Share

Bab 5

Penulis: Pir
Seminggu kemudian, sebuah berita hiburan tentang Julian mendadak menjadi trending.

Berita itu memuat sembilan foto, yang semuanya berisi unggahan Nadine di media sosial selama seminggu terakhir.

Pada hari pertama, Nadine terlihat duduk di sisi ranjang rumah sakit Julian dengan mata sembap. Julian menatapnya sambil tersenyum menenangkan. Senyum itu begitu lembut dan penuh kasih, seolah perasaannya kepada wanita itu nyaris meluap.

Pada hari ketiga, Nadine mengunggah foto dengan keterangan, [Kamulah cinta sejatiku selamanya]. Dalam foto tersebut, tampak Julian tertidur dengan wajah tegas dari samping, sementara tangan mereka saling menggenggam erat di bawahnya.

Unggahan terakhir berupa sebuah video.

Dalam video itu, Julian keluar dari rumah sakit setelah selama beberapa hari dirawat oleh Nadine. Begitu mereka sampai di pintu masuk, para wartawan langsung mengerumuni mereka. "Pak Julian, benarkah Sandra, wanita kejam itu, memaksa Anda lompat dari gedung?"

Julian tidak menjawab. Nadine yang berdiri di sampingnya justru berkata dengan suara bergetar, seolah sedang berusaha membela Sandra, "Nona Sandra nggak sengaja melakukan itu. Tolong jangan salahin dia ...."

Sekilas, perkataannya memang terdengar seperti pembelaan. Namun, bagi publik, kalimat itu justru sudah menjadi jawaban.

Biasanya, Julian akan langsung menegur wartawan hiburan dengan dingin. Kali ini, dia hanya melindungi Nadine dan pergi tanpa mengatakan apa-apa, seolah sengaja membiarkan ruang kosong itu diisi oleh berbagai spekulasi dan hujatan.

Sandra menutup halaman tersebut. Namun, tatapan dingin Julian dalam video tadi terus terbayang di benaknya. Hatinya terasa perih, seperti ditusuk jarum berkali-kali.

Sejak dulu, Sandra tidak pernah peduli pada penilaian orang lain. Dia sudah terbiasa menghadapi semuanya seorang diri, sampai Julian muncul dalam hidupnya.

Pria itu pernah menariknya keluar dari pusaran opini publik. Namun, saat Sandra mulai bergantung kepadanya, Julian justru mengatakan bahwa semua itu hanyalah mimpi. Lalu, pria itu melepaskan tangannya dan hanya berdiri memandang dingin ketika Sandra kembali jatuh ke dalam jurang.

Untungnya, hanya tinggal satu minggu lagi. Setelah itu, Sandra dan Julian tidak akan memiliki hubungan apa pun.

Sandra mengira dirinya hanya perlu menunggu hari perceraian tiba dengan tenang.

Namun, tepat saat itu, Nadine muncul di hadapannya bersama dua orang pengawal.

Nadine datang untuk menuntut pertanggungjawaban. "Aku dengar kamu dapat rekaman CCTV Grup Pratama dan mau nuduh aku?"

"Sayangnya, Julian terlalu percaya sama aku. Aku bahkan nggak perlu membela diri sedikit pun, tetapi dia tetap menganggap semuanya cuma kecelakaan ...."

Nadine tersenyum mengejek. "Tapi dari mana kamu dapat keberanian buat bilang semua itu pada Julian? Apa kamu nggak tahu? Aku selalu balas setiap dendam, sekecil apa pun."

Dia mengangkat tangannya. "Kasih dia pelajaran!"

Kedua pengawal itu segera bergerak. Salah satunya menahan tangan dan kaki Sandra, sementara yang lain menekan punggungnya, memaksanya berlutut.

Sandra meronta sekuat tenaga. "Lepasin aku! Kalau kalian berani nyentuh aku, aku akan bikin kalian nyesal seumur hidup!"

Para pengawal sempat ragu. Namun, salah satunya tetap menendang lutut Sandra. "Maaf, Nona Sandra. Pak Julian merintahin kami buat ngikutin perintah Nona Nadine."

"Beliau juga bilang kalau selama Nona Nadine bahagia, kami boleh lakuin apa saja, termasuk ... menyakitimu."

Lutut Sandra menghantam lantai dengan keras. Sesaat kemudian, terdengar bunyi retakan tulang yang membuat tubuhnya menegang.

Sandra mendongak dengan tatapan tak percaya. Namun, sebelum sempat bereaksi, Nadine mengangkat tangan dan melayangkan tamparan keras ke wajahnya.

"Sekarang kamu dengar sendiri." Nadine tertawa sambil menutup mulut. Dia memandang Sandra dari atas dengan wajah penuh kepuasan. "Aku akan selalu jadi orang nomor satu di hati Julian. Sedangkan kamu? Kamu hanya sampah yang nggak berarti di sudut hidupnya."

Tamparan kedua menyusul, lalu ketiga. Setelah itu, Sandra bahkan tidak tahu lagi sudah berapa kali tangan Nadine mendarat di wajahnya.

Rasa sakit yang membakar menjalar ke seluruh sarafnya. Kepalanya terasa berat, pandangannya berkunang-kunang, dan tubuhnya perlahan kehilangan tenaga hingga hampir kehilangan kesadaran.

Namun, Nadine tiba-tiba berhenti. Dia mengangkat ponselnya tepat di depan wajah Sandra dan tersenyum. "Aku mengunggah video saat kamu dipukuli ke internet. Responsnya sangat bagus."

Mata Sandra bergetar.

Di layar, dia terlihat setengah berlutut di lantai dengan rambut yang dijambak. Pipinya sudah membengkak parah.

Nadine sengaja memperlihatkan sisi Sandra yang paling memalukan dan menyedihkan kepada publik, merenggut sisa martabatnya tanpa menyisakan apa pun.

Dengan santai, Nadine membacakan komentar-komentar di bawah video itu.

[Siapa orang hebat yang sudah menegakkan keadilan? Benar-benar memuaskan.]

[Harus diakui, penampilan menyedihkan seperti ini memang cocok buat dia. Bukankah dia perempuan murahan? Mungkin beginilah caranya merayu pria setiap hari!]

"Ah ...!" Sandra meraung penuh amarah seperti binatang yang terpojok. Dia meronta sekuat tenaga untuk melepaskan diri. "Nadine! Kamu benar-benar pantas mati!"

Namun, sekeras apa pun dia berusaha, semuanya sia-sia.

"Plak!"

Nadine melayangkan tamparan terakhir. Tubuh Sandra pun terkulai dan jatuh ke lantai.

Nadine mendengus mengejek. "Sandra, aku kasih kamu waktu tiga hari buat ngajuin perceraian pada Julian. Kalau nggak, ini baru pembuka. Hal yang lebih menarik masih menunggumu."

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Cintamu Sudah Nggak Laku   Bab 15

    Julian dirawat di rumah sakit selama sebulan penuh.Dokter menatapnya dengan raut wajah berat, seolah ada sesuatu yang ingin dikatakan tetapi urung diucapkan. "Pak Julian, kalau sampai ini terjadi lagi, Anda nggak akan mungkin selamat."Julian sama sekali tidak memedulikannya.Pikirannya hanya tertuju pada satu hal, diam-diam mencari tahu kabar terbaru tentang Sandra.Dia tahu bahwa kini Sandra menjadi pengelola sebuah studio seni dan telah menjadi seorang seniman yang sangat berbakat. Baru-baru ini, Sandra menggelar pameran lukisan yang menarik perhatian dunia dan mendapat banyak pujian dari para profesional di bidangnya.Dia juga tahu bahwa kehidupan pernikahan Sandra sangat bahagia. Keluarga Jinata sama sekali tidak mempermasalahkan statusnya sebagai janda maupun fakta bahwa dia pernah mengalami keguguran. Sebaliknya, mereka justru sangat menerima Sandra sebagai keluarga.Dia tahu betapa berat dan sulitnya perjuangan Sandra selama dua tahun terakhir. Namun, selama itu pula Fredy sel

  • Cintamu Sudah Nggak Laku   Bab 14

    Di sisi lain, Sandra sudah masuk ke dalam mobil.Malam ini adalah malam pertama pernikahannya. Fredy telah menghabiskan lebih dari setengah tahun untuk mempersiapkan pernikahan ini, tetapi karena kemunculan Julian, suasana yang seharusnya sempurna itu sempat mengalami sedikit kekacauan."Maaf."Baru saja Sandra membuka mulut, Fredy sudah lebih dulu meminta maaf dengan suara rendah.Fredy menepikan mobil, lalu dengan lembut menyibakkan rambut yang jatuh di sisi wajah Sandra. "Maaf. Aku yang nggak meriksa daftar tamu dengan baik."Namun, Keluarga Jinata adalah keluarga elite dengan kekayaan yang bahkan berkali-kali lipat lebih besar daripada Keluarga Pratama. Para tamu yang mereka undang hampir mencakup para pengusaha dari seluruh dunia. Dengan jumlah sebanyak itu, bagaimana mungkin daftar tamu diperiksa satu per satu tanpa ada yang terlewat?Melihat cinta di mata Fredy yang sama sekali tidak berubah, hati Sandra pun perlahan luluh.Dia tahu betul bahwa cintanya kepada Fredy berbeda deng

  • Cintamu Sudah Nggak Laku   Bab 13

    Rasa hampa yang selama ini seperti menghantuinya seketika lenyap saat Julian memeluk Sandra.Julian memeluknya makin erat, seolah ingin meleburkan wanita itu ke dalam tulang-belulangnya agar mereka tidak pernah terpisahkan lagi.Namun, Sandra segera melepaskan diri sekuat tenaga, lalu menampar wajah pria itu!"Plak!" Suara tamparan nyaring menggema.Saat Julian masih tertegun, Sandra mendorongnya dengan kuat."Kita sudah nggak punya hubungan apa-apa lagi." Suara Sandra terdengar datar. "Tolong jaga sikapmu, Pak Julian."Napas Julian memburu. Dia ingin sekali membawa Sandra pergi dengan paksa, tetapi dia takut tindakan itu justru akan membuat Sandra makin membencinya.Dia tidak bisa menerima kenyataan ini. Bagaimanapun juga, dialah yang telah mengecewakan Sandra."Sandra, aku cinta padamu." Julian rela membuka seluruh isi hatinya di hadapan Sandra, asalkan wanita itu mau mendengarkan perasaannya.Pria yang biasanya tetap tenang bahkan saat menandatangani kontrak kerja sama bernilai ratu

  • Cintamu Sudah Nggak Laku   Bab 12

    Sandra sama sekali tidak menyadari tatapan penuh cinta Julian yang tertuju kepadanya.Di momen sepenting ini, seluruh perhatian tertuju kepada dirinya dan Fredy. Telapak tangannya sedikit berkeringat, sementara jantungnya berdegup kencang.Menyadari kegugupan Sandra, Fredy tersenyum lembut, lalu mengambil cincin pernikahan dari tangan pelayan. Setelah itu, dia berlutut dengan satu kaki dan menjalani momen tersebut dengan begitu khidmat, seolah tengah mempersembahkan permata paling berharga dalam hidupnya. "Sandra, aku mencintaimu. Maukah kamu menikah denganku?"Di tengah sorak-sorai para tamu, mata Sandra perlahan berkaca-kaca. Rasanya seperti berada di dalam mimpi.Ini adalah pernikahan keduanya. Bahkan Sandra sendiri merasa sedikit terkejut karena dalam waktu sesingkat ini, dia kembali melangkah ke jenjang pernikahan.Dulu, dia mengira tidak akan pernah lagi memercayai siapa pun seumur hidupnya. Namun, Fredy hadir dalam hidupnya. Dengan kelembutan, kesabaran, dan perhatian yang diber

  • Cintamu Sudah Nggak Laku   Bab 11

    Dua tahun kemudian.Gemerlap lampu memenuhi sebuah bar yang masih ramai meski malam telah larut.Seorang wanita dengan bando telinga kelinci mendekat, nyaris menempel pada tubuh Julian. Dengan bibir merahnya, dia meniupkan napas ke telinga pria itu sambil bertanya manja, "Pak Julian, mau minum?"Namun, hanya satu kata yang keluar dari mulut Julian, dingin tanpa sedikit pun kehangatan. "Pergi." Wanita itu langsung pucat dan buru-buru menjauh.Sahabat dekat Julian yang menyaksikan semuanya hanya bisa menghela napas panjang. "Julian, sudah dua tahun berlalu. Jangan nyiksa diri terus kaya begini."Bukan pertama kalinya dia mengajak Julian keluar untuk mengalihkan pikirannya. Namun, setiap kali seorang wanita mencoba mendekat, satu tatapan dingin Julian sudah cukup untuk membuat mereka mundur.Sahabatnya menatapnya serius. "Julian, lepasin Sandra. Cari seseorang yang lebih baik. Suatu hari nanti, kamu pasti bisa lupain dia, sama kayak dulu waktu kamu berhasil bangkit dari luka yang ditingg

  • Cintamu Sudah Nggak Laku   Bab 10

    Julian perlahan menundukkan kepala. Wanita yang dulu begitu dicintainya masih gemetar dalam pelukannya, tetapi yang memenuhi pikirannya kini justru bukti-bukti yang diunggah Sandra ke internet.Nadine-lah yang memerintahkan para pengawal untuk memaksa Sandra berlutut dan memohon ampun, lalu menginjak-injak harga dirinya sampai tak tersisa.Bahkan Nadine bersekongkol dengan mantan suaminya dan memberinya sejumlah besar uang, hanya demi menyiksa Sandra dengan sengaja.Untuk pertama kalinya, Julian merasa wanita di hadapannya begitu asing. Seolah-olah Nadine bukan lagi gadis polos dan murni yang dulu dia cintai."Apa sebenarnya yang sudah kamu lakukan pada Sandra?" Suara Julian terdengar tenang. Tatapan gelapnya terpaku pada Nadine, dalam dan dingin, seolah mampu menenggelamkannya ke dasar jurang."Jangan bohong, Nadine. Kamu tahu kayak apa aku. Aku paling benci pengkhianatan, apalagi kebohongan."Suara dingin itu membuat tangisan Nadine seketika terhenti.Nadine terisak, lalu mengalihkan

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status