Share

Bab 5

last update publish date: 2025-02-28 16:12:11

Perlombaan pun telah usai, begitu pula dengan jam pelajaran olahraga. Pak Tomi berdiri di tengah lapangan, menatap para murid yang masih terengah-engah setelah pertandingan.

"Anak-anak, untuk perlombaan hari ini sudah selesai, dan jam pelajaran olahraga pun sudah habis. Sekarang, kalian berganti baju untuk pelajaran selanjutnya," ujar Pak Tomi dengan suara tegas namun hangat.

"Baik, Pak!" serentak para murid menjawab sebelum bergegas ke ruang ganti.

Tak lama kemudian, bel berbunyi, menandakan dimulainya jam pelajaran berikutnya. Semua murid kembali ke kelas dan mulai belajar dengan serius. Namun, di tengah suasana tenang itu, Zalleon tampak diam, merenung sambil menatap Zira. Pikirannya melayang jauh.

Bagaimana caraku mendapatkan kembali kekuatan dan lambangku? batinnya.

Arka, yang duduk di sebelahnya, memperhatikan tatapan kosong Zalleon. Dengan iseng, dia menyenggol bahu sahabatnya itu.

"Jangan dipandangin terus, Leo. Nanti bisa jatuh cinta loh!" goda Arka dengan senyum jahil.

Zalleon terkejut dan segera mengalihkan pandangannya. "Ah, iya, Ar!" jawabnya gugup.

Arka semakin tergelitik. "Kenapa, Leo? Kamu suka sama Zira ya?" tanyanya sambil tersenyum penuh arti.

"Enggak, Ar!" Zalleon tersenyum tipis, berusaha menyangkal.

"Gak apa-apa, Leo. Jujur aja. Nanti gue bantu bilangin ke dia nih!" goda Arka lebih lanjut.

"Ya ampun, Ar! Sudahlah!" Zalleon menghela napas panjang, merasa tak ingin melanjutkan percakapan ini.

Arka pun masih terus meledeknya sambil menyenggol bahunya. Namun, tawa kecil mereka terhenti saat guru yang sedang mengajar memperhatikan mereka.

"Arka! Kenapa kamu ribut sendiri?!" tegur sang guru dengan nada sedikit kesal.

Semua murid langsung menoleh ke arah Arka dan Zalleon, membuat mereka menjadi pusat perhatian.

"Hmm... nggak ada, Bu," jawab Arka dengan canggung.

"Kalau begitu, coba kamu jelaskan kembali materi yang tadi Ibu jelaskan!" perintah guru itu dengan tatapan tajam.

Arka menelan ludah, mencoba mengingat materi yang baru saja dijelaskan.

"Hmm… tadi Ibu menjelaskan tentang… eh…" gumamnya ragu.

Kelas mendadak hening. Semua mata tertuju padanya, menunggu jawabannya.

"Oh iya!" Arka tiba-tiba berseru. "Tadi Ibu menjelaskan tentang… kenapa benda yang jatuh di Bumi mengalami percepatan gravitasi."

"Terus?" tanya sang guru sambil menunggu penjelasan lanjutannya.

Arka terdiam sejenak. Ia tampak berpikir keras, lalu akhirnya berkata dengan wajah serius.

"Benda yang jatuh di Bumi mengalami percepatan gravitasi karena…"

Ia berhenti lagi, menggaruk kepalanya.

"...karena Bumi itu nggak sabaran, Bu."

Beberapa murid langsung mulai menahan tawa.

Arka melanjutkan dengan penuh percaya diri, seolah penjelasannya sangat masuk akal.

"Semakin tinggi benda jatuh, semakin cepat Bumi menariknya turun. Kayaknya Bumi cuma pengen semuanya cepat-cepat sampai ke tanah supaya nggak kelamaan menggantung di udara."

Sejenak kelas terdiam.

Lalu...

"HAHAHAHA!"

Seluruh kelas langsung meledak dalam tawa.

Beberapa murid sampai menepuk meja, sementara yang lain menunduk menahan tawa.

Arka sendiri baru menyadari betapa aneh jawabannya. Wajahnya langsung memerah karena malu.

Di bangkunya, Zalleon hanya menggeleng kecil sambil tersenyum tipis melihat tingkah temannya itu.

Guru hanya menggeleng sambil tersenyum kecil. "Arka, Arka... Makanya kalau Ibu sedang menjelaskan, perhatikan baik-baik! Jangan sibuk sendiri!"

"Iya, Bu. Maaf..." jawab Arka dengan wajah tertunduk.

Tak lama kemudian, bel istirahat berbunyi.

"Baiklah, anak-anak. Istirahat dulu. Besok kita lanjutkan lagi pelajarannya!" kata sang guru sebelum meninggalkan kelas.

"Iya, Bu!" jawab seluruh murid dengan semangat.

Saat waktu istirahat tiba, suasana koridor sekolah langsung dipenuhi suara langkah kaki para siswa yang berbondong-bondong menuju kantin. Tawa, obrolan, dan hiruk-pikuk percakapan bercampur menjadi satu, membuat suasana sekolah terasa lebih hidup dari biasanya.

Namun, di antara kerumunan itu, ada empat sosok yang selalu berhasil mencuri perhatian lebih dari siapa pun.

Arka, Zalleon, Saka, dan Agra berjalan berdampingan dengan langkah santai. Wajah mereka tampak tenang, seolah sama sekali tidak terganggu oleh sorakan kecil dan bisikan penuh kekaguman dari para siswi yang memandangi mereka dengan tatapan berbinar.

Di sekolah itu, mereka sering dijuluki “Luminous Four.” Empat siswa yang mendadak menjadi pusat perhatian karena ketampanan, bakat, dan kemampuan mereka yang luar biasa.

“Wah, mereka tampan sekali…” bisik seorang siswi dengan suara tertahan.

“Iya! Aku berharap ada di antara mereka yang jadi pacarku!” sahut siswi lain dengan mata berbinar penuh harap.

Beberapa siswi bahkan tidak ragu memanggil nama mereka dari kejauhan.

“Leo!”

“Agra!”

“Saka!”

“Arka!”

Keempat cowok itu hanya menanggapinya dengan ekspresi santai. Mereka tetap berjalan seolah hal seperti itu sudah menjadi sesuatu yang biasa bagi mereka.

Namun, di tengah euforia yang mengelilingi mereka, ada seseorang yang justru terlihat tidak terlalu peduli.

Di dalam kantin, Zira sedang duduk bersama Lia dan Manda. Ia hanya menatap sekilas ke arah kerumunan siswi yang mengelilingi keempat cowok itu, lalu kembali bersandar dengan ekspresi datar.

Sebaliknya, Lia dan Manda justru tampak sangat tertarik memperhatikan pemandangan itu.

“Wah, mereka benar-benar sangat populer,” ujar Manda dengan nada kagum.

“Iya,” sahut Lia sambil memperhatikan ke arah mereka. “Sejak ada Leo, semuanya berubah. Mereka jadi makin terkenal. Tapi ya… harus diakui sih, mereka memang tampan dan berbakat.”

Zira hanya menghela napas pelan.

Baginya, wajah tampan saja tidak cukup untuk membuat seseorang menjadi menarik. Ia memang tidak menyangkal bahwa keempat cowok itu punya daya tarik tersendiri, tapi tetap saja bukan sesuatu yang membuatnya benar-benar terkesan.

Tak lama kemudian, Arka, Zalleon, Saka, dan Agra masuk ke dalam kantin.

Suasana yang sebelumnya sudah ramai kini semakin riuh. Beberapa siswi tampak sengaja mendekat, berusaha menarik perhatian mereka.

Ada yang menawarkan tempat duduk, ada juga yang dengan sengaja membawakan minuman.

Melihat itu semua, Zira hanya menggeleng pelan.

“Norak banget,” gumamnya lirih.

Ia lalu berdiri dari kursinya, berniat memesan makanan sendiri di salah satu stan.

Namun baru beberapa langkah berjalan, tiba-tiba kakinya menginjak sesuatu yang licin.

Kulit pisang.

Dalam sekejap, tubuhnya kehilangan keseimbangan.

“Ah!”

Zira hampir saja terjatuh, tetapi sebelum tubuhnya benar-benar menyentuh lantai, sebuah tangan dengan sigap menangkapnya.

Tubuh Zira tertahan.

Ia justru jatuh ke dalam pelukan seseorang.

Zira mendongak dengan terkejut.

Sepasang mata cokelat gelap menatapnya dengan ekspresi tenang.

Zalleon.

Untuk sesaat, suasana kantin yang ramai seakan menghilang dari kesadaran Zira. Padahal di sekeliling mereka, suara orang-orang masih terus terdengar.

“Kamu nggak apa-apa?” tanya Zalleon pelan. Tangannya masih menahan tubuh Zira agar tidak jatuh.

Zira hanya menatapnya beberapa detik, seolah masih belum sepenuhnya sadar dengan apa yang baru saja terjadi.

Lalu tiba-tiba ia tersadar.

Dengan cepat, ia berdiri tegak dan menjauh sedikit dari Zalleon, menghindari tatapan cowok itu.

“Nggak apa-apa,” jawabnya singkat, meski suaranya terdengar sedikit panik.

Ia bahkan tidak berani menatap Zalleon terlalu lama.

Namun saat ia berbalik hendak pergi, sesuatu yang aneh tiba-tiba terjadi.

Lambang di pergelangan tangannya yang selama ini tampak seperti tato, mendadak bersinar.

Cahaya keemasan muncul samar dari tanda itu, berkilauan lembut namun cukup jelas untuk terlihat.

Zira membelalakkan mata.

Panik, ia segera menutup pergelangan tangannya dengan tangan yang lain.

Tanpa berkata apa pun, ia langsung berlari keluar dari kantin, meninggalkan Lia, Manda, dan semua orang yang menatapnya dengan bingung.

Termasuk Zalleon.

Zalleon masih berdiri di tempatnya.

Matanya mengikuti sosok Zira yang semakin menjauh, sementara ekspresi di wajahnya berubah menjadi penuh tanda tanya.

Ia tidak tahu apa yang baru saja terjadi.

Namun ada satu hal yang jelas.

Cahaya itu… bukan sesuatu yang biasa.

Di salah satu meja kantin, Arka, Saka, dan Agra sudah duduk dengan santai sambil menikmati makan siang mereka. Suasana di sekitar masih ramai oleh suara para siswa yang berbincang dan tertawa.

Arka menyandarkan punggungnya ke kursi, lalu membuka obrolan dengan ekspresi percaya diri.

“Sumpah, tadi kayaknya semua cewek terpesona sama ketampanan gue,” ujarnya sambil menyeringai bangga.

Agra langsung mendengus pelan.

“Percaya diri banget lo.”

Saka hanya menggeleng sambil tertawa kecil.

Tak lama kemudian, Zalleon datang dan duduk di kursi kosong di antara mereka. Ia tampak sedikit melamun, tetapi akhirnya ikut bergabung.

Zalleon mengerutkan kening, lalu berkata dengan nada heran,

“Iya ya… kenapa kita begitu terkenal?”

Saka menoleh padanya dengan santai.

“Leo, lo belum tahu ya? Kita ini memang terkenal.”

Arka langsung mengangguk setuju.

“Betul!”

Zalleon masih terlihat bingung.

“Terkenal karena apa? Kita kan biasa-biasa aja…”

Agra tertawa kecil mendengar pertanyaan itu.

“Ya ampun, Leo. Nih, gue jelasin,” katanya sambil menunjuk dirinya sendiri.

“Gue ketua OSIS dan atlet basket junior sekolah.”

Lalu ia menunjuk Arka.

“Arka musisi band sekolah.”

Setelah itu ia menoleh ke Saka.

“Saka atlet renang. Dia pernah menang medali tingkat nasional dan juara satu.”

Kemudian Agra menepuk bahu Zalleon.

“Dan lo…” katanya sambil menyeringai.

“Lo sangat tampan. Semua orang tergila-gila sama lo.”

Arka langsung menambahkan dengan bangga,

“Makanya kita disebut LF.”

“Luminous Four,” sambung Saka santai.

Zalleon mengangkat alisnya sedikit.

“Luminous Four? Artinya apa?”

Arka tersenyum lebar.

“Luminous itu artinya bercahaya. Jadi kita ini empat orang yang bersinar di sekolah ini,” katanya sambil tertawa ringan.

Zalleon ikut tersenyum kecil, tetapi pikirannya sebenarnya tidak sepenuhnya berada di sana.

Bayangan Zira kembali terlintas di kepalanya.

Tadi… Zira tiba-tiba berlari keluar dari kantin dengan ekspresi panik sambil menggenggam pergelangan tangannya, seolah sedang menyembunyikan sesuatu.

Apa yang sebenarnya terjadi?

Pikiran itu membuat Zalleon sedikit tenggelam dalam lamunannya.

Sebuah senggolan di bahunya membuatnya tersentak.

“Leo!” panggil Agra.

“Iya?” jawab Zalleon, kembali sadar.

Agra menatapnya penasaran.

“Hobi lo apa sih? Kita belum pernah dengar.”

“Iya, kasih tahu dong!” timpal Arka dengan antusias.

Zalleon terdiam sejenak, berpikir.

“Hobi?” ia mengulang pelan.

Beberapa detik kemudian ia menjawab dengan jujur,

“Kayaknya… gue nggak punya hobi.”

Saka langsung mengernyit.

“Ah, masa sih? Nggak mungkin nggak ada.”

Zalleon berpikir lagi.

“Hmm… kalau dipikir-pikir…” katanya perlahan.

“Kayaknya gue suka bertarung dan… adu kekuatan.”

Ketiga temannya langsung menatapnya dengan ekspresi bingung.

Agra mengangkat alis.

“Hah? Maksudnya adu kekuatan apa?”

Zalleon langsung tersadar dengan apa yang baru saja ia katakan.

Di dunia manusia… tidak ada yang memiliki kekuatan seperti dirinya.

Ia adalah malaikat penjaga keseimbangan, sesuatu yang tentu saja tidak mungkin ia ceritakan pada mereka.

Melihat ekspresi bingung di wajah ketiga temannya, Zalleon sedikit panik dalam hati.

Namun sebelum ia sempat mengatakan apa pun, Arka tiba-tiba tertawa.

“Oh! Maksud lo boxing kali ya?” katanya.

Saka langsung menimpali dengan mata berbinar.

“Wah, serius? Keren banget! Jadi lo petinju gitu, Leo?”

Zalleon terdiam sebentar.

Lalu ia tertawa kecil dan hanya mengangguk.

“Iya… kurang lebih begitu,” jawabnya.

Ia sebenarnya tidak tahu harus menjelaskan apa lagi.

Agra langsung tertawa keras.

“Wah wah, Leo! Itu cocok banget sama lo. Tampan, terus jago bertinju juga. Sumpah, keren banget!”

Zalleon hanya tersenyum tipis.

“Ah, itu biasa aja. Nggak seberapa dibanding bakat kalian,” katanya dengan rendah hati.

Tak lama kemudian, bel tanda berakhirnya waktu istirahat berbunyi.

Suasana sekolah kembali ramai oleh langkah kaki para siswa yang berhamburan menuju kelas masing-masing.

Arka berdiri lebih dulu dari kursinya.

"Ayo, balik ke kelas," katanya.

Yang lain pun ikut bangkit. Mereka meninggalkan kantin dan berjalan bersama menuju kelas.

***

Waktu berlalu hingga akhirnya bel pulang sekolah menggema di seluruh sudut gedung. Suara kursi yang bergeser dan obrolan para siswa yang mulai berkemas memenuhi ruang kelas.

Zalleon meraih tasnya, tetapi pikirannya masih dipenuhi oleh kejadian siang tadi. Ia menoleh ke sekeliling kelas, mencari sosok Zira di bangkunya. Namun, bangku itu sudah kosong. Gadis itu tidak terlihat di sana.

“Leo, ayo pulang!” seru Arka sambil menepuk pundaknya.

“Iya, sebentar,” jawab Zalleon singkat.

Mereka pun berjalan keluar kelas bersama. Koridor sekolah mulai dipenuhi para siswa yang pulang berbondong-bondong. Di tengah keramaian itu, mata Zalleon masih terus menelusuri sekitar, berharap melihat Zira di antara para siswa.

Namun sebelum ia sempat mencari lebih jauh, Agra tiba-tiba merangkul bahunya dengan semangat.

“Ayo, teman! Kita pulang,” ujar Agra.

Saka ikut menimpali, “Iya, lo bawa motor kan, Leo?”

Zalleon mengangguk. “Iya, gue bawa.”

Arka langsung menatapnya dengan kagum.

“Motor lo keren banget, sumpah, Leo.”

Zalleon tersenyum kecil.

“Ah, biasa aja, Ar.”

Agra kemudian berkata sambil berjalan santai di samping mereka,

“Eh, pulang bareng aja, yuk. Atau gimana kalau kita jalan-jalan dulu? Nongkrong gitu.”

Arka langsung menggeleng.

“Yah, gue nggak bisa. Gue ada latihan band.”

Agra menghela napas kecewa.

“Yah… padahal gue lagi pengen nongkrong.”

Zalleon terdiam sejenak. Dalam pikirannya hanya ada satu hal: Zira. Ia masih ingin mencari gadis itu dan memastikan sesuatu tentang kejadian tadi di kantin.

Akhirnya ia pun mencari alasan.

“Hmm… gue juga nggak bisa. Gue mau pergi ke suatu tempat dulu,” katanya.

Agra mendesah pelan.

“Yah, Leo… ya udah deh.”

Saka menepuk bahu Agra.

“Ayo, Gra. Kita aja.”

Agra akhirnya tersenyum kecil dan mengangguk.

“Ya udah deh kalau gitu. Dah, gue duluan ya!” pamitnya sambil melambaikan tangan.

“Gue juga, bro. Duluan ya!” timpal Saka.

Arka ikut berpamitan sambil berjalan mundur beberapa langkah.

“Ya udah, Leo. Gue duluan juga. Sampai ketemu besok, my friend!”

Zalleon tersenyum lalu mengangguk.

“Iya, hati-hati.”

Setelah mereka semua pergi, suasana koridor mulai sedikit lebih lengang. Zalleon berdiri sejenak, lalu kembali menyapu pandangannya ke sekeliling.

Rasa gelisahnya semakin kuat.

Ia harus menemukan Zira.

Bersambung

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Cintaku 100 Hari   Bab 31

    Udara pagi masih terasa dingin saat Zira melangkah menuju sekolah. Bayangan kejadian kemarin, tatapan Zalleon dan sikapnya, masih belum sepenuhnya hilang dari pikirannya. Namun hari ini bukan hari untuk hanyut dalam perasaan. Hari terakhir ujian akhirnya tiba. Meski langit tampak mendung, suasana di sekolah justru terasa lebih ringan. Wajah-wajah murid terlihat lega, beberapa bahkan sudah mulai berbincang santai tentang liburan, study tour, atau rencana berkumpul bersama teman. Jam ujian pun berlangsung hingga akhirnya mendekati akhir. Zira duduk di bangkunya, menyelesaikan soal terakhir dengan fokus. Setelah yakin, ia meletakkan pensilnya perlahan dan menatap jendela kelas sejenak. “Akhirnya… selesai juga,” gumamnya, diiringi hembusan napas panjang. “Zira!” panggil Manda dari barisan belakang. “Kamu dengar nggak, kabarnya pengumuman study tour ditempel hari ini!” Zira menoleh, matanya berbinar. “Serius? Emang ke mana sih?” "Katanya sih ke Pulau Seruni. Ada pantai, bukit, dan vi

  • Cintaku 100 Hari   Bab 30

    Pagi itu, sinar matahari menyelinap masuk melalui celah tirai kamar Zira, menyapu perlahan wajahnya yang masih lelap. Dentingan jam weker di samping ranjang membangunkannya. Dengan malas, Zira mengusap wajahnya lalu duduk di tepi ranjang. Hari ini adalah hari ujian, dan seperti biasa, dia bersiap lebih awal. Setelah mandi dan mengenakan seragam sekolah, Zira berdiri di depan cermin, merapikan rambutnya yang masih sedikit lembap. Saat hendak berbalik, pandangannya tiba-tiba tertahan pada sebuah benda di atas meja belajarnya. Sebuah kaca spion motor. Kaca spion milik Brayen. Zira terdiam sejenak, menatap benda itu dengan perasaan yang tak nyaman, rasa bersalah bercampur khawatir yang perlahan mengendap di dadanya. "Aduh... gimana aku ngembaliin ini? Apa Brayen bakal marah?" gumamnya pelan sambil menghela napas berat. Jantungnya berdegup tak tenang. Kecemasan mulai merayap, membentuk kepanikan kecil dalam dirinya. Ia lalu membuka tasnya dan dengan hati-hati memasukkan kaca spion itu

  • Cintaku 100 Hari   Bab 29

    Suasana kelas menjadi hening, hanya terdengar suara gesekan pena di atas kertas ujian dan detak jarum jam di dinding. Zira mencoba fokus, tapi pikirannya masih saja berputar pada luka di wajah Zalleon. Sekilas, ia melirik ke belakang, melihat Zalleon yang duduk dengan tenang, tapi jelas terlihat lelah. Zira menghela napas, mencoba mengalihkan pikirannya kembali ke soal. Beberapa menit berlalu, dan akhirnya kringgg! Bel pulang berbunyi nyaring, memecah kesunyian ruangan. Para siswa mulai merapikan kertas ujian dan perlengkapan mereka. Zira juga perlahan memasukkan bukunya ke dalam tas, bersama pulpen dan penghapus yang tadi ia pakai. Saat ia hendak berdiri dari bangku, tiba-tiba ada bayangan berdiri di depannya. Zira mendongak. Itu Zalleon. Jantungnya langsung berdegup cepat. Ia tidak tahu harus berkata apa. Masih ada amarah kecil yang tersisa dari pagi tadi, tapi juga ada kekhawatiran dan rindu yang diam-diam menyelusup ke dalam hatinya. Zalleon menatapnya lembut dan berkata pe

  • Cintaku 100 Hari   Bab 28

    Langkah kaki Brayen terdengar berat dan teratur saat ia meninggalkan taman sekolah. Wajahnya tak lagi menampilkan senyum ramah yang biasa ia tunjukkan pada semua orang. Kali ini, ada sesuatu yang mengendap dalam tatapannya, gelap, dan menyimpan maksud tersembunyi. Tujuannya jelas: menemui Zalleon. Zalleon berdiri di balkon atap sekolah, sendirian. Angin siang berhembus lembut, mengusap rambut hitamnya yang berkilau diterpa cahaya matahari. la menatap langit luas, mencoba menenangkan dadanya yang sesak setelah perbincangannya dengan Zira. Hatinya gelisah, pikirannya penuh dengan kekhawatiran yang tak bisa ia ungkapkan. Tiba-tiba... "Krekk-" Suara pintu atap terbuka memecah keheningan. Zalleon menoleh cepat. Tatapannya langsung berubah tajam. Di sana, berdiri sosok yang tak asing, Brayen. Brayen melangkah mendekat, setiap langkahnya terasa berat dan penuh maksud. Pandangannya tajam menembus udara yang terasa kian menegang. Mereka berdiri saling menatap, membiarkan diam menggantung

  • Cintaku 100 Hari   Bab 27

    Suara alarm ponsel Zira berbunyi pelan, membangunkannya. la membuka mata, menatap langit-langit kamarnya yang kelabu. Dua hari libur sudah berakhir, dan hari ini... ujian dimulai. Zira bangkit, duduk di tepi ranjang, dan menarik napas dalam-dalam. Hatinya sedikit tegang, pikirannya sibuk membayangkan hari yang akan dimulai. Meski begitu, ada rasa aneh yang menggelitik, sebuah perasaan bahwa hari ini tidak akan berjalan seperti biasanya. Ia pun beranjak ke kamar mandi, bersiap seperti biasa. Setelah itu, Zira mengenakan seragam sekolahnya, merapikan rambut, lalu menatap pantulan dirinya di cermin sejenak. Wajahnya tampak tenang, tapi matanya menyimpan kegelisahan yang sulit dijelaskan. “Zira, sudah bangun? Sarapan dulu, Nak,” terdengar suara Ibu dari bawah. “Iya, Bu!” sahutnya sambil meraih tas. Setelah sarapan, Zira mengenakan sepatu dan menggantungkan tas di bahunya. Ia melangkah keluar rumah, membuka pagar perlahan. Namun baru saja kakinya menjejak ke luar, langkahnya mendadak t

  • Cintaku 100 Hari   Bab 26

    Zalleon akhirnya tiba di pantai itu. Ia memarkirkan motornya tak jauh dari tempat pengunjung lain. Saat membuka helm dan turun, matanya langsung menangkap sesuatu sebuah motor yang sangat ia kenal. "Motor itu... milik Brayen," gumamnya, tajam. Tanpa pikir panjang, Zalleon langsung berlari menyusuri pantai. Matanya menelisik ke segala arah, mencari sosok Zira dan Brayen. Angin pantai menerpa rambutnya, langkahnya cepat dan dipenuhi kecemasan. Hingga akhirnya, pandangannya tertuju pada dua orang yang sedang berjongkok di atas pasir. Zira. Gadis itu tertawa riang di samping Brayen. Mereka sedang membuat istana pasir bersama. Wajah Zira tampak sangat bahagia, senyumnya lepas, matanya bersinar. Pemandangan itu menusuk perasaan Zalleon seperti sembilu. Ia terdiam. Napasnya terhembus berat. Ada rasa tak nyaman yang menyeruak dalam dadanya campuran antara cemburu dan rasa kehilangan. Tangannya mengepal, langkahnya ingin maju, ingin menghampiri mereka, ingin membawa Zira pergi dari sana.

  • Cintaku 100 Hari   Bab 19

    Siang itu, cahaya matahari menembus sebagian kaca buram laboratorium, menciptakan pantulan samar di meja-meja eksperimen. Udara di ruangan itu terasa sejuk, bercampur dengan aroma bahan kimia yang khas namun ringan. Suasana cukup tenang, hanya terdengar suara alat tulis yang bergerak dan gumaman pel

  • Cintaku 100 Hari   Bab 15

    Pagi itu, Zira terbangun dari tidurnya dengan sedikit malas. Sinar matahari yang masuk melalui celah jendela menyilaukan matanya. Dengan gerakan lambat, ia beranjak dari tempat tidur dan menuju kamar mandi untuk bersiap-siap berangkat ke sekolah. Saat sedang memasang dasi di lehernya, tiba-tiba terd

  • Cintaku 100 Hari   Bab 13

    Seragam Zira yang masih sedikit basah dan setengah kering membuatnya merasa tidak nyaman. Meski pelajaran sudah dimulai, pikirannya terus kembali ke taman tadi, tangisnya, kata-kata Zalleon yang menenangkannya, dan genggaman tangannya yang hangat. Ia menarik napas pelan, berusaha menenangkan diri.

  • Cintaku 100 Hari   Bab 10

    Keesokan paginya, udara masih terasa sejuk ketika Zira melangkah keluar dari rumahnya. Matahari baru saja naik, cahayanya menyinari jalan kecil di depan rumah. Seperti biasa, Zira berjalan santai sambil memegang tali tasnya, bersiap berangkat ke sekolah. Namun baru beberapa langkah dari gerbang rum

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status