Share

Bab 7

Author: Summer
Aston menatap mata Summer yang memerah dan keputusasaan mendalam di matanya. Ada sedikit rasa tidak nyaman yang melintas di hatinya, tetapi segera dia abaikan.

Nada bicaranya melunak, dengan kesabaran seolah sedang menjelaskan sesuatu secara masuk akal. "Summer, Tristan memang berengsek, tapi soal pemerkosaan ... kemungkinannya kecil. Situasinya kacau saat itu. Mungkin kamu terlalu takut dan salah paham."

"Aku menahanmu beberapa hari untuk memberimu pelajaran sekaligus meredakan masalah ini. Aku nggak mengabaikanmu. Aku sudah bicara dengan polisi, jadi kamu nggak bakal menderita di dalam sana."

Sudah bicara dengan polisi? Summer hampir tertawa, tetapi air mata lebih dulu mengalir. Apakah dia tidak pernah berpikir bahwa Manda yang dicintainya juga bisa bicara dengan polisi dan membuatnya disiksa hingga berharap mati?

Summer menggigit bibirnya hingga terluka. Rasa darah memenuhi sela-sela giginya.

Beberapa hari berikutnya, seolah takut alat yang digunakannya itu marah, Aston menunjukkan sikap kompromi yang jarang sekali dia tunjukkan.

Dia membawa Summer ke pelelangan pribadi kelas atas, membeli semua kalung berlian mahal, anting-anting antik, dan lukisan terkenal dengan harga fantastis, lalu semuanya dicatat atas nama Summer.

Namun, saat Summer menatap berlian-berlian dingin itu, hatinya hanya terasa mati rasa.

Setelah pesta lelang berakhir, dia berjalan sendirian ke geladak untuk mencari udara segar. Sekali lagi, terdengar suara langkah kaki yang sudah sangat dikenalnya dari belakang.

Manda datang lagi.

"Summer, Aston membelikanmu begitu banyak barang. Senang?" Manda berjalan ke sisinya. Suaranya lembut, tetapi tatapannya seperti dilapisi racun.

"Tapi, semahal apa pun barang-barang ini, tetap nggak bisa mengubah kenyataan kalau kamu cuma sebuah alat. Dia menggunakanmu untuk menekan orang tuanya."

"Sekarang tujuannya hampir tercapai. Menurutmu, berapa lama lagi kamu bisa tetap berada di sisinya? Saat kami menikah nanti, aku akan ingat mengirimkan undangan padamu."

Summer tidak ingin mendengarnya. Dia berbalik dan hendak pergi. Namun, Manda langsung mencengkeram pergelangan tangannya.

"Mau pergi begitu saja? Sakit hati? Waktu itu aku sudah memberitahumu kebenarannya. Orang yang dicintai Aston sejak awal adalah aku. Kamu cuma ...."

"Lepaskan!" Summer berusaha keras melepaskan tangannya.

Keduanya mulai tarik-menarik di dekat pagar buritan kapal. Kapal pesiar bergoyang pelan. Tumit sepatu Manda tiba-tiba terpeleset. Dia menjerit. Tubuhnya terjatuh ke belakang, tetapi sekali lagi dia mencengkeram lengan Summer erat-erat!

"Aaah!"

Keduanya kehilangan keseimbangan secara bersamaan, terjatuh melewati pagar, dan langsung tercebur ke laut yang gelap dan dingin di bawah!

Air laut yang menusuk tulang seketika memenuhi hidung dan mulut Summer. Benturan keras dan hawa dingin membuatnya sulit bernapas. Dia tidak bisa berenang dan hanya bisa meronta, sementara air laut yang asin masuk ke tenggorokannya.

Dalam keadaan samar, dia melihat sebuah sosok melompat ke laut dan berenang dengan lincah ke arahnya.

Aston. Tanpa ragu sedikit pun, pria itu langsung berenang menuju Manda yang sedang meronta dan meminta pertolongan, menopang tubuhnya dari belakang, lalu segera berenang menuju perahu penyelamat.

Bahkan, Aston tidak menoleh kepadanya sedikit pun. Dinginnya air laut bahkan tidak seberapa dibandingkan rasa dingin yang telah membekukan hatinya.

Saat kesadaran Summer mulai menghilang, sebuah perahu kecil yang kebetulan lewat melihatnya. Orang-orang di atas perahu segera bekerja sama menariknya keluar dari air.

Dia tergeletak di geladak sambil terbatuk-batuk hebat, memuntahkan air laut yang masuk ke paru-parunya. Seluruh tubuhnya basah kuyup dan menggigil.

Aston sudah membawa Manda ke perahu penyelamat, membungkus tubuhnya dengan selimut, dan bertanya dengan suara rendah apakah dia baik-baik saja.

Barulah saat itu, dia seolah teringat sesuatu. Dia mengangkat kepala dan melihat ke arah Summer.

Tatapannya tertuju pada Summer. Awalnya hanya sekilas, tetapi detik berikutnya, tatapannya tiba-tiba membeku.

"Wajahmu ...," gumamnya dengan alis berkerut.

Hati Summer menegang. Secara refleks, dia menunduk dan menyentuh wajahnya.

Riasan tebal di wajahnya telah luntur akibat terendam air laut serta pergulatan tadi, memperlihatkan sebagian besar kulit aslinya. Poni yang basah menempel di dahinya, sementara kacamata berbingkai hitamnya sudah hilang entah ke mana.

"Aston ... kepalaku sakit .... Aku kedinginan ...." Pada saat itu, Manda mengerang lemah dan menyandarkan tubuhnya ke pelukan Aston, memutus tatapan penuh penyelidikan itu.

Aston segera mengalihkan pandangan. "Tahan sebentar. Aku akan segera membawamu mencari dokter."

Tanpa melirik Summer lagi, dia langsung menggendong Manda dan membawanya masuk ke kabin kapal.

Summer menatap punggungnya, menggenggam ujung pakaiannya yang basah erat-erat. Ujung jarinya terasa dingin.

Pada akhirnya, dia tidak mengatakan apa-apa. Dengan bantuan orang yang sudah menyelamatkannya, dia naik ke kapal pesiar dan mencari kamar kosong untuk beristirahat.

Dia menatap wajahnya sendiri di cermin. Wajah cantik luar biasa yang selama ini tersembunyi di balik riasan buruk.

Inilah yang ditinggalkan ibunya untuknya, sekaligus beban yang sudah dia sembunyikan selama belasan tahun.

Setelah berganti pakaian dan turun dari kapal pesiar, ponselnya berdering. Itu telepon dari ibu Aston.

"Summer." Suara ibu Aston terdengar lega dan puas. "Akta cerainya sudah selesai. Mulai sekarang, kamu dan Aston, juga dengan Keluarga Dananta, nggak punya hubungan apa pun lagi. Kami akan memberikan sejumlah kompensasi untuk ayahmu. Setelah ini, jangan muncul lagi."

Summer menggenggam ponselnya sambil berdiri di dermaga. Angin laut menerbangkan rambut panjangnya yang setengah kering, memperlihatkan kening yang bersih serta sepasang mata jernih dan dingin yang kini tidak lagi terhalang kacamata.

Semuanya sudah berakhir.

Dia menghentikan sebuah taksi. Dia tidak pulang, melainkan langsung pergi ke pemakaman di pinggiran kota.

Wanita dalam foto itu cantik dan lembut, tetapi ada kesedihan yang tak kunjung hilang di matanya.

"Ibu," katanya pelan. Suaranya terbawa angin. "Ibu benar. Mungkin terlalu cantik memang akan membuat seseorang ditipu. Sayangnya, meskipun aku menyamarkan penampilanku, aku tetap ditipu dengan begitu menyedihkan."

"Menyembunyikan diri nggak akan memberiku keamanan. Itu hanya akan membuat orang yang menyakitiku semakin berani bertindak sesuka hati. Jadi mulai sekarang, aku nggak ingin bersembunyi lagi."

"Meskipun jalan di depanku nggak akan selalu mulus, aku ingin menghadapinya dengan diriku yang sebenarnya."

Dia bersujud tiga kali, lalu berbalik pergi dengan langkah tegas.

Sesampainya di vila, dia tidak mengganggu siapa pun. Dia langsung naik ke lantai atas dan masuk ke kamar, lalu melakukan tiga hal.

Pertama, dia membereskan seluruh barang bawaannya. Kedua, dia menghapus semua riasannya. Di dalam cermin, uap air perlahan menghilang dan memperlihatkan wajah yang begitu cantik itu. Ketiga, dia mengambil ponsel dan memesan tiket pesawat dengan jadwal keberangkatan tercepat.

Dia naik taksi ke bandara, mencetak kartu boarding, melewati pemeriksaan keamanan, menunggu penerbangan, lalu naik pesawat. Sepanjang perjalanan, dia menunduk sedikit, tetapi wajah tanpa riasan yang begitu memukau itu tetap menarik banyak tatapan kagum dan penasaran. Bahkan ada yang diam-diam memotretnya.

Summer sama sekali tidak menyadarinya. Atau lebih tepatnya, dia sudah tidak peduli.

Pesawat membumbung ke angkasa, meninggalkan kota yang menyimpan penderitaan dan penipuan dalam hidupnya.

Yang tidak dia ketahui adalah, tak lama setelah dia naik pesawat, foto-fotonya yang diam-diam diambil di bandara menyebar dengan cepat dan langsung masuk ke daftar pencarian terpopuler setempat, bahkan menyebar semakin luas lagi.

[ Gadis Cantik Tanpa Riasan Muncul di Bandara. ]

[ Benarkah Kecantikan Seperti Ini Ada di Dunia Nyata? ]

[Aku Mau Tahu Semua Informasi Bidadari Ini Sekarang Juga! ]

[ Dengan Kecantikan Seperti Ini, Bahkan Manda si Wanita Tercantik Kalangan Atas Harus Kalah dan Jadi Pelayannya! ]

Dalam sekejap, foto-foto itu menyebar luas. Seluruh internet mulai mencari gadis yang kecantikannya begitu mengejutkan itu.

Tak lama kemudian, identitasnya perlahan mulai terungkap ....

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Cinta yang Tertinggal Di Musim Lalu   Bab 22

    Menjelang senja, Aston akhirnya tiba di tempat pengungsian sementara di sebuah kota kecil dekat pusat gempa. Dia menghentikan setiap orang yang lewat dan bertanya dengan suara serak apakah mereka pernah melihat seorang gadis bernama Summer. Tinggi, berkulit putih, cantik, dan memiliki mata yang sangat cerah.Sebagian besar orang menggeleng kebingungan.Sampai akhirnya, seorang wanita paruh baya dengan wajah penuh debu menunjuk ke arah pos medis sementara di kejauhan."Di sana. Sepertinya ada gadis cantik yang sedang membantu membagikan barang ...."Jantung Aston berdegup kencang. Dia langsung berbalik dan berlari ke sana.Kerumunan di depan pos medis terlihat cukup tertib. Beberapa relawan sedang membagikan air mineral dan makanan sederhana.Aston langsung melihat Summer.Summer sedang berjongkok di depan seorang gadis kecil yang terisak pelan. Sambil memegang sebungkus biskuit, dia mengatakan sesuatu dengan suara lembut. Ekspresinya begitu sabar dan penuh kelembutan.Langkah Aston men

  • Cinta yang Tertinggal Di Musim Lalu   Bab 21

    Tepuk tangan kembali bergemuruh, diselingi seruan kagum.Aston naik ke panggung untuk menerima barang lelang yang dimenangkannya. Sesuai prosedur, dia harus berjabat tangan dengan sang desainer. Dia berjalan ke hadapan Summer. Cahaya lampu panggung terasa menyilaukan.Aston mengulurkan tangan. Jari-jarinya dingin dan sedikit gemetar. Tangan Summer terasa hangat dan kering. Dia menjabatnya sebentar, lalu segera melepaskannya.Senyum sopan tersungging di bibir Summer, pas dan tanpa cela."Terima kasih atas dukungan Pak Aston terhadap kegiatan amal." Suaranya tenang, sopan, tetapi berjarak.Aston menatapnya dalam-dalam. Jakunnya bergerak naik turun.Ribuan kata menyesaki dadanya dan membakar tenggorokannya, tetapi pada akhirnya hanya berubah menjadi satu kalimat, "Desainmu ... sangat indah.""Selamat.""Terima kasih." Senyum Summer tidak berubah. Dia mengangguk kecil.Setelah seluruh prosesi selesai, mereka turun dari panggung. Lorong menuju belakang panggung cukup sempit. Dengan arahan s

  • Cinta yang Tertinggal Di Musim Lalu   Bab 20

    Kompetisi desain perhiasan internasional bergengsi akhirnya dimulai.Sang juara akan mendapatkan kesempatan bekerja sama dengan merek mewah papan atas, sebuah batu loncatan yang diimpikan para desainer dari seluruh dunia.Summer melihat pengumuman penerimaan karya untuk kompetisi tersebut. Dia menatapnya dalam diam untuk waktu yang lama, lalu menutup halaman itu dan kembali melanjutkan ukiran kayu yang belum selesai di tangannya.Beberapa hari kemudian, dia mengirimkan sebuah rancangan desain yang telah dipersiapkan dengan sangat serius.Beberapa bulan berlalu, daftar peserta yang berhasil masuk ke babak final akhirnya diumumkan. Nama "Solstice" terpampang jelas di dalam daftar tersebut.Desainnya yang memadukan nuansa oriental yang khas dengan dekonstruksi modern berhasil memukau seluruh juri pada tahap penilaian awal.Divisi investasi barang mewah di bawah Grup Dananta merupakan salah satu sponsor utama kompetisi kali ini. Pihak penyelenggara berkali-kali mengirimkan permohonan, berh

  • Cinta yang Tertinggal Di Musim Lalu   Bab 19

    Dia menundukkan kepala dan menutupi wajah dengan kedua tangannya. Bahunya mulai bergetar tanpa terkendali.Edric memalingkan wajah. Dadanya terasa sesak melihat keadaan Aston. Dia belum pernah melihat Aston seperti ini. Rapuh, putus asa, seolah-olah akan hancur hanya dengan satu sentuhan.Kebiasaan minum berlebihan dalam waktu lama, insomnia, gejolak emosi yang ekstrem, ditambah luka di lengannya yang terus mengalami infeksi dan tidak mendapat perawatan yang semestinya, akhirnya membuat tubuh Aston mencapai batasnya.Dalam sebuah konferensi video bersama jajaran petinggi perusahaan, Aston sedang mendengarkan laporan bawahannya ketika tiba-tiba perutnya terasa seperti diremas hebat. Rasa anyir mendadak memenuhi tenggorokannya.Detik berikutnya, di bawah tatapan ngeri semua orang, dia tiba-tiba memalingkan kepala dan memuntahkan darah berwarna gelap ke atas meja rapat yang mengilap."Pak Aston!"Ruang rapat seketika kacau.Aston segera dilarikan ke rumah sakit.Hasil pemeriksaan pun sege

  • Cinta yang Tertinggal Di Musim Lalu   Bab 18

    Seluruh tubuh Aston seketika membeku. Rasanya seperti seember air es disiramkan tepat ke tubuhnya, membuat hawa dingin menjalar dari kepala hingga ujung kaki.Dia menatap Summer dengan tidak percaya. Wajahnya bahkan terlihat lebih pucat daripada akibat kehilangan banyak darah. Bibirnya bergerak, tetapi tidak ada suara yang mampu keluar."Kali ini kamu menerima satu sabetan pisau," kata Summer sambil menatapnya. Tidak ada kehangatan sedikit pun di matanya, yang ada hanya ketidakpedulian yang dingin dan hampa. "Lalu lain kali? Apa kamu harus menyerahkan nyawamu kepadaku baru merasa semuanya cukup?""Aston, cintamu datang terlambat dan juga terlalu berat."Dia berhenti sejenak. Setiap kata yang keluar dari bibirnya bagaikan serpihan es tajam yang menghunjam dalam ke jantung Aston. "Aku nggak sanggup menerimanya."Setelah mengatakan itu, Summer tidak lagi menatapnya. Dia juga tidak melihat lengan Aston yang sedikit gemetar akibat kata-katanya dan masih terus mengucurkan darah.Summer menop

  • Cinta yang Tertinggal Di Musim Lalu   Bab 17

    Tatapan Aston bahkan tidak bergerak sedikit pun saat dia menjawab dengan tegas, "Nggak mungkin. Selain dia, aku nggak menginginkan siapa pun.""Hahaha!" Manda tertawa histeris, tetapi tatapan matanya justru semakin dipenuhi kegilaan. "Bagus! Benar-benar cinta yang begitu dalam dan setia!""Kalau begitu, aku akan menghancurkan wajahnya dulu! Aku mau lihat apakah kamu masih mencintainya setelah dia berubah menjadi wanita buruk rupa!""Kalau kamu berani menyentuhnya sedikit saja," ucap Aston dengan mata yang memerah karena murka. Setiap katanya seolah diucapkan dengan paksa, "Aku akan membuat hidupmu lebih menderita daripada mati."Sambil berbicara, dia perlahan-lahan menggeser langkahnya ke depan tanpa menarik perhatian Manda.Emosi Manda sudah sepenuhnya lepas kendali. Tangannya yang menggenggam pisau gemetar hebat, sementara tatapannya tampak liar. "Kalau begitu, coba saja! Lihat saja aku berani atau nggak!"Belum selesai Manda berbicara, dia mengerahkan tenaga pada pergelangan tangann

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status