LOGINPria yang dia kejar mati-matian selama setahun ini ternyata adalah tunangan tantenya sendiri. Parahnya, semua orang tahu tentang hal ini kecuali Alya. Pada hari jamuan keluarga, ketika tante kecilnya, Elvi, masuk sambil menggandeng lengan Revan dan mengumumkan langsung bahwa mereka akan segera bertunangan, seluruh keluarga merasa cemas, takut Alya akan marah. "Alya, jangan salahkan Tante karena sengaja menyembunyikan semua ini darimu. Tante juga tahu betapa kamu menyukai Revan, jadi Tante membujuk Revan untuk menunggu sampai kamu puas bermain-main baru memberitahumu semuanya." "Kami sudah menemanimu bermain-main selama setahun. Sekarang Tante dan Revan akan segera bertunangan, jadi kamu nggak boleh lagi mengincar calon ommu ya." Nada bicara Elvi lembut. Saat mengatakan itu, dia bahkan mengamati ekspresi Alya dengan hati-hati. Sementara itu, Revan yang dulu selalu lembut dan sabar kepada Alya serta selalu tersenyum sambil mengusap rambutnya tiap kali bertemu, kali ini justru menatapnya dengan dingin. Dia seolah takut Alya akan berbuat nekat dan melakukan sesuatu yang merugikan Elvi.
View MoreKini setelah mendengar Alya akhirnya menerima perasaannya, Orin merasa sangat bahagia sampai kehilangan kemampuan untuk bereaksi. Dia hanya berdiri terpaku di tempat dengan ekspresi linglung.Alya berjinjit dan mengecup pipinya."Ini sungguhan. Aku nggak bohong."Detik berikutnya, Orin langsung menarik Alya ke dalam pelukannya dengan erat, seolah sedang memeluk harta paling berharga yang akhirnya kembali setelah sempat hilang. Namun tepat ketika mereka berdua larut dalam pelukan, tiba-tiba terdengar sebuah suara."Lepaskan dia!"Revan berlari cepat ke arah mereka dan mengulurkan tangan, hendak menarik Alya keluar dari pelukan Orin.Sebenarnya, dia sudah cukup lama berada di Paris. Hanya saja, dia selalu mengingat perkataan ibu Alya kepadanya, bahwa Alya tidak ingin bertemu dengannya lagi seumur hidup. Karena itu, dia hanya berani mengamati Alya dari kejauhan dan tidak pernah berhasil mengumpulkan keberanian untuk mendekat.Sampai dia melihat Alya berjinjit dan mengecup pipi Orin.Sampa
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Orin sudah tiba di bawah apartemen Alya dan mengantarnya ke museum dengan mobil.Alya menghabiskan sepanjang hari berkeliling. Menjelang senja, dia tersenyum kepada Orin sambil menghirup udara segar."Aku merasa jauh lebih baik sekarang."Meskipun Alya tidak menjelaskan secara spesifik apa yang dimaksudnya, Orin mengerti."Ya, syukurlah. Oh ya, ada satu kabar baik yang lupa kukasih tahu."Ternyata, selama beberapa hari terakhir ketika Alya sibuk mencari informasi di depan komputer, Orin juga diam-diam mengurus sesuatu. Dia tahu kelulusan Alya tertunda karena dituduh menjiplak karya tugas akhir.Karena itu, Orin membandingkan dengan teliti karya-karya Alya dan Elvi sebelumnya, mengelompokkan serta menganalisisnya satu per satu. Dia juga mengumpulkan semua sketsa desain yang diminta dari Alya, lalu menyusunnya menjadi dokumen terperinci dan mengirimkannya ke universitas Alya di dalam negeri untuk meminta pihak kampus memberikan penilaian yang adil.Sela
Setelah tiba di Paris, Alya terus mengurung diri di kamar untuk waktu yang cukup lama dan tidak mau keluar.Awalnya, dia sudah merencanakan semuanya dengan baik. Dia akan melanjutkan pendidikannya di Paris, sambil mengumpulkan bukti bahwa karya tugas akhirnya bukan hasil curian. Selain itu, dia juga berencana mengunjungi berbagai museum dan tempat wisata di sekitar bersama Orin.Namun, ketika benar-benar tiba di kota asing itu dan hendak melapor ke kampus barunya, barulah dia menyadari betapa parah trauma psikologis yang ditinggalkan oleh pengepungan di rumah Revan.Meskipun luka-luka akibat pemukulan itu sudah sembuh, dia juga sudah membuktikan bahwa dirinya tidak bersalah di internet, sementara orang tuanya terus memperjuangkan haknya dan meminta pertanggungjawaban pihak-pihak yang bersalah.Namun, bayang-bayang kejadian itu masih belum bisa hilang dari hati Alya.Setiap kali memejamkan mata atau bertemu orang asing, dia akan kembali teringat pada hari-hari ketika dirinya dihina dan
Brak!Pintu kamar rawat Elvi ditendang hingga terbuka dengan suara keras.Elvi yang sebelumnya sudah melampiaskan amarah dan bersiap tidur, seketika tersentak ketakutan. Tubuhnya bergetar dan dia langsung bangun dari tempat tidur."Revan? Ada apa? Apa yang terjadi?"Sorot mata Revan tampak penuh amarah. Dia menggenggam setumpuk dokumen di tangannya, lalu langsung melemparkannya ke wajah Elvi. Setelah itu, dia maju dan mencengkeram leher Elvi."Aku sudah tahu semuanya."Cengkeraman itu membuat Elvi nyaris tidak bisa bernapas. Wajahnya memerah dan dia terus terbatuk-batuk. "Apa yang kamu bicarakan? Kamu tahu apa ...."Dia meronta dengan lemah sambil menatap lembaran-lembaran kertas yang berserakan di lantai. Entah apa yang dilihatnya, pupil matanya tiba-tiba mengecil.Pada saat yang sama, suara Revan yang rendah dan mengerikan terdengar dari atas kepalanya."Warisanmu dirampas? Kamu dirundung Alya yang lebih muda darimu? Elvi, dulu aku benar-benar sudah kehilangan akal sampai bisa percay












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.