LOGINPeter menyadari aku tidak menceritakan segala hal kepadanya lagi. Saat perusahaan menugaskanku dinas luar kota, aku langsung menandatangani berkasnya. Saat sahabatku mengundang kami berdua ke pernikahannya, aku datang sendiri dan memberikan hadiah yang besar. Bahkan saat sakit, rawat inap, dan harus dioperasi, aku yang mengatur jadwalnya sendiri. Sebagai dokter, Peter mengerutkan kening setelah mengetahuinya. "Kamu sakit kenapa nggak bilang? Berikan rekam medisnya padaku, biar kuatur." Tanpa berpikir panjang, aku menjawab, "Nggak usah, aku bisa sendiri. Jangan sampai merepotkanmu, terima kasih." Begitu kalimat itu terucap, kami berdua sama-sama terdiam. Padahal, setengah bulan yang lalu, aku masih sangat manja dan lengket padanya. Bahkan untuk urusan baju kencan atau menu makan siang saja, aku harus mengirim pesan untuk meminta pendapatnya.
View MoreSetelah selesai makan, Peter sama sekali tidak pernah berpikir untuk berinisiatif memberitahuku, atau sekadar bertanya apa yang sedang kulakukan. Saat itu aku tidak terlalu memikirkannya dan memilih untuk tetap lanjut mengobrol dengannya. Sampai akhirnya, perlahan-lahan Peter makin jarang membalas pesan. Ketika aku mendesaknya, dia hanya akan menjawab dengan dingin. [Apa kamu nggak punya kesibukan sendiri?]....Meskipun aku sudah lama melewati usia di mana aku akan meributkan hal-hal kecil seperti kecepatan membalas pesan, melihat penjelasan dari Bravy tetap saja memberikan rasa bahagia yang samar di dalam hatiku. Namun, aku tetap membalasnya dengan sopan. [Nggak apa-apa, kamu rapat saja dulu, nggak perlu langsung balas pesanku.]Tetapi, bagian atas kolom obrolan seketika berubah menjadi [Sedang mengetik ....]. Cukup lama berlalu. Sebuah pesan teks yang sangat panjang tiba-tiba masuk. [Tentara di masa Perang Dunia II saja masih sempat nulis surat cinta untuk kekasih mereka. Kom
Entah sejak kapan Inggrit sudah berdiri di depan pintu, lalu berjalan mendekat dengan senyum lebar. "Tanyakan saja pada dokter jaga atau dokter pembimbingmu. Mulai sekarang, jangan cari aku lagi." Inggrit tertegun. Senyum di wajahnya seketika membeku, lalu dia menatapku seolah meminta bantuan. "Kak Talia, aku benar-benar nggak paham. Tolong jangan menyulitkan Dokter Peter lagi."Aku tersenyum tipis. "Kami sudah putus, urusan kalian berdua nggak ada hubungannya denganku." Kilatan lega sempat muncul di mata Inggrit, tetapi nada bicaranya justru terdengar seperti ingin menangis. "Kalian jangan bertengkar karena aku, ya ...? Kalau nggak, aku akan merasa sangat bersalah ...."Peter memotong dengan suara dingin, "Buku panduan yang digunakan sama, kenapa orang lain bisa paham tapi cuma kamu yang nggak paham?" "Kalau masalah dasar seperti ini saja kamu nggak ngerti, itu tandanya kamu nggak cocok di dunia medis. Sebaiknya cepat pindah jurusan saja."Sudut mata Inggrit seketika memerah.
"Keinginan untuk berbagi cerita adalah bentuk cinta yang paling romantis. Aku ingin kamu mau menceritakan apa pun padaku, jangan dipendam sendiri. Setiap ponselku berdering, aku selalu berharap itu adalah pesan darimu."Riuh tepuk tangan langsung bergemuruh di dalam ruangan. Di antara kerumunan orang yang ramai, aku langsung melihat Peter. Dia sedang bersandar di dekat pintu, menatap kosong ke arah pengantin pria yang sedang mengikrarkan janjinya. Kemudian, seolah merasakan sesuatu, pandangannya bertemu dengan mataku dari kejauhan.Persis seperti saat kami pertama kali bertemu di SMA dulu. Pada upacara penerimaan siswa baru, dia juga tiba-tiba menoleh di antara kerumunan orang banyak, lalu mata kami saling beradu. Namun, kini aku tidak lagi merasakan debaran jantung yang sama seperti dulu. Yang tersisa hanyalah ketenangan, tanpa ada emosi lain yang tersisa.Setelah upacara selesai, aku pergi ke ruang belakang untuk mengganti pakaian agar bisa menikmati hidangan resepsi. Namun, t
Aku seketika merasa canggung. Baru saja aku hendak menjelaskan, Bravy sudah mengirim pesan lagi.[Ngode aku nih?]Detik berikutnya, dia mengirimkan sebuah gambar bukti transfer. Nominal yang tertera mencapai puluhan juta!Dia mengirim pesan lagi. [Ini bukan salah kirim.] [Temani aku ke acara pernikahan akhir pekan ini.] [Cucu dari sepupu kakekku mau menikah.] [Orang-orang di rumah pasti akan mendesakku untuk cepat menikah, bikin risi saja. Kamu jomlo, ‘kan? Ini uang lemburmu.]Padahal pernikahan Carmen juga hari Sabtu .... Persahabatanku dengan Carmen, kini menghadapi krisis terbesar sepanjang sejarah! Aku menatap deretan angka nol itu, batin bertarung sengit. Namun, pada akhirnya aku berhasil lolos dari godaan kapitalis. Berbekal hati nurani, aku menahan kepedihan hatiku dan mengetik balasan dengan jari gemetar. [Terima kasih banyak, Pak Bravy. Tapi hari Sabtu ini sahabat terbaik saya menikah, jadi saya harus datang.]Begitu pesan berhasil terkirim, aku seolah bisa mendengar












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.