Share

Cinta yang Telah Menjadi Abu
Cinta yang Telah Menjadi Abu
Penulis: Evira

Bab 1 

Penulis: Evira
Saat api menjilat tirai, aku menggedor pintu kamar tidur. Gagang pintu sangat panas, hingga telapak tanganku langsung melepuh saat memegangnya.

Mengabaikan rasa sakit, aku berusaha mati-matian melindungi perutku yang besar. Asap tebal merembes masuk melalui celah pintu dan membuat paru-paruku terasa sakit.

Gonggongan tajam anjing poodle terdengar dari luar, diiringi suara Jerry yang lembut dan menenangkan. "Jangan takut, Sayang. Papa akan bawa kamu keluar."

Aku bersandar pada kusen pintu, lalu mencakar celah pintu dengan kuku-kukuku.

"Jerry! Buka pintunya! Uhuk, uhuk .... Aku dan anak kita masih di dalam! Apinya sudah mendekat! Jerry!"

Suara langkah kaki berhenti di ambang pintu. Kupikir, dia sudah menemukan kembali hati nuraninya.

Namun, suara Jerry dari balik pintu terdengar tenang dan menakutkan, "Roselle, berhenti berakting di dalam sana. Kamu bahkan nggak tahan sama sedikit asap itu? Anjing Andini menderita asma dan nggak bisa terpapar asap. Kamu kan kuat. Kamu nggak akan mati di dalam sana."

Mataku melebar dengan tidak percaya. Air mata mengalir di wajahku karena terasa perih akibat asap.

"Apa katamu? Ini kebakaran! Aku akan mati! Bayi kita juga akan mati!"

Jerry mencibir, "Jangan coba-coba pakai anak sebagai cara licik untuk rebut perhatian! Kalau kamu benar-benar peduli sama anak, tetaplah di sini dan jangan timbulkan masalah bagi Andini. Aku akan bukakan pintu untukmu setelah kamu belajar menghargai sebuah nyawa."

Kemudian, suara langkah kaki itu menjauh tanpa ragu.

Aku mendengarnya berkata kepada Andini, "Cepat tutup hidung anjing dengan handuk basah."

Aku jatuh tersungkur di lantai. Kesepuluh jariku sudah berdarah karena aku mencakar pintu dengan kuku. Pada saat ini, aku akhirnya melihat jelas sifat asli pria yang telah kucintai selama tiga tahun. Di matanya, aku dan bayi dalam kandunganku bahkan tidak sebanding dengan anjing cinta pertamanya.

Api menyebar sangat cepat. Ini tidaklah normal. Bau menyengat memenuhi udara. Itu adalah bau minyak terpentin.

Jerry adalah seorang pelukis. Studionya menyimpan banyak minyak terpentin.

Sumber api berada tepat di depan pintu kamar dan menyebar dari luar ke dalam. Aku melihat minyak terpentin yang merembes masuk melalui celah pintu dan darahku langsung membeku.

Ini bukan kecelakaan. Jerry bukan hanya mencoba menyelamatkan anjing itu, tetapi juga ingin menyingkirkanku.

Aku teringat polis asuransi yang kulihat beberapa hari lalu. Penerima manfaatnya bukan orang tuaku, melainkan pasanganku. Jika terjadi kematian akibat kecelakaan, kompensasinya sangat besar, yaitu 60 miliar.

Ternyata begitu. Untuk menutupi kerugian perusahaannya dan memberi status bagi Andini, Jerry ingin mengubahku menjadi mayat hangus.

Aku berlari ke depan jendela, lalu mengambil kursi dan menghantamkannya ke kaca.

"Brak!"

Kursi itu terpental kembali dan mengenai punggung kakiku. Namun, kaca itu sama sekali tidak bergeming.

Aku baru ingat sesuatu. Di awal kehamilan, Jerry menyentuh perutku dan mengatakan bahwa demi keamanan, dia ingin mengganti semua jendela di rumah dengan kaca antipecah. Saat itu, aku masih merasa dia sangat perhatian. Dipikir-pikir sekarang, dia sebenarnya sedang membangun peti matiku secara pribadi.

Ini lantai tiga. Jendelanya tertutup rapat, sedangkan pintu sudah dikunci. Aku benar-benar terjebak.

Rasa sakit membakar terasa di punggungku. Api sudah menjilat ujung rokku. Aku tidak mencoba memadamkan api. Sebaliknya, aku meringkuk dan melindungi perutku dengan baik.

Ini adalah naluri seorang ibu. Meskipun dibakar menjadi abu, aku ingin memberi anakku satu kesempatan hidup terakhir.

Bar sinyal ponsel naik turun tanpa henti, lalu akhirnya sepenuhnya hilang.

Jerry sudah menyalakan pengacak sinyal. Demi mencegah rahasia dagang bocor, dia mengatakan seluruh rumah sudah dipasangi alat itu.

Rencana ini disusun dengan begitu teliti. Hatinya ternyata begitu kejam.

Aku menyeret tubuhku yang berat menuju kamar mandi. Di sana, ada ventilasi kecil dan aku mungkin bisa menemukan sedikit sinyal.

Setiap merangkak selangkah, kulit lututku terasa seperti terkelupas selapis akibat lantai yang panasnya membara. Aku menggertakkan gigi dan tetap tidak bersuara. Putri Keluarga Sutanto boleh berdarah, tetapi tidak akan menangis.

Akhirnya, aku mengangkat ponselku ke ventilasi tersebut. Sinyal akhirnya muncul satu bar.

Aku membuka obrolan grup keluarga, lalu menekan tombol mengirim pesan suara dan berkata dengan napas terakhirku, "Ayah, Jerry bilang, dia mau rasakan apa arti sebenarnya dari 'nggak bisa mati'."

Pesan suara itu berhasil terkirim. Pada detik berikutnya, layar ponsel pecah karena terlalu panas.
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Cinta yang Telah Menjadi Abu   Bab 8 

    Satu tahun kemudian, Keluarga Sutanto mengadakan "upacara pemakaman" yang besar. Hanya aku dan keluargaku yang hadir. Tidak ada jenazah, hanya dua kotak kecil berisi abu. Itu adalah abu Jerry dan Andini.Setelah malam itu, mereka hanya bertahan di ruang bawah tanah selama tiga hari. Akhirnya, mereka dimasukkan ke dalam tungku kremasi.Ketika berada dalam tungku, Jerry menyerukan "istriku, aku salah" sampai suaranya menghilang. Sementara itu, Andini tidak berhenti menyanyikan lagu anak-anak dan tertawa saat berubah menjadi abu.Xander memandang dua tumpukan abu itu dengan jijik. "Terlalu banyak kotoran, menjijikkan." Kemudian, dia langsung menuangkan abu itu ke kloset dan menyiramnya.Seiring dengan suara air mengalir, debu kembali menjadi debu, abu kembali menjadi abu, sedangkan ampas kotoran juga kembali berkumpul dengan kotoran."Meski ditaburkan ke tanah, abu seperti itu juga akan merusak bibit tanaman." Ayahku menepuk-nepuk abu dari tangannya, lalu berbalik dan bertanya padaku, "

  • Cinta yang Telah Menjadi Abu   Bab 7 

    Jerry baru sadar ketika disiram seember air es. Ketika sadar, dia mendapati dirinya berada di ruang bawah tanah yang sangat luas. Ruangan itu dipenuhi lemari pendingin mayat, sedangkan udaranya diselimuti aroma formalin dan bau busuk mayat. Ini adalah kamar mayat pribadi di ruang bawah tanah rumah Keluarga Sutanto.Andini diikat di meja bedah samping. Mulutnya disumpal dengan kalung anjing poodle itu. Dia sudah sepenuhnya ketakutan. Matanya terlihat tidak fokus, sedangkan air liur menetes dari mulutnya.Aku duduk di kursi roda dengan secangkir teh panas di tanganku. Sementara itu, ayahku sedang menyesuaikan sakelar pemanas pada tungku kremasi raksasa.Suara gemuruh bergema di seluruh ruangan dan gelombang panas langsung menyelimuti kami.Jerry menatap ngeri ke arah tungku kremasi itu."Roselle! Kamu sudah gila? Kamu bisa masuk penjara!" Aku tersenyum dan meletakkan cangkir tehku. "Jerry, ini lantai basement ke-10. Nggak ada sinyal atau CCTV di sini. Meski kamu dibakar jadi abu, nggak

  • Cinta yang Telah Menjadi Abu   Bab 6 

    Ruang operasi berubah menjadi ruang penyiksaan. Jeritan kesakitan Andini terdengar lebih mengerikan daripada hewan yang disembelih.Ibuku adalah seorang profesional. Dia menghindari semua pembuluh darah utama dan hanya menargetkan area yang paling sensitif terhadap rasa sakit. Setiap sayatan pasti membuat darah mengucur, tetapi tidak sampai merenggut nyawa."Keahlian pisaumu ... masih perlu banyak latihan," komentar ayahku. Kemudian, dia dengan santai menendang anjing poodle yang tidak tahu diri dan masih menggonggong tanpa henti itu.Anjing itu menghantam dinding dan berubah menjadi gumpalan daging yang hancur."Bajingan yang nggak tahu diri pantas berakhir seperti binatang." Jerry menatap anjing itu, dan gemetar hebat. Dia sudah ketakutan. Dia takut nasibnya akan sama seperti Andini. Dia lebih takut lagi dirinya akan berakhir seperti anjing yang langsung menjadi gumpalan berdarah dengan hanya satu tendangan. Dia mencoba merangkak ke arahku dan memeluk kakiku."Istriku! Roselle! Aku

  • Cinta yang Telah Menjadi Abu   Bab 5 

    Jerry menatap pria tua yang membawa gergaji mesin dan mengira itu adalah mandor konstruksi yang gila."Dasar tua bangka! Apa maumu! Aku ini Jerry Panjana! Direktur rumah sakit ini temanku! Satpam! Di mana satpam?" Jerry bergegas berdiri dan mengacungkan pisau bedahnya dengan niat untuk menggertak.Pemuda yang berdiri di belakang ayahku segera bergerak. Itu adalah kakakku, Xander Sutanto. Dia mengenakan kacamata berbingkai emas dan jas putih dokter, yang membuatnya terlihat berwibawa dan terpelajar.Hanya saja, dia memegang pisau boning yang panjang dan tipis. Tanpa mengatakan apa-apa, dia mengayunkan pergelangan tangannya yang memancarkan kilatan perak."Ah!" Jerry menjerit kesakitan dengan suara melengking. Dia menutupi tangan kanannya dan berlutut di lantai. Jari telunjuknya melayang dan mendarat tepat di pelukan Andini.Melihat jari yang terputus dan masih mengenakan cincin dalam pelukannya, Andini sangat ketakutan dan nyaris pingsan.Xander membetulkan letak kacamatanya dan beruj

  • Cinta yang Telah Menjadi Abu   Bab 4

    Seusai berbicara, Jerry berbalik dan pergi dengan langkah ringan.Pada pukul dua siang, beberapa perawat pendamping memindahkanku ke kursi roda dengan kasar. Tidak ada anggota keluarga yang menemaniku, tidak ada hiburan sebelum operasi.Koridor itu sangat panjang dan dipenuhi gema suara kursi roda. Setiap suara yang berbunyi terasa seperti mengantar kepergianku.Andini berjalan di sampingku sambil bersenandung. Dia telah berganti pakaian dengan gaun yang lebih cantik, sedangkan wajahnya dirias dengan cermat."Kak, terima kasih atas kulitmu. Kak Jerry bilang, dengan pakai kulitmu, aku bisa menindasnya selamanya."Dia tertawa terbahak-bahak dan melanjutkan, "Oh iya, aku lupa kasih tahu kamu. Dokter bilang, kamu nggak perlu diberi obat bius. Karena Kak Jerry bilang, untuk jaga vitalitas kulit, sebaiknya langsung disayat dalam keadaan segar. Lagian, kamu sudah terbakar seperti ini. Satu sayatan lagi juga nggak akan ada bedanya."Aku menatap lampu di langit-langit. Keheningan yang mematikan

  • Cinta yang Telah Menjadi Abu   Bab 3 

    Ketika datang ke kamarku lagi, Jerry membawa formulir persetujuan operasi. Dia tidak membawa Andini, hanya sendirian. Dia melemparkan formulir persetujuan itu ke dadaku."Tandatangani formulir ini." Aku berusaha keras membaca kata-kata di atasnya.[ Perjanjian Donasi Transplantasi Kulit ][ Penerima: Andini. ][ Lokasi donasi: Kulit utuh dari kedua paha bagian dalam. ]Aku langsung mendongak dan menatap Jerry. Gumaman penuh amarah keluar dari tenggorokanku.Jerry merapikan dasinya dan berujar dengan nada wajar, "Lengan Andini terbakar. Itu tangan yang biasa digunakan untuk main piano dan nggak boleh cacat. Dokter bilang, kulit pahamu paling cocok. Lagian, kamu juga nggak akan bisa pakai rok lagi.""Roselle, kamu seharusnya merasa berterima kasih. Kamu yang timbulkan kebakaran itu dan sudah buat Andini ketakutan. Ini utangmu padanya." Berterima kasih? Aku hampir tertawa terbahak-bahak.Aku dikurung dalam ruangan yang terbakar dan hampir mati kebakaran. Sekarang, dia ingin mengiris kul

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status