenarnya terjadi antara Donovan dan Adven hingga mereka bisa makan malam bersama.Ini terlalu mustahil jika disebut sebuah kebetulan, sangat tidak masuk akal untuknya.Arumy tid

    last updateLast Updated : 2026-03-22
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status