Share

Bab 3

Penulis: Pir
Sandra bahkan belum sempat memahami apa yang terjadi. Saat mereka terguling menuruni tangga, Nadine menjadikan tubuh Sandra sebagai bantalan.

Punggung, pinggang, hingga perutnya dihantam keras oleh anak-anak tangga. Setiap benturan membuat rasa sakit menjalar ke seluruh tubuhnya. Hingga akhirnya dia terjatuh ke dasar tangga, rasa sakit yang membakar seketika menyergapnya.

"Kenapa belum juga panggil ambulans?!"

Suara Julian yang panik terdengar begitu jelas di telinga Sandra.

Sandra berusaha membuka mata. Dari pandangannya yang samar, dia melihat Julian berlari ke arahnya ... tetapi bukan untuk menolongnya.

Julian justru melangkahi tubuh Sandra yang terus mengeluarkan darah dan bergegas menghampiri Nadine, yang hanya mengalami beberapa luka lecet. Seolah wanita itu adalah sesuatu yang paling berharga baginya, Julian bertanya dengan suara gemetar apakah dia merasa sakit.

Sandra kembali memejamkan mata.

Rasa sakit yang memenuhi tubuhnya begitu hebat, tetapi dibandingkan kehancuran yang dia rasakan di dalam hati, semua itu bahkan tidak ada artinya.

Tak lama kemudian, ambulans tiba.

Namun, Julian hanya memanggil satu ambulans.

Dia sendiri yang menggendong Nadine masuk ke dalamnya. Ketika petugas medis bertanya apakah masih ada korban lain, suara Julian seketika terdengar dingin. "Nggak ada."

Ambulans itu pun pergi membawa Nadine. Sementara Sandra sudah hampir kehilangan darah ketika ambulans yang dipanggilnya sendiri akhirnya tiba.

Saat dibawa ke meja operasi, tanda-tanda vital Sandra sudah di bawah batas aman. Dalam kondisi setengah sadar, dia mendengar dokter berteriak, "Cepat! Cepat! Kondisinya darurat. Segera suntikkan obat!"

Namun, karena kehilangan terlalu banyak darah, dokter bilang operasi tidak dapat dilakukan sebelum keluarganya menandatangani surat persetujuan risiko.

Sandra tidak ingin menghubungi Julian. Namun, demi anaknya, dengan mata berkaca-kaca, dia menggertakkan gigi dan akhirnya menelepon pria itu.

Panggilan segera tersambung. Dengan suara serak, Sandra mengatakan bahwa dirinya sedang menjalani operasi.

Namun, Julian langsung memotong ucapannya dengan nada yang begitu dingin, "Sandra, cepat minta maaf sama Nadine. Kalau nggak, kita nggak perlu berhubungan lagi."

Tatapan Sandra dingin, penuh keputusasaan.

Dia tidak mencoba membela diri. Yang keluar justru tawa sinis dari bibirnya yang serak. "Mimpi saja."

Setelah itu, dengan sisa tenaga yang dimilikinya, Sandra mengakhiri panggilan yang sejak awal tidak berarti apa-apa baginya.

"Maaf, Dokter." Dia memalingkan wajah, dan setetes air mata bening mengalir dari sudut matanya. "Aku nggak punya keluarga. Semua risiko dan akibat dari operasi ini akan aku tanggung sendiri."

Benar. Sejak awal, Sandra dan Julian memang bukan suami istri.

Dari dulu sampai sekarang, hanya Sandra sendirian yang memperjuangkan cinta dalam pernikahan itu.

Tidak lebih dari itu.

Operasi berlangsung selama empat jam.

Sandra berhasil diselamatkan dari ambang kematian. Namun, dokter memberitahunya dengan berat hati, "Janinmu nggak selamat."

"Kamu terlambat dibawa ke sini. Kalau saja datang lebih cepat, mungkin masih ada sedikit harapan."

Seandainya saat ambulans pertama tiba, Julian tidak menyembunyikan keberadaan Sandra dari petugas medis, mungkin anak mereka tidak akan sampai keguguran.

Setelah sadar dari pengaruh obat bius, Sandra segera menghubungi Pak Andre untuk mengurus perjanjian perceraian.

Pengacara itu membalas bahwa proses perceraian akan memakan waktu sekitar setengah bulan.

Setelah itu, Sandra meminta rekaman CCTV beresolusi tinggi dari area tangga saat kejadian.

Tidak ada satu bagian pun yang terhalang. Rekaman itu memperlihatkan dengan jelas bahwa Nadine-lah yang menarik Sandra dan sengaja membuatnya jatuh dari tangga.

Sandra kemudian mengirimkan rekaman tersebut kepada Julian.

Tak lama kemudian, nama Julian muncul di layar ponselnya.

Sandra tidak menghiraukannya. Dia mengubah ponselnya ke mode senyap, lalu meletakkannya di samping.

Satu jam kemudian, Julian masuk ke kamar rawat dengan wajah muram.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Cintamu Sudah Nggak Laku   Bab 15

    Julian dirawat di rumah sakit selama sebulan penuh.Dokter menatapnya dengan raut wajah berat, seolah ada sesuatu yang ingin dikatakan tetapi urung diucapkan. "Pak Julian, kalau sampai ini terjadi lagi, Anda nggak akan mungkin selamat."Julian sama sekali tidak memedulikannya.Pikirannya hanya tertuju pada satu hal, diam-diam mencari tahu kabar terbaru tentang Sandra.Dia tahu bahwa kini Sandra menjadi pengelola sebuah studio seni dan telah menjadi seorang seniman yang sangat berbakat. Baru-baru ini, Sandra menggelar pameran lukisan yang menarik perhatian dunia dan mendapat banyak pujian dari para profesional di bidangnya.Dia juga tahu bahwa kehidupan pernikahan Sandra sangat bahagia. Keluarga Jinata sama sekali tidak mempermasalahkan statusnya sebagai janda maupun fakta bahwa dia pernah mengalami keguguran. Sebaliknya, mereka justru sangat menerima Sandra sebagai keluarga.Dia tahu betapa berat dan sulitnya perjuangan Sandra selama dua tahun terakhir. Namun, selama itu pula Fredy sel

  • Cintamu Sudah Nggak Laku   Bab 14

    Di sisi lain, Sandra sudah masuk ke dalam mobil.Malam ini adalah malam pertama pernikahannya. Fredy telah menghabiskan lebih dari setengah tahun untuk mempersiapkan pernikahan ini, tetapi karena kemunculan Julian, suasana yang seharusnya sempurna itu sempat mengalami sedikit kekacauan."Maaf."Baru saja Sandra membuka mulut, Fredy sudah lebih dulu meminta maaf dengan suara rendah.Fredy menepikan mobil, lalu dengan lembut menyibakkan rambut yang jatuh di sisi wajah Sandra. "Maaf. Aku yang nggak meriksa daftar tamu dengan baik."Namun, Keluarga Jinata adalah keluarga elite dengan kekayaan yang bahkan berkali-kali lipat lebih besar daripada Keluarga Pratama. Para tamu yang mereka undang hampir mencakup para pengusaha dari seluruh dunia. Dengan jumlah sebanyak itu, bagaimana mungkin daftar tamu diperiksa satu per satu tanpa ada yang terlewat?Melihat cinta di mata Fredy yang sama sekali tidak berubah, hati Sandra pun perlahan luluh.Dia tahu betul bahwa cintanya kepada Fredy berbeda deng

  • Cintamu Sudah Nggak Laku   Bab 13

    Rasa hampa yang selama ini seperti menghantuinya seketika lenyap saat Julian memeluk Sandra.Julian memeluknya makin erat, seolah ingin meleburkan wanita itu ke dalam tulang-belulangnya agar mereka tidak pernah terpisahkan lagi.Namun, Sandra segera melepaskan diri sekuat tenaga, lalu menampar wajah pria itu!"Plak!" Suara tamparan nyaring menggema.Saat Julian masih tertegun, Sandra mendorongnya dengan kuat."Kita sudah nggak punya hubungan apa-apa lagi." Suara Sandra terdengar datar. "Tolong jaga sikapmu, Pak Julian."Napas Julian memburu. Dia ingin sekali membawa Sandra pergi dengan paksa, tetapi dia takut tindakan itu justru akan membuat Sandra makin membencinya.Dia tidak bisa menerima kenyataan ini. Bagaimanapun juga, dialah yang telah mengecewakan Sandra."Sandra, aku cinta padamu." Julian rela membuka seluruh isi hatinya di hadapan Sandra, asalkan wanita itu mau mendengarkan perasaannya.Pria yang biasanya tetap tenang bahkan saat menandatangani kontrak kerja sama bernilai ratu

  • Cintamu Sudah Nggak Laku   Bab 12

    Sandra sama sekali tidak menyadari tatapan penuh cinta Julian yang tertuju kepadanya.Di momen sepenting ini, seluruh perhatian tertuju kepada dirinya dan Fredy. Telapak tangannya sedikit berkeringat, sementara jantungnya berdegup kencang.Menyadari kegugupan Sandra, Fredy tersenyum lembut, lalu mengambil cincin pernikahan dari tangan pelayan. Setelah itu, dia berlutut dengan satu kaki dan menjalani momen tersebut dengan begitu khidmat, seolah tengah mempersembahkan permata paling berharga dalam hidupnya. "Sandra, aku mencintaimu. Maukah kamu menikah denganku?"Di tengah sorak-sorai para tamu, mata Sandra perlahan berkaca-kaca. Rasanya seperti berada di dalam mimpi.Ini adalah pernikahan keduanya. Bahkan Sandra sendiri merasa sedikit terkejut karena dalam waktu sesingkat ini, dia kembali melangkah ke jenjang pernikahan.Dulu, dia mengira tidak akan pernah lagi memercayai siapa pun seumur hidupnya. Namun, Fredy hadir dalam hidupnya. Dengan kelembutan, kesabaran, dan perhatian yang diber

  • Cintamu Sudah Nggak Laku   Bab 11

    Dua tahun kemudian.Gemerlap lampu memenuhi sebuah bar yang masih ramai meski malam telah larut.Seorang wanita dengan bando telinga kelinci mendekat, nyaris menempel pada tubuh Julian. Dengan bibir merahnya, dia meniupkan napas ke telinga pria itu sambil bertanya manja, "Pak Julian, mau minum?"Namun, hanya satu kata yang keluar dari mulut Julian, dingin tanpa sedikit pun kehangatan. "Pergi." Wanita itu langsung pucat dan buru-buru menjauh.Sahabat dekat Julian yang menyaksikan semuanya hanya bisa menghela napas panjang. "Julian, sudah dua tahun berlalu. Jangan nyiksa diri terus kaya begini."Bukan pertama kalinya dia mengajak Julian keluar untuk mengalihkan pikirannya. Namun, setiap kali seorang wanita mencoba mendekat, satu tatapan dingin Julian sudah cukup untuk membuat mereka mundur.Sahabatnya menatapnya serius. "Julian, lepasin Sandra. Cari seseorang yang lebih baik. Suatu hari nanti, kamu pasti bisa lupain dia, sama kayak dulu waktu kamu berhasil bangkit dari luka yang ditingg

  • Cintamu Sudah Nggak Laku   Bab 10

    Julian perlahan menundukkan kepala. Wanita yang dulu begitu dicintainya masih gemetar dalam pelukannya, tetapi yang memenuhi pikirannya kini justru bukti-bukti yang diunggah Sandra ke internet.Nadine-lah yang memerintahkan para pengawal untuk memaksa Sandra berlutut dan memohon ampun, lalu menginjak-injak harga dirinya sampai tak tersisa.Bahkan Nadine bersekongkol dengan mantan suaminya dan memberinya sejumlah besar uang, hanya demi menyiksa Sandra dengan sengaja.Untuk pertama kalinya, Julian merasa wanita di hadapannya begitu asing. Seolah-olah Nadine bukan lagi gadis polos dan murni yang dulu dia cintai."Apa sebenarnya yang sudah kamu lakukan pada Sandra?" Suara Julian terdengar tenang. Tatapan gelapnya terpaku pada Nadine, dalam dan dingin, seolah mampu menenggelamkannya ke dasar jurang."Jangan bohong, Nadine. Kamu tahu kayak apa aku. Aku paling benci pengkhianatan, apalagi kebohongan."Suara dingin itu membuat tangisan Nadine seketika terhenti.Nadine terisak, lalu mengalihkan

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status