Short
Hanya Dianggap Mesin Pemuas Nafsu Suamiku

Hanya Dianggap Mesin Pemuas Nafsu Suamiku

Oleh:  MoonlightTamat
Bahasa: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
8Bab
1Dibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi

"Dok, apa aku bisa menjalani operasi pelebaran leher rahim?" "Punya suamiku ... terlalu besar. Aku benar-benar sudah nggak sanggup." Aku menatap pasien berwajah manis di depanku dengan sedikit terkejut. Banyak orang datang kepadaku untuk menjalani operasi, tetapi kebanyakan ingin mengecilkan leher rahim atau melakukan rekonstruksi selaput dara. Sangat jarang ada yang secara sukarela datang untuk menjalani operasi pelebaran leher rahim. Setelah menanyakan beberapa hal, aku memeriksa kondisi gadis itu. Memang leher rahimnya sedikit sempit, tetapi belum sampai pada tahap yang memerlukan operasi. Aku tak kuasa menasihatinya, tetapi gadis itu langsung menolak. "Punya suamiku sangat besar. Dia juga takut melukaiku, jadi setiap kali kami berhubungan dia selalu menahan diri dengan susah payah." "Aku nggak tega lihat dia terus seperti itu. Dok, tolong jadwalkan operasinya secepat mungkin." Tanpa sadar, aku teringat pada Zevran. Ukurannya juga luar biasa besar, sampai beberapa kali membuatku terluka. Pipiku terasa memanas. Aku segera menepis pikiran itu dan mulai mengatur jadwal operasinya. Saat itulah pintu ruang praktik tiba-tiba didorong hingga terbuka. Seorang pria melangkah masuk dengan langkah lebar. Aku baru saja hendak berbicara ketika melihat gadis itu langsung berlari dan memeluknya. "Sayang!" Aku menatap dua orang yang sedang berpelukan di depanku, sementara darah di seluruh tubuhku terasa membeku sedikit demi sedikit. Ternyata suami yang disebut gadis itu ... adalah suamiku juga. Suami yang telah menikah denganku selama dua tahun. Orang yang sama.

Lihat lebih banyak

Bab 1

Bab 1

Zevran menatap Mireya sambil mengernyit.

"Kalau sekretarisku nggak sengaja melihatmu di rumah sakit, kamu berniat diam-diam menjalani operasi itu tanpa memberitahuku?"

"Aku sudah bilang, apa pun yang terjadi padaku nggak masalah. Jangan menyakiti tubuhmu demi aku."

Suara Mireya terdengar penuh keluhan. "Tapi setiap kali melihatmu menahan diri sekeras itu, hatiku ikut sakit."

Zevran mengusap lembut pipinya. Nada suaranya begitu lembut, jauh berbeda dari biasanya. "Gadis bodoh. Selama aku masih bisa melihatmu tetap di sisiku, itu sudah lebih dari cukup."

"Dibandingkan denganmu, kebutuhan biologis sama sekali nggak berarti. Aku rela menahan diri seumur hidup."

Air mata haru mengalir dari mata Mireya. Keduanya bermesraan tanpa memedulikan siapa pun di sekitar. Sorot mata Zevran sepenuhnya tertuju pada Mireya, sampai-sampai dia bahkan tidak menyadari keberadaanku.

Aku berdiri di samping, seperti orang ketiga yang tidak diinginkan. Padahal semalam, dia masih menggesekkan wajahnya dengan mesra di dekat telingaku. Tubuh kami saling melekat erat, dia berkali-kali menguasai tubuhku dengan penuh gairah.

Kini, dia justru berkata rela hidup selibat demi wanita lain.

"Ayo, kita pulang." Zevran menggandeng tangan Mireya hendak pergi, tetapi Mireya tetap berdiri di tempat.

"Sayang ... aku tetap ingin menjalani operasinya," ucapnya dengan sedikit malu.

"Aku ingin membuatmu bahagia. Lagi pula ... aku juga ingin kita punya bayi."

Zevran langsung menolaknya dengan tegas, "Aku nggak akan membiarkan tubuhmu terluka."

Saat keduanya masih saling bersikeras, sebuah pena di atas meja tidak sengaja tersenggol hingga jatuh.

Zevran menoleh ke arahku. Ketika pandangannya bertemu wajahku yang pucat pasi, kedua pupil matanya langsung menyempit. Namun hanya beberapa detik kemudian, ekspresinya kembali tenang.

"Patuh sedikit, kita pulang dulu." Zevran pun membawa Mireya pergi.

Aku terduduk lemas di kursi. Seluruh tubuh terasa kaku. Dadaku seolah dipenuhi segumpal kapas, terasa sesak sekaligus nyeri.

Aku tidak pernah membayangkan bahwa Zevran akan berselingkuh. Namun, kenyataan itu kini terpampang jelas di hadapanku tanpa memberi kesempatan untuk bersiap.

Aku menutupi wajahku. Air mata mengalir tanpa bisa dihentikan.

Saat itu, pintu tiba-tiba diketuk. Perawat di luar datang mengingatkanku bahwa pasien berikutnya sudah menunggu.

Aku buru-buru menghapus air mata, memaksa diri menahan semua emosi, lalu melanjutkan pemeriksaan.

Baru setelah jam pergantian sif berakhir, aku menyeret tubuh yang mati rasa pulang ke rumah.

Rumah itu gelap gulita. Aku baru hendak menyalakan lampu ketika tubuh hangat seseorang menempel dari belakang.

Aroma yang begitu kukenal memenuhi hidungku. Itu Zevran. Dia nyaris tidak memberiku waktu untuk bereaksi sebelum menekan tubuhku ke atas sofa.

Aku tidak menyangka ... setelah aku memergoki perselingkuhannya, bukan penjelasan yang dia berikan, melainkan pelampiasan hasratnya.

Aku meronta sekuat tenaga. "Jangan sentuh aku!"

Dengan mudah, Zevran menahan kedua tanganku. "Kamu nggak mau?"

Aku menatapnya dengan tak percaya. Suaraku bahkan bergetar. "Zevran, nggak ada yang ingin kamu jelaskan kepadaku?"

Bagaimana mungkin dia bisa setenang ini, seolah-olah tidak ada apa pun yang telah terjadi?

Zevran mengerutkan kening menatapku. Nada suaranya tetap datar. "Dia nggak akan memengaruhi posisimu. Kita cukup mempertahankan keadaan seperti sekarang."

Aku tidak percaya dengan apa yang baru saja kudengar. "Ka ... kamu bilang apa?"

"Tubuhnya nggak bisa memuaskanku, kondisi fisiknya juga nggak cocok untuk hamil. Anggap saja kamu nggak tahu apa-apa. Kita tetap seperti sebelumnya."

Sambil berkata demikian, dia mengeluarkan ponselnya. Detik berikutnya, aku menerima transfer sebesar 10 miliar.

"Berhenti dari pekerjaanmu."

Mulutku terbuka, tetapi tak satu kata pun mampu keluar.

Saat itu, ponselnya tiba-tiba berdering. Zevran melepaskan tubuhku. Nada suaranya seketika berubah menjadi sangat lembut. "Oke, aku segera ke sana."

Setelah menutup telepon, dia langsung melangkah pergi tanpa menoleh lagi.

Aku terpaku di tempat. Hatiku terasa makin dingin. Aku tahu orang di seberang telepon itu adalah Mireya.

Air mataku terus mengalir tanpa henti. Aku mengambil ponsel, lalu menelepon seseorang. "Tolong bantu aku siapkan surat perjanjian cerai."

Tampilkan Lebih Banyak
Bab Selanjutnya
Unduh

Bab terbaru

Bab Lainnya

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Tidak ada komentar
8 Bab
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status