Share

Chapter 9

Author: Asayake
last update Last Updated: 2026-01-22 20:53:51

Suara gesekan lembut ujung pensil warna terdengar kala mencoret-coret permukaan kertas.

Tangan kecil Donovan menggenggam kuat pensil itu, merangkai gambar sesuka hatinya. Donovan mengangkat wajah dan diam-diam mengintip ibunya dari balik permukaan ranjang yang tinggi, Donovan lihat Arumy tengah mengambil sebuah obat dari dalam kotak sepatu dan menelannya.

Donovan tidak ingat, sejak kapan ibunya sudah minum obat, namun sepanjang yang dia ingat, Arumy mengkonsumsinya. Meski tidak tidak setiap hari, namun obat itu tidak pernah lepas dari beberapa kesempatan.

Untuk anak seusianya, Donovan tidak memahami apa yang sebenarnya tengah terjadi, satu-satunya yang dia tahu adalah, obat diperuntukan untuk orang yang sakit.

“Apa Ibu sakit lagi?” tanya Donovan perlahan bangkit, meninggalkan pensil warnanya di atas meja kecil.

“Tidak, ini vitamin agar ibu kuat,” jawab Arumy tersenyum lebar, menjatuhkan tubuhnya ke ranjang untuk mengistirahatakan diri, dari lelah yang telah mendera.

Donovan ikut merangkak naik, anak itu duduk di sisi Arumy, beberapa detik ia terdiam memperhatikan wajah sembab ibunya.

Donovan tahu..

Ibunya pasti sudah menangis dan bertengkar dengan kakeknya karena dia.

Donovan bergeser semakin dekat, tanpa terduga anak itu meraih tangan Arumy dan memijatnya dengan tenaga yang tidak seberapa. “Setelah nanti aku tumbuh tinggi dan besar, aku akan mencari banyak uang agar ibu tidak kelelahan,” ujar anak itu terdengar polos namun sarat oleh luka.

Bibir Arumy tersenyum diantara mata yang berkaca-kaca menahan tangisan. Tangannya yang lelah itu meraih Donovan dan menariknya untuk mendekat, membawanya ke dalam pelukan yang kuat.

Mata Arumy terpejam, tangannya menepuk-nepuk punggung Donovan. “Apa saja yang kau lakukan di hari ini? Coba ceritakan pada ibu.”

Donovan menggeleng dengan senyuman malu, apa yang dia lakukan selalu sama seperti hari-hari sebelumnya. Lebih banyak mengurung diri di kamar agar tidak mendengar bentakan kakeknya, cubitan dari neneknya, tidak menerima gangguan Charlie.

Sesekali Donovan pergi ke halaman rumah untuk menyapa tukang sampah lewat atau tukang kebun yang bekerja keliling, mereka lebih ramah dan bersedia memberikan senyuman padanya saat bicara dibandingkan dengan kakek-neneknya.

Donovan memang masih kecil, dia pun tidak tahu arti dari setiap hal yang buruk yang diucapkan orang dewasa padanya. Namun, Donovan tahu bahwa dia dibenci karena dia berbeda, dia tidak memiliki ayah seperti anak-anak lainnya.

“Aku menunggu Ibu seharian,” jawab Donovan menggantung, tidak berapa lama kemudian anak itu kembali berbicara, “ibu, apakah boleh meminta sesuatu?”

Perlahan Arumy membuka matanya kembali dan menatap Donovan dengan tatapan sayu, terpengaruh oleh obat tidur yang mulai bekerja.

Sejak kehilangan segala-galanya dalam hidup, Arumy sempat kehilangan arah. Arumy membutuhkan berbutir-butir obat tidur untuk bisa tidur tanpa kecemasan.

Ketergantungannya pada obat tidur masih Arumy alami sampai sekarang setiap kali menghadapi tekanan yang sulit untuk menyingkir dari pikiran.

Tangan Arumy terangkat pelan, jarinya mengusap hati-hati sudut mata Donovan yang berwarna biru begitu cerah, selalu mengingatkan Arumy pada Adven. “Kau mau meminta apa?”

Donovan menelan salivanya dengan kesulitan, ada keraguan di bibirnya untuk bicara, namun matanya berkhianat dengan memandangi Arumy dengan harap.

“Katakan saja, Donovan,” ucap Arumy mendorong keberanian Donovan.

“Ibu bilang, kita akan pindah. Apa itu artinya.. kita akan menumpang lagi?” tanya Donovan dengan senyuman yang menyimpan kesedihan. “bisakah kita punya rumah sendiri, selama ibu bekerja aku baik-baik saja menunggu sendirian di rumah asal tidak ada yang marah-marah padaku.”

Arumy menarik lebih dekat tubuh Donovan dan memeluknya. “Kita akan memiliki rumah baru untuk ditempati selamanya. Lalu, kau akan mendaftar sekolah,” jawab Arumy disambut oleh tawa riang Donovan yang tidak dapat menahan kebahagiaan.

***

Segelas champagne berada di tangan, Adven menyandarkan bahunya ke sandaran kursi, matanya menatap nyalang langit-langit kamar. Pria tengah tenggelam dalam ingatan, tentang pertemuannya kembali dengan Arumy.

Pertemuan yang tidak pernah sedetikpun Adven pikir akan terjadi.

Disaat Adven sudah menganggap bahwa dia tidak peduli lagi dengan apapun tentang Arumy, justru takdir mempertemukan mereka berdua, membuka kembali apa yang sudah mati-matian berusaha Adven lupakan.

Adven tidak dapat meraba perasaannya sendiri saat melihat wajahnya, mendengar suaranya, menatap matanya yang menyiratkan kesedihan. Perasaannya meledak bersamaan sampai membuat Adven berpikir bahwa itu adalah halusinasi.

Adven sudah mendengar ‘maaf’ dari Arumy. Hanya maaf, Arumy sama sekali tidak berusaha menjelaskan apapun apalagi menyampaikan penyesalan atas kejahatannya.

Kata-kata ‘maaf’ membakar kembali kemarahan yang telah lama Adven pendam. Bagi Adven, Arumy mengatakannya semata-mata hanya ingin mengamankan posisinya di perusahaan, bukan karena ketulusan ataupun murni menyesal.

Adven sangat terhina setiap kali ingat, seberapa menyedihkannya dia lima tahun lalu yang sempat meratapi kedatangannya sementara Arumy sudah memiliki jalan lain.

Adven sampai tidak sadar, keputusan Arumy pergi begitu saja tanpa berpikir, itu sudah menunjukan bahwa Adven tidak berharga untuknya.

Dering suara telephone terdengar.

Adven menyesap minumannya sebelum meraih handponenya dan melihat nama Martin tertera di layar.

“Bukankah kau bilang, akan berada di North Emit hanya selama dua hari. Tapi kenapa, mendadak semua pekerjaan yang ada disini untuk bulan depan, diserahkan kepadaku juga?” tanya Martin dibalik telephone.

“Aku akan menetap disini lebih lama lagi.”

“Aku tidak salah dengar kan? Sepertinya ada sesuatu yang terjadi padamu,” ucap Martin menduga-duga.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Irizka RA Yusuf
bagus ini ceritanya, semoga bukan cerita luar
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Cinta yang Patah, sebelum Sah   Chapter 90

    Semua mata langsung tertuju pada Adven, menyaksikan prilaku kurang ajarnya yang berani memukul ayah kandungnya sendiri dengan cara yang sangat tidak pantas dan sangat memalukan untuk seorang pria berpendidikan.Hansen mengerang mengusap sisi keningnya yang berdenyut hebat mengeluarkan darah. “Adven!” teriak Anna dengan gemetar, tidak menyangka putra kesayangannya akan berani mengangkat tangannya untuk menghajar kepala keluarga Nathaneil yang terhormat.Teriakan Anna tidak cukup menghentikan kebringasan Adven, pria itu merangsek pakaian Hansen, dan tanpa kata tangannya menghantam sang ayah dengan pukulan keras hingga kepala Hansen terguncang tidak dapat mengimbangi tenaganya.Hansen tidak akan mungkin berani melaporkan Adven, bisa hancur kredibilitasnya yang dibangun puluhan tahun sebagai pria terhormat.Hati Adven telah gelap dipenuh oleh amarah dan kebencian sampai membuatnya tidak bisa memandang kedua orang tuanya sebagai yang perlu di hormati lagi.Mereka berdua tidak lebih dari d

  • Cinta yang Patah, sebelum Sah   Chapter 89

    Teriakan kencang Tyler menyentak Tina dari tidur lelapnya. Dalam keadaan masih mengantuk akhirnya Tina bangun disusul oleh kekasih gelapnya.Tina yang hendak balas berteriak tidak menahan suaranya begitu dia lihat dengan sadar bahwa Tyler berdiri di depan mata.Tina gelagapan mencari selimut untuk menutupi tubuh telanjangnya. “S-s sayang..” panggil Tina ketakutan.Tyler menggenggam erat tongkat baseballnya dengan mata melotot, kepalanya memanas bertegangan tidak kuasa mengendalikan amarahnya menyaksikan isterinya berselingkuh.Tidak ada alasan yang bisa dijadikan bantahan. Memangnya orang gila mana yang tidur telanjang berdua tanpa melakukan apapun! Siang malam Tyler bekerja keras dan memberikan segalanya untuk Tina hingga dia singkirkan Arumy seperti orang asing padahal itu darah dagingnya. Tyler selalu mengusahakan yang terbaik untuk istinya, tapi apa yang Tyler dapat?Dia justru dibalas dengan pengkhianatan, di rumahnya sendiri, di ranjang tempat Tyler tidur!“Bajingan kau Tina! D

  • Cinta yang Patah, sebelum Sah   Chapter 88

    Dua orang penjahat yang telah mengejar, mereka mendekat menyaksikan Arumy yang kini terkapar dengan napas yang lemah. Arumy tidak berdaya, untuk menggerakan satu jari pun dia tidak mampu. Gaun putih yang dia kenakan penuh oleh jejak darah, hingga sebagian wajah cantik itu langsung biru memar karena benturan yang begitu keras. Dengan mata setengah terbuka, penglihatan Arumy berkabut, telinganya berdenging sakit dan seluruh tubuhnya gemetar kesemutan. Sakit yang saling bertegangan mulai tidak dapat Arumy hadapi dan berubah menjadi rasa. Kegelapan mulai bermunculan disetiap tarikan napasnya yang dilakukan dengan penuh perjuangan, peralahan akhirnya mata Arumy terpejam kehilangan kesadaran. “Kita habisi dia sekarang?” tanya seseorang itu mengeluarkan senjatanya dibalik jaket dan menodongkannya pada Arumy, bersiap untuk menarik pelatuk, mengakhiri napas Arumy yang kini sudah berada diujung tanduk. “Sebaiknya jangan,” tahan temannya begitu melihat beberapa orang mulai muncul dari

  • Cinta yang Patah, sebelum Sah   Chapter 87

    Beberapa pejalan kaki sudah sampai di penyebrangan menyisakan Arumy yang masih berdiri ditempatnya bersama rambu lalu lintas yang belum berubah. Beberapa orang yang menyusul, melewati Arumy untuk menyebrang. Tyler akhirnya menepi dan keluar dari kendaraannya, dia memutuskan menghampiri Arumy dan melihat putrinya lebih dekat tanpa malu meski kini keadaan Arumy tampak pucat dan lusuh. “Bisakah kita bicara, Rumy?” tanya Tyler pelan. Arumy terdiam sebentar, memandang lekat wajah Tyler dibawah cahaya pagi. Sudah terlalu banyak pertengkaran yang mereka lewati akhir-akhir ini, Arumy menyadari bahwa mungkin pertengkaran itu tidak lepas dari keegoisannya juga. Ini kesempatan terakhirnya untuk bicara dengan Tyler, Arumy akan menyampaikan salam perpisahan karena kedepannya mereka tidak akan lagi pernah bertemu. Arumy tidak ingin kembali ke negara ini lagi.. “Kita bicara disana, aku tidak memiliki waktu lagi,” jawab Arumy menunjuk sebuah toko roti. Tyler tersenyum dengan sedikit gel

  • Cinta yang Patah, sebelum Sah   Chapter 86

    Jantung Adven berhenti berdetak, pria itu membeku kaku tidak dapat merespon dari hujaman keras sebuah kabar yang merusak akal sehatnya. Adven tidak salah dengar kan? Sunny adalah orang yang telah melahirkan Donovan? Bukan Arumy? Kebenaran macam apa ini! Bibir Adven terbuka, pria itu menarik udara melewati tenggorokannya yang mendadak kering perih. “Katakan sekali lagi,” pinta Adven dengan suara tersendat-sendat, meminta kepastian sekali lagi untuk meyakinkan diri, bahwa apa yang telah didengarnya bukan halusinasi. Adven masih tidak percaya sama sekali… “Dalam catatan medis rumah sakit, Sunny lah orang yang telah melahirkan Donovan bukan Rumy. Karena Sunny melahirkan di usia yang tua, dia mengalami gagal organ ginjal dan jantungnya, karena kekurangan biaya, Sunny terpaksa pulang sehari setelah melahirkan. Dua hari kemudian, Sunny meningal di apartement Rumy karena obat-obatan yang disuntikan padanya,” jawab Asteria memperjelas informasi yang akhirya saling berhubungan dengan a

  • Cinta yang Patah, sebelum Sah   Chapter 85

    “Kau darimana saja?” tanya Anna menyambut kedatangan Hansen yang baru pulang sudah menjelang pagi. Setelah pertemuan keluarga yang gagal total dan menyisakan malu, Hansen pergi begitu saja meninggalkan Anna seorang diri yang harus menangani kemarahan kedua orang Prisila karena kedatangan mereka tidak dihargai. Perjodohan yang Anna rencanakan sebaik mungkin. kini berada di ambang kehancuran, Prisila tidak mungkin bisa mempertahankan hubunganya jika pada akhirnya Adven kembali goyah pada Arumy yang kembali datang dalam hidupnya. Arumy.. Wanita sialan itu, dia pasti sudah berbicara sesuatu kepada Adven, karena itulah Adven berubah. Pikiran Anna berkecamuk seperti badai dilautan, semuanya telah menjadi masalah. Dan masalah yang menimpanya pasti sangat disukai Bjorn! Disaat semua orang fokus dengan masalah masing-masing, Bjorn akan diam-diam memperkuat posisinya di perusahaan Hansen dan mencaplok kembali perusahaan ibunya yang akan segera direbut dari tangan Anna. Hansen melep

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status