ログインJawaban menohok Tyler membuat Arumy terpaku beberapa detik. Ada begitu banyak kata yang bisa Tyler sampaikan jika dia menolak, tapi Tyler tetap memilih hinaan untuk Donovan.
Tidak cukup untuk Tyler mencela Donovan tetap di depan mukanya, Tyler juga menghina Donovan di belakangnya. Demi Tuhan! Donovan masih berusia empat tahun, dia tidak berdosa, dia bahkan tidak tahu alasan dirinya dibenci. Tapi kenapa, orang-orang dewasa yang yang harusnya sudah dapat berpikir, justru menghinanya hanya sebatas untuk dijadikan pelampiasan amarah! Arumy ingin memberikan Donovan seekor anjing karena kini dia sudah cukup besar dan dapat bertanggung jawab dengan peliharaannya. Donovan kesepian, dia membutuhkan sesuatu yang bisa dia ajak bermain. Selama ini Arumy sudah cukup sering memberikan Donovan mainan, namun Charlie selalu merebutnya. Tidak ada yang pernah menghentikan keinginan Charlie meski dia serba berkecukupan, apapun yang Donovan miliki dianggap milik Charlie juga, Hewan peliharaan tidak mungkin direbut juga kan? “Aku tidak sedang meminta izin, tapi hanya memberitahu,” jawab Arumy kembali melanjutkan pekerjaannya. “Ini rumahku, aku yang memiliki aturan. Apa kau lupa aku mengizinkanmu tinggal disini karena kau putriku! Aku mengizinkanmu tinggal dengan anak haram itu, agar kau tidak semakin kehilangan arah, hancur diluar sana karena kebodohanmu! Jika kau tidak suka dengan aturanku, angkat kaki saja dari rumah ini!” “Jika aku angkat kaki dari rumah ini, apa itu artinya aku bukan putrimu lagi untuk selamanya?” tanya Arumy terdengar lirih. Ruang itu berubah dingin berselimut ketegangan. Tangan Arumy terkepal kuat menahan sakit, ucapan Tyler seperti serpihan kaca yang menggores dada. Arumy tidak pernah merasa, bahwa Tyler menerimanya karena Arumy putrinya. Tyler hidup dengan layak, puluhan tahun dia menjadi pilot, bahkan ketika dia pensiun dari dunia penerbangan, Tyler bekerja di maskpai penerbangan sebagai manajer training. Dua tahun Arumy menumpang, setiap bulan Arumy selalu membayar sejumlah uang sewa dan makanan pada ibu tirinya, Tyler tahu itu, tapi dia tidak melarang Tina untuk melakukannya. Semenjak Arumy tinggal, Tina memecat semua assistant rumah tangga karena menganggap Arumy bisa membantunya. Tyler bisa saja memberikan rumah lamanya untuk Arumy tempati agar kehadiran Arumy dan Donovan tidak mengganggunya. Tetapi, Tyler tidak pernah sudi melakukannya dengan alasan dia tidak sudi hartanya dinikmati oleh Donovan. Tyler tidak pernah merelai setiap ada banyak ucapan buruk yang Tina lempar pada Arumy, namun sekalinya Arumy membalas perlakuan buruk Tina, Tyler akan membalasnya sepuluh kali lipat melalui Donovan. Arumy sadar sepenuhnya bahwa dia bukan anak kecil lagi, dia sudah dewasa dan bukan tanggung jawab Tyler lagi. Tapi secara moral, Tyler tetap seorang ayah yang sepatutnya melindungin Arumy berapapun usianya sekarang. Tyler menerimanya di rumah ini karena dia tidak ingin kehilangan muka, putri sulungnya terlunta-lunta seperti gelandangan. Hanya sebatas itu. “Aku hanya akan tinggal beberapa bulan lagi di rumah ini, aku sedang mengusahakan untuk menabung dan membeli rumah sendiri tanpa meminta kepada siapapun. Setelah kudapatkan uangnya, aku akan pergi,” ucap Arumy dengan penuh penekanan menahan ledakan emosional, “sejak kecil aku tumbuh bersama ibu tanpa menuntut apapun, aku tidak pernah marah meski Ayah tidak pernah sedikitpun hadir dalam kehidupanku. Apa sulitnya, sekarang memberiku sedikit kebaikan tanpa mencelaku dan Donovan?” Ketegangan dibahu Tyler perlahan menurun ditengah perdebatan itu. “Apa kau tahu Arumy, kesulitan yang kau alami sekarang adalah keselahanmu dalam berpikir? Berapa ribu kali aku harus mengatakannya padamu, berikan anak itu pada ayahnya! Jika ayahnya menolak, kau kirim anak itu ke panti asuhan,” ucap Tyler dengan tenang namun menekan. “Aku akan memberikan warisan bagianmu sekarang juga, asal aku singkirkan anak haram-mu itu!” Sekali lagi Arumy menghentikan pekerjaannya dan melihat ayahnya dengan mata gemetar menahan tangisan. “Aku bukan hewan yang bisa dengan mudahnya menyerahkan seorang anak kepada orang lain.” “Kau bodoh dan naif! Apa kau tidak sadar juga, sejak anak itu berada dalam kandungan, dia sudah menghancurkan hidupmu. Kau kehilangan keriermu, kebebasanmu, masa depanmu! Dengan kau membesarkannya sebagai ibu tunggal tanpa pernah menikah, kastamu sejajar dengan pelacur, tidak akan ada pria yang mau dengan seorang pelacur, kecuali menjadikannya simpanan,” komentar Tyler dengan nada tajam. Air mata yang Arumy tahan-tahan pada akhirnya jatuh membasahi pelupuk. “Jika saja, aku sebrengsek Ayah. Aku pasti akan bertindak tanpa berpikir dengan meninggalkan Donovan demi kesenanganku, sama persis seperti apa yang dulu pernah Ayah lakukan padaku, meninggalkanku tanpa berpikir,” jawab Arumy. Tyler terhenyak dipukul oleh kesalahan yang pernah diperbuatnya. Tanpa berbicara lagi, akhirnya dia pergi meninggalkan Arumy, meninggalkan perdebatan yang tidak akan pernah tuntas. Arumy mengusap kasar air matanya yang sempat terjatuh, terburu-buru dia menyelesaikan pekerjaannya untuk mengalihkan sakit dari ucapan Tyler yang sudah terlalu sering dia dengar. Kata-kata buruk Tyler seperti sebuah do’a yang salah arah, semakin sering diucapkan, semuanya menjadi kenyataan yang buruk. Memang benar, sejak berada dalam kandungan, Donovan sudah membuat Arumy kehilangan segalanya, termasuk Adven. Lantas apa Donovan layak disalahkan dan diperlakukan semena-mena? Bukan mau Donovan dilahirkan dengan cara yang seperti ini! Donovan juga korban. Dulu, saat Donovan baru berusia satu minggu, dengan putus asa dan marah, Arumy menyerahkan Donovan ke panti asuhan. Namun, tidak lebih dari satu hari Arumy melakukannya, hatinya tercabik-cabik perasaan yang sangat terhina. Hanya hewan, mahluk yang menyingkirkan anaknya yang cacat dan tidak diinginkan. Arumy akhirnya kembali ke panti asuhan itu, membawa Donovan dan merawatnya meski Donovan selalu mengingatkan Arumy pada sebuah kejadian yang paling menyakitkan dalam hidupnya.Adven membeku dengan detak jantung yang berdebar tidak terkendali, irish matanya terbuka lebar tak mampu mengendalikan keterkejutan yang mengguncang. Ucapan Arumy menggema hebat dipendengaran, bayang-bayang suaranya terulang diingatan seperti bisikan mimpi.Apa barusan Adven tidak salah dengar, Arumy mengajaknya berjumpa dengan Tyler untuk minta dilamar? Benarkah, Arumy ingin menikah dengannya dan mereka hidup bersama, melanjutkan mimpi-mimpi yang dulu pernah terpatahkan oleh keadaan?‘Aku tidak salah dengar kan?’ batin Adven terus mengulangi pertanyaan yang sama.Adven tidak pernah setidak percaya diri ini dalam hidupnya, bukan karena dia merasa tidak pantas untuk Arumy, tetapi Adven tahu kesalahannya terhadap Arumy terlampau besar. Arumy memiliki lebih banyak asalan untuk menolaknya dibandingkan menerimanya.Adven menelan salivanya dengan kesulitn, berkali-kali dia mengerjap mengumpulkan konsentrasi. “Ak.. aku tidak salah dengar kan?” tanya Adven dengan suara yang goyah.“Apa kau
Gerbang sekolah terbuka lebar menyambut masuk kendaraan. Suara anak-anak terdengar di sekitar, mereka melompat turun dari bus yang telah mengantar.Saat mobil selesai terparkir, Adven terlebih dulu keluar untuk menyiapkan kursi roda dan membuka pintu disisi Arumy.Tangan Adven yang terulur hendak menawarkan bantuan tergantung di udara, pria itu terpaku begitu pandangannya berjumpa dengan sepasang mata Arumy yang menatapnya tidak biasa.Waktu seakan terjeda.. Menenggelamkan Adven disepasang irish cokelat Arumy yang memancarkan kehangatan, bibir merahnya mengukir senyuman manis yang Adven pikir tidak akan pernah lagi ia terima.Darah Adven berdesir kala Arumy meraihnya tangannya dan bergeser mendekat, napas Adven tertahan begitu aroma mawar menjejaki udara saat Arumy melintas dihadapannya.Adven masih membeku, sampai ia tidak sadar Arumy sudah duduk di kursi roda. “Adven,” panggil Arumy menarik lembut tangan Adven.Adven merendahkan tubuhnya perlahan, membungkuk di hadapan Arumy agar
Mata Adven mengerjap tidak dapat menutupi eskpresi terkejutnya, butuh waktu beberapa detik untuknya percaya, bahwa Arumy tidak keberatan membagi ranjang dengannya dan tidak lagi membangun batasan.Ragu-ragu Adven akhirnya memutuskan bergabung naik, membaringkan diri disisi Donovan, memenuhi ranjang itu dibawah satu selimut yang sama.Ruangan itu berubah hening..Semua orang terjaga dalam diam.. Donovan yang terbaring diantara Arumy dan Adven berkali-kali mellihat keduanya bergantian, tidak menyangka bahwa akhirnya dia bisa terbaring bersama seperti keluarga dari kartun yanh ditontonnya.Donovan menutup bibirnya menyembunyikan suara tawa bahagia yang tidak bisa dia jelaskan.“Kata bu guru, nanti semua anak akan naik bus sekolah. Tapi karena aku masih baru, aku boleh diantar,” ucap Donovan pelan, memecah sunyi. “Ibu dan Paman… mau mengantarku, kan?”Diam-diam Adven melirik Arumy, segala keputusan berada ditangannya. “Iya, kami akan mengantarmu,” jawab Arumy lembut. “Sekarang tidurlah
Tawa manis yang terdengar dengan mata berbinar ceria Donovan sudah mulai menjadi pemandangan yang paling sering Arumy lihat akhir-akhir ini. Pemandangan itu sungguh menenangkan dan membuatnya berkali-kali bersyukur..Arumy telah berkali-kali ingin menyerah, berkali-kali juga dia sudah berusaha bangkit sampai titik dimana dia sudah pasrah dengan kehidupan. Butuh waktu lama untuk Arumy temukan alasan tetap bertahan sampai akhirnya Arumy menyadari bahwa mungkin ini adalah puncak terbaik dalam hidupnya..Arumy akhirnya menyadari, mungkin inilah alasan mengapa seseorang dilarang menyerah..Seratus kegagalan bukan akhir dari perjalanan, bisa jadi keberhasilan diam-diam menunggu di langkah yang ke seratus satu. “Ibu lihatlah.” Kaki Donovan berjinjit bersusah payah meletakan tasnya diranjang untuk di pamerkan pada ibunya, menunjukan apapun yang telah dia dapatkan dengan penuh bangga. “Bagus kan Bu?”Arumy mengangguk, senyum hangat terukir di wajahnya. “Bagus… besok kau pasti terlihat coco
Keryitan garis halus terlukis di kening Donovan, anak itu bergerak gelisah mengeluarkan erangan lembut.Bayang-bayang kejadian dirinya tenggelam hadir mengganggu tidurnya.Suara Donovan yang mengigau mengalami trauma pasca kejadian tenggelam ikut membangunkan Adven yang baru saja tidur beberapa menit.Adven langsung terjaga, mengabaikan lelahnya yang sejak keberangkatannya kemarin menunju ibukota hingga sekarang belum sempat beristirahat, terlalu banyak urusan yang harus Adven selesaikan.Selepas kepergian Tyler, Adven masih menunggu Arumy di depan ruangan operasi selama tiga jam lamanya, memastikan bahwa Arumy melewati proses operasinya dalam keadaan baik.Kini, Arumy sudah dipindahkan ke ke ruang pemulihan terlebih dahulu.Adven mendekati ranjang, pria itu mengguncang lembut bahu Donovan dan memanggilnya yang terus mengigau meminta tolong.Belaian hangat tangan Adven perlahan membangunkan Donovan dari tidur dan mimpi buruk yang telah mengganggunya. Dengan napas berkejaran dan kerin
“Sebenarnya, kau siapanya Rumy?” tanya Tyler dengan dengan nada canggung.Ini untuk pertama kalinya mereka berjumpa setelah tidak sengaja dipertemukan di ruangan konsultasi dokter untuk membahas operasi tulang bahu Arumy.Tyler sangat terkejut begitu dengar, dokter memanggil Adven sebagai suaminya Arumy.Rasanya tidak masuk akal Arumy bisa memutuskan menikah dengan begitu cepat, terlebih selama ini hanya Benedic-lah lelaki yang paling dekat dengan putrinya.Sepanjang konsultasi, Tyler berusaha bersikap biasa, menyembunyikan ketersinggungan dan rasa penasaran yang campur aduk menjadi satu.Tyler menahan diri sampai konsultasi selesai, dengan sabar dia juga menunggu, membiarkan Adven temani Arumy terlebih dahulu agar tidak ketakutan menjelang operasi.Dari kejauhan diam-diam Tyler perhatikan sikap Adven terhadap Arumy, terlihat lembut dan penuh perhatian.Tyler tahu siapa Adven, wajah pria itu berkali-kali muncul dalam berita akhir-akhir ini.Bukan hanya kejelasan status hubungam Arumy







