Short
Rumitnya Cinta, Mudahnya Melepasnya

Rumitnya Cinta, Mudahnya Melepasnya

By:  OlenjiCompleted
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
25Chapters
0views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Tahun 1983, di kantor imigrasi. Di depan loket pelayanan, petugas menatap Ardina yang berdiri di hadapannya dengan ragu. "Bu Ardina, Anda yakin mau pergi? Pak Ello punya status khusus, pihak organisasi sama sekali nggak bakal mengizinkan dia ke luar negeri. Begitu cap ini diketok, Anda nggak bakal bisa ketemu lagi sama dia seumur hidup." Tanpa ragu sedikit pun, Ardina langsung mengambil stempel resmi dan mengecapkannya ke atas surat permohonan imigrasi miliknya. Dia memang ingin berpisah selamanya dari pria itu! Melihat hal itu, petugas tidak bisa berkata apa-apa lagi. Dia hanya menerima dokumen yang sudah dicap tersebut lalu berkata, "Bu Ardina, berkasnya selesai dalam 15 hari. Mohon tunggu dengan sabar." Ardina mengangguk, lalu berbalik keluar pintu. Namun, tiba-tiba terdengar bisik-bisik para petugas di belakangnya. "Bu Ardina sama Pak Ello lagi berantem, ya? Tapi, masa sampai seheboh ini? Padahal mereka terkenal romantis banget di Kota Banda."

View More

Chapter 1

Bab 1

"Iya, 'kan? Suamiku kerja di bawah pimpinan Pak Ello, dia selalu cerita kalau Pak Ello itu sayang banget sama istrinya. Kulit Bu Ardina halus banget, makanya tiap hari Pak Ello suruh orang borong susu dari koperasi buat mandi istrinya. Bu Ardina suka ketenangan, dia sampai bangun rumah tunggal gaya Rusia. Waktu Bu Ardina belanja dan menghilang sejam aja, Pak Ello langsung panik sampai pasang iklan di koran buat cari dia. Sekarang Bu Ardina pergi diam-diam begini, dia bisa gila, 'kan .…"

Ardina menyunggingkan senyum mendengar perbincangan orang-orang itu. Tatapan matanya menyiratkan ejekan pada diri sendiri yang makin pekat.

Ya, semua orang tahu betapa Ello Sardi mencintainya.

Waktu itu, dia adalah penari utama di kelompok seni militer, sedangkan Ello adalah anak pejabat terpandang di Kota Banda.

Semua orang mengatakan kalau pria itu dingin, berwibawa, tidak peduli pada wanita. Kehidupan pribadinya bahkan terkenal sangat hambar dan kaku, semua wanita harus menjaga jarak tiga meter darinya.

Sampai akhirnya pada malam acara ramah tamah itu, dia bertemu dengan Ardina.

Pria itu jatuh cinta pada pandangan pertama, lalu mulai gila-gilaan mengejarnya. Perhiasan mewah diberikan tanpa memedulikan biaya, kembang api dinyalakan di langit selama tiga hari tiga malam untuk mengumumkan cintanya. Bahkan hanya karena kalimat santai Ardina yang ingin makan kue kenari yang sudah bertahun-tahun berhenti diproduksi, pria itu menerobos badai salju di tengah malam, menyetir melewati tiga kota. Tubuhnya basah kuyup, tapi dia tetap menyodorkan kue yang masih hangat itu ke hadapannya.

Hal yang benar-benar membuat Ardina memantapkan hati untuk menerimanya adalah hari ketika orang tuanya meninggal.

Ello yang saat itu sedang dinas di luar provinsi yang jauh, rela melepaskan segalanya demi segera pulang tanpa memedulikan apa pun.

Saat tiba di hadapannya, penampilan pria itu sangat berantakan dengan mata yang dipenuhi guratan merah. Tapi, dia mendekap Ardina ke dalam pelukannya dengan penuh cinta.

"Dina, jangan nangis. Kamu masih punya aku, aku bakal selalu temani kamu selamanya."

Melihat ketulusan di mata pria itu, jantung Ardina sempat melewatkan beberapa detak.

Dia orangnya.

Ardina membatin seperti itu pada dirinya sendiri.

Namun, pria yang begitu setia kepadanya itu justru tidak bisa menahan godaan sejak tiga bulan lalu. Dia berselingkuh dengan sepupu Ardina yang datang dari desa untuk meminta bantuan mencarikan pekerjaan.

Di atas sofa vila yang dibangun untuknya, di dapur, di ranjang pernikahan, semua tempat dipenuhi dengan jejak percintaan mereka.

Keluarga Sardi memiliki latar belakang khusus, sehingga karena aturan organisasi, seluruh anggota Keluarga Sardi tidak boleh pergi ke luar negeri.

Termasuk Ello.

Asalkan dia pergi ke luar negeri, pria itu tidak akan pernah bisa menemukannya seumur hidup!

Ardina menyimpan dokumen imigrasi di tangannya, lalu berjalan lurus menuju kompleks perumahan dinas.

Begitu mendorong pintu, aroma khas sperma langsung menusuk ujung hidungnya.

Ardina meremas telapak tangan untuk menenangkan diri sebelum melangkah masuk berpura-pura tenang.

Dua orang yang sedang menggantung pajangan di dinding itu langsung berbalik menatapnya setelah mendengar suara gerakan.

Ello terpaku sejenak, lalu tatapan matanya seketika melembut. Dia berjalan mendekat dan menggenggam tangan Ardina.

"Dina, kenapa pakai baju tipis banget? Dingin nggak? Kamu bukannya mau pergi belanja, kok cepat banget pulangnya? Aku lagi menyiapkan kejutan buat kamu."

Kejutan?

Ardina mendongak menatap Ello, tapi tatapannya refleks tertuju pada leher pria itu.

Di sana, terdapat bercak merah bekas kecupan yang sangat banyak.

Bulu matanya sedikit bergetar, dia berusaha keras menahan rasa sakit yang menusuk jantungnya.

Melihat Ardina tidak menjawab, Tasya yang berada di samping berjalan mendekat sambil tersenyum manja.

"Kak, Kak Ello benar-benar cinta banget sama Kakak. Hari peringatan pertama kali kalian bertemu aja dirayakan semewah ini .…"

Tasya sengaja menggantung kalimatnya, lalu menunjuk ke tumpukan hadiah yang menggunung di atas sofa samping.

"Lihat, ini semua hadiah yang udah disiapin Kak Ello buat Kakak, lho."

Ardina mengikuti arah tangan Tasya, tapi dia justru lebih dulu melihat noda air yang membekas di bawah tumpukan hadiah.

Pada saat itu, dia merasa seperti tersambar petir. Aroma saat pertama kali masuk pintu tadi dan bekas yang ada sekarang, sepenuhnya membuktikan kenyataan yang baru saja dia tebak.

Mencintainya?

Cinta yang digembar-gemborkan Ello adalah menyiapkan hadiah untuknya sembari bercinta dengan Tasya di atas sofa, bahkan begitu bergairah hingga membasahi sebagian besar sofa?

Rasa sakit yang mengoyak hati dan menusuk tulang, tidak lebih dari ini.

Ello tidak menyadari keanehan Ardina. Dia hanya memakaikan kalung yang sudah disiapkan sejak awal ke leher istrinya, lalu berkata dengan nada yang sangat lembut hingga terasa membuai, "Dina, selamat hari peringatan pertemuan kita. Aku juga udah siapkan makan malam romantis, semua bahan makanannya dikirim langsung dari Eropa."

Tubuh Ardina gemetar, dia menggelengkan kepala. "Aku nggak mau makan, aku … kurang enak badan."

Saat ini, setiap detik yang dia habiskan bersama Ello adalah siksaan.

Sejak awal dia sudah mengatakannya, dia memiliki obsesi kesucian dalam hubungan dan tidak bisa menerima cacat sedikit pun.

Kalau memang tidak bisa, jangan pernah mendekatinya. Karena sudah mendekatinya, kenapa sekarang malah mengkhianatinya?

Ello langsung panik seolah menghadapi musuh besar mendengar Ardina mengeluh kurang enak badan.

Dia langsung menelepon beberapa dokter keluarga untuk memeriksanya. Setelah pemeriksaan selesai dan dinyatakan tidak ada masalah, dia tetap merasa tidak tenang. Dia menyuruh bawahannya membeli banyak suplemen penambah darah, lalu menyeduh susu sendiri untuk membujuk istrinya tidur.

Setelah repot selama sekitar lima jam, Ardina akhirnya tertidur karena bujukannya.

Tengah malam, Ardina tiba-tiba terbangun karena haus dan ingin keluar untuk mengambil air.

Namun, tepat saat membuka pintu kamar, seluruh tubuhnya seketika membeku di tempat.

Pintu kamar sebelah terbuka lebar, cahaya bulan yang terang menembus jendela dan menyinari dua orang yang sedang bergumul tanpa sehelai benang pun di atas ranjang.

"Kalung yang tadi itu mahal banget, aku udah merengek minta sama kamu lama banget, tapi nggak dikasih. Kakak nggak lakukan apa-apa, tapi kamu malah sukarela kasih semua barang bagus ke dia."

Setelah gairah mereda, kaki Tasya masih melingkari pinggang pria itu, kalimatnya penuh nada cemburu.

Ello mengernyitkan dahi, dia menarik dirinya keluar lalu duduk di tepi ranjang sambil menyalakan cerutu.

"Kamu nggak sadar sama posisi kamu, ya? Aku udah bilang kalau aku cuma cinta sama Dina."

"Kalau kamu mau jaga hubungan ini sama aku, cuma bisa sembunyi-sembunyi. Kalau sampai dia tahu, kamu tahu sendiri akibatnya."

Wajah Tasya memucat, dia bangkit dengan tubuh telanjangnya lalu memeluk pria itu dari belakang sambil berkata dengan nada manja yang sedih, "Aku tahu kamu cinta sama Kakak, tapi aku juga cinta sama kamu. Aku cuma cemburu sedikit, masa nggak boleh sih."

Ello tidak bersuara, dia hanya membungkuk dan mengambil sebuah kalung dari dalam laci yang modelnya sama dengan milik Ardina tapi beda warna.

"Jangan pasang wajah sedih begitu, aku juga belikan satu buat kamu. Tapi, kamu cuma boleh memakainya diam-diam. Kalau sampai ketahuan sama dia, hubungan kita langsung berakhir."

Wajah Tasya seketika berubah gembira. Dia bergegas mengambil kalung itu dan mencocokkannya di lehernya yang penuh dengan bekas kecupan keunguan.

"Makasih, Kak Ello! Aku tahu di dalam hatimu masih ada aku! Tapi kamu segitu takutnya ya kalau Kakak pergi!"

Pria itu menjawab tanpa ragu sedikit pun, "Iya, aku nggak bisa hidup tanpa dia. Kalau dia pergi, aku bisa gila."

Begitu kalimat itu selesai diucapkan, dia langsung menekan tubuh Tasya ke bawahnya lagi dan memulai pergumulan berikutnya.

Tempat tidur berderit kencang akibat gerakannya, suara erangan Tasya terdengar bertubi-tubi di telinga. Ardina yang berdiri di kejauhan meneteskan air mata dengan deras.

Dengan mata memerah, dia menatap wajah Ello yang ada di foto pernikahan di dinding.

Ello, 15 hari lagi, aku akan menantikan kegilaanmu.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
25 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status