Share

Bab 2 

Penulis: Evira
Aku terbangun dalam rasa sakit yang luar biasa. Rasa sakit itu bukan sekadar luka fisik, melainkan seperti setiap saraf di tubuhku ditarik paksa hingga putus.

Aku membuka mulut untuk berteriak, tetapi hanya suara mendesis yang keluar dari tenggorokanku. Pita suaraku terluka.

Aku membuka mataku dan melihat berbagai macam peralatan medis berwarna putih. Aroma disinfektan yang bercampur dengan bau hangus tubuhku sangat menjijikkan.

"Sudah sadar?"

Jerry duduk di samping tempat tidur sambil mengupas apel. Dia mengenakan setelan jas yang rapi, dan rambutnya juga tertata dengan baik. Dia sama sekali tidak terlihat seperti korban kebakaran.

Melihatku sudah sadar, dia tidak bertanya apakah aku kesakitan. Dia bahkan tidak membunyikan bel untuk memanggil dokter. Dia hanya memasukkan apel yang sudah dikupas itu ke mulutnya, lalu mengunyahnya dengan santai.

"Roselle, kamu benar-benar beruntung. Ada 40% permukaan tubuhmu yang terbakar, tapi kamu masih selamat."

Mata Jerry tidak menunjukkan kelegaan, hanya penyesalan. Penyesalan karena aku tidak mati sepenuhnya.

Aku menatapnya lekat-lekat dan ingin mengangkat tanganku untuk menuduhnya melakukan kejahatan. Namun, tanganku dibalut perban dan aku tidak bisa menggerakkannya.

Jerry mengeluarkan tisu dan menyeka tangannya dengan gerakan elegan.

"Urusan polisi sudah beres. Aku bilang, kamu pakai peralatan listrik berdaya tinggi secara asal hingga menyebabkan kabel tua korslet. Kamu juga tahu, perusahaanku lagi siap-siap untuk go public akhir-akhir ini. Nggak boleh ada berita negatif apa pun yang menimpa perusahaan. Jadi, kamu harus tanggung kesalahanmu sendiri."

Aku membelalak, hingga bola mataku terasa hampir keluar dari rongganya. Aku ingin berbicara, juga memberi tahu polisi bahwa dialah yang menyulut api dan mengunci pintu kamar.

Jerry sepertinya bisa membaca pikiranku. Dia mendekat dan tersenyum kejam.

"Mau lapor polisi? Mau menuntutku? Roselle, kamu sudah bisu sekarang. Lagian, aku juga punya laporan diagnosis dari psikiater. Kamu mengalami depresi prenatal dan memiliki kecenderungan melukai diri sendiri. Kebakaran ini rekayasamu sendiri. Menurutmu, polisi akan percaya pada pengusaha sukses sepertiku, atau wanita gila sepertimu?"

Seluruh tubuhku gemetar karena marah. Monitor mengeluarkan bunyi alarm yang memekakkan telinga.

Aku menunjuk perutku, lalu bertanya dengan gerak mulut, "Mana anakku?"

Sorot mata Jerry bergetar sejenak, lalu digantikan dengan tatapan seperti melihat orang gila.

"Anak? Anak apa? Roselle, kamu menghirup terlalu banyak karbon monoksida dan otakmu jadi rusak. Kamu sama sekali nggak hamil. Itu cuma reaksi kehamilan palsu."

Mustahil! Aku jelas-jelas pernah merasakan gerakan anakku dan mendengar jelas detak jantungnya. Aku sudah hamil tujuh bulan. Mana mungkin itu kehamilan palsu!

Jerry berbohong! Dia pasti sudah menyembunyikan anakku, atau ....

Aku tidak berani berpikir lebih jauh. Air mata mengalir di pipiku yang terbakar. Rasa sakit yang luar biasa membuat pandanganku kabur.

Pada saat ini, pintu kamar rawat inapku dibuka.

Andini berjalan masuk dengan mengenakan gaun tidur sutra yang langsung kukenali. Itu adalah gaun yang dipesan khusus oleh ibuku dari seorang ahli bordir terkenal sebagai maharku. Sekarang, gaun itu terlihat sangat tidak cocok dikenakannya.

Andini sedang menggendong anjing poodle itu. Sebuah kalung berlian tergantung di leher anjing itu. Itu adalah hadiah ulang tahunku tahun lalu.

"Kak Jerry, Kak Roselle sudah sadar?"

Andini berjalan ke samping tempat tidur dan menatapku. Dia tersenyum polos, tetapi matanya dipenuhi niat buruk.

"Kak, kamu terlihat sangat menakutkan sekarang. Seperti monster."

Dia sengaja mengulurkan tangannya di depanku. Di lengan pucat itu, ada bekas merah seukuran kuku jari.

"Tanganku terkena percikan api waktu mencoba selamatkan tumpukan sampahmu. Kak Jerry sangat sedih dan bersikeras bawa aku ke rumah sakit swasta terbaik ini."

Jerry dengan lembut menggenggam tangan Andini dan meniupnya dengan pelan.

"Sudah kubilang jangan berkeliaran ke mana-mana, gimana kalau lukamu tinggalkan bekas? Tanganmu itu seharusnya digunakan untuk main piano, sedangkan nyawanya nggak berarti. Mana bisa dia dibandingkan sama kamu."

Aku memperhatikan pasangan murahan yang memamerkan kemesraan di depanku dan langsung merasa mual.

Andini menoleh ke arahku, lalu berbisik, "Kak, meski penampilanmu sudah hancur dan kamu jadi bisu, Kak Jerry itu orang baik dan bersedia merawatmu seumur hidup. Kamu bisa tinggal di rumah dan jadi pembantu mulai sekarang. Kebetulan, anjingku butuh orang untuk bersihkan kotorannya. Sepertinya, dia suka sama aroma hangus di tubuhmu."

Anjing poodle itu menggonggong dua kali ke arahku.

Jerry mengelus kepala anjing itu dan tersenyum penuh kasih sayang. "Masih anjing yang lebih pintar."
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Cinta yang Telah Menjadi Abu   Bab 8 

    Satu tahun kemudian, Keluarga Sutanto mengadakan "upacara pemakaman" yang besar. Hanya aku dan keluargaku yang hadir. Tidak ada jenazah, hanya dua kotak kecil berisi abu. Itu adalah abu Jerry dan Andini.Setelah malam itu, mereka hanya bertahan di ruang bawah tanah selama tiga hari. Akhirnya, mereka dimasukkan ke dalam tungku kremasi.Ketika berada dalam tungku, Jerry menyerukan "istriku, aku salah" sampai suaranya menghilang. Sementara itu, Andini tidak berhenti menyanyikan lagu anak-anak dan tertawa saat berubah menjadi abu.Xander memandang dua tumpukan abu itu dengan jijik. "Terlalu banyak kotoran, menjijikkan." Kemudian, dia langsung menuangkan abu itu ke kloset dan menyiramnya.Seiring dengan suara air mengalir, debu kembali menjadi debu, abu kembali menjadi abu, sedangkan ampas kotoran juga kembali berkumpul dengan kotoran."Meski ditaburkan ke tanah, abu seperti itu juga akan merusak bibit tanaman." Ayahku menepuk-nepuk abu dari tangannya, lalu berbalik dan bertanya padaku, "

  • Cinta yang Telah Menjadi Abu   Bab 7 

    Jerry baru sadar ketika disiram seember air es. Ketika sadar, dia mendapati dirinya berada di ruang bawah tanah yang sangat luas. Ruangan itu dipenuhi lemari pendingin mayat, sedangkan udaranya diselimuti aroma formalin dan bau busuk mayat. Ini adalah kamar mayat pribadi di ruang bawah tanah rumah Keluarga Sutanto.Andini diikat di meja bedah samping. Mulutnya disumpal dengan kalung anjing poodle itu. Dia sudah sepenuhnya ketakutan. Matanya terlihat tidak fokus, sedangkan air liur menetes dari mulutnya.Aku duduk di kursi roda dengan secangkir teh panas di tanganku. Sementara itu, ayahku sedang menyesuaikan sakelar pemanas pada tungku kremasi raksasa.Suara gemuruh bergema di seluruh ruangan dan gelombang panas langsung menyelimuti kami.Jerry menatap ngeri ke arah tungku kremasi itu."Roselle! Kamu sudah gila? Kamu bisa masuk penjara!" Aku tersenyum dan meletakkan cangkir tehku. "Jerry, ini lantai basement ke-10. Nggak ada sinyal atau CCTV di sini. Meski kamu dibakar jadi abu, nggak

  • Cinta yang Telah Menjadi Abu   Bab 6 

    Ruang operasi berubah menjadi ruang penyiksaan. Jeritan kesakitan Andini terdengar lebih mengerikan daripada hewan yang disembelih.Ibuku adalah seorang profesional. Dia menghindari semua pembuluh darah utama dan hanya menargetkan area yang paling sensitif terhadap rasa sakit. Setiap sayatan pasti membuat darah mengucur, tetapi tidak sampai merenggut nyawa."Keahlian pisaumu ... masih perlu banyak latihan," komentar ayahku. Kemudian, dia dengan santai menendang anjing poodle yang tidak tahu diri dan masih menggonggong tanpa henti itu.Anjing itu menghantam dinding dan berubah menjadi gumpalan daging yang hancur."Bajingan yang nggak tahu diri pantas berakhir seperti binatang." Jerry menatap anjing itu, dan gemetar hebat. Dia sudah ketakutan. Dia takut nasibnya akan sama seperti Andini. Dia lebih takut lagi dirinya akan berakhir seperti anjing yang langsung menjadi gumpalan berdarah dengan hanya satu tendangan. Dia mencoba merangkak ke arahku dan memeluk kakiku."Istriku! Roselle! Aku

  • Cinta yang Telah Menjadi Abu   Bab 5 

    Jerry menatap pria tua yang membawa gergaji mesin dan mengira itu adalah mandor konstruksi yang gila."Dasar tua bangka! Apa maumu! Aku ini Jerry Panjana! Direktur rumah sakit ini temanku! Satpam! Di mana satpam?" Jerry bergegas berdiri dan mengacungkan pisau bedahnya dengan niat untuk menggertak.Pemuda yang berdiri di belakang ayahku segera bergerak. Itu adalah kakakku, Xander Sutanto. Dia mengenakan kacamata berbingkai emas dan jas putih dokter, yang membuatnya terlihat berwibawa dan terpelajar.Hanya saja, dia memegang pisau boning yang panjang dan tipis. Tanpa mengatakan apa-apa, dia mengayunkan pergelangan tangannya yang memancarkan kilatan perak."Ah!" Jerry menjerit kesakitan dengan suara melengking. Dia menutupi tangan kanannya dan berlutut di lantai. Jari telunjuknya melayang dan mendarat tepat di pelukan Andini.Melihat jari yang terputus dan masih mengenakan cincin dalam pelukannya, Andini sangat ketakutan dan nyaris pingsan.Xander membetulkan letak kacamatanya dan beruj

  • Cinta yang Telah Menjadi Abu   Bab 4

    Seusai berbicara, Jerry berbalik dan pergi dengan langkah ringan.Pada pukul dua siang, beberapa perawat pendamping memindahkanku ke kursi roda dengan kasar. Tidak ada anggota keluarga yang menemaniku, tidak ada hiburan sebelum operasi.Koridor itu sangat panjang dan dipenuhi gema suara kursi roda. Setiap suara yang berbunyi terasa seperti mengantar kepergianku.Andini berjalan di sampingku sambil bersenandung. Dia telah berganti pakaian dengan gaun yang lebih cantik, sedangkan wajahnya dirias dengan cermat."Kak, terima kasih atas kulitmu. Kak Jerry bilang, dengan pakai kulitmu, aku bisa menindasnya selamanya."Dia tertawa terbahak-bahak dan melanjutkan, "Oh iya, aku lupa kasih tahu kamu. Dokter bilang, kamu nggak perlu diberi obat bius. Karena Kak Jerry bilang, untuk jaga vitalitas kulit, sebaiknya langsung disayat dalam keadaan segar. Lagian, kamu sudah terbakar seperti ini. Satu sayatan lagi juga nggak akan ada bedanya."Aku menatap lampu di langit-langit. Keheningan yang mematikan

  • Cinta yang Telah Menjadi Abu   Bab 3 

    Ketika datang ke kamarku lagi, Jerry membawa formulir persetujuan operasi. Dia tidak membawa Andini, hanya sendirian. Dia melemparkan formulir persetujuan itu ke dadaku."Tandatangani formulir ini." Aku berusaha keras membaca kata-kata di atasnya.[ Perjanjian Donasi Transplantasi Kulit ][ Penerima: Andini. ][ Lokasi donasi: Kulit utuh dari kedua paha bagian dalam. ]Aku langsung mendongak dan menatap Jerry. Gumaman penuh amarah keluar dari tenggorokanku.Jerry merapikan dasinya dan berujar dengan nada wajar, "Lengan Andini terbakar. Itu tangan yang biasa digunakan untuk main piano dan nggak boleh cacat. Dokter bilang, kulit pahamu paling cocok. Lagian, kamu juga nggak akan bisa pakai rok lagi.""Roselle, kamu seharusnya merasa berterima kasih. Kamu yang timbulkan kebakaran itu dan sudah buat Andini ketakutan. Ini utangmu padanya." Berterima kasih? Aku hampir tertawa terbahak-bahak.Aku dikurung dalam ruangan yang terbakar dan hampir mati kebakaran. Sekarang, dia ingin mengiris kul

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status