LOGINArumy membasuh wajahnya berkali-kali, membersihkan sisa-sisa air mata yang telah dia tumpahkan menghadapi beban yang kembali menghimpit dada.
Entah sudah berapa lama waktu yang telah Arumy habiskan untuk diam-diam menangis di toilet. Pertemuannya dengan Adven membuka kembali, tragedy lama yang telah berusaha dia kubur dalam-dalam. Arumy tahu dia telah berbuat salah, karena dia tahu, Arumy sangat sadar bahwa pertemuan ini tidak akan pernah berjalan mudah baginya maupun Adven. Sangat menyakitkan hanya dengan membayangkan, jika mulai sekarang Arumy akan melihat pria yang telah ditinggalkannya menjelang pernikahan mereka, dan kurang ajarnya Arumy masih mencintai pria itu hingga saat ini. Mirisnya, karena cinta itulah, Arumy harus pergi meninggalkan Adven. Apa yang harus Arumy lakukan sekarang? Dia tidak mungkin mengundurkan diri begitu saja untuk menghindari segalanya, Arumy sangat membutuhkan uang dan tidak mudah untuknya menemukan pekerjaan yang layak dalam waktu cepat. Jujur saja, Arumy sangat berharap bahwa Adven bersikap asing dan tidak menganggap keberadaannya, mungkin itu akan sedikit menjadi lebih mudah untuk Arumy jalani Tapi, orang gila mana yang bisa bersikap biasa saja setelah ditinggal begitu saja menjelang pernikahan? Bahkan, jika Adven sudah melupakannya dan menemukan wanita yang jauh lebih layak untuknya, mustahil dia lupa akan kejahatan yang pernah dibuat oleh Arumy. Arumy menyeka wajahnya menyingkirkan sisa air yang masih menempel, berkali-kali dia mengatur napas agar mendapatkan ketenangan sebelum memutuskan kembali ke ruangannya yang sudah sepi. Semua orang telah pulang, dari balik kaca kantor langit pun terlihat sudah gelap. Arumy mengambil tasnya dan terburu-buru pergi, menyusuri kantor yang mulai sunyi. Langkah Arumy tertahan tepat di depan pintu lift yang baru kembali tertutup, ketenangan yang baru ia raih beberapa menit kembali hancur, wajahnya tampak tegang begitu melihat orang yang sedang ingin dihindarinya, justru tengah duduk sendirian di kursi lobby, menunggu kedatangan sopirnya untuk menjemput. Arumy menelan salivanya dengan kesulitan, dia tidak dapat kembali mundur masuk lift, disisi lain dia ragu untuk melangkah melewati Adven tanpa menyapa karena kini pria itu telah menjadi atasannya, dan satu-satunya orang yang berada di lobby tepat jalan untuk Arumy lewat. Napas Arumy memberat begitu Adven menatap dan melihat keberadaannya, memaksa Arumy untuk tetap melangkah dengan segunung malu yang harus dia pikul. Pikiran Arumy sangat terbebani, bertanya-tanya apakah sekarang dia harus memperlakukan Adven sebagai atasannya atau sebagai lelaki yang harus mendengar ‘maaf’ dari Arumy. Alis Adven sedikit terangkat menatap sinis kecanggungan Arumy yang lewat di depannya, “Pakaianmu seperti tunawisma, kusam dan kusut. Mulai besok jangan digunakan lagi, sangat mengganggu pemandangan orang,” komentar Adven terdengar tidak begitu menyenangkan. Arumy tersentak, ia mengusap kaku roknya dengan wajah tertunduk. “Saya mengerti, Pak,” jawab Arumy dengan suara samar terdengar. “Saat bicara dengan seseorang lihat matanya, kau tidak punya moral ya?” tegur Adven lagi. Sekali lagi Arumy menelan salivanya dengan kesulitan, dengan berat wajahnya terangkat pelan memberanikan diri untuk memandangi mata Adven yang tajam dan gelap penuh dengan kebencian. Kulit Arumy meremang perih, matanya memanas harus kembali menahan tangisan menyadari bahwa apa yang Adven minta bukan hanya sekadar untuk menatap matanya, namun menuntut sesuatu yang pantas Arumy katakan atas kejahatan yang pernah diperbuatnya. Atmosfer di ruangan berubah dingin ditelan keheningan, menjebak dua orang yang dulu pernah saling mencintai, kini saling bersebrangan. Adven menarik napasnya dalam-dalam, menahan banyak sumpah serapah yang mengantri untuk dia ucapkan agar bisa memuaskan amarah dan dendam didalam hatinya yang sudah lama terpendam. “Adven,” panggil Arumy tidak lagi formal. Wajah Adven terangkat angkuh tanpa sahutan. Harga dirinya sudah pernah dihancurkan, Adven tidak sudi untuk menjadi orang pertama yang bertanya, apalagi mengungkit apa yang terjadi di masa lalu mereka. Arumy harus tahu bahwa Adven hidup jauh lebih baik darinya dan kepergiannya tidak berarti apapun. Tangan Arumy terkepal, berusaha memberanikan diri untuk membuka kembali kenangan buruk yang pernah dia torehkan di masa lalu. “Aku minta maaf, atas kejadian lima tahun lalu, Adven,” ucap Arumy dengan sesak. Adven mendengus jijik, “Berapa jumlah uang yang harus aku bayar, atas maaf-mu yang mahal itu hingga harus menunggu lima tahun untuk bisa diucapkan?” Arumy kembali tertunduk mendengar jawaban Adven yang menepis maafnya, membuatnya harus menelan pahit tanpa bisa mengeluhkan apapun. Kata maaf terlalu sederhana untuk menebus apa yang sudah Arumy perbuat pada Adven. Tangan Adven terlipat di dada. “Apa kau merasa dirimu seberharga itu? Kau merasa seperti seorang Cinderalla yang saat pergi, dicari habis-habisan untuk diratukan? Kau salah, kau tidak lebih dari kesialan yang menyingkir di waktu yang tidak tepat.” Arumy mengangguk dengan senyuman getirnya kembali menerima hinaan yang tidak akan pernah bisa dia bela. Arumy membungkuk di hadapan Adven, “Selamat malam, Pak Adven.” Terburu-buru Arumy berlari pergi meninggalkan tempat itu, mengejar bus terakhir yang akan mengantarnya pulang. *** Langit sudah sangat gelap saat Arumy turun di tempat pemberhentian, dengan langkah gontai ia kembali harus berjalan menuju keberadaan rumahnya, membawa lelah yang tidak hari-hari biasanya. Kerutan samar menghiasi kening Arumy begitu ia melihat seseorang yang sangat dia kenal tengah membungkuk di bawah lampu jalanan, menulis sesuatu di jalan dengan batu. “Donovan,” panggil Arumy dengan lembut. Seorang anak laki-laki berusia empat tahun mengangkat wajahnya seketika. Perlahan anak itu bangkit dengan senyuman cerah dan sepasang mata biru yang berbinar. “Ibu.” Donovan berlari menghampiri Arumy dengan suara tawa manisnya. Lelah yang tersirat diwajah Arumy perlahan hilang berganti menjadi senyuman. “Kenapa kau berkeliaran di luar sendirian?” “Ibu pulang terlambat, aku kesepian,” jawab Donovan memegang erat tangan Arumy, meminta ibunya memberikan tas yang dia bawa agar Donovan bisa mengambil alih beban yang Arumy bawa. “Kau sudah makan?” tanya Arumy lagi. Anak itu menggeleng masih dengan senyuman cerianya sambil membenarkan posisi tas Arumy yang kini tengah ia bawa. “Ayo, Bu,” ajak Donovan kembali meraih tangan Arumy agar mereka berjalan bersama. Bibir Arumy terkatup rapat, sesaat ia membuang muka untuk menyingkirkan air mata yang sempat jatuh, menyembunyikan kesedihan yang boleh ia perlihatkan di hadapan Donovan. Donovan, dialah anak yang menjadi alasan Arumy meninggalkan Adven, anak yang telah menghancurkan masa depan Arumy, anak yang pernah paling Arumy benci dan anak itu hanya memilikinya seorang. Apapun yang terjadi, Arumy harus bertahan sebentar lagi.Semua mata langsung tertuju pada Adven, menyaksikan prilaku kurang ajarnya yang berani memukul ayah kandungnya sendiri dengan cara yang sangat tidak pantas dan sangat memalukan untuk seorang pria berpendidikan.Hansen mengerang mengusap sisi keningnya yang berdenyut hebat mengeluarkan darah. “Adven!” teriak Anna dengan gemetar, tidak menyangka putra kesayangannya akan berani mengangkat tangannya untuk menghajar kepala keluarga Nathaneil yang terhormat.Teriakan Anna tidak cukup menghentikan kebringasan Adven, pria itu merangsek pakaian Hansen, dan tanpa kata tangannya menghantam sang ayah dengan pukulan keras hingga kepala Hansen terguncang tidak dapat mengimbangi tenaganya.Hansen tidak akan mungkin berani melaporkan Adven, bisa hancur kredibilitasnya yang dibangun puluhan tahun sebagai pria terhormat.Hati Adven telah gelap dipenuh oleh amarah dan kebencian sampai membuatnya tidak bisa memandang kedua orang tuanya sebagai yang perlu di hormati lagi.Mereka berdua tidak lebih dari d
Teriakan kencang Tyler menyentak Tina dari tidur lelapnya. Dalam keadaan masih mengantuk akhirnya Tina bangun disusul oleh kekasih gelapnya.Tina yang hendak balas berteriak tidak menahan suaranya begitu dia lihat dengan sadar bahwa Tyler berdiri di depan mata.Tina gelagapan mencari selimut untuk menutupi tubuh telanjangnya. “S-s sayang..” panggil Tina ketakutan.Tyler menggenggam erat tongkat baseballnya dengan mata melotot, kepalanya memanas bertegangan tidak kuasa mengendalikan amarahnya menyaksikan isterinya berselingkuh.Tidak ada alasan yang bisa dijadikan bantahan. Memangnya orang gila mana yang tidur telanjang berdua tanpa melakukan apapun! Siang malam Tyler bekerja keras dan memberikan segalanya untuk Tina hingga dia singkirkan Arumy seperti orang asing padahal itu darah dagingnya. Tyler selalu mengusahakan yang terbaik untuk istinya, tapi apa yang Tyler dapat?Dia justru dibalas dengan pengkhianatan, di rumahnya sendiri, di ranjang tempat Tyler tidur!“Bajingan kau Tina! D
Dua orang penjahat yang telah mengejar, mereka mendekat menyaksikan Arumy yang kini terkapar dengan napas yang lemah. Arumy tidak berdaya, untuk menggerakan satu jari pun dia tidak mampu. Gaun putih yang dia kenakan penuh oleh jejak darah, hingga sebagian wajah cantik itu langsung biru memar karena benturan yang begitu keras. Dengan mata setengah terbuka, penglihatan Arumy berkabut, telinganya berdenging sakit dan seluruh tubuhnya gemetar kesemutan. Sakit yang saling bertegangan mulai tidak dapat Arumy hadapi dan berubah menjadi rasa. Kegelapan mulai bermunculan disetiap tarikan napasnya yang dilakukan dengan penuh perjuangan, peralahan akhirnya mata Arumy terpejam kehilangan kesadaran. “Kita habisi dia sekarang?” tanya seseorang itu mengeluarkan senjatanya dibalik jaket dan menodongkannya pada Arumy, bersiap untuk menarik pelatuk, mengakhiri napas Arumy yang kini sudah berada diujung tanduk. “Sebaiknya jangan,” tahan temannya begitu melihat beberapa orang mulai muncul dari
Beberapa pejalan kaki sudah sampai di penyebrangan menyisakan Arumy yang masih berdiri ditempatnya bersama rambu lalu lintas yang belum berubah. Beberapa orang yang menyusul, melewati Arumy untuk menyebrang. Tyler akhirnya menepi dan keluar dari kendaraannya, dia memutuskan menghampiri Arumy dan melihat putrinya lebih dekat tanpa malu meski kini keadaan Arumy tampak pucat dan lusuh. “Bisakah kita bicara, Rumy?” tanya Tyler pelan. Arumy terdiam sebentar, memandang lekat wajah Tyler dibawah cahaya pagi. Sudah terlalu banyak pertengkaran yang mereka lewati akhir-akhir ini, Arumy menyadari bahwa mungkin pertengkaran itu tidak lepas dari keegoisannya juga. Ini kesempatan terakhirnya untuk bicara dengan Tyler, Arumy akan menyampaikan salam perpisahan karena kedepannya mereka tidak akan lagi pernah bertemu. Arumy tidak ingin kembali ke negara ini lagi.. “Kita bicara disana, aku tidak memiliki waktu lagi,” jawab Arumy menunjuk sebuah toko roti. Tyler tersenyum dengan sedikit gel
Jantung Adven berhenti berdetak, pria itu membeku kaku tidak dapat merespon dari hujaman keras sebuah kabar yang merusak akal sehatnya. Adven tidak salah dengar kan? Sunny adalah orang yang telah melahirkan Donovan? Bukan Arumy? Kebenaran macam apa ini! Bibir Adven terbuka, pria itu menarik udara melewati tenggorokannya yang mendadak kering perih. “Katakan sekali lagi,” pinta Adven dengan suara tersendat-sendat, meminta kepastian sekali lagi untuk meyakinkan diri, bahwa apa yang telah didengarnya bukan halusinasi. Adven masih tidak percaya sama sekali… “Dalam catatan medis rumah sakit, Sunny lah orang yang telah melahirkan Donovan bukan Rumy. Karena Sunny melahirkan di usia yang tua, dia mengalami gagal organ ginjal dan jantungnya, karena kekurangan biaya, Sunny terpaksa pulang sehari setelah melahirkan. Dua hari kemudian, Sunny meningal di apartement Rumy karena obat-obatan yang disuntikan padanya,” jawab Asteria memperjelas informasi yang akhirya saling berhubungan dengan a
“Kau darimana saja?” tanya Anna menyambut kedatangan Hansen yang baru pulang sudah menjelang pagi. Setelah pertemuan keluarga yang gagal total dan menyisakan malu, Hansen pergi begitu saja meninggalkan Anna seorang diri yang harus menangani kemarahan kedua orang Prisila karena kedatangan mereka tidak dihargai. Perjodohan yang Anna rencanakan sebaik mungkin. kini berada di ambang kehancuran, Prisila tidak mungkin bisa mempertahankan hubunganya jika pada akhirnya Adven kembali goyah pada Arumy yang kembali datang dalam hidupnya. Arumy.. Wanita sialan itu, dia pasti sudah berbicara sesuatu kepada Adven, karena itulah Adven berubah. Pikiran Anna berkecamuk seperti badai dilautan, semuanya telah menjadi masalah. Dan masalah yang menimpanya pasti sangat disukai Bjorn! Disaat semua orang fokus dengan masalah masing-masing, Bjorn akan diam-diam memperkuat posisinya di perusahaan Hansen dan mencaplok kembali perusahaan ibunya yang akan segera direbut dari tangan Anna. Hansen melep







