Short
Saat Bunga Berguguran, Engkau pun Berpaling

Saat Bunga Berguguran, Engkau pun Berpaling

By:  DuylaCompleted
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
21Chapters
2.5Kviews
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Demi menyelamatkan kakaknya yang sakit-sakitan, Valeria Aryaka masuk kamp pelatihan pembunuh Keluarga Linggar secara sukarela, saat dia baru berusia tujuh tahun. Pada usia sembilan tahun, Valeria sudah mahir menggunakan berbagai jenis senjata. Pada usia enam belas tahun, dari seratus gadis di kamp pelatihan tersebut, hanya dia satu-satunya yang berhasil keluar hidup-hidup. Valeria pun berhak berdiri di hadapan Calvin Linggar dan menjadi pengawal pribadinya. Sejak hari itu, Valeria menjadi senjata terbaik milik Calvin. Kekuasaan Keluarga Linggar begitu rumit, saling terkait dan penuh konflik kepentingan. Demi membantu Calvin merebut kekuasaan dengan sukses, tangan Valeria pun berlumuran darah. Di siang hari, mereka adalah rekan yang saling mempertaruhkan nyawa. Namun, di malam hari, mereka adalah sepasang kekasih yang terikat dalam gairah yang dalam. Valeria benar-benar mengira bahwa mereka akan bersama untuk selamanya. Sampai suatu ketika, Valeria tertembak dan pingsan demi melindungi Calvin. Saat Valeria tersadar dari komanya, yang pertama kali dia dengar adalah suara dingin Calvin. "Gimana, Tania? Aku menang. Sudah kubilang, meski mengulur waktu sedikit lebih lama, aku nggak bakal mati, karena Valeria pasti akan pertaruhkan nyawanya demi menyelamatkanku."

View More

Chapter 1

Bab 1

Demi menyelamatkan kakaknya yang sakit-sakitan, Valeria Aryaka masuk kamp pelatihan pembunuh Keluarga Linggar secara sukarela, saat dia baru berusia tujuh tahun.

Pada usia sembilan tahun, Valeria sudah mahir menggunakan berbagai jenis senjata.

Pada usia enam belas tahun, dari seratus gadis di kamp pelatihan tersebut, hanya dia satu-satunya yang berhasil keluar hidup-hidup. Valeria pun berhak berdiri di hadapan Calvin Linggar dan menjadi pengawal pribadinya.

Sejak hari itu, Valeria menjadi senjata terbaik milik Calvin.

Kekuasaan Keluarga Linggar begitu rumit, saling terkait dan penuh konflik kepentingan. Demi membantu Calvin merebut kekuasaan dengan sukses, tangan Valeria pun berlumuran darah.

Pada usia delapan belas tahun, dalam sebuah insiden tak terduga, mereka dikepung oleh pengkhianat. Pada saat itulah, Calvin mengadang peluru demi melindungi dan menyelamatkan nyawa Valeria.

Sejak saat itu, Valeria pun mulai jatuh cinta.

Selama tiga tahun terakhir, di siang hari, mereka adalah rekan yang saling mempertaruhkan nyawa. Namun, di malam hari, mereka adalah sepasang kekasih yang terikat dalam gairah yang dalam.

Dalam malam-malam yang tak terhitung jumlahnya, mereka tidur saling berpelukan dan Calvin akan berbisik di telinga Valeria, "Valeria, aku nggak bisa hidup tanpamu."

Valeria benar-benar mengira bahwa mereka akan bersama selamanya.

Hingga pada kejadian kali ini, saat Calvin menjadi incaran musuhnya. Mereka bertarung sengit selama berjam-jam, sampai akhirnya menemukan kesempatan untuk meloloskan diri.

Valeria berjuang mati-matian melindungi Calvin agar bisa pergi. Namun, tepat di saat Calvin memungut pistol yang terjatuh, terdengar suara tembakan.

Tanpa ragu sedikit pun, Valeria pasang badan di depan pria itu. Tiga peluru pun bersarang di perutnya.

Saat maut menjemput, Valeria melihat mata Calvin memerah karena tangis. Dengan suara serak dan tenaga yang tersisa, pria itu meneriakkan namanya di telinga Valeria, "Valeria!"

Valeria menghabiskan sisa tenaga terakhirnya untuk menghapus air mata di sudut mata Calvin, lalu berbisik, "Nggak apa-apa, aku nggak sakit." Sebelum akhirnya jatuh pingsan.

Entah berapa lama waktu berlalu, Valeria terbangun dari komanya. Yang pertama terlihat oleh matanya adalah langit-langit rumah sakit yang berwarna putih pucat.

Valeria merasa seluruh tubuhnya lemas tidak bertenaga. Baru saja Valeria hendak memanggil seseorang, tiba-tiba terdengar suara dingin Calvin dari kejauhan.

"Gimana Tania? Taruhan ini, akulah pemenangnya. Sudah kubilang, meski aku sengaja mengulur waktu lebih lama, aku nggak bakal mati. Valeria pasti akan mempertaruhkan nyawanya sendiri untuk menyelamatkanku."

Tania Damira menyahut dengan suara yang manis, "Oke, karena kamu sudah melakukan apa yang kuminta dan berhasil bertahan hidup, katakan, hadiah apa yang kamu mau?"

"Menurutmu?" Suara pria itu kini terdengar penuh gairah.

Valeria menolehkan kepalanya dengan kaku. Dia pun melihat bayangan pria dan wanita yang saling berpaut di balik tirai tipis.

Valeria ingin angkat bicara, tetapi tidak ada sedikit pun suara yang keluar.

Ternyata, semua ini hanyalah sebuah taruhan.

Rasa sakitnya sama sekali tidak berharga di mata pria itu. Bahkan, nyawanya juga tega dijadikan Calvin sebagai bahan taruhan!

Melalui tirai tipis itu, Valeria melihat jelas Calvin menindih Tania di bawah tubuhnya dan menciumnya dengan begitu dalam.

"Calvin, dia masih ada di samping kita …."

"Abaikan saja dia." Suara Calvin terdengar berat dan serak. "Memangnya kamu nggak mau?"

Tania tidak bisa menahan diri untuk tidak mengeluarkan lenguhan pelan.

Seketika, seluruh aliran darah Valeria terasa membeku. Detak jantung Valeria seolah terhenti dan otaknya langsung menjadi kosong.

Empat tahun lalu, saat Calvin belum memegang kekuasaan, Tania yang merupakan kekasih masa kecilnya, dipaksa orang tuanya untuk menikah dan pindah ke luar negeri.

Sebulan yang lalu, Tania baru saja bercerai dan kembali ke tanah air.

Valeria tiba-tiba teringat saat pertama kalinya dirinya dan Calvin berhubungan, yang ternyata tepat pada hari pernikahan Tania.

Saat itu, Calvin mabuk berat. Sambil memeluknya, Calvin berbisik di telinga Valeria, "Jangan pergi. Tetaplah di sini menemaniku, ya?"

Valeria tidak mampu menolak dan membiarkan dirinya tenggelam dalam perasaan itu.

Setelah malam penuh gairah itu, Valeria pun resmi menjadi kekasih gelap Calvin yang tidak boleh diketahui orang lain.

Di siang hari, Calvin selalu bersikap dingin kepadanya. Namun, saat malam tiba, Calvin menjadi begitu bergairah hingga nyaris gila, menuntut tanpa henti ….

Hingga detik ini, Valeria baru menyadari bahwa dirinya hanyalah alat pelampiasan bagi Calvin.

Hati Valeria seakan tercabik-cabik hingga tak bersisa.

Setelah mereka selesai bercinta, Valeria mendengar Tania bertanya, "Calvin, karena kamu mau menikahiku, lalu bagaimana dengan Valeria ke depannya?"

Suara Calvin terdengar berat. "Dia sudah menemaniku selama tiga tahun. Aku akan cari cara untuk kasih dia kompensasi. Lagi pula, sebagai pengawal, dia memang sangat berguna. Aku akan biarkan dia tetap berada di sisiku …."

"Valeria punya kepribadian yang keras dan harga diri yang tinggi. Dia kayaknya nggak bakal mau." Tania bertanya dengan nada menyelidik.

"Dia bakalan mau," sahut Calvin dengan nada santai, penuh dengan percaya diri, seakan sudah menguasai penuh wanita itu. "Kakaknya masih ada di tanganku …."

Tatapan mata Valeria menjadi kosong. Tenggorokannya terasa begitu pahit.

Ternyata, kakaknya sendiri juga hanya alat untuk mengendalikan dirinya.

Wajah Valeria menjadi pucat pasi. Jari-jarinya tanpa sadar mengepal erat hingga kuku-kukunya nyaris menancap ke dalam daging. Akan tetapi, Valeria tidak merasakan sakit sedikit pun.

Mendengar gerak-gerik Calvin yang beranjak bangun, Valeria langsung memalingkan wajahnya, berpura-pura masih tertidur lelap.

Setelah beberapa menit berlalu, Valeria pun berakting seolah-olah baru saja terbangun.

Menyadari Valeria sudah membuka mata, Calvin mengusap pipinya dengan telapak tangannya yang besar, lalu bertanya dengan penuh perhatian, "Gimana Valeria? Apa ada bagian yang nggak nyaman?"

Valeria menggelengkan kepalanya dengan raut wajah tenang.

"Kali ini, kamu sudah menyelamatkanku. Kamu boleh minta apa pun yang kamu mau …."

Calvin mengerutkan keningnya dalam-dalam. Sorot matanya memancarkan rasa iba.

Valeria pun bertanya, "Apa pun boleh?"

"Tentu saja."

"Aku mau ketemu kakakku, bolehkah?"

Setelah Valeria selesai bicara, kilatan emosi yang rumit melintas di mata Calvin. Calvin terdiam sejenak, lalu menarik kembali tangannya.

Valeria dengan peka menangkap ada sesuatu yang tidak beres. "Ada apa?"

Tania yang berdiri di samping tiba-tiba angkat bicara. "Belakangan ini, Devan menemani kakakku berlibur. Baru bisa pulang sebulan lagi."

Mata Valeria langsung melotot. Dia berusaha keras untuk bangkit berdiri. "Apa?"

Di seluruh Kota Jalida, siapa yang tidak tahu bahwa Felix Damira, kakak Tania, adalah seorang pria yang menyimpang?

Felix tidak hanya menyukai laki-laki maupun perempuan, tetapi juga gemar menyiksa orang. Siapa pun yang pernah naik ke tempat tidurnya, jika tidak mati, pasti akan terluka parah.

Devan terlahir dengan penyakit genetik dan fisiknya selalu lemah. Membayangkan apa yang mungkin menimpa kakaknya, Valeria pun tidak kuasa menahan tangis hingga matanya memerah.

"Calvin, barusan kamu janji padaku kalau aku boleh minta apa pun! Aku mau kamu kirim orang untuk menjemput kakakku pulang sekarang juga!"

Belum sempat Calvin bicara, Tania sudah terlebih dahulu menyela, "Valeria, perhatikan posisimu! Kamu itu cuma pengawal. Berani-beraninya mengajukan tuntutan pada majikanmu?"

"Kakakmu yang penyakitan itu sudah menghabiskan begitu banyak uang Keluarga Linggar. Apa salahnya dia pergi menemani kakakku bermain sebentar? Kakakku nggak bakal berbuat macam-macam padanya."

Suara Valeria terdengar sedikit bergetar. "Tania, itu kakakku! Bukan mainan yang bisa kalian tukar-tukar sesuka hati!"

Calvin memicingkan matanya, menatap Valeria dengan tatapan yang dalam. Kemudian, dia berkata dengan nada yang tidak bisa dibantah, "Cukup! Masalah ini nggak perlu dibahas lagi. Kamu dan Devan orang-orang Keluarga Linggar. Keputusanku bukan urusanmu."

"Fokuslah pada pemulihanmu dulu. Setelah kamu sembuh, baru ajukan permintaan lain padaku." Setelah mengatakan itu, Calvin langsung membawa Tania pergi bersamanya.

Pria itu jelas-jelas tahu bahwa Devan adalah satu-satunya anggota keluarga yang masih dimiliki Valeria di dunia ini!

Sadar jika memohon kepada mereka tidak akan ada gunanya, Valeria pun menekan rasa panik di hatinya.

Setelah mereka pergi, Valeria menghubungi sebuah nomor. "Kamu pernah bilang kalau kamu berutang nyawa padaku. Aku ingin memintamu menyelamatkan kakakku dari tangan Felix, lalu bantu kami pergi dari Keluarga Linggar."
Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

reviews

M--G
M--G
tragis ternyata obsesi ayahnya menghancurkan kebahagian anaknya..sadarlah wahai orang tua
2026-04-08 17:40:48
0
0
21 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status