LOGINBjorn mendekat berakhir duduk disisi Arumy, menatap lekat Arumy yang hanya memberikan sedikit respon melalui tatapannya. Sayangnya, respon kecilnya tidak mampu menunjukan cahaya, padahal Bjorn ingin mendengarnya marah.Jika kebencian membuat Arumy tidak lagi bisa tersenyum hangat padanya seperti dulu, biarkan kebenciannya hanya menjadi milik Bjorn. Bjorn akan menerima semuanya dengan dengan tangan terbuka, bahkan makian dan kutukannya akan Bjorn simpan tanpa ia bagi.Separuh usia Arumy telah dia lewatkan bersama Bjorn, mereka tumbuh bersama dan segala sesuatu tentangnya begitu Bjorn kenal karena satu alasana, mereka memiliki nasib yang sama.Mereka hancur karena seorang ayah..Sakit yang pernah Bjorn terima dari kehidupan telah membuatnya kesulitan menerima kehadiran siapapun. Tetapi, Arumy memiliki tempat yang tidak bisa jelaskan di dalam hatinya.Cara Arumy memandangnya dengan mata berbinar, kebiasannya yang suka datang hanya untuk mengganggu, permintaannya yang terkadang merepotka
Keributan yang mencekam di dalam kapal itu kini telah berubah hening, menyisakan kesunyian dan suasana kamar yang berantakan. Ranjang berseprai putih penuh dengan noda darah segar.Ketegangan dibahu Hansen perlahan menurun, biru jernih matanya begitu dingin menyaksikan Anna terbaring tidak sadarkan diri, wajahnya penuh darah hingga pelipis matanya mengalami robekan yang dalam.Deru napas kasar terdengar, tangan Hansen yang terkepal kuat perlahan melentur.Kemarahan telah telah membuat Hansen kehilangan kendali sampai membuatnya tidak sadar telah melakukan kekerasan yang fatal terhadap Anna.Hansen mengambil handpone Anna yang tergeletak dilantai, dilihatnya layar yang kini masih tersambung ke layanan darurat. Genggaman Hansen menguat pada hadponenya, kemarahan yang sempat mereda kembali meledak hebat. Dengan terhubungnya telephone ke layanan darurat, secara otomatis pihak keamanan merekam apa yang terjadi dan melacak keberadaannya. Hansen mematikan telephonenya, lalu melemparkannya
Tali pancingan bergerak dipermukaan air, Hansen menariknya dengan cepat, mengangkat seekor ikan selar yang telah berhasil memakan umpannya. Hansen melepaskan ikan tersebut dari kail dan menyimpannya di sebuah ember kecil.Alat memancing yang telah Hansen gunakan, dia letakan begitu saja di kapal dan tidak menunjukan tanda-tanda bahwa dia akan kembali memancing. Justru, Hansen beranjak pergi menuju meja, mengambill segelas air yang telah Anna siapkan untuknya.Tanpa terduga, Hansen menuangkan semua air tersebut ke ember.Sejak awal, tujuan Hansen memancing memang bukan untuk bersenang-senang. Dia hanya membutuhkan satu ikan untuk menjadi bahan uji coba, apakah Anna ingin menggunkan racun sianida yang telah dipesannya untuk membunuh Hansen, atau justru Hansen salah paham.Dengan sabar Hansen melihat ikan di ember, menyaksikan setiap perubahan geraknya yang semula cepat perlahan berputar sempoyongan dan akhirnya mati tidak lebih dari dua menit. Ikan itu mengambang tidak lagi bernapas..
Sebuah kapal berlayar bebas dilautan yang biru jernih. Hansen membawanya sendiri, menunjukan kepiwaian membawa kapal dengan lisensi yang telah dia dapat sejak masih muda.Terlahir dari orang yang bukan siapa-siapa membuat Hansen harus bekerja keras lebih dari yang lainnya.Sejak bayi, Hansen sibuang dan diasuh di panti asuhan yang dikelola keluarga Felicia, ibunya Bjorn.Disanalah, Felicia dan Hansen berjumpa, memulai hubungan teman masa kecil yang berbeda kasta. Felicia adalah perempuan cerdas dan rendah hati, dia satu-satunya orang yang selalu mendorong Hansen untuk berkembang. Tidak jarang, Felicia membawanya masuk kedalam lingkaran pergaulannya agar Hansen bisa belajar memahami kebiasaan, cara berpikir dan berpandangan orang-orang kelas atas.Felicia adalah cinta pertama Hansen, dan Felicia adalah orang yana menemaninya dari titik 0, membangun diri Hansen menjadi lelaki berpengaruh dan dihormati untuk dapat diterima orang-orang kelas atas.Bahkan ketika keluarga Stalyn tidak me
Dingin ruangan ICU mencengkam ketakutan Tyler yang kini baru datang. setiap pintu yang terlewat dapat Tyler lihat setiap orang di dalamnya melalui celah kaca dipintu. Mereka semua berada dalam kondisi terbaring tidak berdaya dengan begitu banyak alat medis yang tepasang.‘Lantas bagaimana dengan kondisi Arumy?’Baru saja tercetus pertanyaan itu, Tyler lihat siluet Donovan dari balik lapisan kaca.Napas Tyler tertahan ditenggorokan, jantungnya berdebar kencang tidak karuan, telinganya sunyi senyap, pandangannya terpaku pada Arumy tengah duduk di kursi roda berpakaian pasien, tubuhnya begitu kurus sampai sulit untuk dikenali.“Ya Tuhan..” ratap Tyler mengusap dadanya dengan tekanan, menyaksikan Arumy yang selama ini selalu terkanvas sebagai perempuan tegar dan pekerja keras.Kini.. Arumy seperti seorang bayi yang baru belajar makan, berkali-kali dia menjatuhan sendok dari genggamannya setiap kali akan membuka mulut, dia tersedak hanya dengan beberapa kunyahan.Dengan sabar Donovan mengu
Kendaraan bergerak cepat melewati satu persatu kendaraan lainnya yang berada di jalann. Tyler menggenggam erat kemudi agar tidak kehilangan kendali, kekalutan terlihat begitu jelas dimatanya setelah mendengar kabar Arumy mengalami kecelakaan dihari dimana Tyler meninggalkannya di jalan, hari dimana Tyler tidak memiliki waktu untuk berbicara dengan Arumy demi ulah tahun Charlie. Hari itu, ternyata Arumy tidak hanya kehilangan rumah, dia juga mengalami kecelakaan.. Begitu banyak hal penting yang terjadi pada Arumy, namun Tyler tidak mengetahuinya sedikitpun. Termasuk siapa Donovan sebenarnya.. Ternyata, Donovan bukanlah anak Arumy.. Tyler begitu malu dan semakin merasa bersalah.. 2 tahun Arumy tinggal di rumahnya, setiap hari mereka bertemu. Tetapi Tyler tidak tahu apapun tentang Arumy saking tidak adanya percakapan yang terjadi. Sekalinya ada waktu untuk berbicara, Tyler hanya memarahi Arumy dan mencemooh penderitaan yang tengah menimpanya. Tyler tidak menyangka.. ternyata diam
Makanan yang dihidangkan telah Donovan habiskan tanpa sisa, anak itu meneguk minumannya dengan mata berbinar, lidahnya menjilati sisa-sisa manis yang tertinggal di bibir.Rasa iba yang sempat membuat Adven berbasa-basi menawarkannya sedikit kebaikan agar Donovan aman, tanpa terasa justru telah memb
Beberapa detik Arumy diam terpaku, tawaran Benedic seperti sebuah uluran tangan yang menawarkan keselamatan hidup untuknya. Arumy menggeleng dengan berat, ia melepaskan tangannya dari genggaman Benedic. Dia sama sekali tidak setuju dengan tawaran Benedic yang implusif, menganggap bahwa pernikahan
Suara Donovan yang memanggil, menyentak keterdiaman Adven yang tengah tenggelam dalam lamunan menyakitkan. Pria itu mengepalkan tangannya tanpa bisa berpikir jernih sejenakpun atas yang saat ini sedang terjadi, kehadiran Donovan di depannya sampai berubah menjadi samar dipandangan.Segalanya terasa
“Siapa paman yang kau maksud tadi, Donovan?” tanya Arumy ditengah perjalanan mereka pulang. Arumy ingin tahu, apa yang sebenarnya terjadi antara Donovan dan Adven hingga mereka bisa makan malam bersama.Ini terlalu mustahil jika disebut sebuah kebetulan, sangat tidak masuk akal untuknya.Arumy tid







