Compartir

Bab 2

Autor: Wulan
Dia membuka kotak kue itu dengan gelisah, lalu segera menutupnya lagi dan membuangnya ke tempat sampah. "Sudah dingin, aku belikan lagi yang baru."

Dia buru-buru keluar, lalu menelepon. "Cheryl, kue itu jangan dimakan, kamu alergi durian."

Perawat berpapasan dengannya, lalu tersenyum saat masuk. "Di luar hujan lho. Suamimu pergi beliin kamu kue durian lagi ya?"

Tiba-tiba, muncul permintaan pertemanan di ponselku. Entah kenapa, aku menekan setuju.

Dia sedang mengetik. Aku malah membuka halaman momen miliknya. Hanya bisa dilihat tiga hari terakhir, dan hanya ada satu foto latar.

Terlihat seorang pria memayungi seorang gadis. Payung itu sepenuhnya condong ke arah gadis itu, sementara bajunya sendiri basah.

[ Halo, aku Cheryl. ]

Sebelum aku sempat membalas, pesan gadis itu muncul lagi.

[ Kamu pasti sudah tahu siapa aku, jadi nggak perlu perkenalan lagi. ]

[ Tenang saja, aku nggak akan merebutnya darimu. Setelah menjelaskan beberapa hal, aku akan menghapus kontaknya. ]

Aku menggenggam ponselku erat-erat. Jadi, di depanku Warren menghapus kontaknya, tetapi kemudian menambahkannya kembali?

Tak lama kemudian, Cheryl mengirim sebuah catatan. Sangat terperinci, berisi kebiasaan hidup Warren. Seolah-olah justru aku yang menjadi pihak ketiga yang akan mengambil alih.

[ Dia kalau bangun pagi akan merasa haus, harus minum segelas besar air hangat. ]

[ Dia nggak suka dasi warna biru. ]

[ Kalau minum kopi, dia suka tambah dua sendok gula. ]

Tak lama kemudian, Cheryl memperbarui status. Isinya tangkapan layar percakapan kami, dengan sebuah keterangan.

[ Selamat tinggal, kekasihku. ]

Setengah jam kemudian, Warren kembali ke sisiku dalam keadaan basah kuyup. Sudut matanya merah, seperti orang yang baru patah hati. Keadaannya tampak sangat terpuruk. Di matanya ada sesuatu yang asing, yang belum pernah kulihat.

"Kenapa kamu menghubunginya?" Akhirnya dia tak bisa menahan diri, berteriak kepadaku di ruang rawat.

"Aku sudah bilang padamu, aku akan memutuskan hubungan dengannya! Dia nggak tahu tentang keberadaanmu, dia juga korban!"

Dulu saat dia dipaksa berpisah dariku, dia bahkan tidak menangis. Sekarang hanya karena Cheryl menghapus kontaknya, dia sampai meneteskan air mata.

Perawat yang hendak mencabut infusku berdiri di pintu, wajahnya penuh ketidakpercayaan. Semua orang tahu dia adalah pria yang mencintaiku dengan sepenuh jiwa. Bagaimana mungkin dia tega membentakku?

Saat melihat foto-foto di ponselnya, aku juga tidak percaya. Janji-janji setianya padaku, hanya dalam tiga tahun sudah hancur berantakan.

Padahal sebelum Cheryl muncul, aku sudah menemani Warren selama tujuh tahun. Dari usia 20 sampai 27 tahun, seluruh masa mudaku kuhabiskan untuknya.

Perawat berseru, "Darahnya ngalir balik, aku cabut jarumnya ya."

Baru pada saat itu Warren menjadi tenang, menggenggam tanganku. "Thalia, beri aku sedikit waktu lagi ya? Hanya satu bulan. Setelah aku menyelesaikan urusannya, aku akan kembali dan menikahimu."

Dulu, menjadi suami istri adalah tujuan kami bersama. Sekarang, di matanya pernikahan berubah menjadi paksaan sepihak dariku, menjadi sesuatu yang dia jalani dengan setengah hati.

Ponselku tiba-tiba memunculkan pengingat hari jadi.

[ Sudah sepuluh tahun! Di hari ini Thalia dan Warren pasti terus bahagia bersama! ]

Harapan yang kubuat saat masih berusia 20 tahun, berubah menjadi ilusi di usia 30 tahun.

Aku menatap wajah Warren dengan serius, memastikan bahwa dia benar-benar lupa hari ini adalah hari jadi kami yang ke-10.

Dulu, setiap hari jadi kami, dia selalu menyiapkan kejutan dan makan malam lebih awal. Bahkan saat terpisah selama tiga tahun, kami akan menyiapkan hidangan yang sama dan merayakannya lewat panggilan video.

Sekarang dia lupa, saatnya aku yang memberinya kejutan untuk menutup sepuluh tahun ini dengan sebuah titik.

"Warren, sebelum kamu pergi menemuinya, temani aku makan sekali saja. Aku akan masak sendiri."

Dia menatapku dengan penuh semangat. "Thalia, kamu setuju?"

Dia mengabaikan yang lain, hanya mengingat bahwa dia ingin pergi menemui wanita itu. Aku sibuk di dapur, sementara dia memegang ponsel, terus menelepon tanpa lelah.

Dulu selama dia ada, dia tidak pernah mengizinkanku masuk dapur, selalu mendorongku ke ruang tamu dengan penuh kasih sayang. "Sayang, dapur itu berbahaya. Biar aku yang masak."

Setelah aku selesai memasak, dia mencium keningku. "Terima kasih ya."

Dia mengucapkan "terima kasih," bukan lagi "jangan masak, biar aku saja".

Ternyata peranku sudah lama berubah, menjadi pembantu yang memasak untuknya.
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Cintanya Berlabuh Pada Penggantiku   Bab 8

    Aku tidak pernah menyangka seumur hidupku akan bertemu dengannya lagi. Bahkan lebih tidak pernah menyangka, setelah lebih dari 20 tahun, saat kami bertemu lagi, kalimat pertama yang dia ucapkan padaku justru adalah tuduhan.Aku mengangkat kepala, menahan air mata yang hampir menitik. Dengan wajah tanpa ekspresi, aku menatapnya. "Ayahku cuma punya satu anak perempuan, dari mana datangnya adik?""Aku hanya mengambil kembali milikku sendiri. Kamu tiba-tiba masuk dan memaki tanpa alasan, apa maksudnya?"Dia langsung menunjukku dan memaki, "Perempuan jalang! Kamu lahir dari perutku! Semua yang ada padamu, aku yang berikan! Kalau kamu ambil rahim adikmu, gimana nasibnya kelak?"Aku tidak bisa menahan tawa. "Gimana nasibnya? Kalau sesayang itu sama anakmu, kenapa nggak kamu saja yang jadi donor? Kenapa harus mengincar milik orang lain?"Tak lama kemudian, para pengawal di luar akhirnya bereaksi dan menyeretnya pergi.Aku menutup mata dengan tenang, menunggu operasi. Setelah semua ini, sisa ke

  • Cintanya Berlabuh Pada Penggantiku   Bab 7

    "Thalia, masih sakit ya?""Daging yang sudah busuk itu harus dikorek bersih dulu baru bisa benar-benar sembuh. Luka di sini begitu, luka di hati juga begitu.""Aku nggak mempermasalahkan masa lalumu, tapi aku nggak bisa terima kalau di hatimu selalu ada sepotong daging busuk yang terus disiksa berulang kali."Mataku dipenuhi air mata, aku menggigit bibir tanpa berkata apa-apa. Bryan menghela napas, lalu memelukku, menepuk punggungku dengan lembut tanpa suara.Beberapa saat kemudian, aku mengangkat kepala dan berkata dengan tegas, "Aku sudah nggak cinta dia lagi."Di hari pernikahan itu, saat Bryan menggandeng tanganku dan muncul di hadapan semua orang, Warren yang duduk di kursi tamu langsung membelalakkan mata."Thalia!" Dia sontak berdiri, ingin berlari ke atas panggung.Namun, dia langsung dihentikan oleh asistennya. "Pak Warren, bisnis utama perusahaan kita punya kerja sama dengan Keluarga Syarief. Kita nggak bisa menyinggung Pak Bryan."Mata Warren langsung memerah. Dia hanya bisa

  • Cintanya Berlabuh Pada Penggantiku   Bab 6

    "Sampai pencuri bisa masuk ke rumahku!"Manajer properti buru-buru meminta maaf, "Pak Warren, berapa pun kerugian di rumah Anda, kami akan menggantinya dengan uang tunai terlebih dahulu. Tenang saja, kami akan segera melapor ke polisi dan ke depan juga akan memperketat keamanan."Namun, setelah berkeliling memeriksa bersama, semua barang di rumah masih ada, hanya beberapa foto pernikahan yang hilang. Seolah-olah terpikir sesuatu, Warren segera membuka laci kamarnya dengan panik.Kotak yang selama ini kusimpan dengan hati-hati sudah tidak ada. Wajahnya langsung pucat. Dia berjalan terhuyung ke kamar mandi.Di sudut yang tidak mencolok, tergeletak selembar kertas yang belum terbakar habis. Hanya satu kata samar, "hamil", tetapi itu sudah cukup membuat Warren runtuh.Baru saat itu dia teringat, di tahun mereka kehilangan anak pertama, nomor yang terdaftar di rumah sakit adalah miliknya.Saat itu, telepon dari asistennya masuk. Warren segera mengangkatnya. "Sudah ketemu?"Suara sekretaris

  • Cintanya Berlabuh Pada Penggantiku   Bab 5

    Ponsel terlepas dari tangan Warren. Dia menatap pesan itu lama sekali sebelum akhirnya bertanya, "Apa katamu?"Asisten di sana mengulang dengan suara keras, "Apinya terlalu besar, Bu Thalia nggak berhasil diselamatkan.""Keluarga sudah mengurus jenazah Bu Thalia, bahkan sudah mengadakan pemakaman. Sebelumnya aku telepon Bapak, tapi selalu diangkat oleh Bu Cheryl. Dia bilang akan menyampaikan pada Bapak.""Dia bilang Bapak sangat sibuk, urusan pekerjaan bisa dikirim lewat email, sementara untuk hal lain yang nggak penting, tunggu Bapak pulang saja."Telinga Warren tiba-tiba berdengung, dia tidak percaya. Dengan suara lirih, dia bergumam, "Gimana mungkin .... Waktu itu aku jelas-jelas sudah menyuruh orang langsung melapor ke polisi ...."Saat itu, melihat kondisi Cheryl tidak baik, dia langsung pergi ke luar negeri dalam keadaan panik. Dia menatap pesan itu dengan tajam, tiba-tiba merasa gelisah.Dengan tergesa-gesa, dia memberi instruksi kepada asistennya, "Aku nggak percaya dia sudah m

  • Cintanya Berlabuh Pada Penggantiku   Bab 4

    Bayangan pemuda yang dulu mempertaruhkan nyawanya untuk melindungiku melintas di benakku. Air mata pun menitik dari sudut mataku.Ponselku tiba-tiba menerima pesan dari Ayah.[ Thalia, aku sudah suruh anak dari Keluarga Syarief itu menjemputmu. ]Aku mematikan layar, lalu tersenyum tipis. "Baiklah."Warren mencium pipiku dengan penuh semangat. "Tenang saja, nanti aku pasti akan mengadakan pernikahan besar untukmu."Aku tersenyum pahit. Tidak ada lagi "nanti" bagi kita, Warren. Aku membiarkan dia menyeretku di tengah hujan, mengantarku ke ruang pengambilan darah.Setiap kali Cheryl mengeluh sakit, dia malah memaksa dokter mengambil satu tabung darah lagi dariku. Sampai tabung ke-10, akhirnya aku tidak kuat lagi, pandanganku menjadi gelap.Saat terbangun, ternyata Warren berjaga di samping tempat tidurku. "Thalia, kamu akhirnya sadar!"Aku merasakan nyeri menusuk di perut bagian bawah, lalu refleks mengulurkan tangan untuk menyentuhnya. Namun, Warren justru menangkap tanganku, tidak bera

  • Cintanya Berlabuh Pada Penggantiku   Bab 3

    Kini, orang yang dia sayangi sepenuh hati sudah berganti menjadi wanita lain. Dia makan sangat cepat, pikirannya berada di tempat lain.Di hadapannya, aku mengenang satu per satu kenangan kami selama sepuluh tahun."Warren, dulu saat kamu menyelamatkanku dari para preman itu, aku sudah bersumpah akan selalu bersamamu seumur hidup. Masih ingat cincin yang kamu berikan saat aku masih 20 tahun?"Aku menunjukkannya padanya, cincin yang sudah kupakai selama sepuluh tahun. Lapisan tembaganya sudah terkelupas, menampakkan karat yang belang.Akhirnya dia mau mengalihkan pandangannya dari ponsel, lalu tersenyum seadanya. "Kenapa masih pakai cincin jelek begitu?"Hatiku terasa tercabik sedikit demi sedikit. Aku diam, lalu melepas cincin itu. Sepuluh tahun menjaga sesuatu ... ternyata seperti lelucon.Tahun itu, seorang pemuda menyatakan cintanya padaku dengan tulus, memasangkan cincin dengan keras kepala. "Thalia, nggak boleh dilepas ya."Petir menggelegar, aku mengambilkan lauk untuknya. Namun,

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status