LOGINSetelah pacaran lima tahun, akhirnya pacarku setuju menemuiku orang tuaku. Namun, saat makan, dia tiba-tiba beralasan ada urusan kantor dan pergi dengan tergesa-gesa. Aku memaksakan senyuman saat mengantar Ayah dan Ibu pulang, lalu terdiam sambil mengeluarkan ponsel. Benar saja, sahabat perempuan pacarku kembali mengunggah sesuatu di linimasa. [ Didesak keluarga buat nikah nggak usah takut, cukup punya pria yang mau menemanimu bertemu orang tua. ] [ Hadiahnya satu ciuman, teruskan seperti ini ya! ] Foto pertama memperlihatkan pacarku merangkul lengannya dengan mesra, bersama-sama memberi hormat sambil bersulang kepada para orang tua. Foto lainnya adalah seorang perempuan menempelkan wajahnya ke pipi pria itu dan menciumnya. Melihat tanda like dari pacarku, aku menutup Insatgram dan menelepon ayahku. "Ayah, aku sudah memikirkannya. Aku mau menikah dengan pria yang Ayah perkenalkan untuk perjodohan itu." "Ya, dia yang membantuku membuat pilihan."
View More"Aku yang lebih dulu bersalah padanya," kata Henry. Matanya masih menatap pintu masuk gedung."Apa salahmu padanya? Perempuan kaya dan manja seperti dia tahu apa soal ketulusan?"Kebetulan, aku keluar tepat saat mendengar kalimat itu. Begitu melihatku, Henry langsung mendorong Lindy dan berjalan ke arahku, sementara Lindy menariknya agar tidak pergi."Sonya, bisa kita bicara?" Nada suaranya hampir seperti memohon.Lindy mencibir. "Kamu sampai memohon padanya? Kalau dia benar-benar mencintaimu, apa dia akan memperlakukanmu seperti ini?"Aku terus berjalan menuju mobil yang menungguku. Tiba-tiba, terdengar suara perkelahian dari belakang.Saat menoleh, Henry sedang mendorong Lindy hingga terjatuh ke tanah. Lindy menjerit sambil memaki, lalu bangkit dan mencakar wajahnya.Dua orang yang dulu disebut sahabat itu saling menerkam seperti binatang buas di depan gedung perusahaan, menarik perhatian banyak orang. Sampai akhirnya, ada yang menelepon polisi.Ketika mobil polisi datang, wajah Henr
Saat aku menceritakan hal ini kepada Paul, dia terlihat sangat senang. Dia mengusap kepalaku sambil berkata bahwa aku sudah tumbuh dewasa, juga sudah belajar menyembunyikan emosiku.Aku sedikit malu. Sebenarnya aku sudah lama dewasa, hanya saja di matanya aku akan selalu menjadi adik tetangga kecil yang manis dan polos. Dalam hidupku, kemajuan sekecil apa pun selalu layak mendapat pujian darinya.Karena itu, ketika Paul memberitahuku bahwa dia telah mengaturkan sebuah pekerjaan untukku, aku tidak menolak. Aku tahu keluarga Paul beberapa tahun terakhir meraup kekayaan besar dari bisnis dan perusahaannya juga termasuk yang teratas di kota ini.Lagi pula, karena aku sudah memutuskan untuk menikah dengannya, rasanya tak perlu terlalu mempermasalahkan hal sepele seperti ini.Hanya saja aku tidak menyangka, pekerjaan yang dia atur untukku ini ternyata masih akan berkaitan dengan Henry. Atau lebih tepatnya, Paul yang baru pulang dari luar negeri juga tidak menyangka bahwa Henry ternyata beker
Aku mendengarkan kata-kata yang dulu pernah begitu kunanti-nantikan itu, tetapi tak tahu harus berekspresi seperti apa.Aku menatapnya, tiba-tiba merasa pria yang dulu pernah membuatku patah hati setengah mati ini, kini terasa begitu asing. Dia mengira dengan cara seperti ini dia bisa menebus pengkhianatannya padaku? Bisa menebus malam-malam ketika aku menangis sendirian sampai fajar? Salah besar!Di tengah keheningan ini, aku menghela napas pelan, lalu menoleh ke arah bayangan di bawah pohon tak jauh dari sana. "Sayang, mau berapa lama lagi kamu berdiri di sana buat lihat?"Sayang?! Begitu kata itu terucap, semua orang tertegun, serempak menoleh ke arah bawah pohon di samping. Tak seorang pun berani percaya bahwa kata "sayang" itu keluar dari mulutku.Paul melangkah keluar dari bayangan. Cahaya matahari jatuh tepat ke tubuhnya. Dia mengenakan kemeja putih sederhana, berkacamata bingkai emas, lengan baju digulung asal. Kedua tangannya dimasukkan ke saku, senyum samar tampak di sudut bi
Mendengar perkataan Henry, kepalaku benar-benar penuh tanda tanya.Kadang aku juga cukup kagum dengan cara berpikir orang ini. Hari itu di pesan singkat, aku sudah menjelaskannya dengan sangat jelas bahwa aku akan menikah, tetapi sekarang dia masih berdiri di sini, bertanya apakah di hatiku masih ada dia. Kalau dia datang sedikit lebih terlambat, mungkin aku sudah punya anak."Henry, kalau aku nggak salah ingat, kita sudah putus, 'kan? Jadi, sekarang kamu ngapain? Menahanku?" Nada suaraku sangat dingin, sama sekali tidak memberinya ruang untuk berkhayal. "Maaf, sudah terlambat.""Aku belum setuju! Aku belum setuju putus sama kamu!" Henry sangat marah. "Kalau kamu masih marah karena Lindy, aku bisa suruh dia minta maaf ke kamu. Sonya, jangan ngambek lagi. Ikut aku pulang ya? Bukannya kita sebentar lagi mau nikah?"Aku mengangguk. "Untuk bersama, memang butuh persetujuanmu. Tapi untuk putus, nggak perlu. Kamu benar, aku memang mau nikah. Sayangnya calon suamiku bukan kamu.""Jangan ngomo






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.