Masuk“Jadi, dia ke sini bukan hanya untuk mendirikan pabrik tetapi juga untuk memastikan Naura menjadi bagian Werner Group?” tukas Gus Khalid saat Toni sudah pergi.“Benar,” ujar Fadhil sambil menghembuskan nafas panjang.Sejatinya baik Hans maupun Fadhil berencana untuk menjadikan salah satu dari putra dan putri mereka sebagai pasangan suami istri. Dengan dua putra yang dimiliki, Hans mempunya dua pilihan untuk dijadikan sebagai menantu Fadhil namun tidak dengan Fadhil yang hanya memiliki satu putri. Saat Naura berkeras menolak dijodohkan dengan Toni karena ia merasa cukup sahabatnya saja yang menjadi bagian dari Werner Group karena ia tidak mau tampak seperti orang yang sedang bersaing dengan sahabat sendiri, mereka harus memupus harapan untuk menjadi besan.“Apa Anda sudah siap dengan itu?” tanya Gus Khalid.“Apa?”“Kemungkinan yang akan terjadi saat Toni mulai memperlihatkan niatannya.”“Penolakan Naura?”“Itu dan yang lainnya.”“Apa maksud Panjenengan, Lucas?”“Kita semua tahu bahkan
Bayangan Naura mengenakan daster dengan jilbabnya masih menghantui Toni. Ia tidak menduga jika wanita itu akan memakai pakaian yang menutup seluruh tubuhnya meski di rumah. Pikir Toni, hijab yang dikenakan oleh Naura hanya dikenakan saat wanita itu sedang keluar rumah, ternyata tidak.“Apa dia sudah berjilbab dari dulu?” tanya Toni ke Darwis yang sedang mengemudi.“Apa?” Darwis yang berkonsentrasi pada jalanan yang cukup padat tidak mendengar perkataan Toni.“Bukan apa-apa,” ujar Toni.Hari Toni sebagai wakil presiden Werner Group dimulai dan diawali dengan pembangunan pabrik di Pasuruan. Sedangkan sebagai pewaris, ia dibebani tantangan untuk meyakinkan wanita yang sudah membesarkan keponakannya, bersedia menjadi istrinya. Dan, itu terlihat bukan hal yang mudah, setelah ia melihat bagaimana Naura pagi ini.Saat ia bertamu untuk sarapan, sekilas ia melihat sorot terkejut dan takjub di mata almon Naura selama beberapa detik. Wanita itu sangat pandai mengendalikan emosi dan selalu tampak
kedatangan keluarga Werner membuat Naura tidak dapat memejamkan mata dengan tenang. Otak dan hatinya berkecamuk membayangkan ia harus hidup tanpa Emir membuat ia terjaga. Ia tahu, cepat atau lambat mereka pasti akan berpisah, namun enam tahun bukan waktu yang sebentar untuk mereka menjalin satu ikatan layaknya ibu dan anak kandung.“Kami tidak akan memisahkan Emir darimu,” Begitulah kata Hana Werner yang entah mengapa itu semakin membuat ia cemas.Tidak mungkin mereka akan menyerahkan Emir padanya selamanya mengingat Emir adalah pewaris kedua setelah putra bungsunya, Toni Werner. Mereka yang membeli dua rumah yang bersebelahan saat mencarikan rumah untuk dia tinggal bersama cucu mereka, memperjelas jika Hans Werner tidak akan pernah melepaskan cucunya. Lalu, apa makna dari mereka yang tidak akan pernah memisahkan Emir darinya.“Tidak. Tidak mungkin,” gumamnya.Terlintas di benaknya jika yang dimaksud Hana adalah menjadikan dirinya bagian dari keluarga Werner.“Itu tidak mungkin, Merek
Darwis datang saat malam telah larut, meski begitu tidak terlihat wajah lelah dari pria itu setelah mengemudi selam dua hari satu malam dari Jakarta ke Pasuruan, lalu harus bertemu dengan Fadhil dan kembali mengemudi ke bandara. Toni yang sudah menunggu kedatangannya dengan secangkir kopi hitam pekat, menawarkan waktu ke Darwis untuk istirahat namun ditolak.“Tidak apa-apa. Saya baik-baik saja,” kata Darwis.“Kau bisa membuat kopi dulu, baru kita bicara.”“Baik”Dengan secangkir kopi hitam yang lebih pekat dari milik Toni, Darwis bergabung dengan Toni di ruang tamu.“Jadi, bagaimana?” tanya Toni. “Apa Om Fadhil bersedia membantu kita?”“Beliau menawarkan hal yang lain pada kita.”“Apa itu?” Toni tidak lagi duduk dengan santai, bahunya langsung tegak saat mendengar penawaran lain yang disampaikan oleh Fadhil.“Beliau bertanya apakah selain menambah pabrik untuk produksi yang kita miliki, apakah kita bisa menjadi investor bagi petani di wilayahnya yang saat ini sedang mengalami kesulita
Naura tampak bingung saat melihat Emir berada di kampus yang berlari menghampirinya. Wajah bingung itu berubah menjadi cemas dan pucat saat melihat Toni yang berdiri dua meter di hadapannya, saat itulah ia melihat cinta yang tulus dari wanita itu ke keponakannya“Pelan-pelan,” ucap Toni sambil menyeka es krim yang belepotan di mulut Emir.Senyum ramah bocah laki-laki berusia enam tahun itu saat membuka pintu untuk Toni membuatnya tidak dapat menyangkal jika Emir adalah putra dari kakaknya. Bentuk wajah serta rambut bergelombang yang hitam pekat mempertegas jika bocah itu bukan putra Naura melainkan putra dari sahabat wanita itu yaitu Shanaz. Ia tidak menyangka jika bayi yang terlahir dari sebuah tragedi yang merenggut kematian orang tuanya juga kehidupan ibu angkatnya tumbuh menjadi anak yang ceria.“Jadi, Om itu adalah adik dari ayahku?” tanya Emir setelah menghabiskan setengah es krimnya.“Ya.”“Da, apakah wanita yang di sana itu adalah ibunya Om?” tanyanya dengan wajah polos seoran
Di tengah masa yang penuh ujian, Naura mampu bertahan dan bangkit menapaki jalan kehidupan yang sepenuhnya baru. Meski ia mendapatkan bantuan finansial dari Hans Werner dalam memenuhi kebutuhan hidup mereka berdua. Naura tetap membutuhkan satu kegiatan yang dapat mengalihkan pikirannya dari kemalangan hidup yang menerjangnya. Celoteh riang dan tawa manis Emir membuatnya memutuskan untuk menjadi dosen di salah satu universitas lokal Pasuruan.“Untuk mata kuliah sosiologi politik, saya hanya akan memberikan kajian materi sebanyak tiga kali pertemuan dan selebihnya kita adakan diskusi untuk mengkaji secara detail mengenai sosiologi politik yang terkait dengan kekuasaan dan dampaknya bagi kehidupan kita secara individu juga kita sebagai bagian dari masyarakat.”Naura memutuskan untuk menjadi dosen meneruskan apa yang sudah ia rencanakan bersama almarhum sahabatnya, Shanaz, setelah mereka menyelesaikan pendidikan S2. Sayangnya, rencana itu tidak dapat mereka wujudkan bersama karena Shanaz







