Share

Bab 4

Penulis: Pir
Amarah seketika membara di mata Julian. "Sandra, dari mana kamu dapat video ini?"

"Hapus sekarang juga."

Sandra tidak menyangka Julian akan bereaksi sekeras itu.

Dia sama sekali tidak gentar dan menatap balik Julian. "Apa alasannya?"

Rahang Julian mengeras. Nada suaranya makin berat karena marah. "Nadine cuma nggak sengaja nginjak bagian yang kosong dan refleks narik kamu karena kehilangan keseimbangan. Itu cuma kecelakaan."

"Kalau video ini tersebar, orang-orang akan salah paham dan memutarbalikkan kenyataan. Kamu sengaja nyimpan itu karena mau memfitnah Nadine, ya?"

Memfitnah.

Sandra tiba-tiba tertawa.

Mungkin, di mata Julian, dia memang seperti yang dikatakan Nadine. Hanya gadis nakal yang tidak segan menggunakan cara-cara rendah untuk mencapai keinginannya.

Selama ini, Julian tidak pernah benar-benar melihat siapa dirinya. Hanya Sandra yang terlalu bodoh, mengira ketulusan yang dia berikan akan membuat pria itu memahami dirinya.

"Julian, waktu kamu bilang aku yang dorong dia dari tangga, kamu nyuruh aku minta maaf. Kalau nggak, kamu nggak mau nanda tangani surat persetujuan risiko."

"Tapi setelah terbukti dia yang narik aku sampai jatuh dari tangga, kamu anggap itu cuma kecelakaan ...." Sandra tertawa dingin. "Bagaimana bisa begitu?"

Julian terdiam. Entah mengapa, ada perasaan aneh yang muncul dalam dirinya, seolah sesuatu yang sangat penting sedang perlahan menjauh darinya. Dengan suara berat, dia bertanya, "Surat persetujuan risiko apa?"

Sandra tidak menjawab.

Melihat sikapnya, kerutan di dahi Julian makin dalam. Tatapannya kemudian jatuh pada wajah Sandra, dan untuk pertama kalinya dia benar-benar memperhatikan betapa pucat wajah wanita itu. "Ada apa denganmu? Bagaimana keadaan anak kita?"

"Itu bukan urusanmu." Suara Sandra datar. Sesaat kemudian, tatapannya berubah dingin. "Nadine sudah bikin kedua kakiku patah. Jadi, dia juga harus bayar harga yang setimpal."

"Kalau nggak, video ini akan aku sebarkan ke publik."

"Sandra!" Perhatian Julian seketika beralih. Amarah tampak jelas di matanya, sementara sorot dinginnya membuat suasana ruangan terasa makin tegang. "Apa sikapmu harus kayak gini?"

"Nadine juga jadi korban. Lutut dan punggung tangannya penuh luka memar. Dia bahkan kesakitan sampai nggak bisa tidur nyenyak. Apa semua itu masih belum cukup?"

Pandangan Sandra bergetar.

Dia sudah berulang kali mengingatkan dirinya sendiri untuk berhenti berharap kepada Julian.

Namun, mendengar pembelaan itu tetap membuat tenggorokannya tercekat. Seolah ada sesuatu yang menyumbatnya, membuat setiap tarikan napas terasa berat.

Nadine hanya mengalami beberapa luka lecet, tetapi Julian sudah begitu mencemaskannya.

Sementara Sandra? Tubuhnya penuh luka dan dibalut kain kasa putih yang mencolok. Namun, di mata Julian, dia seolah tidak pernah ada.

Perbedaan perlakuan itu begitu nyata hingga terasa menyakitkan. Seolah tangan tak kasatmata sedang mencengkeram tepat di tempat yang paling rapuh dalam diri Sandra, membuatnya hampir tidak sanggup bernapas.

"Syaratku sudah jelas." Sandra menurunkan pandangan, tidak ingin Julian melihat sedikit pun kelemahannya. "Kalau nggak sanggup, keluar."

Setelah hening beberapa saat, Julian akhirnya berkata dengan suara berat dan dingin, "Aku akan gantiin dia."

Sandra tertegun. Untuk sesaat, pikirannya kosong. "Apa kamu bilang?"

Julian melirik jendela ceruk di sampingnya, lalu berkata dengan tenang, "Ini lantai lima. Cukup tinggi untuk bikin kakiku patah."

"Aku akan gantiin Nadine. Kamu hapus videonya."

"Baik." Tanpa sepengetahuan Julian, Sandra mengepalkan jemarinya kuat-kuat pada seprai sampai buku-buku jarinya memutih.

Matanya terasa kering dan perih. Dia mengangkat lehernya yang jenjang dengan susah payah, lalu berkata, "Tentu saja boleh."

Julian mengangguk. Setelah menoleh ke tanah kosong di bawah, dia melompat dari jendela tanpa ragu sedikit pun.

"Brak!"

Suara tubuh yang menghantam tanah terdengar keras, disusul teriakan orang-orang yang berada di bawah.

Pikiran Sandra mendadak kosong. Dia berjalan menuju jendela ceruk dengan langkah perlahan, lalu menunduk melihat ke bawah.

Kedua kaki Julian tampak tertekuk dengan sudut yang mengerikan.

Rasa sakit akibat tulang yang bergeser seharusnya cukup untuk membuat siapa pun kehilangan kesadaran. Namun, Julian tetap sadar. Tidak ada kepanikan atau kehilangan kendali di wajahnya. Dia hanya mendongakkan kepala dan menatap Sandra.

Tatapannya tetap tenang, tanpa ekspresi apa pun. Namun, Sandra seolah mengerti maksud yang tersirat di dalamnya: Aku sudah membayar harganya. Sekarang, tepati juga janjimu.

Sandra mundur dua langkah. Wajahnya kosong saat mengambil ponsel dan menghapus video tersebut.

Begitu layar ponselnya menjadi gelap, air mata Sandra pun jatuh tanpa bisa ditahan. Setetes demi setetes membasahi layar, meninggalkan noda kecil.

Dia buru-buru mengusapnya, tetapi air matanya justru makin deras. Rasa getir terhadap dirinya sendiri memenuhi hati Sandra, datang seperti gelombang pasang yang tidak mampu dibendungnya.

Baru sekarang Sandra benar-benar memahami betapa dalamnya cinta Julian kepada Nadine. Cinta itu begitu tulus dan kuat, bahkan nyawanya sendiri pun rela dia pertaruhkan.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Cintamu Sudah Nggak Laku   Bab 15

    Julian dirawat di rumah sakit selama sebulan penuh.Dokter menatapnya dengan raut wajah berat, seolah ada sesuatu yang ingin dikatakan tetapi urung diucapkan. "Pak Julian, kalau sampai ini terjadi lagi, Anda nggak akan mungkin selamat."Julian sama sekali tidak memedulikannya.Pikirannya hanya tertuju pada satu hal, diam-diam mencari tahu kabar terbaru tentang Sandra.Dia tahu bahwa kini Sandra menjadi pengelola sebuah studio seni dan telah menjadi seorang seniman yang sangat berbakat. Baru-baru ini, Sandra menggelar pameran lukisan yang menarik perhatian dunia dan mendapat banyak pujian dari para profesional di bidangnya.Dia juga tahu bahwa kehidupan pernikahan Sandra sangat bahagia. Keluarga Jinata sama sekali tidak mempermasalahkan statusnya sebagai janda maupun fakta bahwa dia pernah mengalami keguguran. Sebaliknya, mereka justru sangat menerima Sandra sebagai keluarga.Dia tahu betapa berat dan sulitnya perjuangan Sandra selama dua tahun terakhir. Namun, selama itu pula Fredy sel

  • Cintamu Sudah Nggak Laku   Bab 14

    Di sisi lain, Sandra sudah masuk ke dalam mobil.Malam ini adalah malam pertama pernikahannya. Fredy telah menghabiskan lebih dari setengah tahun untuk mempersiapkan pernikahan ini, tetapi karena kemunculan Julian, suasana yang seharusnya sempurna itu sempat mengalami sedikit kekacauan."Maaf."Baru saja Sandra membuka mulut, Fredy sudah lebih dulu meminta maaf dengan suara rendah.Fredy menepikan mobil, lalu dengan lembut menyibakkan rambut yang jatuh di sisi wajah Sandra. "Maaf. Aku yang nggak meriksa daftar tamu dengan baik."Namun, Keluarga Jinata adalah keluarga elite dengan kekayaan yang bahkan berkali-kali lipat lebih besar daripada Keluarga Pratama. Para tamu yang mereka undang hampir mencakup para pengusaha dari seluruh dunia. Dengan jumlah sebanyak itu, bagaimana mungkin daftar tamu diperiksa satu per satu tanpa ada yang terlewat?Melihat cinta di mata Fredy yang sama sekali tidak berubah, hati Sandra pun perlahan luluh.Dia tahu betul bahwa cintanya kepada Fredy berbeda deng

  • Cintamu Sudah Nggak Laku   Bab 13

    Rasa hampa yang selama ini seperti menghantuinya seketika lenyap saat Julian memeluk Sandra.Julian memeluknya makin erat, seolah ingin meleburkan wanita itu ke dalam tulang-belulangnya agar mereka tidak pernah terpisahkan lagi.Namun, Sandra segera melepaskan diri sekuat tenaga, lalu menampar wajah pria itu!"Plak!" Suara tamparan nyaring menggema.Saat Julian masih tertegun, Sandra mendorongnya dengan kuat."Kita sudah nggak punya hubungan apa-apa lagi." Suara Sandra terdengar datar. "Tolong jaga sikapmu, Pak Julian."Napas Julian memburu. Dia ingin sekali membawa Sandra pergi dengan paksa, tetapi dia takut tindakan itu justru akan membuat Sandra makin membencinya.Dia tidak bisa menerima kenyataan ini. Bagaimanapun juga, dialah yang telah mengecewakan Sandra."Sandra, aku cinta padamu." Julian rela membuka seluruh isi hatinya di hadapan Sandra, asalkan wanita itu mau mendengarkan perasaannya.Pria yang biasanya tetap tenang bahkan saat menandatangani kontrak kerja sama bernilai ratu

  • Cintamu Sudah Nggak Laku   Bab 12

    Sandra sama sekali tidak menyadari tatapan penuh cinta Julian yang tertuju kepadanya.Di momen sepenting ini, seluruh perhatian tertuju kepada dirinya dan Fredy. Telapak tangannya sedikit berkeringat, sementara jantungnya berdegup kencang.Menyadari kegugupan Sandra, Fredy tersenyum lembut, lalu mengambil cincin pernikahan dari tangan pelayan. Setelah itu, dia berlutut dengan satu kaki dan menjalani momen tersebut dengan begitu khidmat, seolah tengah mempersembahkan permata paling berharga dalam hidupnya. "Sandra, aku mencintaimu. Maukah kamu menikah denganku?"Di tengah sorak-sorai para tamu, mata Sandra perlahan berkaca-kaca. Rasanya seperti berada di dalam mimpi.Ini adalah pernikahan keduanya. Bahkan Sandra sendiri merasa sedikit terkejut karena dalam waktu sesingkat ini, dia kembali melangkah ke jenjang pernikahan.Dulu, dia mengira tidak akan pernah lagi memercayai siapa pun seumur hidupnya. Namun, Fredy hadir dalam hidupnya. Dengan kelembutan, kesabaran, dan perhatian yang diber

  • Cintamu Sudah Nggak Laku   Bab 11

    Dua tahun kemudian.Gemerlap lampu memenuhi sebuah bar yang masih ramai meski malam telah larut.Seorang wanita dengan bando telinga kelinci mendekat, nyaris menempel pada tubuh Julian. Dengan bibir merahnya, dia meniupkan napas ke telinga pria itu sambil bertanya manja, "Pak Julian, mau minum?"Namun, hanya satu kata yang keluar dari mulut Julian, dingin tanpa sedikit pun kehangatan. "Pergi." Wanita itu langsung pucat dan buru-buru menjauh.Sahabat dekat Julian yang menyaksikan semuanya hanya bisa menghela napas panjang. "Julian, sudah dua tahun berlalu. Jangan nyiksa diri terus kaya begini."Bukan pertama kalinya dia mengajak Julian keluar untuk mengalihkan pikirannya. Namun, setiap kali seorang wanita mencoba mendekat, satu tatapan dingin Julian sudah cukup untuk membuat mereka mundur.Sahabatnya menatapnya serius. "Julian, lepasin Sandra. Cari seseorang yang lebih baik. Suatu hari nanti, kamu pasti bisa lupain dia, sama kayak dulu waktu kamu berhasil bangkit dari luka yang ditingg

  • Cintamu Sudah Nggak Laku   Bab 10

    Julian perlahan menundukkan kepala. Wanita yang dulu begitu dicintainya masih gemetar dalam pelukannya, tetapi yang memenuhi pikirannya kini justru bukti-bukti yang diunggah Sandra ke internet.Nadine-lah yang memerintahkan para pengawal untuk memaksa Sandra berlutut dan memohon ampun, lalu menginjak-injak harga dirinya sampai tak tersisa.Bahkan Nadine bersekongkol dengan mantan suaminya dan memberinya sejumlah besar uang, hanya demi menyiksa Sandra dengan sengaja.Untuk pertama kalinya, Julian merasa wanita di hadapannya begitu asing. Seolah-olah Nadine bukan lagi gadis polos dan murni yang dulu dia cintai."Apa sebenarnya yang sudah kamu lakukan pada Sandra?" Suara Julian terdengar tenang. Tatapan gelapnya terpaku pada Nadine, dalam dan dingin, seolah mampu menenggelamkannya ke dasar jurang."Jangan bohong, Nadine. Kamu tahu kayak apa aku. Aku paling benci pengkhianatan, apalagi kebohongan."Suara dingin itu membuat tangisan Nadine seketika terhenti.Nadine terisak, lalu mengalihkan

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status