Short
Dokter Peter, Aku Tidak Membutuhkanmu Lagi

Dokter Peter, Aku Tidak Membutuhkanmu Lagi

By:  MuriazCompleted
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
10Chapters
2views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Peter menyadari aku tidak menceritakan segala hal kepadanya lagi. Saat perusahaan menugaskanku dinas luar kota, aku langsung menandatangani berkasnya. Saat sahabatku mengundang kami berdua ke pernikahannya, aku datang sendiri dan memberikan hadiah yang besar. Bahkan saat sakit, rawat inap, dan harus dioperasi, aku yang mengatur jadwalnya sendiri. Sebagai dokter, Peter mengerutkan kening setelah mengetahuinya. "Kamu sakit kenapa nggak bilang? Berikan rekam medisnya padaku, biar kuatur." Tanpa berpikir panjang, aku menjawab, "Nggak usah, aku bisa sendiri. Jangan sampai merepotkanmu, terima kasih." Begitu kalimat itu terucap, kami berdua sama-sama terdiam. Padahal, setengah bulan yang lalu, aku masih sangat manja dan lengket padanya. Bahkan untuk urusan baju kencan atau menu makan siang saja, aku harus mengirim pesan untuk meminta pendapatnya.

View More

Chapter 1

Bab 1

"Besok langsung operasi? Cepat sekali?"

Dokter penanggung jawab menyerahkan rekam medis kepadaku dan bertanya dengan nada heran, "Dokter Peter sebentar lagi pulang dari dinas. Tunggu dia kembali untuk menemanimu ...."

Aku memotong pelan, "Ini urusanku sendiri, bisa kuatasi sendiri."

Dokter itu agak terkejut.

Bagaimanapun juga, aku terkenal sangat manja di sini. Jangankan operasi, sakit kepala atau demam ringan saja aku pasti merengek minta ditemani Peter.

Baru saja keluar dari ruang praktik, aku langsung berpapasan dengan sosok yang familier.

Peter Khafi sedang mendorong koper, seolah baru turun dari pesawat dan langsung bergegas ke rumah sakit.

Inggrit Danis, seperti biasa mengekor di belakangnya. Dia mengenakan mantel wol hitam, hadiah ulang tahun ketiga hubungan kami yang kuberikan untuk Peter.

Peter mengernyit.

"Kenapa kamu di sini? Kamu sakit lagi?"

Lagi.

Nadanya terdengar jengkel dan terbiasa, seolah aku adalah masalah yang merepotkan untuk diurus.

Dia merebut rekam medisku, membacanya sekilas, lalu memerintahku, "Besok aku ada urusan. Undur waktu operasimu sampai minggu depan, nanti kutemani."

Aku refleks menyahut, "Aku bisa sendiri, nggak usah merepotkanmu, terima kasih."

Sikap yang terlampau sungkan dan berjarak itu membuat Peter tertegun.

Padahal dulu, ujung jariku teriris kertas saja, aku akan menangis dan bermanja-manja kepadanya.

Setiap hari aku akan membombardirnya dengan pesan singkat hanya untuk memilihkan baju.

Mulai dari hal sekecil makan tiga kali sehari, hingga keputusan besar dalam hidup, aku selalu berdiskusi dengan Peter.

Namun sekarang, aku bisa menghadapi operasi seorang diri tanpa mengubah ekspresi wajah.

Jika tidak kebetulan berpapasan, dia yang berstatus sebagai kekasihku, bahkan tidak akan tahu hal ini.

Aku merebut kembali rekam medisku. Tanpa sengaja, tindakanku menyenggol kotak obat di tangan Peter hingga terjatuh.

Nama obat itu terlihat jelas di depan mataku. Sekotak ... pil KB.

"Jangan salah paham."

Peter membungkuk untuk mengambilnya, suaranya terdengar formal dan berjarak, "Inggrit kena nyeri haid yang parah, ini obat yang biasa digunakan untuk meredakannya."

Inggrit merapatkan mantelnya, lalu menjelaskan dengan suara lirih dan panik, "Maaf, Kak Talia. Dokter Peter sebenarnya mau langsung pulang. Ini semua salahku yang nggak bisa apa-apa. Karena terlalu sakit sampai nggak bisa berdiri, aku terpaksa merepotkannya untuk menemaniku mengambil obat."

Dia terdiam sejenak, lalu menambahkan dengan nada iri yang tulus, "Seandainya aku bisa mandiri seperti Kak Talia, jadi nggak perlu merepotkan Dokter Peter untuk mengurusku ke sana kemari."

Dulu, aku pernah sakit perut dan bertanya kepada Peter harus berobat ke poli mana.

Tahu apa yang dikatakan oleh wakil kepala dokter saraf termuda di rumah sakit rujukan utama itu?

Dia bilang tidak tahu.

Saat aku mengeluhkan sikap acuhnya, dia menjepit pangkal hidungnya dengan lelah, menatapku seperti melihat anak kecil yang membuat masalah.

"Hal sekecil ini, apa kamu nggak bisa cari tahu sendiri?"

"Kamu sudah dewasa, bisa nggak lebih mandiri? Jangan selalu bergantung padaku seperti bayi gede begini."

"Aku bukan orang tuamu, aku nggak ada kewajiban mengajarimu kebiasaan hidup sehari-hari seperti ini."

Sungguh ironis. Kepada pacarnya sendiri, dia sangat malas bicara. Tetapi kepada adik tingkatnya, dia rela menemani wanita itu periksa dan mengambilkan obat.

Orang yang tidak tahu pasti akan mengira Inggrit adalah kekasihnya.

Jika itu aku yang dulu, aku pasti sudah kehilangan kesabaran dan langsung memicu pertengkaran di tempat.

Namun sekarang, aku hanya mengiyakannya dengan pelan, suaraku terdengar datar tanpa emosi.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
10 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status