LOGIN***
“Ayah terlalu baik sama dia,” ucap Tiara pelan. Gadis yang masih menggunakan seragam sekolah tingkat atas itu duduk gusar di samping Anggita. Kedatangan Pitaloka membuatnya marah. Karena wanita yang dia anggap asing itu langsung merebut perhatian ayahnya. Anggita masih terlihat kesal. Tatapannya sesekali mengarah ke ruang makan, tempat suara Pramana terdengar sibuk memberi arahan pada para pekerja di rumah bagaimana cara melayani Pitaloka. Sudah seperti Tuan Putri saja. “Lihat saja nanti,” ujar Anggita lirih. “Akan kubuat dia seperti tinggal di neraka!" Rasa benci Anggita semakin menjadi-jadi, apalagi ditambah dengan suaminya yang terkesan sangat memanjakan Pitaloka. Suaminya dingin sekali padanya, tapi pada Pitaloka sangat mengayomi. Tiara mendengus kecil. “Tapi Kak Danen kenapa nggak nolak aja permintaan konyol menikahi Pitaloka itu!" ucap Tiara dengan tatapan sinis. "Komandan pasukan khusus kok ngga tegas!" Sama seperti sang ibu, adik kandung Darendra itu terlihat sangat membenci kakak iparnya. Padahal Pitaloka tidak melakukan kesalahan apapun. “Karena diancam!” jelas Anggita sekaligus membela Danendra. Danendra bukannya tidak punya sikap hanya saja tidak punya pilihan. Tiara memainkan kuku jarinya pelan sebelum kembali berujar. “Kasihan juga Kak Danen. Kariernya udah bagus sekarang, eh malah nikah sama anak koruptor.” “Makanya Mama nyesel dulu pernah jodohin Danen dengan dia. Ternyata cuma bawa sial.” Dulu Anggita fikir, karir putranya akan melejit jika menjadi menantu Shandy. Selain kaya, Shandy punya reputasi politik yang bagus. Siapa sangka keadaan justru berbalik begini. Anggita merasa perlu menjauhkan Danen dari Pitaloka dan keluarganya. Keduanya punya pengaruh buruk. Tiara melirik ke arah ibunya lalu menurunkan suara. “Kalau dia betah di sini gimana?” Tiara merasa terancam. Dia takut kasih sayang ayahnya akan terbagi. Anggita tersenyum tipis, seakan meremehkan. “Perempuan manja kayak Pitaloka Prameswari?” Ia menggeleng pelan. “Nggak akan lama.” “Mama yakin?” “Kamu lihat sendiri tadi. Baru disindir sedikit saja langsung uring-uringan mau kabur.” Terbiasa hidup enak dengan segala fasilitas mewah, Anggita yakin dengan sedikit tekanan saja bisa membuat Pitaloka tertindas. "Tapi Papa? Bukannya Papa sendiri yang bilang, kalau ada yang nyakitin Pitaloka harus siap diusir." Tiara sangat tahu, Ayahnya tidak pernah main-main dengan ucapannya. Tadi pagi semua orang sudah diultimatum tidak boleh ada yang membuat Pitaloka tidak nyaman. Bila dilanggar, konsekuensi tentu sangat menakutkan. Tiara sendiri tidak berani membangkang pada ayahnya. "Soal Papamu biar Mama yang urus." “Berarti gampang?" tanya Tiara memastikan. Anggita tersenyum licik, semua rencana jahat sudah berputar di otak. “Papa mu akan dinas keluar kota. Jadi kita harus memanfaatkan waktu itu sebaik-baiknya," jelas Anggita. "Mulai besok para pelayan akan Mama arahkan tidak terlalu melayaninya,” lanjut Anggita santai. “Biar dia sadar rumah ini bukan hotel milik keluarganya.” Tiara terkekeh pelan. Sangat setuju dengan ide brilian ibunya. Dia jadi tidak sabar memberi pelajaran pada Pitaloka. “Kalau dia ngadu ke Papa?” “Mama akan putus komunikasi dia dengan Papa mu.” Anggita mengambil gelas tehnya lalu menyeruput pelan. “Mama mau lihat berapa lama dia bisa bertahan tanpa ada yang memanjakan.” Tiara tampak berpikir beberapa detik sebelum berkata pelan, “Tapi kalau Kak Danen mulai membela dia gimana?” Menurut Tiara, Danen seperti ingin melindungi Pitaloka sama seperti Prama. “Danen itu bukan laki-laki bodoh yang gampang jatuh hati dan kasian. Lagi pula kakak mu sibuk, tidak akan punya waktu mengurus bocah ingusan itu!” "Tapi dulu Kak Danen lumayan perhatian sama dia.” “Itu dulu. Sekarang posisi Danen beda.” Anggita menyandarkan tubuhnya ke sofa. Dia tahu sikap Danen dulu hanya profesional kerja bukan karena perasaan. Sekarang, Anggita yakin Danen pun benci pada Pitaloka. “Laki-laki seperti kakakmu lebih cocok dengan perempuan yang bisa membantu kariernya.” Tiara langsung mengerti arah pembicaraan ibunya. Gadis muda itu tampak bersemangat. “Kak Sabrina?” “Siapa lagi?” Nama itu memang sudah sering terdengar beberapa bulan terakhir. Sabrina Adiwijaya. Putri wali kota baru yang cantik, berpendidikan luar negeri, dan terang-terangan mendekati Danendra. Bahkan beberapa relasi mereka sudah menganggap Sabrina calon istri Danendra sebelum Pitaloka datang membawa kekacauan. “Jujur aja,” bisik Tiara sambil menyeringai, “aku lebih suka Kak Sabrina daripada Pitaloka.” Sabrina menjanjikan Tiara menjadi model majalah jika berhasil mendekatkan dirinya dengan Danendra. Tentu Tiara lebih tertarik hal itu. Akan lebih menguntungkan jike Danendra menikah dengan Sabrina dibandingkan dengan Pitaloka yang tidak akan memberi keuntungan apa-apa. “Tentu saja.” Anggita terlihat puas. “Sabrina tahu cara membawa diri. Keluarganya juga jelas.” “Lagian dia suka banget sama Kak Danen," imbuh Tiara dengan girang. Anggita diam sebentar lalu berkata pelan, “Kalau Pitaloka pergi, semuanya akan lebih mudah.” “Mama punya rencana?” “Sabrina beberapa kali mengajak Danen datang ke acara wali kota.” Senyum tipis muncul di bibir Anggita. “Kalau hubungan mereka terlihat dekat, cepat atau lambat Pitaloka juga sadar diri, dia itu pengganggu.” “Tapi Kak Danen dingin banget sama Kak Sabrina.” “Makanya, Kakak mu itu perlu sedikit didorong.” “Maksud Mama?” tanya Tiara tidak mengerti. “Kalau seorang istri melihat suaminya menghabiskan malam dengan perempuan lain, menurutmu dia masih akan nyaman tinggal di rumah itu?” Tiara langsung membulatkan mata. "Kita akan buat Kak Danen tidur dengan Kak Sabrina?" “Pitaloka itu emosional dan manja. Sedikit saja disakiti, dia pasti pergi sendiri.” Anggita tidak mengiyakan ucapan Tiara, tapi secara tersirat itu memang tujuannya. “Kalau sampai Kak Danen ketahuan tidur sama Kak Sabrina, Pitaloka pasti langsung kabur.” "Apalagi kalau sampai Sabrina hamil. Itu jacpot untuk keluarga kita," kekeh Anggita yang diikuti tawa Tiara. Keduanya sangat senang dengan rencana yang mereka susun, tanpa sadar ada sepasang mata yang sedari tadi menguping pembicaraan mereka. "Aku akan laporkan pada Tuan."“Wali kota ikut bermain.”Shandy menjatuhkan flashdisk tepat di kakinya lalu mendorong pelan ke arah Pramana.Saat ini semua gerak geriknya diawasi jadi sebisa mungkin dia tidak ingin mengundang kecurigaan.“Dia bukan dalang utama, tapi dia terlibat," jelas Shandy lagi.Pramana langsung mengamankan flashdisk itu. Flashdisk yang berisi bukti-bukti yang bisa menyelamatkan Shandy dari semua tuduhan. foto-foto pertemuan rahasia dan salinan transaksi yang tercetak di sana rasanya cukup untuk membebaskan Shandy.“Berarti mereka memang sengaja menjatuhkan kamu?" tanya Pramana dengan tangan mengepal.“Bukan cuma menjatuhkan.” Ia menyandarkan tubuh pelan ke kursi besi ruang tahanan itu. “Mereka mau memastikan aku nggak bisa bangkit lagi.”Pramana masih mendengarkan Shandy dengan rahang mengeras. Baginya, menjatuhkan Shandy sama saja menjatuhkan dirinya. Dan sahabatnya sama sekali tidak pantas mendapatkan perlakuan buruk tersebut.“Aku udah bilang dari dulu,” gumamnya pelan. “Kalau kamu ingin m
1Markas Komando Pasukan Khusus terlihat lebih ramai dari biasanya saat sebuah truk katering memasuki gerbang utama.Bukan hanya satu, ada lima sampai enam truk dengan berbagai macam makanan yang datang.Beberapa prajurit yang baru selesai latihan langsung saling melirik. Tampak sekali kalau mereka sangat senang dengan kedatangan truk-truk itu."Makan-makan besar lagi kita," seloroh seorang prajurit yang sedang membersihkan sepatunya. Dia seperti sudah tahu siapa pengiri truk berisi makanan tersebut."Tapi tidak akan menimbulkan perang kan setelah dia tahu Komandan menikah?" sahut prajurit yang lain dan langsung mendapat pelototan dari teman-temannya.Pernikahan Danendra adalah sebuah rahasia umum, semua orang sudah tahu. Tapi bukan berarti boleh dibicarakan secara terbuka."Oke, aku menutup mulut," jawab prajurit tersebut, membuat gerakan mengunci mulut dan membuang kuncinya jauh-jauh.Tak lama kemudian, seorang wanita turun dari mobil sport keluaran terbaru, yang mengikuti truk terse
***“Ayah terlalu baik sama dia,” ucap Tiara pelan. Gadis yang masih menggunakan seragam sekolah tingkat atas itu duduk gusar di samping Anggita.Kedatangan Pitaloka membuatnya marah. Karena wanita yang dia anggap asing itu langsung merebut perhatian ayahnya.Anggita masih terlihat kesal. Tatapannya sesekali mengarah ke ruang makan, tempat suara Pramana terdengar sibuk memberi arahan pada para pekerja di rumah bagaimana cara melayani Pitaloka. Sudah seperti Tuan Putri saja.“Lihat saja nanti,” ujar Anggita lirih. “Akan kubuat dia seperti tinggal di neraka!"Rasa benci Anggita semakin menjadi-jadi, apalagi ditambah dengan suaminya yang terkesan sangat memanjakan Pitaloka. Suaminya dingin sekali padanya, tapi pada Pitaloka sangat mengayomi.Tiara mendengus kecil. “Tapi Kak Danen kenapa nggak nolak aja permintaan konyol menikahi Pitaloka itu!" ucap Tiara dengan tatapan sinis. "Komandan pasukan khusus kok ngga tegas!"Sama seperti sang ibu, adik kandung Darendra itu terlihat sangat membe
"Hebat ya, Komandan pasukan khusus tapi istrinya anak koruptor!"Pitaloka baru saja menginjakkan kaki di depan pintu rumah Danendra, tapi sambutan yang ia terima berhasil membuat darahnya mendidih. Terlebih yang mengatakan itu adalah Anggita, Ibu Danendra sendiri."Maksud Mama apa berkata seperti itu?" tanya Pitaloka dengan nada tinggi. Dia paling benci jika ada yang menjelekkan ayahnya. Apalagi itu bukan hal yang benar.Ayahnya bukan koruptor, Ayahnya hanya dijebak."Mama?" tanya Anggita dengan nada mengejek. "Sejak kapan saya jadi Mama mu? Tidak sudi!" lanjutnya lagi.Anggita benar-benar menunjukkan ketidaksukaan. Dia sangat jijik berdekatan dengan Pitaloka dan tidak sudi lagi dipanggil Mama.Pitaloka tertawa sumbang. Namun begitu, sudut matanya mulai berarir."Anda sendiri yang dulu meminta untuk saya panggil Mama!" terang Pitaloka dengan gigi bergemelatuk, berusaha keras menahan emosi yang siap meledak.Pitaloka tentu tidak akan pernah lupa bagaimana Anggita memohon-mohon untuk di
Sejak dulu, Pitaloka menyukai pria itu. Pria yang selalu diam di belakangnya. Pria yang tidak banyak bicara, tapi selalu ada saat ia butuh. Namun jarak kasta mereka dulu sangatlah jauh.Daren hanya prajurit tingkat rendah yang ditugaskan untuk menjaga putri kesayangan seorang Taipan. Sedangkan Pitaloka adalah Tuan Putri calon pewaris seluruh kekayaan Tirtagrup.“Jangan lari terlalu jauh, Nona.”“Hati-hati.”“Di belakang saya saja.”Kalimat-kalimat sederhana itu, entah sejak kapan berubah menjadi sesuatu yang lebih dalam.Dan hari ini cinta itu bukan sesuatu yang tahu dan Pitaloka benar-benar akan menjadi istri Daren."Nona," panggil sebuah suara dengan isakan. Pitaloka sangat kenal suara itu. Suara pengasuh yang sudah merawat dia sejak bayi."Bibi," jawab Pitaloka dengan segera memeluk Bi Sekar. Dua wanita beda generasi itu berpelukan sangat erat. "Mereka membawa Ayah, Bi. Mereka memperlakukan Ayah seperti seorang kriminal," ucap Pitaloka mengadukan peristiwa hari ini pada Bi Sekar, s
“Ayah… kenapa mereka memborgol Ayah?”Suara Pitaloka Prameswari bergetar. Ia berdiri beberapa langkah dari ayahnya yang ditahan, mencoba memahami kenyataan yang terasa terlalu tiba-tiba.Ayahnya adalah seorang konglomerat kenamaan yang pengaruhnya sangat besar. Jangankan aparat penegak hukum, rezim pemerintahpun tidak akan berani menyentuh. Tapi lihatlah apa yang sekarang dilakukan orang-orang berseragam itu pada ayahnya. Sangat kasar dan tidak manusiawi.“Silakan menyingkir, Nona. Ini proses hukum.”“Proses hukum apa sampai harus seperti ini?” Pitaloka merangsek maju. “Ayah saya tidak pernah—”“Pitaloka.”Satu panggilan itu menghentikannya.Shandi, ayahnya, menatap Pitaloka dalam-dalam. Ada sesuatu yang berbeda di sana. Bukan marah. Bukan takut, melainkan waktu yang habis.“Dengar Ayah baik-baik.”Pitaloka mendekat, napasnya tak beraturan. “Ayah, kita bisa selesaikan ini. Aku akan panggil seluruh pengacara, kita—”“Tidak ada waktu.”Pegangan tangan ayahnya menguat.“Menikahlah dengan







