Share

Bab 6

Author: Teracota
last update publish date: 2026-06-11 23:53:36

“Wali kota ikut bermain.”

Shandy menjatuhkan flashdisk tepat di kakinya lalu mendorong pelan ke arah Pramana.

Saat ini semua gerak geriknya diawasi jadi sebisa mungkin dia tidak ingin mengundang kecurigaan.

“Dia bukan dalang utama, tapi dia terlibat," jelas Shandy lagi.

Pramana langsung mengamankan flashdisk itu. Flashdisk yang berisi bukti-bukti yang bisa menyelamatkan Shandy dari semua tuduhan. foto-foto pertemuan rahasia dan salinan transaksi yang tercetak di sana rasanya cukup untuk membebaskan Shandy.

“Berarti mereka memang sengaja menjatuhkan kamu?" tanya Pramana dengan tangan mengepal.

“Bukan cuma menjatuhkan.” Ia menyandarkan tubuh pelan ke kursi besi ruang tahanan itu. “Mereka mau memastikan aku nggak bisa bangkit lagi.”

Pramana masih mendengarkan Shandy dengan rahang mengeras. Baginya, menjatuhkan Shandy sama saja menjatuhkan dirinya. Dan sahabatnya sama sekali tidak pantas mendapatkan perlakuan buruk tersebut.

“Aku udah bilang dari dulu,” gumamnya pelan. “Kalau kamu ingin maju jadi orang nomor satu di negeri ini, jangan beri tahu siapapun dulu.”

Shandy menatap langit-langit kusam ruangan. Berusaha mengingat pada siapa dia bercerita tentang rencana yang akan dia lakukan pada tahun pemilu. Tapi nihil, Shandy bahkan tidak pernah membicarakan hal itu pada Pitaloka. Jadi mustahil ada yang tahu.

“Kamu satu-satunya orang yang tahu rencana itu, Pram,” jawabnya lemah.

“Kamu terlalu populer.” Pramana mendengus kasar. “Dan terlalu susah dibeli. Mereka pasti sudah mengawasi semua tentang mu."

“Pujian bagus buat orang yang lagi pakai baju tahanan," kelakar Shandy.

Pramana akhirnya ikut tersenyum kecil, tapi cepat hilang lagi. Meski sekeras apapun mereka mencoba tenang, keadaan saat ini genting.

“Kamu punya bukti lain?”

Shandy mengangguk pelan lalu mengeluarkan sebuah flash disk dari sakunya yang lain. Kali ini ukurannya lebih kecil tapi isi didalamnya lebih banyak.

“Ada beberapa nama di sini. Aliran uang juga.” Tatapannya turun. “Aku belum bisa gerak sekarang, jadi simpan dulu. Kamu satu-satunya yang aku percayai, Pram."

Pramana menerima benda kecil itu tanpa banyak bicara. Dia akan mengemban amanat itu dengan sangat baik.

Ia mengenal Shandy puluhan tahun. Kalau pria itu bilang belum bisa bergerak, berarti situasinya memang lebih berbahaya dari yang terlihat di berita. Dan Pramana akan menunggu sampai Shandy memberi perintah.

“Aku cuma butuh waktu,” lanjut Shandy pelan. “Permainan kotor beginian nggak bisa dibersihkan dalam semalam.”

“Kamu yakin aku tidak perlu terlibat?" tanya Pramana memastikan. Mereka sama-sama tahu Shandy tidak sedang menghadapi musuh yang biasa. Banyak orang-orang besar di belakang kasus ini.

"Tidak Pram. Tugasmu dan Danendra hanya menjaga putri ku. Selebihnya akan kuurus sendiri."

Shandy akan menghabisi lawan-lawannya sendiri, tapi dia harus pastikan satu hal yaitu putrinya baik-baik saja. Jika terjadi sesuatu yang buruk pada putrinya, maka Shandy akan tamat.

“Soal itu kamu tidak perlu risau. Danendra akan jaga Pitaloka dengan nyawanya. Kamu tidak akan menyesal memilih putra ku sebagai menantu,” ucap Pramana meyakinkan.

Shandy terdiam beberapa detik. Dia tampak sungkan dengan ucapan Pramana barusan.

“Soal itu...."

Shandy terlihat ragu untuk pertama kali sejak tadi. Takut ucapannya menyinggung Pramana.

“Kamu tidak perlu daftarkan pernikahan mereka secara hukum dulu.”

Pramana tampak terkejut dengan ucapan Shandy tapi dia buru-buru mengendalikan ekpresinya.

“kenapa, Shan? Apa putra ku masih belum cukup pantas untuk Pitaloka?”

"Bukan, bukan itu," sanggah Shandy dengan cepat, tidak membiarkan Pramana larut dalam kesalahpahaman.

"Aku takut putra mu tidak mencintai putriku," jelas Shandy.

Shandy tahu betul, kemarin Danendra menolak keras permintaannya. Tapi pemuda itu tampak tidak punya pilihan lain.

“Danendra sekarang punya masa depan besar. Jabatan, karier, koneksi politik. Dia berhak memilih wanita yang dia cintai."

"Selain itu, sebagai seorang Ayah, aku juga ingin putri ku hidup dengan orang yang mencintainya. Jadi menurut ku, kita tidak perlu daftarkan dulu pernikahan mereka," lanjut Shandy. "Tunggu saja dulu bagaimana hubungan keduanya ke depan."

"Aku yang paling tahu putra ku. Aku yakin 100% Danendra mencintai Pitaloka."

***

Bruk.

“Akh!”

Pitaloka menjerit histeris saat teko panas yang dia angkat jatuh dan mengenai kakinya. Punggung kakinya terasa terbakar hebat hingga dia terhuyung, hampir jatuh. Beruntung Danendra bergerak cepat menahannya.

“Kamu kenapa sih?” bentak Danendra marah. Tapi rasa khawatir jauh lebih besar.

Pitaloka meringis sambil menatap punggung kakinya yang melepuh.

“Sakit," rengek Pitaloka.

Danendra langsung membawa Pitaloka dalam gendongannya, tanpa banyak bicara lalu membuka keran air dingin.

“Tahan sebentar," perintahnya tanpa mau dibantah. Pitaloka menurut dengan bibir mengerucut. Membiarkan air mengalir menyirami bagian yang terkena air panas.

“Perih.”

“Makanya ngga perlu sok kalau ngga tau tentang dapur.”

Pitaloka langsung meliriknya tidak terima. “Aku cuma mau bikinin kamu teh.”

"Aku tidak suka minum teh," jawab Danendra yang semakin membuat Pitaloka kesal.

Pitaloka hanya berusaha menjadi istri yang baik. Namun langkahnya rupanya salah.

"Kalau sudah begini siapa yang repot? Aku lagi kan?"

Tatapannya fokus ke kulit Pitaloka yang mulai memerah. Guyuran air dingin ternyata tidak banyak membantu.

“Kamu tuh ceroboh banget!" bentaknya lagi. Meski nadanya terdengar kasar, namun gerakannya justru hati-hati sekali.

Pitaloka diam-diam memperhatikan wajah pria itu dari dekat. Rahang tegas , alis tebal dan aroma parfumnya masih sama seperti dulu. Tanpa sadar bibir Pitaloka melengkung kecil. Membuat Danendra langsung sadar diperhatikan.

“Apanya yang lucu? Sampai kamu malah ketawa?”

“Kangen dimarahin kayak gini," jawab Pitaloka dengan berani. Yang dengan sengaja menyandarkan kepala pada dada bidang Danendra.

Danendra menatapnya sebentar sebelum kembali mengalihkan pandangan. Tampak tidak ingin salah tingkah. Reputasinya sebagai kapten pasukan khusus bisa hancur jika godaan dari gadis kecil saja membuatnya gugup.

"Berhenti menyusahkan orang lain dan belajarlah menjaga diri sendiri," tegas Danendra, semakin memberi jarak.

Bukannya mendengarkan nasehat Danendra, Pitaloka malah makin mendekat.

“Dulu kamu juga galak kalau aku ceroboh," tucasnya. "Tapi aku suka, soalnya setelah itu kamu bakal jadi perhatian," imbuh Pitaloka.

"Aku nggak masalah kalau harus celaka terus supaya kamu perhatian."

"Pitaloka!" teriak Danendra tapi justru disambut gelak tawa oleh Pitaloka. Menjahili Danendra sangat seru untuk Pitaloka.

Danendra tidak lagi menjawab. Ia mematikan keran lalu menggendong Pitaloka ke kamar. Setelahnya mengambil kotak P3K dari laci.

Pitaloka duduk di kursi sambil memperhatikan pria itu jongkok di depannya untuk mengoleskan salep luka bakar ke punggung kakinya.

Padahal tadi sore pria ini dingin sekali. Tapi sekarang jadi sosok yang sangat perhatian. Pitaloka rasa, Darendra persis seperti cuaca akhir-akhir ini, perubahannya tidak bisa diprediksi.

“Pelan dong,” rengeknya sengaja.

Danendra langsung mengangkat kepala. “Ini sudah pelan. Kalau kamu merasa ini masih terlalu kasar, oles sendiri!" ucap Danendra dengan kesal. Pria tinggi tegap itu sudah bersiap berdiri untuk pergi namun Pitaloka menahan tangannya.

"Jangan pergi. Aku butuh kamu disini," pinta Pitaloka.

Danendra menghela napas pendek. Kembali berjongkok untuk merawat luka Pitaloka.

“Kamu bikin masalah lima menit sekali sejak datang.”

Pitaloka malah tertawa kecil.

“Berarti kamu merhatiin aku terus.”

“Terserah," ucap Danendra putus asa. Toh tidak ada gunanya mendebat Pitaloka.

"Kak Danen," panggil Pitaloka pelan nyaris berbisik. Pitaloka benar-benar mengucapkannya pada telinga Darendra, membuat bulu kuduk komandan pasukan khusus itu begidik.

Tangan Danendra berhenti sesaat saat tangan Pitaloka mengalung dilehernya.

"Tolong berikan malam pertama ku hari ini," ucap Pitaloka sambil memandang mata Danendra dalam. Dan untuk pertama kalinya malam itu, Danendra benar-benar menatap Pitaloka dekat sekali.

Pitaloka bahkan bisa melihat bayangan wajahnya sendiri di mata gelap Danendra.

Gerakannya terlalu cepat hingga tanpa sadar bibir keduanya sudah saling menaut.

***

Pramana baru saja keluar dari sel tahanan tempat dia menjenguk Shandy. Dari sakunya dia mengeluarkan dua flashdisk pemberian Shandy dan melemparkannya pada tumpukan sampah yang sedang di bakar.

"Semua barang bukti sudah musnah," ucapnya pada seseorang di telepon.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Cintai Aku Komandan   Bab 6

    “Wali kota ikut bermain.”Shandy menjatuhkan flashdisk tepat di kakinya lalu mendorong pelan ke arah Pramana.Saat ini semua gerak geriknya diawasi jadi sebisa mungkin dia tidak ingin mengundang kecurigaan.“Dia bukan dalang utama, tapi dia terlibat," jelas Shandy lagi.Pramana langsung mengamankan flashdisk itu. Flashdisk yang berisi bukti-bukti yang bisa menyelamatkan Shandy dari semua tuduhan. foto-foto pertemuan rahasia dan salinan transaksi yang tercetak di sana rasanya cukup untuk membebaskan Shandy.“Berarti mereka memang sengaja menjatuhkan kamu?" tanya Pramana dengan tangan mengepal.“Bukan cuma menjatuhkan.” Ia menyandarkan tubuh pelan ke kursi besi ruang tahanan itu. “Mereka mau memastikan aku nggak bisa bangkit lagi.”Pramana masih mendengarkan Shandy dengan rahang mengeras. Baginya, menjatuhkan Shandy sama saja menjatuhkan dirinya. Dan sahabatnya sama sekali tidak pantas mendapatkan perlakuan buruk tersebut.“Aku udah bilang dari dulu,” gumamnya pelan. “Kalau kamu ingin m

  • Cintai Aku Komandan   Bab 5

    1Markas Komando Pasukan Khusus terlihat lebih ramai dari biasanya saat sebuah truk katering memasuki gerbang utama.Bukan hanya satu, ada lima sampai enam truk dengan berbagai macam makanan yang datang.Beberapa prajurit yang baru selesai latihan langsung saling melirik. Tampak sekali kalau mereka sangat senang dengan kedatangan truk-truk itu."Makan-makan besar lagi kita," seloroh seorang prajurit yang sedang membersihkan sepatunya. Dia seperti sudah tahu siapa pengiri truk berisi makanan tersebut."Tapi tidak akan menimbulkan perang kan setelah dia tahu Komandan menikah?" sahut prajurit yang lain dan langsung mendapat pelototan dari teman-temannya.Pernikahan Danendra adalah sebuah rahasia umum, semua orang sudah tahu. Tapi bukan berarti boleh dibicarakan secara terbuka."Oke, aku menutup mulut," jawab prajurit tersebut, membuat gerakan mengunci mulut dan membuang kuncinya jauh-jauh.Tak lama kemudian, seorang wanita turun dari mobil sport keluaran terbaru, yang mengikuti truk terse

  • Cintai Aku Komandan   Bab 4

    ***“Ayah terlalu baik sama dia,” ucap Tiara pelan. Gadis yang masih menggunakan seragam sekolah tingkat atas itu duduk gusar di samping Anggita.Kedatangan Pitaloka membuatnya marah. Karena wanita yang dia anggap asing itu langsung merebut perhatian ayahnya.Anggita masih terlihat kesal. Tatapannya sesekali mengarah ke ruang makan, tempat suara Pramana terdengar sibuk memberi arahan pada para pekerja di rumah bagaimana cara melayani Pitaloka. Sudah seperti Tuan Putri saja.“Lihat saja nanti,” ujar Anggita lirih. “Akan kubuat dia seperti tinggal di neraka!"Rasa benci Anggita semakin menjadi-jadi, apalagi ditambah dengan suaminya yang terkesan sangat memanjakan Pitaloka. Suaminya dingin sekali padanya, tapi pada Pitaloka sangat mengayomi.Tiara mendengus kecil. “Tapi Kak Danen kenapa nggak nolak aja permintaan konyol menikahi Pitaloka itu!" ucap Tiara dengan tatapan sinis. "Komandan pasukan khusus kok ngga tegas!"Sama seperti sang ibu, adik kandung Darendra itu terlihat sangat membe

  • Cintai Aku Komandan   Bab 3

    "Hebat ya, Komandan pasukan khusus tapi istrinya anak koruptor!"Pitaloka baru saja menginjakkan kaki di depan pintu rumah Danendra, tapi sambutan yang ia terima berhasil membuat darahnya mendidih. Terlebih yang mengatakan itu adalah Anggita, Ibu Danendra sendiri."Maksud Mama apa berkata seperti itu?" tanya Pitaloka dengan nada tinggi. Dia paling benci jika ada yang menjelekkan ayahnya. Apalagi itu bukan hal yang benar.Ayahnya bukan koruptor, Ayahnya hanya dijebak."Mama?" tanya Anggita dengan nada mengejek. "Sejak kapan saya jadi Mama mu? Tidak sudi!" lanjutnya lagi.Anggita benar-benar menunjukkan ketidaksukaan. Dia sangat jijik berdekatan dengan Pitaloka dan tidak sudi lagi dipanggil Mama.Pitaloka tertawa sumbang. Namun begitu, sudut matanya mulai berarir."Anda sendiri yang dulu meminta untuk saya panggil Mama!" terang Pitaloka dengan gigi bergemelatuk, berusaha keras menahan emosi yang siap meledak.Pitaloka tentu tidak akan pernah lupa bagaimana Anggita memohon-mohon untuk di

  • Cintai Aku Komandan   bab 2

    Sejak dulu, Pitaloka menyukai pria itu. Pria yang selalu diam di belakangnya. Pria yang tidak banyak bicara, tapi selalu ada saat ia butuh. Namun jarak kasta mereka dulu sangatlah jauh.Daren hanya prajurit tingkat rendah yang ditugaskan untuk menjaga putri kesayangan seorang Taipan. Sedangkan Pitaloka adalah Tuan Putri calon pewaris seluruh kekayaan Tirtagrup.“Jangan lari terlalu jauh, Nona.”“Hati-hati.”“Di belakang saya saja.”Kalimat-kalimat sederhana itu, entah sejak kapan berubah menjadi sesuatu yang lebih dalam.Dan hari ini cinta itu bukan sesuatu yang tahu dan Pitaloka benar-benar akan menjadi istri Daren."Nona," panggil sebuah suara dengan isakan. Pitaloka sangat kenal suara itu. Suara pengasuh yang sudah merawat dia sejak bayi."Bibi," jawab Pitaloka dengan segera memeluk Bi Sekar. Dua wanita beda generasi itu berpelukan sangat erat. "Mereka membawa Ayah, Bi. Mereka memperlakukan Ayah seperti seorang kriminal," ucap Pitaloka mengadukan peristiwa hari ini pada Bi Sekar, s

  • Cintai Aku Komandan   Bab 1

    “Ayah… kenapa mereka memborgol Ayah?”Suara Pitaloka Prameswari bergetar. Ia berdiri beberapa langkah dari ayahnya yang ditahan, mencoba memahami kenyataan yang terasa terlalu tiba-tiba.Ayahnya adalah seorang konglomerat kenamaan yang pengaruhnya sangat besar. Jangankan aparat penegak hukum, rezim pemerintahpun tidak akan berani menyentuh. Tapi lihatlah apa yang sekarang dilakukan orang-orang berseragam itu pada ayahnya. Sangat kasar dan tidak manusiawi.“Silakan menyingkir, Nona. Ini proses hukum.”“Proses hukum apa sampai harus seperti ini?” Pitaloka merangsek maju. “Ayah saya tidak pernah—”“Pitaloka.”Satu panggilan itu menghentikannya.Shandi, ayahnya, menatap Pitaloka dalam-dalam. Ada sesuatu yang berbeda di sana. Bukan marah. Bukan takut, melainkan waktu yang habis.“Dengar Ayah baik-baik.”Pitaloka mendekat, napasnya tak beraturan. “Ayah, kita bisa selesaikan ini. Aku akan panggil seluruh pengacara, kita—”“Tidak ada waktu.”Pegangan tangan ayahnya menguat.“Menikahlah dengan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status