Short
Membunuh Putri Sendiri demi Putri Orang Jahat

Membunuh Putri Sendiri demi Putri Orang Jahat

Oleh:  BulanTamat
Bahasa: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
9Bab
4.3KDibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi

Saat sekolah putriku menelepon, aku sedang transit di bandara. "Bu Anggi, status murid putri Ibu masih terdaftar di sistem kami. Penghapusan data karena kematian perlu tanda tangan dari kedua orang tuanya." "Ayahnya selalu menolak menerima telepon, apa Ibu bisa datang hari ini?" Aku melihat tujuan yang tertera di kartu pas masuk, lalu mengubah jadwal penerbangan untuk kembali ke Kota Kencana. Sudah tiga tahun. Aku akhirnya melangkah lagi ke SD internasional itu. Di gerbang sekolah sedang diadakan hari orang tua dan anak. Erik Chandra sedang berdiri di area foto bersama seorang anak perempuan kecil, dengan sabar merapikan pita gaun putri yang dikenakan anak itu. Anak perempuan itu bukan putriku. Dia adalah anak dari janda mendiang mentornya. Dia juga orang yang mendorong putriku ke dalam ruang peralatan yang terbengkalai tiga tahun lalu. Para orang tua murid yang menonton di sekitar berbisik-bisik dengan suara lirih. "Kenapa mantan istri Pak Erik datang? Hari ini 'kan hari kebersamaan orang tua dan anak buat Bu Alia dan Pak Erik untuk menemani Nana." "Pasti karena nggak ikhlas, dia mau pakai putri kandungnya buat merebut hak asuh dan harta." Erik yang mendengar keributan itu mendongak dan melihatku. Dia refleks melindungi anak kecil itu di belakang tubuhnya, lalu mengerutkan kening dengan tidak senang. "Anggi." "Semua anak-anak ada di sini, kamu jangan datang ke sekolah buat bikin keributan." Aku melihat tangannya yang menghalangi di depan putri orang lain itu, merasa hal tersebut sangat menusuk mata. Staff tata usaha sekolah berjalan mendekat sambil membawa dokumen, lalu mendesak dengan suara pelan. "Bu Anggi, apa Ibu bawa surat kematian dan sertifikat kremasi Kirei?" Sekeliling seketika menjadi sunyi senyap. Wajah Erik berubah drastis, dia menatapku dengan dingin. "Surat kematian apa?" Aku tidak melihatnya, melainkan hanya menyerahkan dokumen itu kepada staf itu dengan tenang. "Tolong prosesnya dipercepat." "Aku datang bukan buat berebut hak asuh sama kamu." "Aku datang buat urus putus sekolah putriku."

Lihat lebih banyak

Bab 1

Bab 1

Pandangan Erik terpaku lekat-lekat pada map kertas cokelat di tanganku.

Beberapa detik kemudian, dia mencemooh.

"Anggi, demi maksa aku tunduk, kamu bahkan bisa ngarang kebohongan seperti ini?"

Nada bicaranya memancarkan keyakinan dan keangkuhan dari seseorang yang sudah lama berada di posisi atas.

Seolah-olah dia sudah bisa menebak taktik jual mahal yang kulakukan.

"Aku udah bilang dari dulu, asal kamu mau menerima Alia dan putrinya, posisi Nyonya Chandra tetap punya kamu."

"Kamu menghilang selama tiga tahun, sekarang malah pakai Kirei buat sumpahi anak sendiri, bagus kayak begitu?"

Aku mengangkat bulu mata, tatapanku tidak memiliki kehangatan sedikit pun.

Di matanya, aku selamanya adalah wanita gila yang menghalalkan segala cara hanya demi mempertahankannya.

Tepat pada saat ini, Alia berjalan mendekat dengan memakai sepatu hak tinggi.

Dia membawa dua cangkir kopi panas di tangannya, lalu memasukkan salah satunya ke dalam tangan Erik dengan lembut.

"Kak Erik, ada apa?"

Dia menoleh dan melihatku, wajahnya langsung menunjukkan keterkejutan dan ketakutan yang pas.

"Kak Anggi, kenapa kamu datang?"

Alia bergegas merangkul Nana yang ada di belakangnya ke dalam pelukan, seperti sedang melindungi mangsa yang diincar oleh binatang buas.

"Kalau Kak Anggi menyalahkan Kak Erik karena menemani Nana ikut kegiatan hari ini, kamu marahi aku aja."

"Jangan sampai membuat keributan besar di sekolah, Nana itu penakut, nanti dia bisa ketakutan."

Sungguh orang yang begitu pengertian dan pandai berkata-kata.

Tiga tahun lalu dia bersikap seperti ini untuk menggerogoti rumah tanggaku yang utuh sedikit demi sedikit.

Aku melewati mereka dan langsung berjalan menuju loket bagian tata usaha sekolah.

Aku mendorong kartu identitas dan kartu keluarga dari jendela loket.

"Tolong hapus status muridnya."

Erik yang melihatku sepenuhnya mengabaikannya, akhirnya menunjukkan wajah yang menggelap.

Dia melangkah lebar mendekat, lalu mencengkeram pergelangan tanganku dengan kuat.

Tenaganya sangat besar.

"Aku minta kamu tahu batas!"

"Kamu tahu nggak apa arti mengeluarkan Kirei dari sekolah? Di sini itu sekolah swasta terbaik di Kota Kencana, kalau udah keluar nggak mungkin bisa masuk lagi!"

Kekesalan dan kemarahan melonjak di dasar matanya.

"Karena hidupmu sebagai ibu tunggal nggak berjalan lancar, kamu mau pakai pendidikan anak buat ancam aku?"

"Anggi, kamu nggak pantas jadi ibu!"

Aku tidak pantas?

Bagian daging busuk di lubuk hati yang sudah lama mengering menjadi koreng, terkoyak paksa oleh kata-kata ini.

Tiga tahun lalu, Kirei terkunci di dalam ruang peralatan di sekolah lama.

Hari itu terjadi kebakaran besar.

Dia terus terbatuk di dalam asap tebal, menangis menggunakan telepon jam tangan sambil memanggil ayahnya untuk meminta tolong.

Sedangkan Erik pada saat itu, sedang memeluk dan menenangkan Nana karena Nana takut suara petir.

Dia bahkan menganggap telepon Kirei mengganggu tidur Nana, lalu langsung memasukkan nomor itu ke daftar blokir.

Kirei terus menggenggam jam tangan anak-anak yang terputus jalurnya itu sampai meninggal.

Aku mengerahkan tenaga sedikit demi sedikit untuk menarik pergelangan tanganku dari telapak tangan Erik.

"Pak Erik terlalu banyak khawatir."

"Kirei, dia nggak perlu sekolah lagi ke depannya."

Kelopak mata Erik melonjak hebat, suaranya menyiratkan kekerasan yang bahkan tidak disadari oleh dirinya sendiri.

"Kamu sebenarnya kenapa menggila?"

Aku tidak menjawab.

Aku langsung membuka lilitan tali map kertas cokelat, lalu mengeluarkan dua lembar kertas yang dibubuhi cap timbul.

Itu adalah selembar surat pemberitahuan kematian dari rumah sakit.

Dan selembar sertifikat kremasi.

Dasar putih dengan cap merah, begitu menusuk mata hingga membuat orang pusing.

Aku membentangkan kedua kertas itu di atas meja staf tata usaha.

Suaraku tidak besar, tapi setiap katanya terdengar jelas.

"Tolong segera diproses."

"Orang mati, nggak perlu mempertahankan status muridnya."

Tampilkan Lebih Banyak
Bab Selanjutnya
Unduh

Bab terbaru

Bab Lainnya

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Tidak ada komentar
9 Bab
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status