تسجيل الدخولBelakangan ini, ada satu program yang lagi tren di internet, yaitu mengobrol dengan diri sendiri di masa depan. Sebelum ujian masuk perguruan tinggi dimulai, aku hanya sekedar ikut-ikutan mengirim satu pesan, [Diriku di masa depan, aku dan Eric akhirnya menikah?] Layar ponselku berkedip sebentar, lalu sebuah balasan dari ‘nomor tak dikenal’ tiba-tiba masuk hanya dalam hitungan detik. [Menikah, pesta pernikahannya sangat megah.] Sambil menggenggam erat ponselku, jariku mengetik dengan cepat. [Lalu? Pendamping pengantinnya Kirana, ‘kan? Dia itu sahabat terbaikku!] Balasannya tetap sangat cepat, [Iya, dia pendampingnya. Dia bukan hanya sekadar pendamping pengantin, tapi juga istri suamimu di malam pertama.] Seketika, senyuman di bibirku membeku. Kemudian, pesan ketiga kembali muncul. [Sebenarnya, kamu nggak perlu sengaja menurunkan standarmu demi menemaninya. Dia sengaja membuat nilai matematikanya jelek, biar bisa tetap di kota yang sama bersama Kirana yang nilainya paling jelek.] [Dia mau kamu melepaskan kesempatan masuk universitas terbaik demi dirinya, hanya karena nggak mau Kirana merasa minder gara-gara nilaimu bagus.] Tiba-tiba, bel tanda masuk ruang ujian berbunyi. Namun, seluruh tubuhku merinding, tak sanggup bergerak sedikitpun. Pesan terakhir itu pun memberikan hantaman yang mematikan. [Kalau nggak percaya, begitu selesai ujian, langsung pergi saja ke hotel di jalan belakang sekolah. Kamu bakal lihat sendiri kenyataannya.]
عرض المزيدWaktu berlalu cepat, tujuh tahun pun lewat dalam sekejap.Menurut pesan dari nomor tak dikenal saat itu, seharusnya hari ini adalah malam pernikahanku dengan Eric, sekaligus hari di mana diriku menjadi bahan tertawaan seluruh Kota Jakut.Namun sekarang, aku berdiri di atas panggung penghargaan nasional, memegang piala penghargaan ilmuwan muda berprestasi tahun ini.Tepuk tangan meriah membahana di seluruh ruangan.Toni duduk tepat di tengah barisan paling depan. Dia mengenakan setelan jas rapi dan menatapku dengan tatapan yang bangga.Satu tahun yang lalu, kami resmi bertunangan dengan disaksikan oleh orang tua dari kedua belah pihak.Toni tak pernah mematahkan sayapku, melainkan menjadi angin yang menopangku untuk tebang ke langit yang lebih tinggi.Setelah acara penghargaan selesai, aku menerima sebuah foto tangkapan layar dari teman SMAku di ruang belakang panggung.Tangkapan layar itu berisi kabar tentang Eric dan Kirana.Waktu itu, mereka berdua sama-sama tak menyelesaikan kuliah.
Yang membukakan pintu adalah ibuku.“Tante! Di mana Liana? Dia sakit? Makanya nggak pergi mendaftar ulang?” Eric bermandi keringat, sorot matanya tampak begitu cemas.Ibuku menatap dingin ke arah pria yang dulu pernah dia anggap seperti anak sendiri, matanya penuh dengan rasa kecewa dan jijik.“Kamu jangan mencari Liana lagi.” Nada suara ibuku tetap tenang, “Liana sudah terbang ke Kota Jakut tiga hari yang lalu. Hari ini adalah hari pertama masuk kuliah di Universitas Indonesia.”Eric seperti tersambar petir. Seluruh tubuhnya membeku di tempat, pikirannya tiba-tiba kosong.“Nggak mungkin...nggak mungkin...” Dia bergumam sendiri, “Dia sudah janji padaku, dia jelas-jelas sudah janji padaku...”“Janji apa padamu? Janji untuk merusak masa depannya sendiri? Untuk terus tetap tinggal di sini dan melihat kamu berselingkuh dengan wanita lain?”Ibuku menghancurkan semua kedoknya tanpa ampun, “Eric, mulai sekarang jangan pernah datang lagi ke rumah kami, kami merasa jijik.”Pintu rumah pun ditut
Sore itu, Kirana menerobos masuk ke rumahku dengan mata berkaca-kaca.Tak ada lagi topeng polos dan tak berdaya yang biasa dia pakai. Dia terlihat seperti seekor anjing gila yang terdesak, menatap tajam ke arah surat penerimaan Universitas Indonesia berwarna merah menyala yang ada di atas mejaku.“Liana, kamu mempermainkanku?!” jerit Kirana dengan suara melengking yang memekakkan telinga. “Kamu jelas-jelas bilang ujian terakhir kemarin nggak diisi?! Kamu jelas-jelas bilang mau masuk kampus swasta bersama kami! Kok membohongiku?!”Melihat reaksinya yang terpuruk, aku hanya merasa puas luar biasa.“Kok aku nggak boleh membohongimu?” Aku menatapnya dengan dingin, “Hanya kalian berdua yang boleh membohongiku di atas ranjang hotel, sedangkan aku nggak boleh menyiapkan jalan pintas untuk diriku sendiri di ruang ujian?”Seketika, wajah Kirana menjadi pucat. Akhirnya dia sadar kalau aku sudah tahu semuanya sejak awal.Karena topengnya sudah dihancurkan, dia pun tak berpura-pura lagi.“Iya! Aku
Di hari pembukaan sistem pengisian pilihan kampus, Kirana datang ke rumahku.Begitu masuk, dia langsung mau memegang tanganku, tapi aku buru-buru menghindar.“Liana, aku dengar kamu lagi kelahi dengan Eric?” Kirana menggigit bibir bawahnya, berakting dengan raut wajah yang penuh kehati-hatian.“Eric selalu mabuk-mabukkan di rumah beberapa hari ini, bahkan nggak mau isi pilihan kampus. Ada apa dengan kalian sebenarnya? Gara-gara aku ikut ke Nihi, makanya kamu jadi nggak senang?”Melihat gaya sok polosnya yang manipulatif ini, aku hanya bisa tertawa dingin dalam hati.Kirana mungkin belum tahu kalau sebenarnya aku sudah pernah ke hotel itu. Eric si pengecut itu jelas-jelas tak berani membocorkan kenyataan yang sebenarnya ke Kirana dan hanya bilang kalau kami berdua sedang berkelahi.“Nggak ada, aku hanya sudah bosan saja.” Aku berjalan ke meja komputer dan duduk, nada bicaraku terdengar datar, “Untuk apa kamu datang mencariku?”Melihat sikapku yang dingin, ada kilatan tajam di dasar mata


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.