INICIAR SESIÓNSuara helaan napas berat terdengar dari bibir mungil Arumy, ia menggeliat meregangkan otot bahunya yang terasa pegal setelah seharian penuh bekerja keras meyelesaikan tugasnya.
Hari ini, semua orang menjadi lebih sibuk dari biasanya karena pemilik perusahaan yang baru telah datang dan akan melakukan beberapa perubahan baru, salah satunya posisi tugas beberapa karyawan. Terdengar segelintir komentar beberapa wanita yang mengatakan, bahwa boss baru mereka seorang pria yang tampan. Beberapa orang wanita tampak sangat bersemangat seolah menemukan warna baru yang akan menjadi penyegar ditengah lelahnya pekerjaan. Arumy tidak sempat melihat, seharian ini dia berada di gudang untuk menghubungi toko yang menyediakan beberapa bahan kain keperluan furniture ruangan. Deringan telephone terdengar di meja, tangan Arumy terulur meraihnya dan menempatkannya di telinga. “Rumy, bisa kau naik ke lantai atas?” tanya Sisca, sekretaris pribadi Jonathan. “Ada apa Sisca?” “Proyek klinik kesehatan yang sedang dikerjakan tim-mu, pemilik perusahaan tertarik untuk mengetahuinya. Pak Jonathan memintamu yang datang dan mempresentasikannya. Sekarang.” Kening Arumy mengerut bingung, biasanya selalu Nichol yang naik karena dia peminpin tim, bukan Arumy yang hanya anggota tim untuk menjadi pelengkap. Kenapa kali ini Jonathan meminta Arumy? Ada keraguan dimata Nichol saat Arumy membicarakan apa yang Jonathan minta. Nichol adalah wanita yang perfections dan dominan, dia juga akan marah jika Arumy membuat sedikit kesalahan karena segala sesuatu yang terjadi di tim adalah tanggung jawab Nichol. Orang yang akan Arumy temui bukan lagi Jonathan yang sudah mereka kenal lama, namun pemilik perusahaan. Sedikit kesan buruk yang Arumy ciptakan, akan berpengaruh pada kredibilias tim. Membawa document dan tabletnya, Arumy akhirnya pergi melawan keraguan. Sisca yang telah menelphone, meminta Arumy langsung masuk ke dalam ruangan yang sudah lama kosong, tidak ditempati oleh siapapun sejak hengkangnya sang founder perusahaan. Tok tok! Arumy mengetuknya dua kali, sebelum medorong pintu dan melangkah masuk. Dilihatnya Jonathan yang tersenyum duduk di sofa, namun saat mata Arumy berpindah haluan. Deg! Tubuh Arumy membeku terpaku di tempat, pegangannya pada map dan tablet terlepas begitu saja. Ruangan yang dingin itu berubah hampa dan sangat sesak, mata Arumy gemetar bertatapan dengan sepasang mata biru milik pria yang kini duduk di kursi kebesarannya. Pikiran Arumy membeku sampai udara tertahan di tenggorokan, Arumy lupa bagaimana caranya untuk bernapas. Lima tahun, itu bukan waktu yang sebentar, tetapi lelaki itu masih sangat sama persis seperti terakhir kali Arumy lihat. Adven Nathaniel, pria yang paling Arumy cintai dan dia lukai sekaligus, juga pria yang tidak pernah bisa bersanding dengan Arumy untuk selamanya. Mata Arumy memanas begitu perih, dia ingin menangis namun malu untuk melakukannya. Arumy tidak pantas untuk bereaksi tragis sementara dia adalah orang yang telah meninggalkan Adven begitu saja. Ada maaf yang harus Arumy sampaikan kepadanya, namun ada penjelasan yang harus dia simpan selamanya. Perasaan Arumy campur aduk, kerinduan dan penyesalan menjadi satu, disisi lain dia merasa bahagia bisa melihat Adven dalam keadaan baik-baik saja setelah kecelakaan yang terjadi lima tahun lalu. Arumy bersyukur, cukup kehidupannya saja yang hancur, tetapi jangan dengan kehidupan Adven. Arumy berpikir, mereka tidak akan pernah lagi berjumpa, namun yang tidak sangka Adven justru menjadi pemilik perusahaan tempatnya bekerja. Arumy tertunduk begitu sadar Jonathan telah di hadapannya, memunguti kertas-kertas yang telah berhamburan. Dengan gemetar Arumy ikut membungkuk. “Maafkan saya,” bisik Arumy dengan tangan gemetar merapikan documentnya. “Kau bereaksi sama seperti karyawan wanita lain,” komentar Jontahan dengan helaan napas beratnya. “kau harus fokus Rumy, jangan menghancurkan kredibiltasmu,” Begitu semuanya kembali di tangan, Arumy mendekat dengan langkah yang goyah dibawah tatapan tajam Adven yang penuh dengan kebencian. “Silahkan duduk Rumy,” ucap Jonathan mempersilahkan. Di hadapan Adven, Arumy duduk dengan wajah tertunduk tidak mampu untuk menatap ataupun tersenyum. Segala sesuatu yang dia tunjukan di hadapan Adven sama sekali tidak pantas untuk dia perlihatkan, bahkan keberadaannya pun tidak layak. Tubuh Adven menegak, bibirnya tertutup rapat saat matanya memandang Arumy begitu lama. Jonatahan yang tidak tahu apapun yang terjadi, melihat Arumy dan Adven bergantian. Satu dua detik keheningan masih bisa dia pahami, tetapi ini sudah dua menit lamanya semua orang diam seperti dua bongkah batu yang disandingkan. “Ekhem!” Jonathan berdeham keras untuk memecah keheningan. “Rumy, ayo presentasikan pekerjaan tim-mu, jangan diam saja, Pak Adven menunggu,” tegur Jonathan. Arumy menarik napasnya dalam-dalam, mengumpulkan keberanian untuk berbicara senormal mungkin seperti sepatutnya seorang bawahan pada atasan, mengesampingkan urusan pribadi mereka yang pernah terjadi. Sepanjang presentasi, Adven tidak berbicara sepatah katapun sebagai tanggapan, tidak ada pertanyaan yang dia sampaikan. Matanya hanya terpaku pada wajah pucat Arumy, sesekali sesekali melihat ujung jari dengan kuku yang hanya terpotong tidak mendapatkan perawatan. Adven meminta Arumy datang hanya semata-mata untuk menjadikannya sebagai pertunjukan yang sedikit terhormat, bukan murni karena ketertarikannya pada pekerjaan. Tetapi untuk memberitahukan wanita itu dimana posisinya sekarang, tidak lebih baik dari Adven. “Pak Adven,” panggil Jonathan kembali menjadi orang yang menegur keheningan semua orang. “Itu sudah cukup,” jawab Adven untuk pertama kalinya berbicara sejak kedatangan Arumy di ruangan itu. “Kau boleh kembali ke ruanganmu Rumy,” ucap Jonathan. “Terima kasih,” bisik Arumy dengan suara yang nyaris tidak terdengar. Terburu-buru Arumy membenahi barang-barangnya dan segera pergi, berjalan secepat yang dia bisa agar bisa terlepas dari tekanan.Suara gesekan lembut ujung pensil warna terdengar kala mencoret-coret permukaan kertas. Tangan kecil Donovan menggenggam kuat pensil itu, merangkai gambar sesuka hatinya. Donovan mengangkat wajah dan diam-diam mengintip ibunya dari balik permukaan ranjang yang tinggi, Donovan lihat Arumy tengah mengambil sebuah obat dari dalam kotak sepatu dan menelannya.Donovan tidak ingat, sejak kapan ibunya sudah minum obat, namun sepanjang yang dia ingat, Arumy mengkonsumsinya. Meski tidak tidak setiap hari, namun obat itu tidak pernah lepas dari beberapa kesempatan.Untuk anak seusianya, Donovan tidak memahami apa yang sebenarnya tengah terjadi, satu-satunya yang dia tahu adalah, obat diperuntukan untuk orang yang sakit. “Apa Ibu sakit lagi?” tanya Donovan perlahan bangkit, meninggalkan pensil warnanya di atas meja kecil.“Tidak, ini vitamin agar ibu kuat,” jawab Arumy tersenyum lebar, menjatuhkan tubuhnya ke ranjang untuk mengistirahatakan diri, dari lelah yang telah mendera.Donovan ikut mer
Jawaban menohok Tyler membuat Arumy terpaku beberapa detik. Ada begitu banyak kata yang bisa Tyler sampaikan jika dia menolak, tapi Tyler tetap memilih hinaan untuk Donovan.Tidak cukup untuk Tyler mencela Donovan tetap di depan mukanya, Tyler juga menghina Donovan di belakangnya.Demi Tuhan! Donovan masih berusia empat tahun, dia tidak berdosa, dia bahkan tidak tahu alasan dirinya dibenci. Tapi kenapa, orang-orang dewasa yang yang harusnya sudah dapat berpikir, justru menghinanya hanya sebatas untuk dijadikan pelampiasan amarah!Arumy ingin memberikan Donovan seekor anjing karena kini dia sudah cukup besar dan dapat bertanggung jawab dengan peliharaannya. Donovan kesepian, dia membutuhkan sesuatu yang bisa dia ajak bermain.Selama ini Arumy sudah cukup sering memberikan Donovan mainan, namun Charlie selalu merebutnya. Tidak ada yang pernah menghentikan keinginan Charlie meski dia serba berkecukupan, apapun yang Donovan miliki dianggap milik Charlie juga,Hewan peliharaan tidak mungki
Harumnya aroma makanan tercium begitu disajikan di meja kayu yang sudah lapuk. Donovan menopang dagunya dengan mulut terbuka menahan lapar, dengan sabar anak itu menanti ibunya yang tengah memindahkan banyak sayur dari piringnya ke piring Donovan, menarik beberapa duri yang masih tertinggal agar Donovan bisa langsung makan dengan nyaman. Tubuh Donovan menegak seketika begitu piring makanannya di berikan. “Terima kasih, Bu,” ucapnya terdengar riang dan terburu-buru mengambil alat makan. “Donovan, lain kali kau tidak boleh keluar rumah sendirian saat malam-malam, itu bahaya, bagaimana jika ada orang jahat dan tidak ada yang menolongmu? Jangan buat ibu cemas,” nasihat Arumy ditengah aktivitas makan mereka. Donovan tertunduk menyembunyikan sebaris kesedihan yang tidak ingin dia perlihatkan. “Aku sangat kesepian di rumah.” Arumy menelan makanannya dengan kesulitan, tenggorokannya seperti telah tersangkut sebuah duri yang menancap. Ada seberkas rasa bersalah yang hinggap di ha
Arumy membasuh wajahnya berkali-kali, membersihkan sisa-sisa air mata yang telah dia tumpahkan menghadapi beban yang kembali menghimpit dada. Entah sudah berapa lama waktu yang telah Arumy habiskan untuk diam-diam menangis di toilet. Pertemuannya dengan Adven membuka kembali, tragedy lama yang telah berusaha dia kubur dalam-dalam. Arumy tahu dia telah berbuat salah, karena dia tahu, Arumy sangat sadar bahwa pertemuan ini tidak akan pernah berjalan mudah baginya maupun Adven. Sangat menyakitkan hanya dengan membayangkan, jika mulai sekarang Arumy akan melihat pria yang telah ditinggalkannya menjelang pernikahan mereka, dan kurang ajarnya Arumy masih mencintai pria itu hingga saat ini. Mirisnya, karena cinta itulah, Arumy harus pergi meninggalkan Adven. Apa yang harus Arumy lakukan sekarang? Dia tidak mungkin mengundurkan diri begitu saja untuk menghindari segalanya, Arumy sangat membutuhkan uang dan tidak mudah untuknya menemukan pekerjaan yang layak dalam waktu cepat. Jujur sa
Suara helaan napas berat terdengar dari bibir mungil Arumy, ia menggeliat meregangkan otot bahunya yang terasa pegal setelah seharian penuh bekerja keras meyelesaikan tugasnya.Hari ini, semua orang menjadi lebih sibuk dari biasanya karena pemilik perusahaan yang baru telah datang dan akan melakukan beberapa perubahan baru, salah satunya posisi tugas beberapa karyawan.Terdengar segelintir komentar beberapa wanita yang mengatakan, bahwa boss baru mereka seorang pria yang tampan. Beberapa orang wanita tampak sangat bersemangat seolah menemukan warna baru yang akan menjadi penyegar ditengah lelahnya pekerjaan.Arumy tidak sempat melihat, seharian ini dia berada di gudang untuk menghubungi toko yang menyediakan beberapa bahan kain keperluan furniture ruangan.Deringan telephone terdengar di meja, tangan Arumy terulur meraihnya dan menempatkannya di telinga.“Rumy, bisa kau naik ke lantai atas?” tanya Sisca, sekretaris pribadi Jonathan.“Ada apa Sisca?”“Proyek klinik kesehatan yang sedan
Lima tahun kemudian.. Sebuah sedan hitam melaju cepat melewati jalanan berkelok, di atas tebing dapat terlihat lautan yang jernih dan tenang, bertolak belakang dengan permukaannya yang sibuk dilintasi kapal-kapal besar yang meninggalkan pelabuhan. Di dalam kendaraan itu, terdapat seorang sopir yang tengah membawa seseorang yang harus diantar menuju satu tujuan di pusat kota North Emit. “Butuh waktu berapa lama lagi untuk kita akan sampai?” tanya seorang pria mulai merasakan bosan. “Sekitar satu jam lagi, Tuan,” sahut Cristian, “Anda istirahat dulu? “Tidak perlu,” jawabnya begitu tenang, setenang sepasang mata birunya yang menyapu membaca kertas-kertas ditangannya, mempelajari kemajuan sebuah perusahaan arsitektur yang beberapa bulan lalu berhasil diakusisi setelah mengalami pailit tidak mampu membayar hutang ke bank. Pria itu menutup kertas-kertas yang telah dibacanya, dipandanginya keluar jendela, melihat suasana kota yang telah banyak berubah setelah bertahun-tahun lamanya ti







