Short
Pria yang Kucintai, Ternyata Tunangan Tanteku

Pria yang Kucintai, Ternyata Tunangan Tanteku

By:  OkalynaCompleted
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
19Chapters
3views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Pria yang dia kejar mati-matian selama setahun ini ternyata adalah tunangan tantenya sendiri. Parahnya, semua orang tahu tentang hal ini kecuali Alya. Pada hari jamuan keluarga, ketika tante kecilnya, Elvi, masuk sambil menggandeng lengan Revan dan mengumumkan langsung bahwa mereka akan segera bertunangan, seluruh keluarga merasa cemas, takut Alya akan marah. "Alya, jangan salahkan Tante karena sengaja menyembunyikan semua ini darimu. Tante juga tahu betapa kamu menyukai Revan, jadi Tante membujuk Revan untuk menunggu sampai kamu puas bermain-main baru memberitahumu semuanya." "Kami sudah menemanimu bermain-main selama setahun. Sekarang Tante dan Revan akan segera bertunangan, jadi kamu nggak boleh lagi mengincar calon ommu ya." Nada bicara Elvi lembut. Saat mengatakan itu, dia bahkan mengamati ekspresi Alya dengan hati-hati. Sementara itu, Revan yang dulu selalu lembut dan sabar kepada Alya serta selalu tersenyum sambil mengusap rambutnya tiap kali bertemu, kali ini justru menatapnya dengan dingin. Dia seolah takut Alya akan berbuat nekat dan melakukan sesuatu yang merugikan Elvi.

View More

Chapter 1

Bab 1

Namun, pada akhirnya Alya sama sekali tak menunjukkan kemarahan meski sudah ditipu dan dipermainkan. Sebaliknya, dia justru mengangguk dengan tenang dan tersenyum kepada mereka. "Selamat ya."

Elvi sedikit tertegun. Dia tak kuasa mengangkat tangan untuk menyentuh kening Alya. "Kenapa gadis kecil ini tiba-tiba jadi dewasa sekali? Tante kira kali ini kamu pasti akan mengamuk. Jangan-jangan kamu sudah nggak suka Revan lagi?"

Alya hanya menarik sudut bibirnya dengan getir.

Benar, semua orang tahu betapa sukanya dia pada Revan dulu. Revan sepuluh tahun lebih tua darinya. Saat pertama kali bertemu, Alya langsung terpikat oleh wajahnya yang tampan dan memesona hingga tak mampu mengalihkan pandangan. Dia bahkan mengulurkan tangan dan bersikeras meminta om tampan itu menggendongnya.

Saat ujian masuk universitas, Revan kebetulan kembali ke Kota Selatan, tetapi Alya terus merengek hingga membuatnya tinggal dan membimbingnya mengerjakan soal-soal ujian selama satu musim panas penuh.

Kemudian, Alya berhasil masuk universitas di kota tempat Revan berada. Begitu pesawatnya mendarat, dia langsung melihat sosok tinggi yang begitu dikenalnya di antara kerumunan orang yang menjemput.

Revan menjemputnya dan membawanya ke vila, lalu berkata bahwa mulai sekarang, tempat itu akan menjadi rumah mereka di Kota Utara.

Saat itu, Alya tidak tahu bahwa Revan bersikap begitu baik kepadanya karena dia adalah keponakan Elvi.

Dia jatuh cinta pada pria yang selalu memperhatikannya dalam segala hal. Bahkan ketika malam itu Revan mabuk dan menindihnya, Alya tidak melawan.

Setelah malam yang penuh kenikmatan itu, Alya buru-buru pergi kuliah. Saat pulang, dia justru mengetahui bahwa Revan kehilangan ingatan tentang kejadian semalam karena mabuk.

Namun, tidak masalah. Sambil menekan sedikit rasa kecewa di dalam hati, dia mulai mengejar Revan secara terang-terangan, bahkan berharap seluruh dunia tahu betapa dia menyukai pria itu dan betapa ingin dirinya bersama Revan.

Sekarang, setelah melihat dengan mata kepalanya sendiri Revan menggenggam tangan Elvi, dia benar-benar sudah tidak peduli lagi.

Itu karena ... dia sudah pernah mati sekali. Di kehidupan sebelumnya, setelah mengetahui di jamuan keluarga bahwa Elvi akan segera bertunangan dengan Revan, emosi Alya langsung runtuh.

Dia mempertanyakan mengapa mereka tidak memberitahunya sejak awal. Setelah mengungkapkan kejadian pada malam saat Revan mabuk itu di depan semua orang, dia berlari ke luar sambil menangis.

Elvi buru-buru mengemudi untuk mengejarnya, tetapi dalam kepanikan, dia mengalami kecelakaan dan tewas di tempat.

Setelah Revan menguburkan Elvi bersama keluarga, dia menghilang selama sebulan penuh.

Ketika kembali, seluruh dirinya telah berubah. Dia menggunakan segala cara untuk menikahi Alya, tetapi pada malam pernikahan mereka, dia tidak pulang semalaman. Dia bahkan memenuhi vila dengan foto-foto Elvi dan memaksa Alya meminta maaf kepada Elvi setiap hari.

Pria yang dahulu memanjakan Alya hingga membuatnya bertindak sesuka hati itu, kini malah membencinya hingga ingin membunuhnya karena kematian Elvi.

Pada tahun ketiga pernikahan mereka, Alya akhirnya tidak sanggup menanggung semua itu. Dalam keadaan linglung, dia berbaring di dalam bak mandi dan mengakhiri hidupnya dengan sebilah pisau.

Namun, ketika Revan pulang dan mendapati kamar mandi telah berlumuran darah, dia bahkan tidak mengernyit. Dia hanya berkata dengan tenang, "Baguslah kalau sudah mati."

Malam itu, dia mengusir seluruh pelayan di vila dan membiarkan jasad Alya membusuk. Pada akhirnya, justru teman masa kecil Alya yang selama ini dia hindari menyadari ada yang tidak beres. Temannya itu menerobos masuk ke vila dan mengurus jasadnya.

Mungkin karena langit masih berbelas kasih kepadanya, Alya kembali diberi kesempatan untuk hidup sekali lagi. Kali ini, dia tidak akan lagi melakukan kesalahan.

"Ya, aku sudah nggak suka Om Revan." Alya meletakkan jus di tangannya sambil menjawab tanpa mengubah ekspresi.

"Dulu aku masih muda dan belum ngerti apa-apa, jadi aku punya perasaan yang seharusnya nggak kumiliki pada Om Revan. Sekarang aku sudah ketemu pacar yang usianya lebih cocok denganku. Sudah waktunya aku mulai hubungan yang sehat."

Tatapan Revan akhirnya beralih kepada Alya. Alisnya tanpa sadar berkerut. "Kenapa aku nggak tahu? Sejak kapan kamu punya pacar?"

Alya menyebutkan sebuah nama dengan tenang.

Belum sempat Revan bertanya lebih lanjut, kedua orang tua Alya sudah lebih dulu tertawa.

"Bagus dong. Kamu dan Orin memang tumbuh bersama sejak kecil. Dia juga begitu menyukaimu. Kedua keluarga kita sudah lama berniat menjodohkan kalian, hanya saja kamu bersikeras menyukai Revan ...."

Setelah mengatakan itu, mereka sadar ada yang tidak beres dan buru-buru menghentikan perkataan mereka. Namun, wajah mereka masih menunjukkan kegembiraan yang sulit disembunyikan.

Pada akhirnya, Alya sendiri yang berinisiatif mencairkan suasana dan mempersilakan semua orang duduk untuk makan.

Hanya saja, kali ini dia tidak lagi seperti dulu yang terus menempel dan bersikeras duduk di samping Revan. Sebaliknya, dia justru dengan sukarela memberikan tempat duduk untuk Revan dan Elvi.

Bahkan ketika orang tuanya memanggilnya untuk bersulang dengan Revan sebagai ucapan terima kasih karena selama empat tahun terakhir Revan telah merawatnya di Kota Utara, Alya tetap berjalan menghampiri Revan tanpa mengubah ekspresi dan mengucapkan kata-kata bersulang dengan nada yang samar-samar dingin.

Sebaliknya, kerutan di antara alis Revan semakin dalam dan wajahnya perlahan berubah muram.

Saat makan, ponsel Alya berdering. Itu adalah panggilan telepon dari luar negeri. Dia bangkit dan berjalan ke taman belakang untuk mengangkatnya. Orin yang menelepon.

"Ada apa ini? Tantemu baru saja kirim aku pesan. Dia tanya apa kita pacaran."

Alya menjawab singkat, "Iya. Jadi apa jawabanmu?"

"Kamu sudah bilang ke keluargamu kalau kita pacaran, aku tentu nggak mungkin membuatmu malu. Tapi Alya, kita seharusnya bertemu dan membicarakan ini baik-baik, 'kan? Setelah menyelesaikan proyek yang sedang kukerjakan, aku akan pulang ...."

"Kamu nggak perlu pulang." Alya mengembuskan napas berat. Kelelahan di wajahnya tampaknya sedikit mereda.

"Aku sudah mengajukan permohonan untuk melanjutkan studi di Paris. Setelah urusan kelulusanku selesai, aku akan pergi ke sana menemuimu dan menjelaskan masalah ini secara langsung."

Sebenarnya di kehidupan sebelumnya, Alya juga pernah berencana pergi ke Paris. Bahkan, dia sudah mendapatkan surat undangan dari sebuah universitas.

Namun, setelah Revan melamarnya, demi mendapatkan sedikit ketulusan darinya, Alya rela melepaskan semuanya dan pada akhirnya justru berakhir dengan kematian yang tragis.

Kali ini, dia tidak akan mengulanginya.

Setelah menutup telepon, Alya melangkah keluar dari taman belakang. Namun, tepat ketika berbalik, dia bertabrakan langsung dengan Revan, yang entah sejak kapan sudah berdiri di belakangnya.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
19 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status