Compartir

Chapter 6

Autor: Asayake
last update Última actualización: 2026-01-16 10:50:11

Arumy membasuh wajahnya berkali-kali, membersihkan sisa-sisa air mata yang telah dia tumpahkan menghadapi beban yang kembali menghimpit dada.

Entah sudah berapa lama waktu yang telah Arumy habiskan untuk diam-diam menangis di toilet.

Pertemuannya dengan Adven membuka kembali, tragedy lama yang telah berusaha dia kubur dalam-dalam.

Arumy tahu dia telah berbuat salah, karena dia tahu, Arumy sangat sadar bahwa pertemuan ini tidak akan pernah berjalan mudah baginya maupun Adven.

Sangat menyakitkan hanya dengan membayangkan, jika mulai sekarang Arumy akan melihat pria yang telah ditinggalkannya menjelang pernikahan mereka, dan kurang ajarnya Arumy masih mencintai pria itu hingga saat ini.

Mirisnya, karena cinta itulah, Arumy harus pergi meninggalkan Adven.

Apa yang harus Arumy lakukan sekarang? Dia tidak mungkin mengundurkan diri begitu saja untuk menghindari segalanya, Arumy sangat membutuhkan uang dan tidak mudah untuknya menemukan pekerjaan yang layak dalam waktu cepat.

Jujur saja, Arumy sangat berharap bahwa Adven bersikap asing dan tidak menganggap keberadaannya, mungkin itu akan sedikit menjadi lebih mudah untuk Arumy jalani

Tapi, orang gila mana yang bisa bersikap biasa saja setelah ditinggal begitu saja menjelang pernikahan? Bahkan, jika Adven sudah melupakannya dan menemukan wanita yang jauh lebih layak untuknya, mustahil dia lupa akan kejahatan yang pernah dibuat oleh Arumy.

Arumy menyeka wajahnya menyingkirkan sisa air yang masih menempel, berkali-kali dia mengatur napas agar mendapatkan ketenangan sebelum memutuskan kembali ke ruangannya yang sudah sepi.

Semua orang telah pulang, dari balik kaca kantor langit pun terlihat sudah gelap.

Arumy mengambil tasnya dan terburu-buru pergi, menyusuri kantor yang mulai sunyi.

Langkah Arumy tertahan tepat di depan pintu lift yang baru kembali tertutup, ketenangan yang baru ia raih beberapa menit kembali hancur, wajahnya tampak tegang begitu melihat orang yang sedang ingin dihindarinya, justru tengah duduk sendirian di kursi lobby, menunggu kedatangan sopirnya untuk menjemput.

Arumy menelan salivanya dengan kesulitan, dia tidak dapat kembali mundur masuk lift, disisi lain dia ragu untuk melangkah melewati Adven tanpa menyapa karena kini pria itu telah menjadi atasannya, dan satu-satunya orang yang berada di lobby tepat jalan untuk Arumy lewat.

Napas Arumy memberat begitu Adven menatap dan melihat keberadaannya, memaksa Arumy untuk tetap melangkah dengan segunung malu yang harus dia pikul.

Pikiran Arumy sangat terbebani, bertanya-tanya apakah sekarang dia harus memperlakukan Adven sebagai atasannya atau sebagai lelaki yang harus mendengar ‘maaf’ dari Arumy.

Alis Adven sedikit terangkat menatap sinis kecanggungan Arumy yang lewat di depannya, “Pakaianmu seperti tunawisma, kusam dan kusut. Mulai besok jangan digunakan lagi, sangat mengganggu pemandangan orang,” komentar Adven terdengar tidak begitu menyenangkan.

Arumy tersentak, ia mengusap kaku roknya dengan wajah tertunduk. “Saya mengerti, Pak,” jawab Arumy dengan suara samar terdengar.

“Saat bicara dengan seseorang lihat matanya, kau tidak punya moral ya?” tegur Adven lagi.

Sekali lagi Arumy menelan salivanya dengan kesulitan, dengan berat wajahnya terangkat pelan memberanikan diri untuk memandangi mata Adven yang tajam dan gelap penuh dengan kebencian.

Kulit Arumy meremang perih, matanya memanas harus kembali menahan tangisan menyadari bahwa apa yang Adven minta bukan hanya sekadar untuk menatap matanya, namun menuntut sesuatu yang pantas Arumy katakan atas kejahatan yang pernah diperbuatnya.

Atmosfer di ruangan berubah dingin ditelan keheningan, menjebak dua orang yang dulu pernah saling mencintai, kini saling bersebrangan.

Adven menarik napasnya dalam-dalam, menahan banyak sumpah serapah yang mengantri untuk dia ucapkan agar bisa memuaskan amarah dan dendam didalam hatinya yang sudah lama terpendam.

“Adven,” panggil Arumy tidak lagi formal.

Wajah Adven terangkat angkuh tanpa sahutan.

Harga dirinya sudah pernah dihancurkan, Adven tidak sudi untuk menjadi orang pertama yang bertanya, apalagi mengungkit apa yang terjadi di masa lalu mereka.

Arumy harus tahu bahwa Adven hidup jauh lebih baik darinya dan kepergiannya tidak berarti apapun.

Tangan Arumy terkepal, berusaha memberanikan diri untuk membuka kembali kenangan buruk yang pernah dia torehkan di masa lalu. “Aku minta maaf, atas kejadian lima tahun lalu, Adven,” ucap Arumy dengan sesak.

Adven mendengus jijik, “Berapa jumlah uang yang harus aku bayar, atas maaf-mu yang mahal itu hingga harus menunggu lima tahun untuk bisa diucapkan?”

Arumy kembali tertunduk mendengar jawaban Adven yang menepis maafnya, membuatnya harus menelan pahit tanpa bisa mengeluhkan apapun.

Kata maaf terlalu sederhana untuk menebus apa yang sudah Arumy perbuat pada Adven.

Tangan Adven terlipat di dada. “Apa kau merasa dirimu seberharga itu? Kau merasa seperti seorang Cinderalla yang saat pergi, dicari habis-habisan untuk diratukan? Kau salah, kau tidak lebih dari kesialan yang menyingkir di waktu yang tidak tepat.”

Arumy mengangguk dengan senyuman getirnya kembali menerima hinaan yang tidak akan pernah bisa dia bela. Arumy membungkuk di hadapan Adven, “Selamat malam, Pak Adven.”

Terburu-buru Arumy berlari pergi meninggalkan tempat itu, mengejar bus terakhir yang akan mengantarnya pulang.

***

Langit sudah sangat gelap saat Arumy turun di tempat pemberhentian, dengan langkah gontai ia kembali harus berjalan menuju keberadaan rumahnya, membawa lelah yang tidak hari-hari biasanya.

Kerutan samar menghiasi kening Arumy begitu ia melihat seseorang yang sangat dia kenal tengah membungkuk di bawah lampu jalanan, menulis sesuatu di jalan dengan batu.

“Donovan,” panggil Arumy dengan lembut.

Seorang anak laki-laki berusia empat tahun mengangkat wajahnya seketika. Perlahan anak itu bangkit dengan senyuman cerah dan sepasang mata biru yang berbinar. “Ibu.”

Donovan berlari menghampiri Arumy dengan suara tawa manisnya.

Lelah yang tersirat diwajah Arumy perlahan hilang berganti menjadi senyuman. “Kenapa kau berkeliaran di luar sendirian?”

“Ibu pulang terlambat, aku kesepian,” jawab Donovan memegang erat tangan Arumy, meminta ibunya memberikan tas yang dia bawa agar Donovan bisa mengambil alih beban yang Arumy bawa.

“Kau sudah makan?” tanya Arumy lagi.

Anak itu menggeleng masih dengan senyuman cerianya sambil membenarkan posisi tas Arumy yang kini tengah ia bawa. “Ayo, Bu,” ajak Donovan kembali meraih tangan Arumy agar mereka berjalan bersama.

Bibir Arumy terkatup rapat, sesaat ia membuang muka untuk menyingkirkan air mata yang sempat jatuh, menyembunyikan kesedihan yang boleh ia perlihatkan di hadapan Donovan.

Donovan, dialah anak yang menjadi alasan Arumy meninggalkan Adven, anak yang telah menghancurkan masa depan Arumy, anak yang pernah paling Arumy benci dan anak itu hanya memilikinya seorang.

Apapun yang terjadi, Arumy harus bertahan sebentar lagi.

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Cinta yang Patah, sebelum Sah   Chapter 9

    Suara gesekan lembut ujung pensil warna terdengar kala mencoret-coret permukaan kertas. Tangan kecil Donovan menggenggam kuat pensil itu, merangkai gambar sesuka hatinya. Donovan mengangkat wajah dan diam-diam mengintip ibunya dari balik permukaan ranjang yang tinggi, Donovan lihat Arumy tengah mengambil sebuah obat dari dalam kotak sepatu dan menelannya.Donovan tidak ingat, sejak kapan ibunya sudah minum obat, namun sepanjang yang dia ingat, Arumy mengkonsumsinya. Meski tidak tidak setiap hari, namun obat itu tidak pernah lepas dari beberapa kesempatan.Untuk anak seusianya, Donovan tidak memahami apa yang sebenarnya tengah terjadi, satu-satunya yang dia tahu adalah, obat diperuntukan untuk orang yang sakit. “Apa Ibu sakit lagi?” tanya Donovan perlahan bangkit, meninggalkan pensil warnanya di atas meja kecil.“Tidak, ini vitamin agar ibu kuat,” jawab Arumy tersenyum lebar, menjatuhkan tubuhnya ke ranjang untuk mengistirahatakan diri, dari lelah yang telah mendera.Donovan ikut mer

  • Cinta yang Patah, sebelum Sah   Chapter 8

    Jawaban menohok Tyler membuat Arumy terpaku beberapa detik. Ada begitu banyak kata yang bisa Tyler sampaikan jika dia menolak, tapi Tyler tetap memilih hinaan untuk Donovan.Tidak cukup untuk Tyler mencela Donovan tetap di depan mukanya, Tyler juga menghina Donovan di belakangnya.Demi Tuhan! Donovan masih berusia empat tahun, dia tidak berdosa, dia bahkan tidak tahu alasan dirinya dibenci. Tapi kenapa, orang-orang dewasa yang yang harusnya sudah dapat berpikir, justru menghinanya hanya sebatas untuk dijadikan pelampiasan amarah!Arumy ingin memberikan Donovan seekor anjing karena kini dia sudah cukup besar dan dapat bertanggung jawab dengan peliharaannya. Donovan kesepian, dia membutuhkan sesuatu yang bisa dia ajak bermain.Selama ini Arumy sudah cukup sering memberikan Donovan mainan, namun Charlie selalu merebutnya. Tidak ada yang pernah menghentikan keinginan Charlie meski dia serba berkecukupan, apapun yang Donovan miliki dianggap milik Charlie juga,Hewan peliharaan tidak mungki

  • Cinta yang Patah, sebelum Sah   Chapter 7

    Harumnya aroma makanan tercium begitu disajikan di meja kayu yang sudah lapuk. Donovan menopang dagunya dengan mulut terbuka menahan lapar, dengan sabar anak itu menanti ibunya yang tengah memindahkan banyak sayur dari piringnya ke piring Donovan, menarik beberapa duri yang masih tertinggal agar Donovan bisa langsung makan dengan nyaman. Tubuh Donovan menegak seketika begitu piring makanannya di berikan. “Terima kasih, Bu,” ucapnya terdengar riang dan terburu-buru mengambil alat makan. “Donovan, lain kali kau tidak boleh keluar rumah sendirian saat malam-malam, itu bahaya, bagaimana jika ada orang jahat dan tidak ada yang menolongmu? Jangan buat ibu cemas,” nasihat Arumy ditengah aktivitas makan mereka. Donovan tertunduk menyembunyikan sebaris kesedihan yang tidak ingin dia perlihatkan. “Aku sangat kesepian di rumah.” Arumy menelan makanannya dengan kesulitan, tenggorokannya seperti telah tersangkut sebuah duri yang menancap. Ada seberkas rasa bersalah yang hinggap di ha

  • Cinta yang Patah, sebelum Sah   Chapter 6

    Arumy membasuh wajahnya berkali-kali, membersihkan sisa-sisa air mata yang telah dia tumpahkan menghadapi beban yang kembali menghimpit dada. Entah sudah berapa lama waktu yang telah Arumy habiskan untuk diam-diam menangis di toilet. Pertemuannya dengan Adven membuka kembali, tragedy lama yang telah berusaha dia kubur dalam-dalam. Arumy tahu dia telah berbuat salah, karena dia tahu, Arumy sangat sadar bahwa pertemuan ini tidak akan pernah berjalan mudah baginya maupun Adven. Sangat menyakitkan hanya dengan membayangkan, jika mulai sekarang Arumy akan melihat pria yang telah ditinggalkannya menjelang pernikahan mereka, dan kurang ajarnya Arumy masih mencintai pria itu hingga saat ini. Mirisnya, karena cinta itulah, Arumy harus pergi meninggalkan Adven. Apa yang harus Arumy lakukan sekarang? Dia tidak mungkin mengundurkan diri begitu saja untuk menghindari segalanya, Arumy sangat membutuhkan uang dan tidak mudah untuknya menemukan pekerjaan yang layak dalam waktu cepat. Jujur sa

  • Cinta yang Patah, sebelum Sah   Chapter 5

    Suara helaan napas berat terdengar dari bibir mungil Arumy, ia menggeliat meregangkan otot bahunya yang terasa pegal setelah seharian penuh bekerja keras meyelesaikan tugasnya.Hari ini, semua orang menjadi lebih sibuk dari biasanya karena pemilik perusahaan yang baru telah datang dan akan melakukan beberapa perubahan baru, salah satunya posisi tugas beberapa karyawan.Terdengar segelintir komentar beberapa wanita yang mengatakan, bahwa boss baru mereka seorang pria yang tampan. Beberapa orang wanita tampak sangat bersemangat seolah menemukan warna baru yang akan menjadi penyegar ditengah lelahnya pekerjaan.Arumy tidak sempat melihat, seharian ini dia berada di gudang untuk menghubungi toko yang menyediakan beberapa bahan kain keperluan furniture ruangan.Deringan telephone terdengar di meja, tangan Arumy terulur meraihnya dan menempatkannya di telinga.“Rumy, bisa kau naik ke lantai atas?” tanya Sisca, sekretaris pribadi Jonathan.“Ada apa Sisca?”“Proyek klinik kesehatan yang sedan

  • Cinta yang Patah, sebelum Sah   Chapter 4

    Lima tahun kemudian.. Sebuah sedan hitam melaju cepat melewati jalanan berkelok, di atas tebing dapat terlihat lautan yang jernih dan tenang, bertolak belakang dengan permukaannya yang sibuk dilintasi kapal-kapal besar yang meninggalkan pelabuhan. Di dalam kendaraan itu, terdapat seorang sopir yang tengah membawa seseorang yang harus diantar menuju satu tujuan di pusat kota North Emit. “Butuh waktu berapa lama lagi untuk kita akan sampai?” tanya seorang pria mulai merasakan bosan. “Sekitar satu jam lagi, Tuan,” sahut Cristian, “Anda istirahat dulu? “Tidak perlu,” jawabnya begitu tenang, setenang sepasang mata birunya yang menyapu membaca kertas-kertas ditangannya, mempelajari kemajuan sebuah perusahaan arsitektur yang beberapa bulan lalu berhasil diakusisi setelah mengalami pailit tidak mampu membayar hutang ke bank. Pria itu menutup kertas-kertas yang telah dibacanya, dipandanginya keluar jendela, melihat suasana kota yang telah banyak berubah setelah bertahun-tahun lamanya ti

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status