Share

Bab 7

Author: Prazas
Larsen membanting Alena dengan keras ke tanah. "Kamu masih saja nggak berubah!"

Alena meringkuk di tanah, rasa sakitnya tidak bisa reda dalam waktu yang cukup lama. Sorot mata Larsen tampak keheranan.

'Kenapa dia kelihatannya kesakitan sekali? Padahal aku sama sekali nggak menggunakan banyak tenaga.'

Saat Larsen hendak mendekat, Vero tiba-tiba berkata dengan suara lemah, "Larsen, dia pasti cemburu karena aku pacarmu, makanya dia melakukan itu padaku. Apa dia juga akan memukulku sampai menjadi pasien vegetatif?"

Wajah Larsen seketika menjadi muram.

Tangan yang semula hendak membantu Alena bangkit, malah mencengkeram dan mengangkat tubuh kurus wanita itu dengan kasar. "Jangan pura-pura sekarat. Minta maaf sama Vero!"

Namun, Alena hanya bersandar lemas di tubuhnya. "Larsen, bukankah kamu membenciku?"

Suara wanita itu begitu lembut dan lirih. "Bunuh aku."

Adiknya sudah tidak ada. Tidak ada lagi alasan baginya untuk terus hidup di dunia ini.

Dalam sekejap, seolah seluruh dunia berubah menjadi kelam. Amarah yang membara bercampur dengan berbagai perasaan rumit memenuhi hati Larsen.

Atas dasar apa? Dia seorang pendosa, tetapi bisa hidup dengan baik selama ini. Atas dasar apa sekarang dia malah meminta mati?

Larsen menyeret Alena dengan kasar, lalu mengangkatnya masuk ke dalam mobil. Di dalam mobil, tubuh pria itu sepenuhnya mengurung Alena. Sepasang tangannya menahan Alena dalam posisi yang memalukan hingga dia sama sekali tidak bisa bergerak.

"Larsen! Kamu mau ngapain? Lepaskan aku! Lepaskan!"

"Kamu benar-benar konyol! Bukankah aku musuhmu? Apa yang sedang kamu lakukan sama musuhmu sendiri?"

"Ah!!"

Larsen tiba-tiba mengecup leher Alena. Pupil mata Alena seketika membesar. Detik berikutnya, dia meronta semakin keras.

Plak!

Perlawanan Alena yang kacau membuat Larsen semakin kesal. Dia tidak bersikap lembut sama sekali terhadap musuhnya. Sebuah tamparan langsung mendarat di wajah Alena.

Nada bicara Larsen terdengar dingin dan kejam. "Kenapa? Tujuh tahun lalu kamu mencelakai ibuku, tujuh tahun kemudian kamu mencelakai pacarku. Bukankah semua itu karena kamu menginginkanku? Sekarang aku memberikan diriku kepadamu, kenapa malah berpura-pura menjadi wanita suci?"

Tamparan itu sebenarnya tidak terlalu keras, tetapi Alena seolah kehilangan seluruh kekuatan di tubuhnya.

"Aku sudah nggak menginginkanmu lagi, Larsen. Sudah lama aku nggak menginginkanmu."

Alena tidak berani, dan memang tidak menginginkan Larsen lagi. Dia hanya terdiam membisu. Larsen hanya merasa hatinya seakan jatuh dan terasa begitu sesak. Dia kembali mengingatkan dirinya sendiri bahwa seberapa pun menyedihkannya wanita di hadapannya, semua ini adalah balasan yang pantas diterimanya.

Alena tidak pantas mendapatkan rasa kasihannya!

Karena itu, Larsen kembali melontarkan kata-kata kejam untuk menyakitinya. "Apa maksudmu nggak menginginkanku lagi? Nggak mau jadi selingkuhan? Dengan sifatmu yang sejahat ini, membiarkanmu menjadi selingkuhan saja sudah terlalu menghargaimu."

Larsen kembali mencoba menguasainya, tetapi Alena memalingkan wajah dan menghindari ciumannya.

"Nggak."

Dia menoleh dan menatap Larsen. Lalu berkata dengan jelas, kata demi kata, "Siapa pun boleh, tapi kamu nggak."

Suhu di dalam mobil seolah langsung turun hingga titik beku.

Larsen terpaku. Sesaat kemudian, terdengar cibiran dari bibirnya, disusul amarah mengerikan yang membuat orang bergidik. "Pergi ke kawasan kumuh."

Mobil segera melaju menuju kawasan kumuh.

Sampah berserakan di mana-mana. Jalanannya kotor dan berantakan, sementara gelandangan terlihat di setiap sudut. Seorang gadis yang dilemparkan sendirian ke tempat seperti itu bagaikan seekor domba yang masuk ke sarang harimau.

Larsen terdengar begitu tenang hingga menakutkan. "Alena, aku beri kamu satu kesempatan terakhir. Tarik kembali ucapanmu tadi ...."

Ucapannya langsung dipotong. "Jangan-jangan kamu juga tuli? Kalau begitu, aku ulangi sekali lagi. Siapa pun boleh meniduriku, tapi kamu nggak."

Alena meringkuk di dekat jendela mobil. Kedua tangannya terus menekan perut untuk meredakan rasa sakit yang luar biasa. "Aku merasa kamu kotor."

Dada Larsen naik turun dengan hebat. Amarahnya seakan langsung menyambar hingga ke ubun-ubun.

"Baik!"

Satu kata itu terlontar dengan berat.

Setelah itu, Larsen menyeret Alena keluar dari mobil dengan paksa, lalu melemparkannya begitu saja kepada seorang pengemis buta yang sedang mengemis.

"Mulai sekarang, habiskan sisa hidupmu bersamanya. Jangan sampai aku melihatmu di luar kawasan kumuh. Kalau nggak, nasib adikmu hanya akan lebih mengenaskan daripada kamu!"

Adik?

Alena tersenyum getir.

Dia sudah tidak punya adik lagi.

Pintu mobil ditutup dengan keras.

Larsen berkata dengan marah, "Jaga kawasan kumuh ini baik-baik! Jangan biarkan dia melangkah keluar sedikit pun! Mulai sekarang, nggak perlu laporkan keadaannya padaku!"

Larsen merasa dirinya benar-benar bodoh. Selama bertahun-tahun ini, ternyata dia masih saja tidak bisa melupakan wanita keji dan hina seperti Alena! Dia tidak mau melihat wanita ini lagi!

Larsen pergi dengan begitu tegas tanpa menoleh sedikit pun.

Namun, dia tidak tahu bahwa begitu dirinya pergi, tubuh Alena yang sudah lama mencapai batas akhirnya memuntahkan begitu banyak darah.

Pengemis yang buta sebelah itu menjadi panik dan buru-buru membantu membersihkan darah Alena. Dalam kesadarannya yang mulai kabur, Alena tersenyum mengejek dirinya sendiri.

Siapa sangka, pada saat-saat terakhir hidupnya, orang yang memberinya sedikit kehangatan justru seorang pengemis.

"Ka ... kamu jangan mati. Aku antar kamu ke rumah sakit," kata pengemis itu dengan terbata-bata.

Alena mengeluarkan sebuah kartu bank.

"Nggak perlu. Kata sandinya enam angka terakhir nomor kartu. Di dalamnya ada 60 juta. Cukup untuk biaya hidupmu selama beberapa waktu. Aku cuma memohon satu hal. Tolong belikan aku kotak abu seharga 40 ribu, lalu pergi ke sekolah pendidikan khusus dan urus jenazah adikku. Namanya Arina."

"Adikku suka sesuatu yang cantik. Tolong belikan lebih banyak stiker untuk kotak abunya dan hias secantik mungkin."

Suara Alena semakin lirih.

Semakin pelan.

Hingga akhirnya ....

Tidak terdengar lagi napas darinya.

Larsen, semoga kamu tidak pernah mengetahui kebenarannya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Ciuman Perpisahan Di Malam Musim Panas   Bab 16

    Sebuah mobil mewah seharga puluhan miliar muncul dengan tenang di kawasan kumuh.Di bangunan kecil bobrok tempat Alena dan Andre tinggal selama tiga tahun terakhir, pipa-pipa baja yang berkarat dan dinding bata yang rusak dihiasi bunga plastik warna-warni. Di balkon tergantung lampu hias murah yang berkelap-kelip, sementara jendela yang sudah menguning ditempeli kertas warna-warni dengan motif kekanak-kanakan.Semua itu dihias sendiri oleh Andre setelah mengetahui bahwa Alena akan pulang.Wajah pria difabel itu masih menyisakan luka akibat pukulan Larsen beberapa waktu lalu. Namun, senyum Andre begitu lembut, sangat bertolak belakang dengan rongga matanya yang gelap dan bekas luka mengerikan di wajahnya.Dia sudah menyiapkan semeja penuh dengan makanan kesukaan Alena. Sambil menggosok-gosokkan kedua tangannya dengan gugup, dia menunggu kedatangan Alena.Begitu melihat Alena turun dari mobil mewah itu, Andre langsung menyambutnya dengan gembira. Dia memeriksa tubuh Alena dari atas sampa

  • Ciuman Perpisahan Di Malam Musim Panas   Bab 15

    Setiap hari, Larsen memaksa Alena minum obat, menerima suntikan, menjalani kemoterapi, dan mendapatkan asupan nutrisi.Setiap kali Alena tidak mau bekerja sama, dia akan menggunakan Andre untuk mengancamnya. Meskipun cara ini membuat Larsen cemburu sekaligus sakit hati, cara tersebut selalu berhasil.Dengan perawatan intensif dari hari ke hari, kondisi Alena ternyata terlihat semakin membaik. Wajahnya tampak lebih segar, bahkan berat badannya juga bertambah.Melihat kondisi Alena yang semakin membaik setiap hari, Larsen sangat bahagia. Dia mengira dirinya benar-benar bisa menyembuhkan Alena.Namun ketika dia kembali membawa Alena menjalani pemeriksaan, laporan hasil pemeriksaan menghancurkan segalanya, termasuk harapan Larsen yang sempat membuncah. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa kondisi tubuh Alena sama sekali tidak membaik.Obat terapi target dan obat khusus yang sangat mahal itu sama sekali tidak mampu menghentikan penyebaran sel kanker. Hidup Alena bahkan tidak berhasil diperpa

  • Ciuman Perpisahan Di Malam Musim Panas   Bab 14

    Di kediaman pribadi Larsen.Di taman pribadi yang bermandikan sinar matahari cerah, Alena mengenakan pakaian rumah yang longgar dan nyaman sambil duduk di bawah payung taman.Larsen memandangi siluet wanita itu yang kurus dan rapuh, tetapi tetap cantik, sampai terpaku.Setelah cukup lama, barulah dia berjalan menghampiri sambil membawa obat. Dia mengambil buku dari tangan Alena. "Alena, waktunya minum obat."Pikirannya yang terputus membuat Alena memalingkan tubuh dengan penuh rasa muak.Sejak Larsen membuatnya pingsan dan membawanya ke kediaman pribadi ini, Alena sudah tinggal di sini selama sebulan.Setiap hari, tenaga medis keluar masuk kediaman. Dia menjalani kemoterapi, terapi target, minum obat, akupunktur ....Rambutnya yang semula sudah kering dan kasar, kini telah rontok seluruhnya. Sekarang, dia hanya bisa mengenakan topi bucket untuk menutupi kepalanya yang botak.Melihat penolakan Alena yang begitu jelas, Larsen tetap sabar. "Alena, setelah minum obat, kamu nggak akan kesak

  • Ciuman Perpisahan Di Malam Musim Panas   Bab 13

    Satu kalimat itu membuat seluruh emosi Larsen bergolak hebat.Dia memeluk Alena dengan erat. "Aku bajingan, aku memang bukan manusia! Alena, aku datang untuk menjemputmu. Mulai sekarang, kamu nggak perlu lagi menderita di sisi sampah seperti ini!"Alena perlahan mendorongnya menjauh, lalu berjalan ke sisi pria buta sebelah itu. Dengan penuh perhatian, dia membantu pria itu berdiri dan bertanya pelan, "Kamu nggak apa-apa?"Setelah itu, dia menatap Larsen dan berkata, "Nggak perlu merepotkan Pak Larsen. Aku tidak merasa menderita setelah menikah dengan suamiku. Aku justru sangat berterima kasih karena dulu Pak Larsen membuangku di sini. Kalau nggak, aku nggak akan pernah bertemu dengan suamiku yang sebaik ini. Satu lagi, suamiku bukan sampah. Dia punya nama. Namanya Andre."Hati Larsen terasa seperti disayat pisau.Untuk sesaat, dia tidak tahu apakah ucapan Alena benar-benar berasal dari lubuk hatinya atau hanya sengaja diucapkan untuk membuatnya marah.Ekspresi Larsen berubah dingin. Di

  • Ciuman Perpisahan Di Malam Musim Panas   Bab 12

    Tidak ada kelahiran kembali. Tidak ada kesempatan untuk menebus kesalahan.Ayah Alena sudah meninggal sepuluh tahun lalu. Arina juga sudah meninggal. Sedangkan Alena ... Larsen bahkan tidak tahu di mana dia dimakamkan. Dia tidak berhasil mengubah apa pun. Dia hanya orang malang yang mencoba bunuh diri, tetapi kemudian diselamatkan.Setelah kejadian itu, Jarvis juga tidak berani lagi mengurungnya.Larsen datang ke kawasan kumuh. Di persimpangan tempat dia meninggalkan Alena dulu, dia mengerahkan orang-orangnya untuk mencari dalam waktu lama.Namun, mereka tetap tidak menemukan jejak Alena.Kawasan kumuh itu masih sama bobrok dan kotornya. Tidak banyak yang berubah. Hanya saja, para pengemis dan tunawisma yang berkeliaran di sekitar sana sudah berganti. Bahkan pengemis buta yang dulu pun tidak berhasil dia temukan.Alena seolah menghilang begitu saja dari muka bumi. Meskipun Larsen memiliki koneksi dan kekuasaan yang sangat besar, dia tetap tidak mampu menemukan jejak Alena sedikit pun.

  • Ciuman Perpisahan Di Malam Musim Panas   Bab 11

    Dia terlahir kembali!Dia kembali ke masa ketika pembalasannya terhadap Alena baru saja dimulai. Saat ini, Alena belum meninggal, Arina belum meninggal, dan ayah Alena juga masih hidup. Semuanya masih sempat diperbaiki!Tanpa ragu sedikit pun, Larsen langsung berlari menuju ruang penyimpanan peralatan olahraga.Ketika tiba di sana, beberapa siswa laki-laki sedang melempari Alena dengan bola voli. Bola demi bola menghantam kaki dan perut Alena dengan keras. Alena hanya bisa meringkuk di sudut ruangan sambil memeluk kepalanya untuk melindungi diri.Begitu menemukan kesempatan, dia mengambil sebuah bola voli dan melemparkannya sekuat tenaga ke wajah siswa yang memimpin kelompok itu. Wajah siswa itu terkena bola. Dia langsung murka dan berjalan menghampiri Alena dengan garang."Sialan, dasar jalang! Berani sekali kamu memukulku!"Sambil berkata demikian, dia mengangkat kaki yang mengenakan sepatu berpaku dan hendak menginjak lengan Alena yang ramping.Alena sudah tidak punya tempat untuk m

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status