共有

Bab 3

作者: Teracota
last update 公開日: 2026-06-11 23:52:00

"Hebat ya, Komandan pasukan khusus tapi istrinya anak koruptor!"

Pitaloka baru saja menginjakkan kaki di depan pintu rumah Danendra, tapi sambutan yang ia terima berhasil membuat darahnya mendidih. Terlebih yang mengatakan itu adalah Anggita, Ibu Danendra sendiri.

"Maksud Mama apa berkata seperti itu?" tanya Pitaloka dengan nada tinggi. Dia paling benci jika ada yang menjelekkan ayahnya. Apalagi itu bukan hal yang benar.

Ayahnya bukan koruptor, Ayahnya hanya dijebak.

"Mama?" tanya Anggita dengan nada mengejek. "Sejak kapan saya jadi Mama mu? Tidak sudi!" lanjutnya lagi.

Anggita benar-benar menunjukkan ketidaksukaan. Dia sangat jijik berdekatan dengan Pitaloka dan tidak sudi lagi dipanggil Mama.

Pitaloka tertawa sumbang. Namun begitu, sudut matanya mulai berarir.

"Anda sendiri yang dulu meminta untuk saya panggil Mama!" terang Pitaloka dengan gigi bergemelatuk, berusaha keras menahan emosi yang siap meledak.

Pitaloka tentu tidak akan pernah lupa bagaimana Anggita memohon-mohon untuk dipanggil Mama olehnya. Hampir setiap hari selalu mengirim pesan atau menelpon untuk menanyakan kabar Pitaloka. Perempuan paruh baya itu berusaha keras meluluhkan hati Pitaloka untuk putranya, Danendra. Dan sekarang, saat Pitaloka benar-benar jadi menantunya justru perempuan itu tampak memusuhi.

"Pitaloka, Mama pasti sangat bahagia jika punya menantu seperti kamu."

"Pitaloka, apa mungkin kamu mau dengan Danendra yang hanya pengawal biasa?"

"Pitaloka, harta dan tahta tidak akan menghalangi cinta kan?"

Dulu, keduanya begitu dekat seperti ibu dan anak kandung, Anggita bahkan terlihat seperti siap bertaruh nyawa untuk Pitaloka. Tapi lihatlah sekarang, Anggita berubah 180°. Dari seorang ibu peri berubah jadi penyihir. Alasannya? Tentu saja karena Pitaloka tidak sekaya dulu.

"Itu dulu. Sekarang kamu tidak pantas lagi untuk Putra ku!" tegas Anggita.

Anggita mulai ponggah. Merasa tidak setara lagi dengan Pitaloka. Putranya yang dulu hanya pengawal biasa sekarang telah menjadi orang terhormat, Kapten pasukan khusus. Tentu seleranya bukan Pitaloka lagi.

"Mama cukup," ujar Danendra berusaha menengahi. Dia sama sekali tidak menyangka kalau kedatangannya membawa Pitaloka pulang ditolak mentah-mentah oleh ibunya, dia fikir Anggita akan senang karena dulu Anggita yang sangat menginginkan Danendra menikah dengan Pitaloka.

Tapi yang ada, Danendra jadi sakit kepala mendengar keduanya bertengkar.

“Apa?” Anggita mengangkat alis. “Mama salah ngomong?”

"Danendra sudah berjanji untuk menjaga Pitaloka. Tolong Mama mengerti," ucap Danendra dengan sorot mata memohon.

"Sekarang, Pitaloka adalah istri Danen," lanjutnya lagi.

Tugas kenegaraan yang dia emban sudah terlalu melelahkan. Danendra sudah tidak punya energi untuk meladeni dua wanita keras kepala dihadapannya itu.

“Keluarga mereka hidup enak pakai uang korupsi, sekarang saat jatuh malah menyeret kamu ikut bertanggung jawab," sindir Anggita, yang masih saja menyalakan api perang.

“Ayah saya tidak pernah menyeret siapa pun!” Suara Pitaloka naik beberapa oktaf.

"Pita, kendalikan dirimu," peringat Danen saat Pitaloka merangsek maju ke hadapan Anggita. Danendra memegang tangan Pitaloka kuat-kuat.

Danendra sangat hafal betul, Pitaloka punya tempramen yang buruk, sangat sulit mengendalikan emosi. Dulu, saat masih sekolah Pitaloka selalu membuat masalah setiap waktu, memaksa Danendra keluar masuk ruang BK hanya untuk memenuhi panggilan guru.

Menampar wajah, memotong rambut hingga mencakar bagian tubuh temannya adalah hal yang biasa Pitaloka lakukan. Dan Danendra lebih baik dikirim ke medan perang dari pada memisahkan Pitaloka dengan ibunya jika terlanjur bertengkar.

"Bagaimana aku bisa diam? Tante Anggi menyebut Ayahku koruptor. Ayah ku bukan koruptor!" jerit Pitaloka makin tidak terkendali.

"Sekali lagi ku ulangi. Ayah saya bukan koruptor!" teriak Pitaloka.

“Kalau bukan karena ayahmu, Danen nggak akan dipaksa nikah mendadak begini.” Anggita menatap Pitaloka lurus. Seakan menyalahkan Pitaloka dengan semua yang terjadi.

"Kamu menghancurkan masa depan anak saya!" imbuhnya lagi.

Pitaloka langsung menoleh ke Danendra. Seolah meminta pembelaan.

"Kak Danen nggak terpaksa menikahi aku! Iyakan Kak?"

Pitaloka hanya berharap Danendra menjawab "Iya". Dia sangat berharap Danendra juga menginginkan pernikahan ini, seperti dirinya.

Danendra tidak menjawab, seolah membenarkan semua ucapan ibunya. Dan itu sangat membuat Pitaloka kecewa.

Anggita mendengus, merasa diatas angin. Seperti perkiraannya, Danendra juga tidak menginginkan pernikahan tersebut.

"Danendra itu Komandan Pasukan Khusus sekarang. Banyak perempuan berkualitas yang jelas-jelas mengejar dia. Anak pejabat, pengusaha, bahkan sekarang Putri Walikota sedang dekat dengan dia," jelas Anggita dengan sombong. "Kamu? Cuma anak koruptor yang sekarang tidak punya apa-apa."

Pitaloka merasa dadanya sesak. Ia bahkan baru beberapa jam kehilangan rumah dan ayahnya, sekarang ia harus berdiri di rumah asing sambil dihina seperti ini.

Dulu keluarga Daren sangat hangat padanya. Tapi uang dan kekuasaan ternyata bisa merubah seseorang begitu cepat.

“Kalau Kak Danen merasa keberatan dengan pernikahan ini, aku bisa pergi!"

"Pergi kemana?" potong sebuah suara. Langkah kakinya terdengar mendekat ke arah Pitaloka dengan buru-buru. Tangan kekarnya kemudian memeluk Pitaloka penuh kasih sayang, seperti seorang Ayah yang sedang melindungi putri kecilnya.

Pramana Agung. Dia adalah Ayah Danendra, sekaligus sahabat Shandy. Pria bijaksana lagi lembut hatinya itu memang selalu menyayangi Pitaloka melebihi anaknya sendiri.

"Om Pramana?" panggil Pitaloka dengan menangis. "Maafkan Pita, Om, karena udah bikin karir Kak Danen hancur. Pita akan minta Ayah untuk batalin perintahnya yang nyuruh Kak Danen nikahi aku," ucap Pitaloka dengan sesenggukan.

"Pita akan pergi dari rumah ini dan tidak akan menganggu keluarga ini lagi Om." lanjut Pitaloka.

"Tidak, kamu tidak akan pergi kemana-mana. Rumah dan semua fasilitas dirumah ini adalah milik mu," tegas Prama. Membuat Anggita yang mendengar langsung mendelik tidak terima.

Pramana menatap tajam semua orang.

"Siapa yang berani mengusik Pitaloka, maka dia yang akan angkat kaki dari rumah ini."

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Cintai Aku Komandan   Bab 6

    “Wali kota ikut bermain.”Shandy menjatuhkan flashdisk tepat di kakinya lalu mendorong pelan ke arah Pramana.Saat ini semua gerak geriknya diawasi jadi sebisa mungkin dia tidak ingin mengundang kecurigaan.“Dia bukan dalang utama, tapi dia terlibat," jelas Shandy lagi.Pramana langsung mengamankan flashdisk itu. Flashdisk yang berisi bukti-bukti yang bisa menyelamatkan Shandy dari semua tuduhan. foto-foto pertemuan rahasia dan salinan transaksi yang tercetak di sana rasanya cukup untuk membebaskan Shandy.“Berarti mereka memang sengaja menjatuhkan kamu?" tanya Pramana dengan tangan mengepal.“Bukan cuma menjatuhkan.” Ia menyandarkan tubuh pelan ke kursi besi ruang tahanan itu. “Mereka mau memastikan aku nggak bisa bangkit lagi.”Pramana masih mendengarkan Shandy dengan rahang mengeras. Baginya, menjatuhkan Shandy sama saja menjatuhkan dirinya. Dan sahabatnya sama sekali tidak pantas mendapatkan perlakuan buruk tersebut.“Aku udah bilang dari dulu,” gumamnya pelan. “Kalau kamu ingin m

  • Cintai Aku Komandan   Bab 5

    1Markas Komando Pasukan Khusus terlihat lebih ramai dari biasanya saat sebuah truk katering memasuki gerbang utama.Bukan hanya satu, ada lima sampai enam truk dengan berbagai macam makanan yang datang.Beberapa prajurit yang baru selesai latihan langsung saling melirik. Tampak sekali kalau mereka sangat senang dengan kedatangan truk-truk itu."Makan-makan besar lagi kita," seloroh seorang prajurit yang sedang membersihkan sepatunya. Dia seperti sudah tahu siapa pengiri truk berisi makanan tersebut."Tapi tidak akan menimbulkan perang kan setelah dia tahu Komandan menikah?" sahut prajurit yang lain dan langsung mendapat pelototan dari teman-temannya.Pernikahan Danendra adalah sebuah rahasia umum, semua orang sudah tahu. Tapi bukan berarti boleh dibicarakan secara terbuka."Oke, aku menutup mulut," jawab prajurit tersebut, membuat gerakan mengunci mulut dan membuang kuncinya jauh-jauh.Tak lama kemudian, seorang wanita turun dari mobil sport keluaran terbaru, yang mengikuti truk terse

  • Cintai Aku Komandan   Bab 4

    ***“Ayah terlalu baik sama dia,” ucap Tiara pelan. Gadis yang masih menggunakan seragam sekolah tingkat atas itu duduk gusar di samping Anggita.Kedatangan Pitaloka membuatnya marah. Karena wanita yang dia anggap asing itu langsung merebut perhatian ayahnya.Anggita masih terlihat kesal. Tatapannya sesekali mengarah ke ruang makan, tempat suara Pramana terdengar sibuk memberi arahan pada para pekerja di rumah bagaimana cara melayani Pitaloka. Sudah seperti Tuan Putri saja.“Lihat saja nanti,” ujar Anggita lirih. “Akan kubuat dia seperti tinggal di neraka!"Rasa benci Anggita semakin menjadi-jadi, apalagi ditambah dengan suaminya yang terkesan sangat memanjakan Pitaloka. Suaminya dingin sekali padanya, tapi pada Pitaloka sangat mengayomi.Tiara mendengus kecil. “Tapi Kak Danen kenapa nggak nolak aja permintaan konyol menikahi Pitaloka itu!" ucap Tiara dengan tatapan sinis. "Komandan pasukan khusus kok ngga tegas!"Sama seperti sang ibu, adik kandung Darendra itu terlihat sangat membe

  • Cintai Aku Komandan   Bab 3

    "Hebat ya, Komandan pasukan khusus tapi istrinya anak koruptor!"Pitaloka baru saja menginjakkan kaki di depan pintu rumah Danendra, tapi sambutan yang ia terima berhasil membuat darahnya mendidih. Terlebih yang mengatakan itu adalah Anggita, Ibu Danendra sendiri."Maksud Mama apa berkata seperti itu?" tanya Pitaloka dengan nada tinggi. Dia paling benci jika ada yang menjelekkan ayahnya. Apalagi itu bukan hal yang benar.Ayahnya bukan koruptor, Ayahnya hanya dijebak."Mama?" tanya Anggita dengan nada mengejek. "Sejak kapan saya jadi Mama mu? Tidak sudi!" lanjutnya lagi.Anggita benar-benar menunjukkan ketidaksukaan. Dia sangat jijik berdekatan dengan Pitaloka dan tidak sudi lagi dipanggil Mama.Pitaloka tertawa sumbang. Namun begitu, sudut matanya mulai berarir."Anda sendiri yang dulu meminta untuk saya panggil Mama!" terang Pitaloka dengan gigi bergemelatuk, berusaha keras menahan emosi yang siap meledak.Pitaloka tentu tidak akan pernah lupa bagaimana Anggita memohon-mohon untuk di

  • Cintai Aku Komandan   bab 2

    Sejak dulu, Pitaloka menyukai pria itu. Pria yang selalu diam di belakangnya. Pria yang tidak banyak bicara, tapi selalu ada saat ia butuh. Namun jarak kasta mereka dulu sangatlah jauh.Daren hanya prajurit tingkat rendah yang ditugaskan untuk menjaga putri kesayangan seorang Taipan. Sedangkan Pitaloka adalah Tuan Putri calon pewaris seluruh kekayaan Tirtagrup.“Jangan lari terlalu jauh, Nona.”“Hati-hati.”“Di belakang saya saja.”Kalimat-kalimat sederhana itu, entah sejak kapan berubah menjadi sesuatu yang lebih dalam.Dan hari ini cinta itu bukan sesuatu yang tahu dan Pitaloka benar-benar akan menjadi istri Daren."Nona," panggil sebuah suara dengan isakan. Pitaloka sangat kenal suara itu. Suara pengasuh yang sudah merawat dia sejak bayi."Bibi," jawab Pitaloka dengan segera memeluk Bi Sekar. Dua wanita beda generasi itu berpelukan sangat erat. "Mereka membawa Ayah, Bi. Mereka memperlakukan Ayah seperti seorang kriminal," ucap Pitaloka mengadukan peristiwa hari ini pada Bi Sekar, s

  • Cintai Aku Komandan   Bab 1

    “Ayah… kenapa mereka memborgol Ayah?”Suara Pitaloka Prameswari bergetar. Ia berdiri beberapa langkah dari ayahnya yang ditahan, mencoba memahami kenyataan yang terasa terlalu tiba-tiba.Ayahnya adalah seorang konglomerat kenamaan yang pengaruhnya sangat besar. Jangankan aparat penegak hukum, rezim pemerintahpun tidak akan berani menyentuh. Tapi lihatlah apa yang sekarang dilakukan orang-orang berseragam itu pada ayahnya. Sangat kasar dan tidak manusiawi.“Silakan menyingkir, Nona. Ini proses hukum.”“Proses hukum apa sampai harus seperti ini?” Pitaloka merangsek maju. “Ayah saya tidak pernah—”“Pitaloka.”Satu panggilan itu menghentikannya.Shandi, ayahnya, menatap Pitaloka dalam-dalam. Ada sesuatu yang berbeda di sana. Bukan marah. Bukan takut, melainkan waktu yang habis.“Dengar Ayah baik-baik.”Pitaloka mendekat, napasnya tak beraturan. “Ayah, kita bisa selesaikan ini. Aku akan panggil seluruh pengacara, kita—”“Tidak ada waktu.”Pegangan tangan ayahnya menguat.“Menikahlah dengan

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status