Se connecterKalian tahu nggak? Dulu istriku, Dina Felbe seberapa sayang sama aku? Dia sampai melamar aku 99 kali biar bisa nikah sama aku. Akhirnya yang ke-100 kali, aku luluh sama kegigihannya. Pas nikah, aku kasih Dina 99 kupon baikan. Kami sepakat, selama kupon masih ada, aku bakal tetap di sampingnya. Selama 5 tahun nikah, setiap kali Dina pergi temani cowok idamannya, Irwan Suwandi, 1 kupon pun habis. Pas pakai kupon yang ke-97, Dina mulai sadar kalau aku berubah. Aku sudah nggak bikin drama, nggak nangis-nangis minta dia jangan pergi. Itu karena saat Dina lagi kalap sama sekretaris cowok imutnya, aku pelan-pelan tanya, “Kalau kau pergi temani Irwan, aku boleh pakai 1 kupon baikannya?” Dina kaget, jarang-jarang hatinya luluh dan berkata, “Oke boleh. Lagian baru terpakai 60-an kupon. Kau mau pakai, ya pakai saja.” Aku hanya mengiyakan pelan, lalu membiarkannya pergi. Ternyata Dina nggak tahu bahwa itu sudah kupon ke-97. Sekarang kupon baikan kita sisa 2.
Voir plusKalau lagi capek, kadang aku liburan seminggu di desa nelayan Regia.Setahun kemudian, aku resmi jadi mitra di kantor hukum. Karirku naik terus.Semuanya berjalan indah, kecuali kadang-kadang saat lihat wajah Dina yang sedih di bawah kantor bikin aku merasa agak kesal.Setahun pisah, Dina sudah terima 99 surat cerai, tapi tetap nggak mau ditandatangani.Kayaknya dia mau pakai trik dulu saat kejar aku, biar aku kasihan dan terima dia lagi.Awalnya, aku sempat goyah.Tapi saat lihat pesan mantan rekan kerja, rasa iba itu langsung hilang.Ternyata Dina ketemu orang tuaku dan ceritakan semuanya pada mereka sambil nangis menyesali perbuatannya.Dina lupa, sifat anak itu biasanya mirip orang tuanya.Aku orangnya nggak bisa toleransi sama perselingkuhan, apalagi dia malah ceritakan semua ini ke orang tuaku.Setelah dengar semua ini, ibuku langsung usir Dina. Ibu langsung telepon aku dan bilang bahwa dia dukung keputusanku buat cerai.Hatiku yang tadinya ragu, sekarang jadi yakin sepenuhnya.S
“2 tahun ini, aku terlalu perhatian sama Irwan karena aku merasa dia mirip sama dirimu 9 tahun lalu. Aku kira aku suka dia.”“Tapi setelah kau beneran pergi, aku baru tahu bahwa aku bukan beneran suka dia. Selama ini, kau yang aku sukai.”Mendengar ini, aku tahan rasa mual dan melihatnya dengan sinis.Dina yang merasa cintanya sok tulus masih melanjutkan, “Semua yang kau lakukan semua ini sebenarnya aku tahu. Mungkin kemampuanmu di pekerjaan membuatku merasa tertekan, jadi aku merasa kau berubah.”“Logis dan keras, kayak robot yang nggak punya perasaan.”“Jadi pas Irwan muncul, aku otomatis mau dekati dia. Seakan lihat lagi kau yang dulu di diri dia.”“Supendi, aku nggak mau cerai, nggak mau kehilanganmu. Aku sampai berani naik pesawat buat cari kau. Bisakah kau maafkan aku sekali ini saja?”Dina sambil ngomong sambil nangis, tapi hatiku sudah dingin.Ini cewek yang kucintai. Sudah naksir orang lain, masih saja cari alasan buat bela diri.Dia malah salahkan aku atas perselingkuhannya.
Bahkan urusan bisnis luar negeri pun dia percayakan padaku. Aku tinggal bawa kontrak yang sudah dia tandatangani saja.“Sebenarnya kenapa sih? Kau kok tiba-tiba mau ke luar negeri?”Si penelepon terus minta alasannya.Setelah diam sejenak, Dina menghela napas dan berkata, “Supendi sudah pergi .…”“Apa?” Si penelepon agak kaget. Tapi anehnya, dia malah nggak tanya lebih lanjut.“Selama 3 tahun ini, kalian merasa aku sudah kelewatan sama Irwan nggak? Ada yang merasa aku khianati Supendi?”Pertanyaannya bikin teman baiknya jadi diam.Terkadang diam adalah respon terbaik.“Aku paham.”Dina berkata dengan sedih, “Aku yang salah. Sejak Irwan muncul, aku tanpa sadar tertarik padanya.”“Aku merasa dia kadang-kadang mirip sama Supendi saat muda, cerah dan ceria.”“Harusnya aku nggak salah anggap Irwan sebagai pengganti Suspendi.”“2 tahun ini, aku habiskan 99 kesempatan yang Supendi berikan padaku.”“Aku nggak pernah pikir mau putus dengannya. Tapi sekarang dia malah nggak mau aku lagi.”Ngomon
Meskipun berkali-kali menghibur diri sendiri dalam hati, Dina tetap kesal saat lihat meja kerjaku yang kosong.Bahkan kerja pun jadi nggak fokus.Melihat meja kerjaku kosong, Dina makin nggak tenang.Akhirnya Dina nggak tahan dan panggilkan HRD.“Bu, ada kerjaan yang mau diperintahkan?”“Supendi hari ini cuti ya?” tanya Dina dengan acuh tak acuh sambil lihat dokumen di depannya.Si HRD kaget, lalu melihat Dina dengan bingung dan berkata, “Pak Supendi sudah nggak kerja lagi.”“Apa?”Tangan Dina yang lagi tanda tangan tiba-tiba berhenti. Kertasnya pun robek kena ujung pulpen.“Kapan? Siapa yang setuju? Aku kok nggak tahu?”HRD jawab dengan bingung, “Semalam. Katanya, pagi ini Bu Dina sudah setuju.”Mendengar ini, Dina kayak tersambar petir dan langsung beku.Kemudian, Dina buka laptop dan cek sekilas semua emailnya. Dengan tangan gemetaran, dia buka satu-satunya surat pengunduran diri.Saat lihat nama Supendi, Dina langsung panik.“Cabut pengajuannya! Sekarang juga!”HRD usap keringat di






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.