Share

Bab 2

Penulis: Pir
Keesokan harinya, Sandra membawa surat perjanjian perceraian dan langsung menuju Grup Pratama.

Kebetulan, Julian sedang memimpin rapat di sana.

Di ruang rapat berdinding kaca yang dipenuhi cahaya matahari, Julian menjadi pusat perhatian.

Lengan jasnya digulung hingga sebatas lengan bawah, memperlihatkan garis otot yang tegas. Jemarinya mengetuk meja dengan ringan, memancarkan ketenangan sekaligus ketegasan khas seorang pria yang terbiasa memegang kendali.

Ketampanan dan keseriusan itulah yang dulu membuat Sandra jatuh hati kepadanya.

Sandra menekan rasa getir di dalam hati, lalu menyerahkan surat perjanjian perceraian kepada asistennya.

Saat surat itu sampai ke tangan Julian, pria tersebut sedang berkonsentrasi mendengarkan laporan bawahannya.

Tanpa banyak berpikir, dia langsung membubuhkan tanda tangan dengan cepat.

Semuanya berlangsung begitu lancar, sampai-sampai terasa sulit dipercaya.

Sandra menerima beberapa lembar kertas yang terasa begitu ringan itu. Dia berdiri terpaku, menatapnya cukup lama, sebelum akhirnya memasukkannya ke dalam tas.

Baru saja hendak pergi, sebuah suara lembut memanggilnya, "Nona Sandra, tunggu sebentar."

Nadine menatapnya dengan wajah penuh rasa bersalah. "Aku baru saja tahu nama anak itu. Aku mau minta maaf padamu ... Julian cuma terlalu cinta padaku. Dulu, dia juga sering nyakitin banyak orang yang nggak bersalah karena aku."

"Dia sangat menghargai setiap detik yang kami habiskan bersama. Ponselnya sering dimatiin atau dibuat dalam mode senyap. Bahkan ketika rekan kerjanya punya urusan mendesak, mereka harus datang langsung ke rumah."

"Dia juga selalu ngasih aku rasa aman. Dia bahkan minta asistennya kasih tahu aku jadwal pekerjaannya setiap dua jam. Sampai-sampai asistennya sering kerepotan."

Sosok Julian yang diceritakan Nadine terasa begitu asing bagi Sandra.

Sepengetahuan Sandra, Julian bahkan tidak suka berada di ruangan yang sama dengannya. Selama lima tahun menjadi suami istri, mereka selalu tidur di kamar terpisah. Bahkan setelah berhubungan intim, semuanya tetap sama.

Setiap kali Sandra menceritakan sesuatu yang menarik, Julian selalu menyela dengan nada datar, mengatakan bahwa masih ada pekerjaan yang harus diselesaikannya, meski tidak ada seorang pun yang mengganggu mereka.

Setiap kali Sandra dengan hati-hati menanyakan keberadaan Julian kepada asistennya, jawaban yang dia terima selalu formal, "Maaf, nggak bisa saya sampaikan."

Jadi begitulah perbedaan antara dicintai dan tidak dicintai di mata Julian.

Tanpa disadarinya, kuku-kukunya sudah menekan telapak tangan begitu kuat. Rasa nyeri terus terasa, tetapi dia tetap tidak menunjukkannya.

Sandra hanya tersenyum tipis. "Itu semua sudah berlalu. Tapi kalau kamu nyeritain semua ini karena ingin kembali bersama suamiku ... apa kamu sedang mencoba merebut suami orang?"

Nadine tidak menyangka Sandra akan membalasnya dengan begitu tajam. Wajahnya seketika berubah. "Kamu kira Julian milih nikahin kamu karena dia benar-benar suka sama kamu?"

"Dia paling benci wanita sombong dan angkuh kayak kamu!"

"Dia hanya butuh pernikahan palsu. Daripada mengecewakan perempuan lain yang cantik dan anggun, lebih baik dia milih kamu. Lagi pula, sejak awal kamu memang nggak tahu malu dan selalu suka menentang norma!"

Mata Sandra terbelalak.

Sejak kecil, orang-orang di sekitarnya selalu mengatakan bahwa dia harus bersikap lembut dan pandai mengambil hati orang lain, supaya kelak bisa membantu keluarganya melalui pernikahan.

Namun, Sandra menolak. Memangnya kenapa?

Dia ingin menjalani hidup dengan caranya sendiri.

Selama ini, Sandra selalu mengira Julianlah orang yang paling memahami dirinya.

Bahkan, dia jatuh cinta kepada Julian karena pernah mendengar pria itu berkata, "Jadilah dirimu sendiri."

Namun ternyata, itu bukan karena Julian benar-benar memahaminya. Justru karena Sandra tetap keras kepala dan bertindak sesuka hati, Julian bisa dengan leluasa menyakitinya dan memanfaatkannya tanpa perlu merasa bersalah.

Tiba-tiba, terdengar keributan samar dari kejauhan. Rapat telah berakhir.

Nadine meraih tangan Sandra. "Sandra, Julian hanya akan jadi milikku."

Tepat setelah Julian melangkah keluar dari ruang rapat, Nadine menjerit, "Jangan dorong aku!"

Sambil menarik Sandra, dia membuat mereka berdua terjatuh ke arah tangga di belakang.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Cintamu Sudah Nggak Laku   Bab 15

    Julian dirawat di rumah sakit selama sebulan penuh.Dokter menatapnya dengan raut wajah berat, seolah ada sesuatu yang ingin dikatakan tetapi urung diucapkan. "Pak Julian, kalau sampai ini terjadi lagi, Anda nggak akan mungkin selamat."Julian sama sekali tidak memedulikannya.Pikirannya hanya tertuju pada satu hal, diam-diam mencari tahu kabar terbaru tentang Sandra.Dia tahu bahwa kini Sandra menjadi pengelola sebuah studio seni dan telah menjadi seorang seniman yang sangat berbakat. Baru-baru ini, Sandra menggelar pameran lukisan yang menarik perhatian dunia dan mendapat banyak pujian dari para profesional di bidangnya.Dia juga tahu bahwa kehidupan pernikahan Sandra sangat bahagia. Keluarga Jinata sama sekali tidak mempermasalahkan statusnya sebagai janda maupun fakta bahwa dia pernah mengalami keguguran. Sebaliknya, mereka justru sangat menerima Sandra sebagai keluarga.Dia tahu betapa berat dan sulitnya perjuangan Sandra selama dua tahun terakhir. Namun, selama itu pula Fredy sel

  • Cintamu Sudah Nggak Laku   Bab 14

    Di sisi lain, Sandra sudah masuk ke dalam mobil.Malam ini adalah malam pertama pernikahannya. Fredy telah menghabiskan lebih dari setengah tahun untuk mempersiapkan pernikahan ini, tetapi karena kemunculan Julian, suasana yang seharusnya sempurna itu sempat mengalami sedikit kekacauan."Maaf."Baru saja Sandra membuka mulut, Fredy sudah lebih dulu meminta maaf dengan suara rendah.Fredy menepikan mobil, lalu dengan lembut menyibakkan rambut yang jatuh di sisi wajah Sandra. "Maaf. Aku yang nggak meriksa daftar tamu dengan baik."Namun, Keluarga Jinata adalah keluarga elite dengan kekayaan yang bahkan berkali-kali lipat lebih besar daripada Keluarga Pratama. Para tamu yang mereka undang hampir mencakup para pengusaha dari seluruh dunia. Dengan jumlah sebanyak itu, bagaimana mungkin daftar tamu diperiksa satu per satu tanpa ada yang terlewat?Melihat cinta di mata Fredy yang sama sekali tidak berubah, hati Sandra pun perlahan luluh.Dia tahu betul bahwa cintanya kepada Fredy berbeda deng

  • Cintamu Sudah Nggak Laku   Bab 13

    Rasa hampa yang selama ini seperti menghantuinya seketika lenyap saat Julian memeluk Sandra.Julian memeluknya makin erat, seolah ingin meleburkan wanita itu ke dalam tulang-belulangnya agar mereka tidak pernah terpisahkan lagi.Namun, Sandra segera melepaskan diri sekuat tenaga, lalu menampar wajah pria itu!"Plak!" Suara tamparan nyaring menggema.Saat Julian masih tertegun, Sandra mendorongnya dengan kuat."Kita sudah nggak punya hubungan apa-apa lagi." Suara Sandra terdengar datar. "Tolong jaga sikapmu, Pak Julian."Napas Julian memburu. Dia ingin sekali membawa Sandra pergi dengan paksa, tetapi dia takut tindakan itu justru akan membuat Sandra makin membencinya.Dia tidak bisa menerima kenyataan ini. Bagaimanapun juga, dialah yang telah mengecewakan Sandra."Sandra, aku cinta padamu." Julian rela membuka seluruh isi hatinya di hadapan Sandra, asalkan wanita itu mau mendengarkan perasaannya.Pria yang biasanya tetap tenang bahkan saat menandatangani kontrak kerja sama bernilai ratu

  • Cintamu Sudah Nggak Laku   Bab 12

    Sandra sama sekali tidak menyadari tatapan penuh cinta Julian yang tertuju kepadanya.Di momen sepenting ini, seluruh perhatian tertuju kepada dirinya dan Fredy. Telapak tangannya sedikit berkeringat, sementara jantungnya berdegup kencang.Menyadari kegugupan Sandra, Fredy tersenyum lembut, lalu mengambil cincin pernikahan dari tangan pelayan. Setelah itu, dia berlutut dengan satu kaki dan menjalani momen tersebut dengan begitu khidmat, seolah tengah mempersembahkan permata paling berharga dalam hidupnya. "Sandra, aku mencintaimu. Maukah kamu menikah denganku?"Di tengah sorak-sorai para tamu, mata Sandra perlahan berkaca-kaca. Rasanya seperti berada di dalam mimpi.Ini adalah pernikahan keduanya. Bahkan Sandra sendiri merasa sedikit terkejut karena dalam waktu sesingkat ini, dia kembali melangkah ke jenjang pernikahan.Dulu, dia mengira tidak akan pernah lagi memercayai siapa pun seumur hidupnya. Namun, Fredy hadir dalam hidupnya. Dengan kelembutan, kesabaran, dan perhatian yang diber

  • Cintamu Sudah Nggak Laku   Bab 11

    Dua tahun kemudian.Gemerlap lampu memenuhi sebuah bar yang masih ramai meski malam telah larut.Seorang wanita dengan bando telinga kelinci mendekat, nyaris menempel pada tubuh Julian. Dengan bibir merahnya, dia meniupkan napas ke telinga pria itu sambil bertanya manja, "Pak Julian, mau minum?"Namun, hanya satu kata yang keluar dari mulut Julian, dingin tanpa sedikit pun kehangatan. "Pergi." Wanita itu langsung pucat dan buru-buru menjauh.Sahabat dekat Julian yang menyaksikan semuanya hanya bisa menghela napas panjang. "Julian, sudah dua tahun berlalu. Jangan nyiksa diri terus kaya begini."Bukan pertama kalinya dia mengajak Julian keluar untuk mengalihkan pikirannya. Namun, setiap kali seorang wanita mencoba mendekat, satu tatapan dingin Julian sudah cukup untuk membuat mereka mundur.Sahabatnya menatapnya serius. "Julian, lepasin Sandra. Cari seseorang yang lebih baik. Suatu hari nanti, kamu pasti bisa lupain dia, sama kayak dulu waktu kamu berhasil bangkit dari luka yang ditingg

  • Cintamu Sudah Nggak Laku   Bab 10

    Julian perlahan menundukkan kepala. Wanita yang dulu begitu dicintainya masih gemetar dalam pelukannya, tetapi yang memenuhi pikirannya kini justru bukti-bukti yang diunggah Sandra ke internet.Nadine-lah yang memerintahkan para pengawal untuk memaksa Sandra berlutut dan memohon ampun, lalu menginjak-injak harga dirinya sampai tak tersisa.Bahkan Nadine bersekongkol dengan mantan suaminya dan memberinya sejumlah besar uang, hanya demi menyiksa Sandra dengan sengaja.Untuk pertama kalinya, Julian merasa wanita di hadapannya begitu asing. Seolah-olah Nadine bukan lagi gadis polos dan murni yang dulu dia cintai."Apa sebenarnya yang sudah kamu lakukan pada Sandra?" Suara Julian terdengar tenang. Tatapan gelapnya terpaku pada Nadine, dalam dan dingin, seolah mampu menenggelamkannya ke dasar jurang."Jangan bohong, Nadine. Kamu tahu kayak apa aku. Aku paling benci pengkhianatan, apalagi kebohongan."Suara dingin itu membuat tangisan Nadine seketika terhenti.Nadine terisak, lalu mengalihkan

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status