LOGINDi antara lautan siswa yang berhamburan keluar dari gerbang sekolah, akhirnya mata Zalleon menangkap sosok yang sejak tadi ia cari.
Zira. Gadis itu berjalan perlahan di tengah kerumunan siswa yang saling bersinggungan bahu. Langkahnya tenang, namun wajahnya tampak tenggelam dalam pikirannya sendiri. Tatapannya lurus ke depan, seolah tidak benar-benar memperhatikan apa pun di sekitarnya. Ia bahkan tidak menyadari bahwa seseorang sedang memperhatikannya dari kejauhan. Zalleon berhenti sejenak. Pandangan matanya terpaku pada sosok Zira yang berjalan di antara keramaian para siswa. Di tengah riuhnya suara tawa, deru motor yang mulai memenuhi jalanan depan sekolah, dan percakapan yang saling bersahutan, keberadaan Zira tetap menjadi satu-satunya hal yang ia lihat dengan jelas. Dan ketika langkah Zira akhirnya membawanya semakin dekat ke arah gerbang. Tanpa sengaja pandangan mereka bertemu. Untuk sesaat, dunia di sekitar mereka terasa melambat. Keramaian para siswa yang berlalu-lalang seolah memudar, seperti suara yang perlahan ditarik menjauh. Yang tersisa hanyalah dua pasang mata yang saling menatap dalam diam. Ada sesuatu dalam tatapan itu. Sesuatu yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Seolah ada banyak hal yang ingin diucapkan, banyak pertanyaan yang ingin dilontarkan, tetapi tidak satu pun dari mereka mampu menggerakkan bibir untuk memulai percakapan. Zalleon menarik napas perlahan. Kemudian, dengan langkah yang tenang namun pasti, ia mulai berjalan menghampiri Zira. Setiap langkah terasa aneh di dadanya. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya, seolah ada sesuatu yang menekan perasaannya dari dalam. Ia sendiri tidak tahu apakah itu kegelisahan, kekhawatiran, atau perasaan lain yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Sementara itu, Zira hanya berdiri di tempatnya. Tatapannya mengikuti sosok Zalleon yang kini berjalan mendekat ke arahnya. Entah mengapa, suasana di antara mereka terasa berbeda hari ini. Ada ketegangan halus yang menggantung di udara, sesuatu yang tak terlihat namun terasa begitu jelas. Seakan-akan ada rahasia besar yang diam-diam menghubungkan mereka berdua. “Zira,” panggil Zalleon pelan. Suara itu membuat Zira sedikit terkejut. Ia mengedipkan mata beberapa kali sebelum akhirnya benar-benar fokus pada wajah Zalleon yang kini berdiri di hadapannya. Tanpa ia sadari, jantungnya mulai berdegup lebih cepat. Ada sesuatu di ekspresi wajah Zalleon yang membuat perasaannya tidak tenang. “Ada apa, Leo?” tanyanya pelan. Zalleon menatap mata Zira dengan serius, seolah sedang memastikan sesuatu yang sangat penting. “Ada yang ingin kubicarakan denganmu,” ucapnya perlahan. Nada suaranya terdengar tenang, tetapi terselip ketegasan yang tidak biasa. Zira mengerutkan kening sedikit, kebingungan jelas terlihat di wajahnya. “Bicara apa?” Zalleon tidak langsung menjawab. Ia menarik napas dalam-dalam sebelum akhirnya mengalihkan pandangannya sejenak ke sekeliling. Gerbang sekolah masih dipenuhi siswa yang pulang. Suara motor, tawa, dan percakapan bercampur menjadi satu, menciptakan keramaian yang hampir tidak memberi ruang untuk percakapan serius. Tempat itu terlalu ramai. Terlalu terbuka. “Bukan di sini,” kata Zalleon pelan. “Tempat ini terlalu ramai.” Ia kembali menatap Zira, kali ini dengan sorot mata yang lebih dalam. “ikut aku.” Zira terdiam sejenak. Ada sedikit keraguan yang muncul di wajahnya, tetapi rasa penasaran akhirnya mengalahkan keraguannya. Setelah beberapa detik berpikir, ia mengangguk pelan. Tanpa banyak bicara, mereka berjalan bersama meninggalkan keramaian di gerbang sekolah. Langkah mereka membawa mereka menuju bagian belakang sekolah, sebuah tempat yang jarang dilewati siswa. Di sana suasananya jauh lebih sepi. Hanya ada suara angin yang berhembus lembut di antara pepohonan serta bayangan bangunan sekolah yang memanjang di atas tanah. Di tempat itu, Zalleon akhirnya berhenti. Ia berdiri tepat di depan Zira. Beberapa detik berlalu dalam keheningan. Tatapan Zalleon tampak serius, seolah ia sedang menimbang setiap kata yang akan keluar dari mulutnya. “Zira…” ucapnya akhirnya. Pandangan Zalleon perlahan turun ke pergelangan tangan Zira. Ekspresinya berubah semakin serius. “Lambang itu…” lanjutnya pelan. Zira terkejut dan secara refleks mengikuti arah tatapan Zalleon. Dan saat ia melihat pergelangan tangannya sendiri, jantungnya langsung berdegup keras. Lambang aneh di kulitnya kembali bersinar. Cahaya keemasan yang samar namun jelas terlihat perlahan muncul dari tanda itu. Panik, Zira langsung menutupinya dengan tangan yang lain, berusaha menyembunyikan cahaya tersebut. Namun Zalleon sudah melihatnya. “Jangan takut!” ujar Zalleon cepat. Zira menatapnya dengan panik. “Cahaya itu… hanya kita yang bisa melihatnya,” lanjut Zalleon dengan suara tenang. Zira membelalak. “Leo… kamu tahu tentang lambang ini?” Zalleon mengangguk perlahan. “Iya. Aku tahu.” “Bagaimana bisa?” tanya Zira semakin bingung. Zalleon menatap lambang itu beberapa detik sebelum akhirnya berkata dengan suara rendah namun jelas. “Karena lambang itu milikku.” Zira terperanjat. “Apa?!” serunya tidak percaya. “Lambang itu milikku,” ulang Zalleon dengan suara tenang namun penuh keseriusan. “Aku kehilangan lambang itu… bersama dengan kekuatanku. Dan entah bagaimana, lambang serta kekuatan itu sekarang berada padamu.” Zira mengerutkan kening dalam-dalam. Ia kembali menatap pergelangan tangannya, seolah berharap tanda aneh itu tiba-tiba menghilang begitu saja. Namun lambang itu tetap ada di sana. Diam. Nyata. “Bagaimana bisa lambang ini ada padaku?” tanyanya dengan suara pelan, masih dipenuhi kebingungan. Zalleon menarik napas dalam-dalam sebelum menjawab. “Karena ini adalah ujian dari dewa yang harus aku lewati.” Beberapa detik keheningan menyelimuti mereka. Namun tiba-tiba, Zira tertawa kecil. “Haha… ya ampun, Leo,” katanya sambil menggelengkan kepala. “Cerita kamu lucu juga.” Zalleon mengernyit. Wajahnya tetap serius. “Zira, aku tidak sedang bercanda. Aku serius.” Namun Zira justru semakin tersenyum, seolah tidak benar-benar menganggap perkataannya sebagai sesuatu yang nyata. “Hahaha… Leo, sudah ah,” ucapnya ringan. “Sepertinya aku sudah dijemput.” Ia berbalik, bersiap meninggalkan tempat itu. Namun langkahnya mendadak terhenti. Sebuah tangan dengan cepat meraih pergelangan tangannya. Zalleon menghentikannya. Zira menoleh kaget. “Leo?” Zalleon menghela napas pelan. Tatapannya masih tertuju pada wajah Zira yang terlihat jelas tidak mempercayainya. “Kamu benar-benar tidak percaya?” tanyanya, kali ini dengan nada yang sedikit lebih dalam. Zira masih menyimpan senyum kecil di bibirnya. “Leo… cerita tentang dewa, ujian, dan segala macam itu terdengar seperti cerita fantasi. Kamu seperti sedang menceritakan dongeng.” Zalleon terdiam beberapa saat. Angin sore berhembus pelan di sekitar mereka, menggoyangkan dedaunan di pepohonan yang berdiri di belakang bangunan sekolah. Matahari perlahan mulai condong ke barat, memancarkan cahaya keemasan yang lembut di halaman belakang sekolah. Namun di tengah ketenangan itu, ekspresi Zalleon justru semakin serius. "Kalau begitu..." katanya pelan. Tatapannya menajam. "Aku akan membuatmu percaya." Zira mengerutkan kening, jelas tidak mengerti. "Membuatku percaya bagaimana?" Namun tiba-tiba Zalleon melangkah mendekat. Gerakannya begitu cepat hingga Zira bahkan tidak sempat bereaksi. Dalam sekejap, jarak di antara mereka menghilang. Sebelum Zira sempat bereaksi lebih jauh, Zalleon sudah meraih pergelangan tangannya. "Leo?!" Zira terkejut. Namun tepat saat tangan Zalleon menyentuh lambang di pergelangan tangan Zira. Sesuatu yang tidak pernah mereka duga terjadi. Cahaya keemasan tiba-tiba menyala dari lambang tersebut. Terangnya bukan seperti cahaya biasa. Cahaya itu hangat… berdenyut… seolah memiliki kehidupan sendiri. Kilauannya menyebar perlahan dari lambang itu, menerangi kulit Zira dengan sinar keemasan yang lembut namun kuat. Zira membelalak kaget, Matanya terpaku pada tangannya sendiri. “Apa ini…?!” suaranya langsung berubah panik. Ia mencoba menarik tangannya, tetapi Zalleon masih memegangnya, seolah tidak percaya dengan apa yang sedang ia lihat. Tatapan Zalleon juga berubah. Matanya terpaku pada lambang itu dengan ekspresi terkejut yang jarang sekali terlihat di wajahnya. “Ini… bereaksi,” gumamnya pelan. Pada saat yang sama, angin di sekitar mereka tiba-tiba berubah. Hembusannya yang tadinya lembut kini menjadi jauh lebih kuat. Daun-daun yang berserakan di tanah terangkat ke udara, berputar-putar di sekitar mereka seperti terseret oleh energi yang tidak terlihat. Bangku kayu yang berada beberapa meter dari mereka bergeser sedikit dengan suara gesekan pelan. Zira benar-benar panik sekarang. “Leo! Apa yang terjadi?!” teriaknya. Napasnya mulai tidak teratur. Jantungnya berdetak sangat cepat karena ia tidak mengerti apa yang sedang terjadi pada tubuhnya sendiri. Namun detik berikutnya, Zalleon langsung melepaskan tangannya. Seketika cahaya itu padam. Angin berhenti. Daun-daun yang berputar di udara jatuh kembali ke tanah satu per satu. Taman kembali sunyi. Seolah kejadian aneh itu tidak pernah terjadi. Zira masih berdiri kaku di tempatnya. Napasnya masih terasa berantakan setelah kejadian barusan. Perlahan ia kembali menatap pergelangan tangannya. Lambang itu masih ada. Namun sekarang cahaya yang tadi menyala terang telah menghilang. Tanda itu kembali terlihat seperti ukiran biasa di kulitnya. Bentuknya sangat jelas. dua sayap yang saling menyilang, dengan sebuah mata bercahaya keemasan di tengahnya. Tangannya sedikit gemetar. Perlahan ia mengangkat kepalanya dan menatap Zalleon. “Leo…” suaranya nyaris seperti bisikan. “Itu tadi… apa?” Zalleon menatapnya dalam-dalam dengan ekspresi serius. “Itu adalah reaksi dari lambang kekuatanku,” jawabnya pelan. Pandangan matanya kembali tertuju pada pergelangan tangan Zira. “Lambang kekuatan itu… milikku.” Zira langsung menatapnya lagi. Kali ini tidak ada tawa di wajahnya. Tidak ada candaan. Yang tersisa hanyalah kebingungan dan ketakutan yang mulai tumbuh di dalam hatinya. Perlahan ia mundur satu langkah. Gerakan kecil itu tidak luput dari perhatian Zalleon. Zira menelan ludah. Pikirannya terasa kacau. “Siapa kamu sebenarnya…?” tanyanya dengan suara gemetar. Zalleon terdiam beberapa saat. Tatapannya sedikit menerawang, seolah sedang menimbang kata-kata yang tepat untuk diucapkan. “Aku…” ia berhenti sejenak. Ia menarik napas dalam sebelum akhirnya melanjutkan. “Aku… seorang malaikat.” Keheningan langsung menyelimuti mereka. Angin sore kembali berhembus pelan di antara pepohonan, membawa aroma tanah yang hangat. Zira ingin menyangkalnya. Ia ingin tertawa dan mengatakan bahwa semua ini hanyalah lelucon yang aneh. Namun ia tidak bisa. Ia melihat semuanya dengan mata kepalanya sendiri. Cahaya itu. Angin yang tiba-tiba berubah. Energi yang terasa nyata. Semua itu terlalu mustahil untuk dijelaskan dengan logika biasa. “Leo…” suara Zira terdengar ragu. “Tapi… bagaimana bisa lambang dan kekuatanmu ada padaku?” Zalleon menatapnya dengan tatapan yang sulit dijelaskan. “Karena Dewa sedang mengujiku.” Zira terdiam. Ia kembali menatap lambang di pergelangan tangannya. "Lalu... apa yang akan terjadi denganku?" tanya Zira lirih. la menatap Zalleon dengan bingung. "Apa yang harus aku lakukan?" "Kamu harus mengembalikan lambang dan kekuatanku," jawab Zalleon. Zira mengerutkan kening. “Bagaimana caranya?” Zalleon mengulurkan tangannya perlahan. “Ulurkan tanganmu.” Zira ragu beberapa detik. Namun akhirnya ia tetap mengulurkan tangannya. Zalleon langsung menggenggam pergelangan tangannya, tepat di atas lambang itu. Seketika cahaya keemasan kembali menyala. Kali ini lebih terang dari sebelumnya. Zalleon memejamkan mata, mencoba merasakan energi yang mengalir dari lambang itu menuju tubuhnya. Namun pada saat yang sama. Zira tersentak. Angin tiba-tiba berhembus jauh lebih kencang. Langit yang tadi cerah perlahan berubah mendung. Awan gelap berkumpul di atas sekolah. Suara petir menggelegar di kejauhan. Tubuh Zira mulai melemah. Napasnya tersengal, dan pandangannya mulai memudar. "Apa yang terjadi...?" bisiknya lemah. Tubuhnya terasa lemah, seolah kekuatan yang biasa ia miliki perlahan menghilang. Ia mencoba bertahan, namun kekuatannya seolah menghilang dari tubuhnya. Dan dalam hitungan detik, semuanya menjadi gelap. Tubuhnya melemah dan hampir terjatuh. Zalleon membuka mata tepat saat Zira kehilangan keseimbangan. Dengan refleks cepat, ia langsung menangkapnya sebelum gadis itu menyentuh tanah. "Zira...!" serunya, suara penuh kecemasan. la menatap wajah pucat Zira, hatinya dipenuhi rasa cemas yang sulit ia sembunyikan. Tanpa berpikir panjang, Zalleon langsung menggendongnya dan bergegas menuju gedung sekolah. Langkahnya cepat menyusuri koridor yang mulai sepi. Setibanya di UKS, ruangan itu kosong. Dengan hati-hati ia membaringkan Zira di ranjang. Tangannya menyentuh dahi Zira. Dingin. “Zira…” gumamnya pelan. Namun gadis itu tidak merespons. Zalleon kembali menatap pergelangan tangannya. Lambang itu masih ada. Cahayanya jauh lebih redup dari sebelumnya. "Kenapa belum kembali...?" gumam Zalleon pelan. Tangannya mengepal, hatinya dipenuhi kebingungan dan rasa frustrasi yang tak tertahankan. la berharap kekuatannya akan kembali saat ini, tapi Zira tiba-tiba melemah, dan lambangnya di pergelangan tangan tetap diam, tak menunjukkan tanda-tanda reaksi sama sekali. Sesuatu menahan energi itu, sesuatu yang bahkan ia sendiri tak mengerti. Di luar, petir kembali menggelegar. Langit semakin gelap dan mencekam, seolah menandakan ada sesuatu yang besar sedang menanti. Zalleon menatap lambang itu dengan mata penuh kekhawatiran. Hatinya dipenuhi pertanyaan yang belum terjawab. "Aku harus menemukan jawabannya," gumamnya pelan. Saat itu juga, Zira mengerang pelan. “Zira?” Kelopak matanya perlahan terbuka. Tatapannya masih kosong. “Leo…?” suaranya sangat pelan. Zalleon langsung mendekat. “Aku di sini.” Zira berusaha mengangkat tangannya. Tubuhnya masih terasa lelah dan lemah, tapi perlahan tangan kanannya terangkat. Matanya menatap pergelangan tangannya, memperhatikan lambang samar yang masih terpancar di kulitnya. “Apa yang terjadi…?” Zalleon menghela napas. “Aku sudah mencoba mengambil kembali kekuatanku… tapi sepertinya ada sesuatu yang menahannya.” Zira menatapnya. "Jadi... kekuatan itu masih ada padaku?" tanya Zira dengan ragu. Zalleon mengangguk pelan. "Ya... tapi lambang dan kekuatanku belum kembali padaku. Masih tetap ada di pergelangan tanganmu, dan aku belum bisa mengambilnya. Zira terdiam. Ia mencoba mencerna semua yang baru saja terjadi. Dengan sekuat tenaga, ia berusaha bangkit dan duduk perlahan. Zalleon langsung membantunya. “Jangan memaksakan diri,” katanya khawatir. “Aku baik-baik saja…” jawab Zira pelan. Ia mencoba tersenyum meskipun wajahnya masih pucat. "Kalau kekuatanmu sama sekali belum kembali, berarti masih ada yang harus kamu lakukan, kan?" Zalleon menatapnya dengan mata yang penuh keteguhan. "lya... aku harus mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi." Zira menelan ludah. "Kalau ini memang terkait dengan sesuatu yang lebih besar... berarti aku dalam bahaya, ya?" Zalleon terdiam sejenak. Ia tidak ingin mengatakannya, tapi Zira sudah cukup cerdas untuk menangkap kegelisahannya. la menatap Zira dengan serius, matanya menyiratkan perhatian yang mendalam. "Tenang saja, Zira... kalau ada sesuatu yang lebih besar atau bahaya mengancammu, aku akan melindungimu." Mendengar kata-kata itu, jantung Zira berdegup lebih kencang. Ada sesuatu yang hangat dan aneh terasa di dadanya, membuatnya sulit berkata apa-apa. la hanya mengangguk pelan, mencoba menenangkan diri. Tiba-tiba pintu UKS terbuka. Zalleon langsung menoleh waspada. Namun yang masuk hanyalah seorang siswa laki-laki dengan seragam yang sedikit berantakan. “Eh, ada orang di sini?” katanya santai. Zalleon menghela napas lega. “Iya.” Siswa itu menatap mereka berdua, lalu tersenyum nakal. “Kalian ngapain di sini? Pacaran?” Zira dan Zalleon langsung membelalakkan mata. “Bukan!” jawab mereka bersamaan. Siswa itu tertawa kecil. “Tenang, aku cuma bercanda. Aku disuruh ke sini gara-gara kecapekan habis bantu OSIS.” Beberapa saat kemudian, Zira berbisik pelan. "Leo... aku harus pulang." Zalleon menatapnya khawatir. "Sudah merasa lebih baik?" tanyanya lembut. Zira mengangguk, menarik napas. "Ya... aku merasa sedikit lebih baik. Aku rasa aku bisa berjalan sekarang," jawabnya pelan. Mereka kemudian keluar dari UKS dan berjalan menuju tempat parkir. “Leo,” panggil Zira. “Kita mau ke mana?” “Ke tempat parkir motor,” jawab Zalleon. “Ngapain?” “Aku akan mengantarmu pulang.” Zira menggeleng. “Aku bisa menelepon orang tuaku.” Namun Zalleon menatapnya dengan serius. “Biarkan aku mengantarmu.” Akhirnya Zira mengalah. “Baiklah…” Saat sampai di parkiran yang mulai sepi, Zalleon tiba-tiba berhenti. “Aku harus mencoba sesuatu,” katanya. “Mencoba apa?” “Pegang tanganku.” Zira ragu, namun akhirnya menurut. Begitu tangan mereka bersentuhan, cahaya samar kembali muncul dari lambang di pergelangan tangan Zira. Energi hangat mengalir di antara mereka. Namun tiba-tiba “Aaakh!” Zira menjerit sambil menarik tangannya. “Leo! Sakit!” Zalleon terkejut. “Ada apa, Zira? Kenapa?” “Rasanya seperti… terbakar!” jawabnya, wajahnya penuh kecemasan. Zalleon menatap pergelangan tangannya sejenak, lalu matanya menajam. “Berarti ada kekuatan lain yang menahan lambang itu.” Zira menatapnya, pandangannya cemas. “Maksudmu… ada seseorang di balik ini?” “Mungkin saja,” jawab Zalleon pelan. Keduanya terdiam sejenak. Suasana sepi, hanya suara angin dan dedaunan yang bergesekan. Lalu Zira berbisik, suaranya hampir tak terdengar: “Apa ada seorang… atau sesuatu yang sama denganmu di dunia ini? Bagaimana kalau kamu bertanya pada seseorang yang mungkin tahu?” Zalleon menunduk sejenak, merenung, lalu mengangguk pelan. “Ada seseorang.” “Siapa?” tanya Zira, matanya membulat. Zalleon menatap langit yang mulai gelap, awan tipis bergulung di ufuk barat. “Sang Cahaya,” jawabnya. “Sang Cahaya?” Zira mengulang, masih bingung. “Dia pembimbingku. Dewa mengirimnya untuk menuntunku selama aku berada di dunia ini,” jelas Zalleon dengan suara tenang namun tegas. Zira mengangguk pelan, mencoba mencerna kata-katanya. “Semoga dia punya jawaban,” gumamnya. Langit semakin gelap. Awan hitam berkumpul di kejauhan, dan petir kembali menggelegar di langit senja. Zalleon menatap ke arah petir itu, hatinya diliputi perasaan yang sulit dijelaskan. “Semoga saja…” Namun jauh di dalam dirinya, ia merasakan sesuatu yang lebih besar. Sesuatu yang belum sepenuhnya mereka sadari. Dan ia tahu, hal itu… akan mengubah segalanya. Bersambung.Udara pagi masih terasa dingin saat Zira melangkah menuju sekolah. Bayangan kejadian kemarin, tatapan Zalleon dan sikapnya, masih belum sepenuhnya hilang dari pikirannya. Namun hari ini bukan hari untuk hanyut dalam perasaan. Hari terakhir ujian akhirnya tiba. Meski langit tampak mendung, suasana di sekolah justru terasa lebih ringan. Wajah-wajah murid terlihat lega, beberapa bahkan sudah mulai berbincang santai tentang liburan, study tour, atau rencana berkumpul bersama teman. Jam ujian pun berlangsung hingga akhirnya mendekati akhir. Zira duduk di bangkunya, menyelesaikan soal terakhir dengan fokus. Setelah yakin, ia meletakkan pensilnya perlahan dan menatap jendela kelas sejenak. “Akhirnya… selesai juga,” gumamnya, diiringi hembusan napas panjang. “Zira!” panggil Manda dari barisan belakang. “Kamu dengar nggak, kabarnya pengumuman study tour ditempel hari ini!” Zira menoleh, matanya berbinar. “Serius? Emang ke mana sih?” "Katanya sih ke Pulau Seruni. Ada pantai, bukit, dan vi
Pagi itu, sinar matahari menyelinap masuk melalui celah tirai kamar Zira, menyapu perlahan wajahnya yang masih lelap. Dentingan jam weker di samping ranjang membangunkannya. Dengan malas, Zira mengusap wajahnya lalu duduk di tepi ranjang. Hari ini adalah hari ujian, dan seperti biasa, dia bersiap lebih awal. Setelah mandi dan mengenakan seragam sekolah, Zira berdiri di depan cermin, merapikan rambutnya yang masih sedikit lembap. Saat hendak berbalik, pandangannya tiba-tiba tertahan pada sebuah benda di atas meja belajarnya. Sebuah kaca spion motor. Kaca spion milik Brayen. Zira terdiam sejenak, menatap benda itu dengan perasaan yang tak nyaman, rasa bersalah bercampur khawatir yang perlahan mengendap di dadanya. "Aduh... gimana aku ngembaliin ini? Apa Brayen bakal marah?" gumamnya pelan sambil menghela napas berat. Jantungnya berdegup tak tenang. Kecemasan mulai merayap, membentuk kepanikan kecil dalam dirinya. Ia lalu membuka tasnya dan dengan hati-hati memasukkan kaca spion itu
Suasana kelas menjadi hening, hanya terdengar suara gesekan pena di atas kertas ujian dan detak jarum jam di dinding. Zira mencoba fokus, tapi pikirannya masih saja berputar pada luka di wajah Zalleon. Sekilas, ia melirik ke belakang, melihat Zalleon yang duduk dengan tenang, tapi jelas terlihat lelah. Zira menghela napas, mencoba mengalihkan pikirannya kembali ke soal. Beberapa menit berlalu, dan akhirnya kringgg! Bel pulang berbunyi nyaring, memecah kesunyian ruangan. Para siswa mulai merapikan kertas ujian dan perlengkapan mereka. Zira juga perlahan memasukkan bukunya ke dalam tas, bersama pulpen dan penghapus yang tadi ia pakai. Saat ia hendak berdiri dari bangku, tiba-tiba ada bayangan berdiri di depannya. Zira mendongak. Itu Zalleon. Jantungnya langsung berdegup cepat. Ia tidak tahu harus berkata apa. Masih ada amarah kecil yang tersisa dari pagi tadi, tapi juga ada kekhawatiran dan rindu yang diam-diam menyelusup ke dalam hatinya. Zalleon menatapnya lembut dan berkata pe
Langkah kaki Brayen terdengar berat dan teratur saat ia meninggalkan taman sekolah. Wajahnya tak lagi menampilkan senyum ramah yang biasa ia tunjukkan pada semua orang. Kali ini, ada sesuatu yang mengendap dalam tatapannya, gelap, dan menyimpan maksud tersembunyi. Tujuannya jelas: menemui Zalleon. Zalleon berdiri di balkon atap sekolah, sendirian. Angin siang berhembus lembut, mengusap rambut hitamnya yang berkilau diterpa cahaya matahari. la menatap langit luas, mencoba menenangkan dadanya yang sesak setelah perbincangannya dengan Zira. Hatinya gelisah, pikirannya penuh dengan kekhawatiran yang tak bisa ia ungkapkan. Tiba-tiba... "Krekk-" Suara pintu atap terbuka memecah keheningan. Zalleon menoleh cepat. Tatapannya langsung berubah tajam. Di sana, berdiri sosok yang tak asing, Brayen. Brayen melangkah mendekat, setiap langkahnya terasa berat dan penuh maksud. Pandangannya tajam menembus udara yang terasa kian menegang. Mereka berdiri saling menatap, membiarkan diam menggantung
Suara alarm ponsel Zira berbunyi pelan, membangunkannya. la membuka mata, menatap langit-langit kamarnya yang kelabu. Dua hari libur sudah berakhir, dan hari ini... ujian dimulai. Zira bangkit, duduk di tepi ranjang, dan menarik napas dalam-dalam. Hatinya sedikit tegang, pikirannya sibuk membayangkan hari yang akan dimulai. Meski begitu, ada rasa aneh yang menggelitik, sebuah perasaan bahwa hari ini tidak akan berjalan seperti biasanya. Ia pun beranjak ke kamar mandi, bersiap seperti biasa. Setelah itu, Zira mengenakan seragam sekolahnya, merapikan rambut, lalu menatap pantulan dirinya di cermin sejenak. Wajahnya tampak tenang, tapi matanya menyimpan kegelisahan yang sulit dijelaskan. “Zira, sudah bangun? Sarapan dulu, Nak,” terdengar suara Ibu dari bawah. “Iya, Bu!” sahutnya sambil meraih tas. Setelah sarapan, Zira mengenakan sepatu dan menggantungkan tas di bahunya. Ia melangkah keluar rumah, membuka pagar perlahan. Namun baru saja kakinya menjejak ke luar, langkahnya mendadak t
Zalleon akhirnya tiba di pantai itu. Ia memarkirkan motornya tak jauh dari tempat pengunjung lain. Saat membuka helm dan turun, matanya langsung menangkap sesuatu sebuah motor yang sangat ia kenal. "Motor itu... milik Brayen," gumamnya, tajam. Tanpa pikir panjang, Zalleon langsung berlari menyusuri pantai. Matanya menelisik ke segala arah, mencari sosok Zira dan Brayen. Angin pantai menerpa rambutnya, langkahnya cepat dan dipenuhi kecemasan. Hingga akhirnya, pandangannya tertuju pada dua orang yang sedang berjongkok di atas pasir. Zira. Gadis itu tertawa riang di samping Brayen. Mereka sedang membuat istana pasir bersama. Wajah Zira tampak sangat bahagia, senyumnya lepas, matanya bersinar. Pemandangan itu menusuk perasaan Zalleon seperti sembilu. Ia terdiam. Napasnya terhembus berat. Ada rasa tak nyaman yang menyeruak dalam dadanya campuran antara cemburu dan rasa kehilangan. Tangannya mengepal, langkahnya ingin maju, ingin menghampiri mereka, ingin membawa Zira pergi dari sana.







