Share

Cintamu Sudah Nggak Laku
Cintamu Sudah Nggak Laku
Penulis: Pir

Bab 1

Penulis: Pir
Pada pertemuan kedua, Sandra mendengar bahwa Julian sama sekali tidak minum alkohol dan tidak menyukai tempat ramai.

Maka, dia sengaja memilih sebuah bar sebagai tempat bertemu. Sandra berjoget dan bersenang-senang di hadapannya, kemudian menyodorkan segelas wiski ke bibir tipis pria itu.

Sandra semula mengira Julian akan menunjukkan wajah tidak senang. Namun, pria itu malah menurut dan menenggak wiski tersebut sampai habis. Setelahnya, dia terbatuk pelan beberapa kali hingga bibir pucatnya sedikit memerah.

Julian kemudian mengeluarkan saputangan putih dan dengan lembut menyeka keringat di pelipis Sandra.

Sandra mencium aroma pohon cedar dari saputangan itu, bercampur sempurna dengan aroma kayu gelap yang dingin dan khas dari tubuh Julian.

Pertemuan ketiga mereka berlangsung dalam sebuah jamuan makan malam.

Musuh bebuyutan Sandra menyindirnya dengan nada sinis, "Reputasi Sandra sudah terkenal buruk. Jangan-jangan dia sudah ditiduri banyak pria, bahkan mungkin sudah kena penyakit kelamin!"

"Pak Julian benar-benar sial sampai harus nikahin dia."

Sandra bahkan belum sempat membalas ketika Julian, yang duduk di kursi utama, bertanya dengan tenang, "Siapa namamu?"

Mendengar pertanyaan itu, musuh bebuyutan Sandra langsung menyebutkan nama dan identitasnya dengan penuh semangat. Julian hanya mengangguk, lalu berkata, "Mulai sekarang, kamu nggak diterima lagi di semua acara yang diselenggarakan Keluarga Pratama."

Dia bangkit dari kursinya. Tubuhnya tegap dan kokoh, bagaikan pohon pinus.

Suaranya tidak keras, tetapi ketegasannya membuat tak seorang pun berani membantah.

"Ingat baik-baik. Sandra itu wanita yang aku pilih. Lebih dari itu, dia adalah Nyonya Pratama."

"Di mataku, dialah yang terbaik."

Seketika, suara-suara di sekitar Sandra terdengar makin jauh. Yang tersisa hanyalah detak jantungnya sendiri yang berdegup begitu keras.

Pada akhirnya, Sandra menerima pernikahan itu. Tanpa disadarinya, perasaannya kepada Julian justru kian dalam.

Setelah menikah pun, Julian tetap tenang dan terkendali di hadapannya. Bahkan dalam hubungan suami istri, dia selalu menjaga batas dan bersikap begitu tertib, seolah hanya sedang menjalankan kewajibannya. Tak pernah Sandra menemukan sedikit pun gairah atau gejolak cinta di matanya.

Ketika Sandra mengetahui dirinya hamil, Julian hanya terdiam sejenak dan berkata, "Kamu sudah bekerja keras." Nada suaranya begitu tenang, seperti saat dia memuji bawahannya yang baru menyelesaikan pekerjaan. Tak ada sedikit pun kegembiraan yang seharusnya dimiliki seorang calon ayah.

Meski begitu, Sandra tetap mengira pernikahan mereka adalah hubungan yang sama-sama mereka perjuangkan. Mungkin Julian memang hanya tidak pandai mengungkapkan perasaannya.

Sampai tiga bulan setelah kehamilannya, Sandra menyaksikan sendiri Julian yang biasanya dingin dan tak tergoyahkan menghajar seorang pria bertubuh tambun di sebuah ruang privat. Pukulannya bertubi-tubi, bahkan sampai membuat sudut matanya memerah karena amarah.

Tanpa mengerti apa yang terjadi, Sandra buru-buru menarik lengan bajunya. "Dia sudah pingsan! Kamu bisa bunuh dia!"

Julian menoleh. Aura ganas terpancar dari tubuhnya, sementara tatapannya sedingin es. "Apa hakmu menghalangiku?"

"Lepasin."

Napas Sandra tercekat. Tubuhnya seketika terasa dingin, dan tangannya pun perlahan terlepas.

Saat itulah seorang wanita bertubuh kurus berlari menghampiri. Dia memeluk erat pinggang dan punggung Julian, lalu berkata dengan suara tercekat dan tubuh gemetar, "Julian, jangan pukul dia lagi!"

Julian langsung menoleh.

Untuk pertama kalinya, Sandra melihat berbagai emosi yang begitu rumit di wajah pria yang selama ini selalu tenang dan terkendali itu.

Ada rasa kaget, keheranan, rasa bersalah, dan ... kerinduan serta cinta yang begitu dalam hingga nyaris meluap.

Tatapan Julian kemudian jatuh pada bekas kemerahan di leher wanita itu. Wajahnya seketika menggelap. Tanpa mengatakan apa-apa, dia mengangkat wanita tersebut dan membawanya pergi dengan langkah cepat.

Dia bahkan tidak sempat mengingat bahwa istri sahnya masih berdiri sendirian tak jauh dari sana.

Tangan dan kaki Sandra terasa dingin. Dengan tubuh kaku, dia mengangkat wajah dan mendapati tatapan iba dari teman-teman masa kecil Julian. Dari sorot mata mereka, seolah mereka sudah tahu apa yang sebenarnya terjadi.

"Sudah lima tahun berlalu, tapi Julian masih belum bisa lupain dia."

Salah seorang yang tidak tahu apa-apa bertanya penasaran, "Sebenarnya apa yang terjadi? Apa wanita itu cinta pertama Julian?"

"Lebih dari itu. Dia orang yang akan selalu jadi kesayangannya seumur hidup." Teman masa kecil Julian menggeleng penuh penyesalan. "Sayangnya, kedua keluarga misahin mereka. Pihak wanita nggak sanggup nahan tekanan dan akhirnya milih mengakhiri hubungan mereka."

"Tapi Julian nggak pernah nyalahin dia. Bahkan demi wanita itu, dia rela menikah lewat perjodohan."

"Gimana mungkin Julian jatuh cinta sama Sandra? Dia cuma pakai pernikahan ini untuk berpura-pura bahwa hidupnya baik-baik saja, supaya wanita yang dicintainya nggak khawatir atau merasa bersalah. Bagi Julian, selama wanita itu bahagia, dia rela mengorbankan apa saja, bahkan pernikahannya sendiri."

"Sayangnya, wanita itu malah menikah dengan pria yang salah dan ngalamin kekerasan dalam rumah tangga. Suaminya juga suka main perempuan dan hidup semaunya. Julian sudah tahu semuanya dan murka besar ... Sudah lama aku nggak pernah lihat dia semarah itu."

Pikiran Sandra seketika kosong. Dia mencengkeram tepi meja erat-erat agar tubuhnya tidak sampai jatuh.

Jadi selama ini, pernikahan mereka tak lebih dari sebuah sandiwara. Kebohongan besar yang sengaja disimpan Julian untuk menyembunyikan kebenaran darinya.

Kini Sandra mengerti mengapa Julian, yang selalu bersikap dingin dan acuh kepadanya saat mereka berdua, berkali-kali tampil membelanya di depan umum.

Selama ini dia mengira Julian sedang menunjukkan perhatian khusus kepadanya. Ternyata semua itu hanyalah sandiwara yang sengaja dimainkan demi wanita yang dicintainya.

Kini dia juga mengerti mengapa Julian, yang selalu rendah hati dan tertutup, sampai mengundang lebih dari seratus media untuk meliput pernikahan mereka.

Itu bukan bentuk penghargaan ataupun kasih sayang seperti yang selama ini dia kira. Semua itu sudah dirancang dan disamarkan demi tujuan lain.

Ketika rasa nyeri yang begitu pekat menjalar ke seluruh tubuhnya, Sandra mendengar seseorang kembali bertanya, "Siapa nama wanita itu?"

"Nadine Laksono."

Jantung Sandra seakan berhenti berdetak. Dia menoleh tak percaya, lalu mendengar teman masa kecil Julian mengulanginya. "Cinta pertama Julian namanya Nadine."

Nama sederhana itu terasa seperti sepasang pisau tajam berlapis es, menusuk lalu mengoyak hatinya hingga berdarah.

Sandra segera bergegas menuju pintu. Begitu melangkah keluar, tangan gemetarnya menyentuh perut yang mulai sedikit membuncit. Air matanya pun mengalir deras.

Nadine.

Begitu mengetahui Sandra hamil, nama pertama yang diberikan Julian kepada bayi mereka adalah "Nadia Pratama".

Saat itu, Sandra sempat berbisik, "Nadia, Nadia. Indah sekali." Senyum bahagia menghiasi wajahnya hingga sudut matanya melengkung. Lalu dia bertanya pelan kepada Julian, "Kamu sudah nentuin namanya secepat ini. Apa kamu juga sama kayak aku? Sejak awal sudah menantikan kedatangan si kecil ini?"

Sandra mengira diamnya Julian karena malu dan menganggapnya sebagai jawaban setuju. Dengan gembira, dia pun langsung masuk ke dalam pelukan pria itu.

Dia sama sekali tidak menyadari bahwa nama "Nadia" diambil dari nama Nadine, kemudian diberi marga Julian.

Nama itu adalah cara Julian melampiaskan kerinduannya kepada Nadine di hadapan para tamu yang memenuhi pesta pernikahan mereka.

Dan satu-satunya orang yang dijadikan bahan lelucon dalam semua itu adalah Sandra.

Di sudut ruangan yang remang-remang, wajah Sandra sudah basah oleh air mata. Namun, dengan ujung jari yang memutih karena menggenggam terlalu erat, dia tetap menelepon seseorang.

"Pak Andre, tolong siapin perjanjian perceraian buat aku." Suaranya bergetar dan serak, tetapi setiap katanya terdengar jelas. "Aku mau cerai dengan Julian."

Sandra adalah putri sulung Keluarga Kirana. Sejak kecil, dia terbiasa hidup bebas dan melakukan apa pun sesuka hatinya!

Dia tidak menyangkal bahwa dirinya pernah mencintai Julian dengan sepenuh hati.

Namun, pernikahan yang sejak awal dibangun di atas kebohongan ini tidak akan pernah dia lanjutkan. Sekalipun untuk mengakhirinya dia harus mengoyak hatinya sendiri!

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Cintamu Sudah Nggak Laku   Bab 15

    Julian dirawat di rumah sakit selama sebulan penuh.Dokter menatapnya dengan raut wajah berat, seolah ada sesuatu yang ingin dikatakan tetapi urung diucapkan. "Pak Julian, kalau sampai ini terjadi lagi, Anda nggak akan mungkin selamat."Julian sama sekali tidak memedulikannya.Pikirannya hanya tertuju pada satu hal, diam-diam mencari tahu kabar terbaru tentang Sandra.Dia tahu bahwa kini Sandra menjadi pengelola sebuah studio seni dan telah menjadi seorang seniman yang sangat berbakat. Baru-baru ini, Sandra menggelar pameran lukisan yang menarik perhatian dunia dan mendapat banyak pujian dari para profesional di bidangnya.Dia juga tahu bahwa kehidupan pernikahan Sandra sangat bahagia. Keluarga Jinata sama sekali tidak mempermasalahkan statusnya sebagai janda maupun fakta bahwa dia pernah mengalami keguguran. Sebaliknya, mereka justru sangat menerima Sandra sebagai keluarga.Dia tahu betapa berat dan sulitnya perjuangan Sandra selama dua tahun terakhir. Namun, selama itu pula Fredy sel

  • Cintamu Sudah Nggak Laku   Bab 14

    Di sisi lain, Sandra sudah masuk ke dalam mobil.Malam ini adalah malam pertama pernikahannya. Fredy telah menghabiskan lebih dari setengah tahun untuk mempersiapkan pernikahan ini, tetapi karena kemunculan Julian, suasana yang seharusnya sempurna itu sempat mengalami sedikit kekacauan."Maaf."Baru saja Sandra membuka mulut, Fredy sudah lebih dulu meminta maaf dengan suara rendah.Fredy menepikan mobil, lalu dengan lembut menyibakkan rambut yang jatuh di sisi wajah Sandra. "Maaf. Aku yang nggak meriksa daftar tamu dengan baik."Namun, Keluarga Jinata adalah keluarga elite dengan kekayaan yang bahkan berkali-kali lipat lebih besar daripada Keluarga Pratama. Para tamu yang mereka undang hampir mencakup para pengusaha dari seluruh dunia. Dengan jumlah sebanyak itu, bagaimana mungkin daftar tamu diperiksa satu per satu tanpa ada yang terlewat?Melihat cinta di mata Fredy yang sama sekali tidak berubah, hati Sandra pun perlahan luluh.Dia tahu betul bahwa cintanya kepada Fredy berbeda deng

  • Cintamu Sudah Nggak Laku   Bab 13

    Rasa hampa yang selama ini seperti menghantuinya seketika lenyap saat Julian memeluk Sandra.Julian memeluknya makin erat, seolah ingin meleburkan wanita itu ke dalam tulang-belulangnya agar mereka tidak pernah terpisahkan lagi.Namun, Sandra segera melepaskan diri sekuat tenaga, lalu menampar wajah pria itu!"Plak!" Suara tamparan nyaring menggema.Saat Julian masih tertegun, Sandra mendorongnya dengan kuat."Kita sudah nggak punya hubungan apa-apa lagi." Suara Sandra terdengar datar. "Tolong jaga sikapmu, Pak Julian."Napas Julian memburu. Dia ingin sekali membawa Sandra pergi dengan paksa, tetapi dia takut tindakan itu justru akan membuat Sandra makin membencinya.Dia tidak bisa menerima kenyataan ini. Bagaimanapun juga, dialah yang telah mengecewakan Sandra."Sandra, aku cinta padamu." Julian rela membuka seluruh isi hatinya di hadapan Sandra, asalkan wanita itu mau mendengarkan perasaannya.Pria yang biasanya tetap tenang bahkan saat menandatangani kontrak kerja sama bernilai ratu

  • Cintamu Sudah Nggak Laku   Bab 12

    Sandra sama sekali tidak menyadari tatapan penuh cinta Julian yang tertuju kepadanya.Di momen sepenting ini, seluruh perhatian tertuju kepada dirinya dan Fredy. Telapak tangannya sedikit berkeringat, sementara jantungnya berdegup kencang.Menyadari kegugupan Sandra, Fredy tersenyum lembut, lalu mengambil cincin pernikahan dari tangan pelayan. Setelah itu, dia berlutut dengan satu kaki dan menjalani momen tersebut dengan begitu khidmat, seolah tengah mempersembahkan permata paling berharga dalam hidupnya. "Sandra, aku mencintaimu. Maukah kamu menikah denganku?"Di tengah sorak-sorai para tamu, mata Sandra perlahan berkaca-kaca. Rasanya seperti berada di dalam mimpi.Ini adalah pernikahan keduanya. Bahkan Sandra sendiri merasa sedikit terkejut karena dalam waktu sesingkat ini, dia kembali melangkah ke jenjang pernikahan.Dulu, dia mengira tidak akan pernah lagi memercayai siapa pun seumur hidupnya. Namun, Fredy hadir dalam hidupnya. Dengan kelembutan, kesabaran, dan perhatian yang diber

  • Cintamu Sudah Nggak Laku   Bab 11

    Dua tahun kemudian.Gemerlap lampu memenuhi sebuah bar yang masih ramai meski malam telah larut.Seorang wanita dengan bando telinga kelinci mendekat, nyaris menempel pada tubuh Julian. Dengan bibir merahnya, dia meniupkan napas ke telinga pria itu sambil bertanya manja, "Pak Julian, mau minum?"Namun, hanya satu kata yang keluar dari mulut Julian, dingin tanpa sedikit pun kehangatan. "Pergi." Wanita itu langsung pucat dan buru-buru menjauh.Sahabat dekat Julian yang menyaksikan semuanya hanya bisa menghela napas panjang. "Julian, sudah dua tahun berlalu. Jangan nyiksa diri terus kaya begini."Bukan pertama kalinya dia mengajak Julian keluar untuk mengalihkan pikirannya. Namun, setiap kali seorang wanita mencoba mendekat, satu tatapan dingin Julian sudah cukup untuk membuat mereka mundur.Sahabatnya menatapnya serius. "Julian, lepasin Sandra. Cari seseorang yang lebih baik. Suatu hari nanti, kamu pasti bisa lupain dia, sama kayak dulu waktu kamu berhasil bangkit dari luka yang ditingg

  • Cintamu Sudah Nggak Laku   Bab 10

    Julian perlahan menundukkan kepala. Wanita yang dulu begitu dicintainya masih gemetar dalam pelukannya, tetapi yang memenuhi pikirannya kini justru bukti-bukti yang diunggah Sandra ke internet.Nadine-lah yang memerintahkan para pengawal untuk memaksa Sandra berlutut dan memohon ampun, lalu menginjak-injak harga dirinya sampai tak tersisa.Bahkan Nadine bersekongkol dengan mantan suaminya dan memberinya sejumlah besar uang, hanya demi menyiksa Sandra dengan sengaja.Untuk pertama kalinya, Julian merasa wanita di hadapannya begitu asing. Seolah-olah Nadine bukan lagi gadis polos dan murni yang dulu dia cintai."Apa sebenarnya yang sudah kamu lakukan pada Sandra?" Suara Julian terdengar tenang. Tatapan gelapnya terpaku pada Nadine, dalam dan dingin, seolah mampu menenggelamkannya ke dasar jurang."Jangan bohong, Nadine. Kamu tahu kayak apa aku. Aku paling benci pengkhianatan, apalagi kebohongan."Suara dingin itu membuat tangisan Nadine seketika terhenti.Nadine terisak, lalu mengalihkan

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status