LOGINSuara gesekan lembut ujung pensil warna terdengar kala mencoret-coret permukaan kertas.
Tangan kecil Donovan menggenggam kuat pensil itu, merangkai gambar sesuka hatinya. Donovan mengangkat wajah dan diam-diam mengintip ibunya dari balik permukaan ranjang yang tinggi, Donovan lihat Arumy tengah mengambil sebuah obat dari dalam kotak sepatu dan menelannya. Donovan tidak ingat, sejak kapan ibunya sudah minum obat, namun sepanjang yang dia ingat, Arumy mengkonsumsinya. Meski tidak tidak setiap hari, namun obat itu tidak pernah lepas dari beberapa kesempatan. Untuk anak seusianya, Donovan tidak memahami apa yang sebenarnya tengah terjadi, satu-satunya yang dia tahu adalah, obat diperuntukan untuk orang yang sakit. “Apa Ibu sakit lagi?” tanya Donovan perlahan bangkit, meninggalkan pensil warnanya di atas meja kecil. “Tidak, ini vitamin agar ibu kuat,” jawab Arumy tersenyum lebar, menjatuhkan tubuhnya ke ranjang untuk mengistirahatakan diri, dari lelah yang telah mendera. Donovan ikut merangkak naik, anak itu duduk di sisi Arumy, beberapa detik ia terdiam memperhatikan wajah sembab ibunya. Donovan tahu.. Ibunya pasti sudah menangis dan bertengkar dengan kakeknya karena dia. Donovan bergeser semakin dekat, tanpa terduga anak itu meraih tangan Arumy dan memijatnya dengan tenaga yang tidak seberapa. “Setelah nanti aku tumbuh tinggi dan besar, aku akan mencari banyak uang agar ibu tidak kelelahan,” ujar anak itu terdengar polos namun sarat oleh luka. Bibir Arumy tersenyum diantara mata yang berkaca-kaca menahan tangisan. Tangannya yang lelah itu meraih Donovan dan menariknya untuk mendekat, membawanya ke dalam pelukan yang kuat. Mata Arumy terpejam, tangannya menepuk-nepuk punggung Donovan. “Apa saja yang kau lakukan di hari ini? Coba ceritakan pada ibu.” Donovan menggeleng dengan senyuman malu, apa yang dia lakukan selalu sama seperti hari-hari sebelumnya. Lebih banyak mengurung diri di kamar agar tidak mendengar bentakan kakeknya, cubitan dari neneknya, tidak menerima gangguan Charlie. Sesekali Donovan pergi ke halaman rumah untuk menyapa tukang sampah lewat atau tukang kebun yang bekerja keliling, mereka lebih ramah dan bersedia memberikan senyuman padanya saat bicara dibandingkan dengan kakek-neneknya. Donovan memang masih kecil, dia pun tidak tahu arti dari setiap hal yang buruk yang diucapkan orang dewasa padanya. Namun, Donovan tahu bahwa dia dibenci karena dia berbeda, dia tidak memiliki ayah seperti anak-anak lainnya. “Aku menunggu Ibu seharian,” jawab Donovan menggantung, tidak berapa lama kemudian anak itu kembali berbicara, “ibu, apakah boleh meminta sesuatu?” Perlahan Arumy membuka matanya kembali dan menatap Donovan dengan tatapan sayu, terpengaruh oleh obat tidur yang mulai bekerja. Sejak kehilangan segala-galanya dalam hidup, Arumy sempat kehilangan arah. Arumy membutuhkan berbutir-butir obat tidur untuk bisa tidur tanpa kecemasan. Ketergantungannya pada obat tidur masih Arumy alami sampai sekarang setiap kali menghadapi tekanan yang sulit untuk menyingkir dari pikiran. Tangan Arumy terangkat pelan, jarinya mengusap hati-hati sudut mata Donovan yang berwarna biru begitu cerah, selalu mengingatkan Arumy pada Adven. “Kau mau meminta apa?” Donovan menelan salivanya dengan kesulitan, ada keraguan di bibirnya untuk bicara, namun matanya berkhianat dengan memandangi Arumy dengan harap. “Katakan saja, Donovan,” ucap Arumy mendorong keberanian Donovan. “Ibu bilang, kita akan pindah. Apa itu artinya.. kita akan menumpang lagi?” tanya Donovan dengan senyuman yang menyimpan kesedihan. “bisakah kita punya rumah sendiri, selama ibu bekerja aku baik-baik saja menunggu sendirian di rumah asal tidak ada yang marah-marah padaku.” Arumy menarik lebih dekat tubuh Donovan dan memeluknya. “Kita akan memiliki rumah baru untuk ditempati selamanya. Lalu, kau akan mendaftar sekolah,” jawab Arumy disambut oleh tawa riang Donovan yang tidak dapat menahan kebahagiaan. *** Segelas champagne berada di tangan, Adven menyandarkan bahunya ke sandaran kursi, matanya menatap nyalang langit-langit kamar. Pria tengah tenggelam dalam ingatan, tentang pertemuannya kembali dengan Arumy. Pertemuan yang tidak pernah sedetikpun Adven pikir akan terjadi. Disaat Adven sudah menganggap bahwa dia tidak peduli lagi dengan apapun tentang Arumy, justru takdir mempertemukan mereka berdua, membuka kembali apa yang sudah mati-matian berusaha Adven lupakan. Adven tidak dapat meraba perasaannya sendiri saat melihat wajahnya, mendengar suaranya, menatap matanya yang menyiratkan kesedihan. Perasaannya meledak bersamaan sampai membuat Adven berpikir bahwa itu adalah halusinasi. Adven sudah mendengar ‘maaf’ dari Arumy. Hanya maaf, Arumy sama sekali tidak berusaha menjelaskan apapun apalagi menyampaikan penyesalan atas kejahatannya. Kata-kata ‘maaf’ membakar kembali kemarahan yang telah lama Adven pendam. Bagi Adven, Arumy mengatakannya semata-mata hanya ingin mengamankan posisinya di perusahaan, bukan karena ketulusan ataupun murni menyesal. Adven sangat terhina setiap kali ingat, seberapa menyedihkannya dia lima tahun lalu yang sempat meratapi kedatangannya sementara Arumy sudah memiliki jalan lain. Adven sampai tidak sadar, keputusan Arumy pergi begitu saja tanpa berpikir, itu sudah menunjukan bahwa Adven tidak berharga untuknya. Dering suara telephone terdengar. Adven menyesap minumannya sebelum meraih handponenya dan melihat nama Martin tertera di layar. “Bukankah kau bilang, akan berada di North Emit hanya selama dua hari. Tapi kenapa, mendadak semua pekerjaan yang ada disini untuk bulan depan, diserahkan kepadaku juga?” tanya Martin dibalik telephone. “Aku akan menetap disini lebih lama lagi.” “Aku tidak salah dengar kan? Sepertinya ada sesuatu yang terjadi padamu,” ucap Martin menduga-duga.Pupil mata Bjorn melebar, sepasang mata biru jernih itu berubah begitu dingin menatap Martin yang kini tersenyum mengejek, bicara dengan sesuka hati tentang ibunya, bicara dengan bangga tentang apa yang pernah dia lakukan pada Arumy.Bjorn tidak begitu membenci Martin karena saat dia dilahirkan, Bjorn berada di pengasingan, tidak menerima sakit yang terlalu berat berkat keluarga ibunya menyelamatkannya.Bjorn tidak pernah mempermasalahkan apa yang sudah Martin lakukan pada Arumy karena Martin tidak tahu apapun. Tapi kali ini, Martin sudah tahu segalanya, dan ternyata Martin tak menyesalinya…Martin telah meremehkan kebaikan Bjorn. Seorang Hansen Nathaneil bisa Bjorn hancurkan sehancur-hancurnya, apalagi hanya sebatas Martin.Sudut bibir Bjorn terangkat pelan membalasnya dengan senyuman di bibirnya yang ternoda darah. Ketenangan Bjorn menghadapi provokasinya justru membuat Martin semakin tersulut amarah, Martin merasa seperti telah diremehkan dan dianggap tidak memiliki pengaruh apap
“Pak Adven sudah berangkat bekerja pagi sekali, beliau berpesan akan kembali lebih awal,” ucap Megan menyambut kedatangan Arumy yang baru muncul ke ruang makan.Kursi roda Arumy bergerak mengisi celah yang sengaja dikosongkan, dengan telaten Megan langsung menghidangkan sarapan dan menyiapkan obat yang harus Arumy konsumsi.Tidak berapa lama kemudian Donovan datang menyusul, menemaninya sarapan sambil bercerita tentang poodle-nya yang tidak bisa berlarian bebas karena kukunya telah memanjang dan perlu dipotong.Dengan sabar Arumy mendengarkan sambil berjuang menguyah setiap makanan masuk ke dalam mulut karena telinganya masih sensitif oleh suara.Suara dentingan bel terdengar beberapa kali di depan pintu, Megan meninggalkan ruangan makan untuk pergi melihat siapa yang datang. Tidak lebih dari dua menit ia pergi, Megan kembali datang dengan membawa bouquet tulip putih. “Ini dari pak Adven,” ucap Megan dengan senyuman. “Anda mau meletakannya dimana?”Arumy terdiam sejenak, sampai ak
“Tuan Bjorn,” inspektur Epstein menyambut kedatangan Bjorn dan Micahelin yang akhirnya datang rumah sakit.Meski seluruh urusan telah Bjorn serahkan pada Adven, sebagai anak tertua Bjorn tetap menjadi orang pertama yang dihubungi jika itu berurusan dengan hal yang darurat.Jika harus jujur, sejak meninggalkan Hansen di ruang interogasi, Bjorn sudah tidak sudi lagi untuk berjumpa dengannya. Namun setelah makan malam di villa Adven, sepanjang perjalanan pulang dari kota North Emit, Bjorn mempertimbangkan perasaan pribadinya yang masih terikat satu hal penting dengan Hansen, yaitu kebencianya pada Hansen yang masih utuh.Kebencian itu sudah seperti denyut dalam nadi, mengiringi setiap hembusan napasnya dan akan hanya akan berhenti dengan kematian Bjorn sendiri.Sepanjang malam`Bjorn bertanya pada dirinya sendiri, apalagi sekarang alasan dirinya masih benci? Bukankah balas dendamnya sudah selesai? Bukankah Hansen sudah teramat menderita seperti apa yang diharapnya?Ratusan kali Bjorn berp
Adven melepas jass dan melempar ke kursi, pria itu mengambil handpone untuk memanggil dokter agar segera datang memeriksa. Lalu dilihatnya kembali Arumy yang mulai mengejang kaku dibalik selimut.Terburu-buru Adven mendekat, mendengar suara racauannya yang tidak begitu jelas. Suhu tubuh Arumy semakin meningkat, sakit yang dirasa semakin menyiksa, bertegangan hebat sampai sulit dikendalikan.Suara Adven yang memanggil berkali-kali menyapu pendengaran, Arumy sadar dengan kehadirannya, namun dia tidak mampu untuk membuka mata ataupun bicara sekadar minta tolong.Bukan hanya bahunya saja yang sakit, kepalanya kembali berdenyut seperti ditusuk-tusuk. Setiap pagi Arumy mengalami gejala sama, namun kali ini sangat berbeda karena tidak ada bantuan langsung dari dokter selayaknya saat berada di rumah sakit.Ketidak berdayaan Arumy menghadapi sakitnya begitu memilukan untuk Adven lihat. Adven pernah berada di posisinya dan dia tahu bagaimana rasanya setiap siksaan sakit yang harus ditanggungn
Di depan pekarangan vila itu, Donovan berdiri dengan tangan melambai, matanya berkaca-kaca melihat kendaraannya Bjorn mulai bergerak menjauh. Bjorn tetap pergi sesuai rencananya, tidak bersedia tinggal sedikit lebih lama apalagi menginap.Begitu cepat mereka berpisah, padahal Dovonan baru saja merasakan apa artinya menemukan orang-orang yang berharga dalam hidupnya, menikmati kehangatan yang begitu luar biasa.Dari pantulan spion, Bjorn lihat Arumy yang duduk di kursi roda menyaksikan kepergiannya dari balik jendela kamar kehabisan energy untuk bicara maupun bergerak.Pandangan Bjorn berpindah pada Donovan, sosok anak yang telah memberinya banyak cahaya kebenaran melalui kepolosan. Tangisnya yang mengantar kepergian Bjorn membuatnya merasa seperti berharga, memiliki tempat dan juga dibutuhkan.Kasih sayang yang Arumy ajarkan pada Donovan telah berhasil memeluk dingin jiwanya, mencairkan beku yang lama berdiam, dan melunakkan hati kerasnya yang selama ini dipenuhi duri kebencian.Lebih
“Apa kau sudah tahu apa yang kini telah terjadi pada ayah?” tanya Adven menghampiri Bjorn yang telah duduk di salah satu kursi makan. “Aku sudah tahu,” jawab Bjorn dengan santai. Adven mengetuk permukaan meja untuk menghiasi keheningan yang kini sedang menjeda percakapan. Jujur saja, Adven tidak dapat menebak apa yang Bjorn pikirkan setelah tahu kondisi Hansen saat ini. Apakah ada simpati di dalam diri Bjorn? Pria itu mampu bersenang-senang hingga merayakan kematian Anna secara terang-terangan dihadapan Adven, bukan hal yang mustahil jika Bjorn juga akan melakukan hal yang sama untuk merayakan penderitaan Hansen. “Polisi mulai membahas tentang kemungkinan euthanasia untuknya karena kondisinya sangat buruk tidak memungkinkan menjalani hukuman penjara. Negara juga tidak bersedia mebiayai seorang penjahat dengan harga mahal untuk seumur hidupnya.” Bjorn terdiam dalam pikiran yang dalam. Suntik mati memiliki dua pandangan yang saling bertolak belakang, yaitu antara hak untuk hidu
“Apa?!” Arumy terbelalak tidak dapat mengontrol ekspresi terkejutnya, mendengar kebenaran yang terjadi dibalik hilangnya semua barang-barang di meja. Arumy menggeleng dengan berat. Bukan situasi ini yang dia inginkan! Arumy ingin jauh dari Adven, jika perlu mereka seperti dua orang asing yang tida
Suapan demi suapan makanan Arumy nikmati dengan lahap, mengisi kembali energy nya yang telah habis terkuras. Sejenak, Arumy melupakan beban di pikirannya, berbicara santai dengan Benedic yang mempertanyakan kesan pertamanya menjadi sekretaris. Serangkai kebohongan harus Arumy ciptakan untuk menjad
Adven menggenggam handponenya dengan erat, pria itu menengadahkan wajahnya menatap langit-langit kamar dengan kilatan tajam dan senyuman penuh rencana.Memang benar, telah terjadi sesuatu sekarang.Rencana sederhananya di North Emit telah berubah haluan, ada rencana baru yang tiba-tiba muncul. “Ad
Adven memutar kursi yang di dudukinya, melihat keluar jendela yang menampilkan suasana kota North Emit di bawah langit biru yang cerah.Sorot mata Adven terlihat kelam. Pria itu tengah tenggelam dalam bayang-bayang ingatan ekspresi wajah Arumy saat diberitahu bahwa, kini Adven telah memiliki pendam







