Compartir

Chapter 7

Autor: Asayake
last update Última actualización: 2026-01-17 23:09:24

Harumnya aroma makanan tercium begitu disajikan di meja kayu yang sudah lapuk.

Donovan menopang dagunya dengan mulut terbuka menahan lapar, dengan sabar anak itu menanti ibunya yang tengah memindahkan banyak sayur dari piringnya ke piring Donovan, menarik beberapa duri yang masih tertinggal agar Donovan bisa langsung makan dengan nyaman.

Tubuh Donovan menegak seketika begitu piring makanannya di berikan. “Terima kasih, Bu,” ucapnya terdengar riang dan terburu-buru mengambil alat makan.

“Donovan, lain kali kau tidak boleh keluar rumah sendirian saat malam-malam, itu bahaya, bagaimana jika ada orang jahat dan tidak ada yang menolongmu? Jangan buat ibu cemas,” nasihat Arumy ditengah aktivitas makan mereka.

Donovan tertunduk menyembunyikan sebaris kesedihan yang tidak ingin dia perlihatkan. “Aku sangat kesepian di rumah.”

Arumy menelan makanannya dengan kesulitan, tenggorokannya seperti telah tersangkut sebuah duri yang menancap.

Ada seberkas rasa bersalah yang hinggap di hati, namun Arumy tidak dapat menghentikan rasa bersalah itu meski ia tahu, keputusannya untuk tetap di kota North Emit dan bekerja sangat menyulitkan Donovan.

Donovan, usianya baru akan menginjak lima tahun, dia masih sangat kecil. Harusnya, anak-anak seusia Donovan dapat mengekspresikan diri dengan bebas, menikmati waktunya untuk bermain dan dikelilingi banyak kasih sayang dari keluarga.

Tetapi Donovan, anak sekecil itu justru diajarkan harus lebih banyak menahan diri dan mendengarkan kata-kata buruk dari orang dewasa yang mengatainya. Hari-harinya dia habiskan hanya untuk menunggu kepulangan Arumy dari tempat bekerja.

“Sebentar lagi, kita akan pindah Donovan, bersabarlah,” bisik Arumy memberitahu.

Pipi Donovan yang penuh oleh makanan, mengembang oleh senyuman. “Rumah yang ada koper mainannya kan Bu?”

Bibir Arumy terkatup rapat mendengar pertanyaan polos Donovan yang secara tidak langsung, menegur Arumy bahwa anak itu benar-benar kesepian sampai tidak memiliki sesuatu yang bisa menemaninya untuk bermain.

Arumy mampu membelikan Donovan mainan, namun bukan itu masalahnya, situasi mereka lah yang menahan untuk tidak banyak melakukan apapun, bahkan untuk hal sederhana seperti membeli mainan.

Dengan berat Arumy mengangguk sambil mengusap rambut Donovan. “Cepat habiskan makananmu, kita harus segera pulang.”

Dengan patuh Donovan kembali menyuapkan makanannya dengan lahap, sedikit demi sedikit menghabiskannya tanpa meninggalkan sedikitpun sisa agar besok dia masih merasakan kenyang.

Setelah makan malam bersama, Arumy dan Donovan kembali melanjutkan perjalanan mereka melewati dua blok perumahan untuk bisa sampai tujuan.

Sebuah pagar kayu terbuka, membawa Arumy dan Donovan masuk ke dalam sebuah rumah besar berlantai dua. Rumah itu terlihat jauh lebih bagus dari rumah-rumah yang ada disekitarnya.

Langkah mereka terlihat sangat alami, tanpa ada keraguan pergi masuk ke dalam melewati pintu utama.

Suara televisi terdengar di suatu ruangan, dari balik rak besar yang menjadi pembatas, terlihat seorang anak kecil seumuran Donovan tengah menonton televisi ditemani pria paruh baya, pria itu adalah Tyler, ayah kandung Arumy.

“Kenapa kau pulang terlambat? Kau mau menghindar dari tugasmu?” tegur seorang wanita dengan ketus, menyambut kedatangan Arumy dan Donovan dari lantai atas.

Dengan langkah tegasnya, wanita itu menuruni satu persatu anak tangga hanya dengan balutan piyama, memperlihatkan kemolekan tubuhnya cantik sampai membuat Tyler tergila-gila padanya.

Wanita itu bernama Tina, ibu tiri Arumy, orang yang paling berkuasa di rumah setelah menikah dengan Tyler sepuluh tahun yang lalu.

Kedua orang tua kandung Arumy telah bercerai sejak ia berusia enam tahun, karena perselingkuhan yang dilakukan Tyler.

Awalnya, hubungan Arumy dan Tina biasa saja.

Namun, sejak Arumy datang dua tahun lalu untuk meminta izin tinggal pada ayahnya, Tina keberatan. Tina menganggap kedatangan Arumy hanya mencoreng kehormatan keluarga, apalagi dengan membawa anak diluar nikah yang tidak diketahui siapa ayahnya.

Tina selalu curiga, Arumy akan meminta warisan, berkali-kali Tina selalu mengungkit bahwa dia juga sudah melahirkan seorang anak laki-laki untuk Tyler.

Anak itu bernama Charlie, satu tahun lebih tua dari Donovan.

Tyler begitu menyayangi putra kecilnya, segalanya dia curahkan untuk Charlie. Bertolak saat di hadapan Donovan yang tidak pernah lepas dari sumpah serapah, kebencian dan tatapan jijik

“Bereskan dapur, dari sore sudah sangat berantakan gara-gara kau terlambat pulang,” perintah Tina dengan enteng.

Arumy tertunduk mendorong lembut Donovan, “Pergilah ke kamar, nanti ibu menyusul.”

Donovan memeluk erat tas Arumy, kakinya tampak ragu untuk melangkah pergi, meninggalkan ibunya sendirian kembali bekerja, namun dorongan Arumy yang memintanya sekali lagi tidak dapat Donovan bantah.

Tanpa buang waktu, Arumy pergi ke dapur yang kini sudah sangat berantakan tidak teurus seolah satu noda pun di tempat itu, adalah tanggung jawab Arumy untuk membereskannya.

Arumy sudah terbiasa melalui kebiasaan ini sejak dua tahun lalu. Setiap pulang bekerja, dia selalu disambut dengan pekerjaan baru lainnya di rumah, sebelum berangkat bekerja dia selalu harus menyiapkan sarapan untuk orang-orang tidak lebih sibuk darinya.

Derap suara langkah kaki terdengar, dari sudut matanya, Arumy lihat Tyler yang pergi membuat segelas kopi tanpa menyapa Arumy sedikitpun.

Hubungan mereka sudah sangat renggang dan dingin semenjak Arumy membawa Donovan ke rumah. Arumy sudah tidak benar-benar merasakan keberadaan ayah di dalam diri Tyler, caranya yang tidak pernah peduli terkadang membuat Arumy sakit.

Arumy bertahan di rumah ini karena Donovan masih sangat kecil. Berbagai tempat sudah Arumy jelajahi hingga tempat penitipan anak, tidak ada satupun yang yang benar-benar aman untuk Donovan setiap kali Arumy tinggal berkerja.

Hanya rumah ini yang tersisa, satu-satunya tempat yang masih sedikit lebih baik dibandingkan semua pilihan terburuk lainnya.

“Ayah.” Arumy berhenti sejenak dari pekerjaannya. “Aku ingin membeli seekor anak anjing untuk Donovan agar dia bisa memiliki teman bermain.”

Tyler menoleh dengan tatapan tajam. “Dia bukan hewan, hingga harus memiliki teman hewan juga.”

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Cinta yang Patah, sebelum Sah   Chapter 9

    Suara gesekan lembut ujung pensil warna terdengar kala mencoret-coret permukaan kertas. Tangan kecil Donovan menggenggam kuat pensil itu, merangkai gambar sesuka hatinya. Donovan mengangkat wajah dan diam-diam mengintip ibunya dari balik permukaan ranjang yang tinggi, Donovan lihat Arumy tengah mengambil sebuah obat dari dalam kotak sepatu dan menelannya.Donovan tidak ingat, sejak kapan ibunya sudah minum obat, namun sepanjang yang dia ingat, Arumy mengkonsumsinya. Meski tidak tidak setiap hari, namun obat itu tidak pernah lepas dari beberapa kesempatan.Untuk anak seusianya, Donovan tidak memahami apa yang sebenarnya tengah terjadi, satu-satunya yang dia tahu adalah, obat diperuntukan untuk orang yang sakit. “Apa Ibu sakit lagi?” tanya Donovan perlahan bangkit, meninggalkan pensil warnanya di atas meja kecil.“Tidak, ini vitamin agar ibu kuat,” jawab Arumy tersenyum lebar, menjatuhkan tubuhnya ke ranjang untuk mengistirahatakan diri, dari lelah yang telah mendera.Donovan ikut mer

  • Cinta yang Patah, sebelum Sah   Chapter 8

    Jawaban menohok Tyler membuat Arumy terpaku beberapa detik. Ada begitu banyak kata yang bisa Tyler sampaikan jika dia menolak, tapi Tyler tetap memilih hinaan untuk Donovan.Tidak cukup untuk Tyler mencela Donovan tetap di depan mukanya, Tyler juga menghina Donovan di belakangnya.Demi Tuhan! Donovan masih berusia empat tahun, dia tidak berdosa, dia bahkan tidak tahu alasan dirinya dibenci. Tapi kenapa, orang-orang dewasa yang yang harusnya sudah dapat berpikir, justru menghinanya hanya sebatas untuk dijadikan pelampiasan amarah!Arumy ingin memberikan Donovan seekor anjing karena kini dia sudah cukup besar dan dapat bertanggung jawab dengan peliharaannya. Donovan kesepian, dia membutuhkan sesuatu yang bisa dia ajak bermain.Selama ini Arumy sudah cukup sering memberikan Donovan mainan, namun Charlie selalu merebutnya. Tidak ada yang pernah menghentikan keinginan Charlie meski dia serba berkecukupan, apapun yang Donovan miliki dianggap milik Charlie juga,Hewan peliharaan tidak mungki

  • Cinta yang Patah, sebelum Sah   Chapter 7

    Harumnya aroma makanan tercium begitu disajikan di meja kayu yang sudah lapuk. Donovan menopang dagunya dengan mulut terbuka menahan lapar, dengan sabar anak itu menanti ibunya yang tengah memindahkan banyak sayur dari piringnya ke piring Donovan, menarik beberapa duri yang masih tertinggal agar Donovan bisa langsung makan dengan nyaman. Tubuh Donovan menegak seketika begitu piring makanannya di berikan. “Terima kasih, Bu,” ucapnya terdengar riang dan terburu-buru mengambil alat makan. “Donovan, lain kali kau tidak boleh keluar rumah sendirian saat malam-malam, itu bahaya, bagaimana jika ada orang jahat dan tidak ada yang menolongmu? Jangan buat ibu cemas,” nasihat Arumy ditengah aktivitas makan mereka. Donovan tertunduk menyembunyikan sebaris kesedihan yang tidak ingin dia perlihatkan. “Aku sangat kesepian di rumah.” Arumy menelan makanannya dengan kesulitan, tenggorokannya seperti telah tersangkut sebuah duri yang menancap. Ada seberkas rasa bersalah yang hinggap di ha

  • Cinta yang Patah, sebelum Sah   Chapter 6

    Arumy membasuh wajahnya berkali-kali, membersihkan sisa-sisa air mata yang telah dia tumpahkan menghadapi beban yang kembali menghimpit dada. Entah sudah berapa lama waktu yang telah Arumy habiskan untuk diam-diam menangis di toilet. Pertemuannya dengan Adven membuka kembali, tragedy lama yang telah berusaha dia kubur dalam-dalam. Arumy tahu dia telah berbuat salah, karena dia tahu, Arumy sangat sadar bahwa pertemuan ini tidak akan pernah berjalan mudah baginya maupun Adven. Sangat menyakitkan hanya dengan membayangkan, jika mulai sekarang Arumy akan melihat pria yang telah ditinggalkannya menjelang pernikahan mereka, dan kurang ajarnya Arumy masih mencintai pria itu hingga saat ini. Mirisnya, karena cinta itulah, Arumy harus pergi meninggalkan Adven. Apa yang harus Arumy lakukan sekarang? Dia tidak mungkin mengundurkan diri begitu saja untuk menghindari segalanya, Arumy sangat membutuhkan uang dan tidak mudah untuknya menemukan pekerjaan yang layak dalam waktu cepat. Jujur sa

  • Cinta yang Patah, sebelum Sah   Chapter 5

    Suara helaan napas berat terdengar dari bibir mungil Arumy, ia menggeliat meregangkan otot bahunya yang terasa pegal setelah seharian penuh bekerja keras meyelesaikan tugasnya.Hari ini, semua orang menjadi lebih sibuk dari biasanya karena pemilik perusahaan yang baru telah datang dan akan melakukan beberapa perubahan baru, salah satunya posisi tugas beberapa karyawan.Terdengar segelintir komentar beberapa wanita yang mengatakan, bahwa boss baru mereka seorang pria yang tampan. Beberapa orang wanita tampak sangat bersemangat seolah menemukan warna baru yang akan menjadi penyegar ditengah lelahnya pekerjaan.Arumy tidak sempat melihat, seharian ini dia berada di gudang untuk menghubungi toko yang menyediakan beberapa bahan kain keperluan furniture ruangan.Deringan telephone terdengar di meja, tangan Arumy terulur meraihnya dan menempatkannya di telinga.“Rumy, bisa kau naik ke lantai atas?” tanya Sisca, sekretaris pribadi Jonathan.“Ada apa Sisca?”“Proyek klinik kesehatan yang sedan

  • Cinta yang Patah, sebelum Sah   Chapter 4

    Lima tahun kemudian.. Sebuah sedan hitam melaju cepat melewati jalanan berkelok, di atas tebing dapat terlihat lautan yang jernih dan tenang, bertolak belakang dengan permukaannya yang sibuk dilintasi kapal-kapal besar yang meninggalkan pelabuhan. Di dalam kendaraan itu, terdapat seorang sopir yang tengah membawa seseorang yang harus diantar menuju satu tujuan di pusat kota North Emit. “Butuh waktu berapa lama lagi untuk kita akan sampai?” tanya seorang pria mulai merasakan bosan. “Sekitar satu jam lagi, Tuan,” sahut Cristian, “Anda istirahat dulu? “Tidak perlu,” jawabnya begitu tenang, setenang sepasang mata birunya yang menyapu membaca kertas-kertas ditangannya, mempelajari kemajuan sebuah perusahaan arsitektur yang beberapa bulan lalu berhasil diakusisi setelah mengalami pailit tidak mampu membayar hutang ke bank. Pria itu menutup kertas-kertas yang telah dibacanya, dipandanginya keluar jendela, melihat suasana kota yang telah banyak berubah setelah bertahun-tahun lamanya ti

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status