Short
Pengkhianatan di Balik Boneka Kelinci

Pengkhianatan di Balik Boneka Kelinci

By:  TiaKumpleto
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
9Mga Kabanata
2views
Basahin
Idagdag sa library

Share:  

Iulat
Buod
katalogo
I-scan ang code para mabasa sa App

Sahabatku, Yuna Jiswara, punya gantungan boneka kelinci abu-abu. Dalam setahun, dia bisa berganti tas lebih dari sepuluh kali. Namun, gantungan boneka kelinci itu tetap dipakainya sejak masa kuliah hingga sekarang. Aku pernah menertawakannya karena menganggapnya terlalu sentimental. Sambil mengelus telinga kelinci itu, dia berkata, "Ini pemberian orang penting. Aku nggak tega menggantinya." Dia juga senang membuatkan pakaian untuk kelinci itu. Mulai dari setelan wanita kantoran, gaun Lolita, hingga seragam perawat seukuran telapak tangan. Aku sering menggodanya karena idenya macam-macam. Dia hanya tersenyum penuh arti. "Ganti pakaian, ganti suasana." Hingga tepat di hari ulang tahun pernikahanku yang ketiga, saat sedang merapikan ruang kerja suamiku, Kenzo Hendriko, aku menemukan kartu anggota sebuah studio kerajinan di dasar laci paling bawah. Awalnya, aku hanya ingin bertanya apakah diam-diam dia sedang menyiapkan hadiah untukku. Namun, begitu menerima kartu itu, pegawai toko justru tersenyum dan bertanya, "Kelinci abu-abu yang dulu dipesan khusus sama Pak Kenzo masih dipakai?" "Di bagian telinganya terukir angka 0717. Waktu itu, beliau bahkan berpesan khusus bahwa angka tersebut sangat penting." Aku terpaku di tempat. 0717 adalah tanggal ulang tahun Yuna. Malam itu, dengan alasan ingin melihat boneka kelincinya, aku memeriksanya. Benar saja, deretan angka itu terukir di bagian dalam telinganya. Aku bahkan belum sempat bertanya ketika ponsel Kenzo tiba-tiba menampilkan notifikasi dari sebuah hotel saat dia sedang mandi. Awalnya, aku berniat menggesernya begitu saja. Namun, kemudian aku melihat beberapa poster paket bertema dari hotel yang sama tersimpan di galeri. Permainan kantor, putri kerajaan, ruang praktik dokter yang serba putih. Aku menatap ketiga gambar itu. Jadi, inilah maksud dari "ganti suasana" yang selama ini Yuna bilang. Setiap kali dia mengganti pakaian kelinci itu, berarti mereka sedang mencoba permainan yang berbeda. Kelinci itu bukan sekadar hadiah yang tidak sanggup dia buang. Kelinci itu adalah buku kenangan perselingkuhan mereka, yang selama ini digantung tepat di depan mataku.

view more

Kabanata 1

Bab 1

Kenzo keluar dari kamar mandi, hanya dengan handuk yang melilit pinggangnya.

Melihat aku memegang ponselnya, dia sempat tersenyum.

"Giana, jadi hadiah ulang tahun pernikahan kita yang ketiga itu ngecek HP-ku?"

Aku memutar layar ponsel itu ke arahnya.

Notifikasi dari hotel masih menyala.

Dia hanya melirik sekilas, lalu kembali mengeringkan rambutnya dengan handuk.

"Itu rekomendasi dari algoritma."

"Lalu, paket bertema yang ada di galeri ini juga disimpan oleh algoritma buat kamu?"

Gerakan Kenzo terhenti.

Sesaat kemudian, dia menghampiriku, menahan tengkukku dengan telapak tangannya, lalu menunduk dan mencium keningku.

"Kamu mulai mikir macam-macam lagi."

"Akhir-akhir ini kamu kebanyakan waktu luang, ya? Aku sudah bilang mau nyariin asisten rumah tangga, tapi kamu nggak mau. Kamu malah bersikeras mau ngerjain semuanya sendiri sampai kelihatan kayak orang yang selalu menderita."

Suaranya lembut.

Namun, kata-katanya terasa begitu menyakitkan.

Di atas meja makan masih terhidang masakan yang kusiapkan sejak sore.

Daging asam manis, tahu saus kepiting, dan sup iga.

Di tengah meja ada sebuah kue yang bentuknya sedikit miring.

Di atasnya tertulis: [Selamat Hari Jadi ke-3.]

Kenzo bahkan tidak melirik meja itu. Dia hanya mendorong sebuah kotak perhiasan ke hadapanku.

"Hadiah."

Aku membukanya.

Seuntai kalung mutiara.

Liontinnya berbentuk kelinci abu-abu.

Di bagian belakangnya terukir dua kata: [Ganti suasana.]

Ujung jariku langsung menegang.

Kalimat itu adalah kode yang sering diucapkan Yuna.

Namun, seolah tidak melihat perubahan ekspresiku, Kenzo berkata santai, "Yuna yang bantu milihin."

"Katanya akhir-akhir ini wajahmu kelihatan pucat. Dia bilang kamu lebih cocok pakai sesuatu yang lembut kayak gini."

Aku menatapnya.

"Hadiah untuk ulang tahun pernikahanku, tapi dia yang milih?"

Kenzo mengernyit.

"Giana, sejak kapan kamu jadi ngeributin hal kayak gini?"

Ponselnya kembali berdering.

Yuna.

Kenzo melirikku, sambil tetap mengangkat teleponnya.

Dari seberang terdengar suara Yuna yang nyaris menangis.

"Kenzo, kayaknya aku alergi lagi waktu pemotretan tadi."

"Obat semprotnya ketinggalan di mobilmu." Alis Kenzo langsung berkerut.

Yuna menarik napas beberapa kali, lalu menambahkan dengan suara pelan, "Jas putih kelincinya juga sampai robek gara-gara ketarik. Hari ini aku sial banget."

Kening Kenzo makin berkerut.

"Jangan bergerak dulu."

"Aku akan antarin obat semprotnya."

Aku tertawa kecil.

"Hari ini ulang tahun pernikahan kita yang ketiga."

"Dia bahkan nggak bisa nunggu buat beli obat semprot baru?"

Kenzo menutup telepon. Wajahnya pun langsung mengeras.

"Dia sedang kena serangan asma, dan sekarang kamu masih permasalahin ini?"

"Aku cuma mau nganterin barang itu, lalu kembali."

Aku menatapnya.

"Jadi, aku memang pantas menunggu?"

Dia menghela napas, seolah aku sedang bersikap tidak masuk akal.

"Giana, aku sudah pulang. Sebenarnya apa lagi yang kamu mau?"

"Bukankah selama ini kamu selalu paling pengertian?"

"Jangan merusak suasana malam ini."

Setelah berkata begitu, dia berbalik untuk berganti pakaian.

Aku mengikutinya sampai ke pintu kamar.

"Kelinci itu, kamu yang kasih?"

Tangannya yang sedang mengancingkan kemeja sempat berhenti.

"Iya."

"Aku sekadar ngasih saja waktu kuliah."

"Lalu angka 0717 di telinganya juga terukir begitu saja?"

Kenzo akhirnya menoleh.

Tak ada kepanikan di matanya.

Yang ada hanya tatapan dingin.

"Kamu ngacak-acak barangnya?"

Dadaku terasa sesak seketika.

"Reaksi pertamamu justru nuduh aku ngacak-acak barangnya?"

Dia berjalan menghampiriku dan mengangkat tangan untuk mencubit pipiku.

Tidak keras.

Namun, rasanya seperti sedang mendisiplinkanku.

"Giana, jangan buat dirimu kelihatan seburuk ini."

"Kamu itu Nyonya Hendriko, bukan perempuan kasar yang sibuk nangkap suaminya berselingkuh."

Aku menatapnya.

"Terus, kamu sendiri apa?"

Wajahnya langsung jadi muram.

Ponselnya kembali bergetar.

Yuna mengirim pesan suara.

Suaranya begitu lembut dan manja.

"Dokter Kenzo, kalau kamu nggak segera datang, pasien akan merobek bajunya."

Suasana hening selama dua detik.

Kenzo mematikan layar ponselnya.

"Dia cuma bercanda."

Aku mengangguk.

"Kalian memang pandai bersenang-senang."

Kilatan kesal melintas di matanya.

"Giana!"

"Aku dan dia nggak seperti yang kamu pikirin."

"Kalau kamu benar-benar nggak nyaman, nanti setelah aku pulang akan kubuat tenang."

Sambil berkata begitu, dia mengulurkan tangan untuk menyelipkan rambut yang jatuh di dekat telingaku.

Gerakannya masih sama terampilnya seperti dulu.

"Menurutlah."

"Simpan kuenya."

"Jangan sampai kamu marah lagi sampai sakit perut."

Pintu tertutup.

Di dalam rumah, hanya tersisa sepiring makanan yang telah dingin di atas meja.

Aku mengambil kalung kelinci itu dan mengusap "Ganti suasana" dengan ujung jariku.

Menjijikkan sekali.

Mereka mengukir kode rahasia itu di kalung yang akan melingkari leherku.

Saat aku memakainya di luar, rasanya seperti membawa lelucon tentang perselingkuhan mereka ke mana-mana.

Pukul dua dini hari, Kenzo akhirnya pulang.

Ada aroma parfum yang sangat samar di tubuhnya.

Bukan parfumnya.

Dia masuk ke dapur, menghangatkan semangkuk sup, lalu meletakkannya di hadapanku.

"Minumlah sedikit."

"Jangan jadikan tubuhmu sebagai pelampiasan karena marah padaku."

Dulu, jika dia bersikap seperti ini, aku pasti akan luluh.

Namun, ponselnya kembali menyala.

Yuna mengirim sebuah foto.

Kelinci abu-abu itu mengenakan jas dokter. Kerah kecilnya terbuka, dengan stetoskop menggantung di lehernya.

Pesan yang menyertainya berbunyi, [Keahlian Dokter Kenzo memang hebat. Lain kali aku akan cari kamu lagi.]

Aku mendorong mangkuk sup itu menjauh.

"Kotor."

Raut wajah Kenzo langsung menegang.

"Giana, apa malam ini kamu harus bicara setajam itu?"

Aku menatapnya.

"Mulai sekarang, nggak akan lagi."

Dia mengira aku akhirnya mengalah. Ekspresinya pun sedikit melunak.

"Nah, ini baru kamu yang aku kenal."

Dia mengulurkan tangan, hendak mengusap kepalaku.

Aku menghindar.

Tangannya berhenti di udara.

Untuk pertama kalinya, aku tidak memberinya kesempatan untuk berdamai.

Palawakin
Susunod na Kabanata
I-download

Pinakabagong kabanata

Higit pang Kabanata

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Walang Komento
9 Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status