مشاركة

Bab 6

مؤلف: Prazas
Setelah berhasil membujuk Vero hingga tidak marah lagi, Larsen membuatkan surat keterangan kerja dan kembali ke ruang privat Surgaloka. Entah mengapa, setiap kali teringat tatapan Alena yang seolah sudah kehilangan keinginan untuk hidup, hatinya selalu diliputi kegelisahan yang tidak bisa dijelaskan.

Ketika membuka pintu ruangan, dia melihat sosok yang kurus kering sedang berlutut di lantai, tangannya gemetar saat mengumpulkan serpihan foto yang berserakan.

Mata tajam Larsen segera menangkap beberapa gumpalan tisu berlumuran darah di tempat sampah.

Dia mencibir dalam hati, 'Trik murahan.'

Setelah bersusah payah mengumpulkan semua serpihan foto, Alena bangkit dengan tubuh sempoyongan. Begitu berbalik, dia langsung melihat Larsen. Dengan panik, dia segera menghapus noda darah di sudut bibirnya.

Larsen mencibir, "Susah payah menyiapkan darah palsu sebanyak itu, kamu mau berpura-pura menyedihkan di depan siapa?"

Alena tertegun.

Rasa nyeri yang mencengkeram lambungnya seakan ikut meremas jantungnya. Dia tersenyum getir dan mengejek dirinya sendiri. "Ternyata tetap ketahuan sama Pak Larsen."

Plak.

Selembar kertas dilemparkan ke wajah Alena dengan suara nyaring.

Larsen menatapnya dengan jijik. "Ambil surat keterangan kerjamu, lalu pergi."

Alena mengambil surat itu dan melipatnya dengan sangat hati-hati.

Untuk pertama kalinya selama beberapa hari terakhir, senyum bahagia muncul di sudut bibirnya. Dengan surat keterangan kerja ini, dia akhirnya bisa bertemu Arina. Dia akan menyerahkan semua uang yang dimilikinya kepada Arina dan memberitahukan kondisinya.

Sejak kecil Arina selalu kuat. Alena percaya adiknya pasti bisa menerima kenyataan bahwa dirinya akan meninggal.

'Larsen, setelah ini kamu nggak akan pernah bisa menyiksaku lagi.'

Dengan tidak sabar, Alena menunggu hingga akhir pekan berlalu. Begitu hari kerja tiba, dia segera mengurus semua dokumen yang diperlukan dan mendatangi panti asuhan dengan penuh harapan.

Namun setelah menyerahkan semua dokumen kepada petugas di meja depan, petugas itu justru bertanya dengan bingung, "Arina? Dia tinggal di sini kurang dari sebulan sebelum dijemput seseorang."

Ucapan petugas itu bagaikan petir di siang bolong.

Alena tercengang. "Bagaimana mungkin?! Arina ada di sini! Aku melihat sendiri Larsen mengantarnya ke tempat ini!"

"Dia sudah berjanji nggak akan menyentuh Arina. Dia sudah janji sama aku!"

Emosi Alena menjadi tidak terkendali hingga petugas keamanan terpaksa membawanya keluar.

Alena berusaha menekan keputusasaan dalam hatinya. Dia masih ingin masuk kembali untuk mencari tahu keberadaan adiknya.

Saat itulah, sebuah suara wanita yang familier terdengar, "Mau tahu adikmu pergi ke mana?"

Tubuh Alena seketika menegang. Dia berbalik dengan kaku.

Vero berdiri di sana dengan sepatu hak tinggi berbahan kulit domba. Sepasang kakinya yang jenjang dan ramping terlihat di bawah rok pendek yang mengembang. Dibandingkan Alena yang kurus kering dan tampak layu, Vero terlihat begitu cantik dan sempurna.

Namun, kata-kata yang keluar dari mulut Vero sangat keji.

"Adik kecilmu itu sudah lama kukirim ke sekolah pendidikan khusus. Anak itu kuat sekali. Setiap hari dihukum berdiri dan dipukul dengan tongkat, tapi dia tetap bertahan selama tiga tahun penuh hanya demi menunggumu datang menjemputnya."

Emosi Alena langsung meledak. "Apa?!"

Sekolah pendidikan khusus itu tempat seperti apa? Itu adalah neraka yang bahkan lebih mengerikan daripada penjara!

Namun, Arina berada di sana selama tiga tahun! Tiga tahun penuh!

Mata Vero dipenuhi kecemburuan.

"Kamu tahu kenapa Larsen menjebloskanmu ke penjara? Sama sekali bukan untuk membuatku senang!"

"Tapi karena dia mencintaimu. Dia begitu mencintaimu sampai setiap kali membalas dendam kepadamu, dia akan menyayat lengannya sendiri satu kali!"

"Dia takut kalau kamu terus berada di sisinya, dia nggak akan mampu menahan diri dan akan membalas dendam kepadamu dengan cara yang lebih kejam. Karena itulah dia memilih menjebloskanmu ke penjara."

Alena menggelengkan kepala dengan kalap. "Aku nggak mau dengar semua itu! Bagaimana keadaan adikku?"

Apakah Larsen mencintainya atau tidak, dia sudah lama tidak peduli.

Setelah begitu lama ditindas, ketidakrelaan dalam hati Alena telah mencapai batasnya. Selama ini dia mengira, asalkan dia patuh menerima semua pembalasan Larsen, hidup dengan merendahkan diri dan selalu berhati-hati, dia bisa melindungi satu-satunya keluarga yang tersisa.

Namun pada akhirnya, kehidupan adiknya ternyata bahkan lebih buruk darinya.

Kenapa? Atas dasar apa? Padahal mereka berdua tidak bersalah!

Semakin panik Alena, semakin senang Vero melihatnya.

"Jangan buru-buru. Aku sengaja meminta rekaman terbaru adikmu dari sekolah."

Vero mengeluarkan ponselnya.

Di layar ponsel terlihat sebuah rekaman CCTV.

Dalam video itu, Arina berdiri di atas gedung tinggi. Sekujur tubuhnya dipenuhi luka dan wajahnya dibasahi air mata. Tanpa ragu sedikit pun, dia melompat!

"Jangan! Jangan!"

Saat melihat Arina terjun dari gedung, Alena menjerit histeris.

Seluruh tubuhnya gemetar hebat!

Vero melanjutkan dengan kejam, "Kamu tahu? Kemarin aku sengaja pergi ke sekolah untuk menemuinya. Aku bilang kepadanya bahwa demi melindunginya, kakaknya harus membersihkan kloset di kelab pada siang hari, sedangkan malam harinya ... kamu mengerti sendiri."

"Dia langsung menangis. Dia juga bilang nggak mau menjadi kelemahanmu. Malam itu juga, gadis kecil yang sudah bertahan selama tiga tahun di sekolah pendidikan khusus itu melompat dari gedung tanpa mengatakan apa pun."

Setiap kata bagaikan pisau yang menikam jantung Alena.

Ponsel terlepas dari tangannya.

Dengan mata merah membara, Alena menatap Vero.

Detik berikutnya, dia memungut sebuah batu dan menghantamkannya ke arah kepala Vero dengan sekuat tenaga. "Kubunuh kau!"

Namun, batu yang seharusnya menjadi alat pembalasan itu tidak pernah mengenai kepala Vero. Karena Larsen sudah mencengkeram erat tangan Alena.

"Alena, kamu mau mati?!"

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Ciuman Perpisahan Di Malam Musim Panas   Bab 16

    Sebuah mobil mewah seharga puluhan miliar muncul dengan tenang di kawasan kumuh.Di bangunan kecil bobrok tempat Alena dan Andre tinggal selama tiga tahun terakhir, pipa-pipa baja yang berkarat dan dinding bata yang rusak dihiasi bunga plastik warna-warni. Di balkon tergantung lampu hias murah yang berkelap-kelip, sementara jendela yang sudah menguning ditempeli kertas warna-warni dengan motif kekanak-kanakan.Semua itu dihias sendiri oleh Andre setelah mengetahui bahwa Alena akan pulang.Wajah pria difabel itu masih menyisakan luka akibat pukulan Larsen beberapa waktu lalu. Namun, senyum Andre begitu lembut, sangat bertolak belakang dengan rongga matanya yang gelap dan bekas luka mengerikan di wajahnya.Dia sudah menyiapkan semeja penuh dengan makanan kesukaan Alena. Sambil menggosok-gosokkan kedua tangannya dengan gugup, dia menunggu kedatangan Alena.Begitu melihat Alena turun dari mobil mewah itu, Andre langsung menyambutnya dengan gembira. Dia memeriksa tubuh Alena dari atas sampa

  • Ciuman Perpisahan Di Malam Musim Panas   Bab 15

    Setiap hari, Larsen memaksa Alena minum obat, menerima suntikan, menjalani kemoterapi, dan mendapatkan asupan nutrisi.Setiap kali Alena tidak mau bekerja sama, dia akan menggunakan Andre untuk mengancamnya. Meskipun cara ini membuat Larsen cemburu sekaligus sakit hati, cara tersebut selalu berhasil.Dengan perawatan intensif dari hari ke hari, kondisi Alena ternyata terlihat semakin membaik. Wajahnya tampak lebih segar, bahkan berat badannya juga bertambah.Melihat kondisi Alena yang semakin membaik setiap hari, Larsen sangat bahagia. Dia mengira dirinya benar-benar bisa menyembuhkan Alena.Namun ketika dia kembali membawa Alena menjalani pemeriksaan, laporan hasil pemeriksaan menghancurkan segalanya, termasuk harapan Larsen yang sempat membuncah. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa kondisi tubuh Alena sama sekali tidak membaik.Obat terapi target dan obat khusus yang sangat mahal itu sama sekali tidak mampu menghentikan penyebaran sel kanker. Hidup Alena bahkan tidak berhasil diperpa

  • Ciuman Perpisahan Di Malam Musim Panas   Bab 14

    Di kediaman pribadi Larsen.Di taman pribadi yang bermandikan sinar matahari cerah, Alena mengenakan pakaian rumah yang longgar dan nyaman sambil duduk di bawah payung taman.Larsen memandangi siluet wanita itu yang kurus dan rapuh, tetapi tetap cantik, sampai terpaku.Setelah cukup lama, barulah dia berjalan menghampiri sambil membawa obat. Dia mengambil buku dari tangan Alena. "Alena, waktunya minum obat."Pikirannya yang terputus membuat Alena memalingkan tubuh dengan penuh rasa muak.Sejak Larsen membuatnya pingsan dan membawanya ke kediaman pribadi ini, Alena sudah tinggal di sini selama sebulan.Setiap hari, tenaga medis keluar masuk kediaman. Dia menjalani kemoterapi, terapi target, minum obat, akupunktur ....Rambutnya yang semula sudah kering dan kasar, kini telah rontok seluruhnya. Sekarang, dia hanya bisa mengenakan topi bucket untuk menutupi kepalanya yang botak.Melihat penolakan Alena yang begitu jelas, Larsen tetap sabar. "Alena, setelah minum obat, kamu nggak akan kesak

  • Ciuman Perpisahan Di Malam Musim Panas   Bab 13

    Satu kalimat itu membuat seluruh emosi Larsen bergolak hebat.Dia memeluk Alena dengan erat. "Aku bajingan, aku memang bukan manusia! Alena, aku datang untuk menjemputmu. Mulai sekarang, kamu nggak perlu lagi menderita di sisi sampah seperti ini!"Alena perlahan mendorongnya menjauh, lalu berjalan ke sisi pria buta sebelah itu. Dengan penuh perhatian, dia membantu pria itu berdiri dan bertanya pelan, "Kamu nggak apa-apa?"Setelah itu, dia menatap Larsen dan berkata, "Nggak perlu merepotkan Pak Larsen. Aku tidak merasa menderita setelah menikah dengan suamiku. Aku justru sangat berterima kasih karena dulu Pak Larsen membuangku di sini. Kalau nggak, aku nggak akan pernah bertemu dengan suamiku yang sebaik ini. Satu lagi, suamiku bukan sampah. Dia punya nama. Namanya Andre."Hati Larsen terasa seperti disayat pisau.Untuk sesaat, dia tidak tahu apakah ucapan Alena benar-benar berasal dari lubuk hatinya atau hanya sengaja diucapkan untuk membuatnya marah.Ekspresi Larsen berubah dingin. Di

  • Ciuman Perpisahan Di Malam Musim Panas   Bab 12

    Tidak ada kelahiran kembali. Tidak ada kesempatan untuk menebus kesalahan.Ayah Alena sudah meninggal sepuluh tahun lalu. Arina juga sudah meninggal. Sedangkan Alena ... Larsen bahkan tidak tahu di mana dia dimakamkan. Dia tidak berhasil mengubah apa pun. Dia hanya orang malang yang mencoba bunuh diri, tetapi kemudian diselamatkan.Setelah kejadian itu, Jarvis juga tidak berani lagi mengurungnya.Larsen datang ke kawasan kumuh. Di persimpangan tempat dia meninggalkan Alena dulu, dia mengerahkan orang-orangnya untuk mencari dalam waktu lama.Namun, mereka tetap tidak menemukan jejak Alena.Kawasan kumuh itu masih sama bobrok dan kotornya. Tidak banyak yang berubah. Hanya saja, para pengemis dan tunawisma yang berkeliaran di sekitar sana sudah berganti. Bahkan pengemis buta yang dulu pun tidak berhasil dia temukan.Alena seolah menghilang begitu saja dari muka bumi. Meskipun Larsen memiliki koneksi dan kekuasaan yang sangat besar, dia tetap tidak mampu menemukan jejak Alena sedikit pun.

  • Ciuman Perpisahan Di Malam Musim Panas   Bab 11

    Dia terlahir kembali!Dia kembali ke masa ketika pembalasannya terhadap Alena baru saja dimulai. Saat ini, Alena belum meninggal, Arina belum meninggal, dan ayah Alena juga masih hidup. Semuanya masih sempat diperbaiki!Tanpa ragu sedikit pun, Larsen langsung berlari menuju ruang penyimpanan peralatan olahraga.Ketika tiba di sana, beberapa siswa laki-laki sedang melempari Alena dengan bola voli. Bola demi bola menghantam kaki dan perut Alena dengan keras. Alena hanya bisa meringkuk di sudut ruangan sambil memeluk kepalanya untuk melindungi diri.Begitu menemukan kesempatan, dia mengambil sebuah bola voli dan melemparkannya sekuat tenaga ke wajah siswa yang memimpin kelompok itu. Wajah siswa itu terkena bola. Dia langsung murka dan berjalan menghampiri Alena dengan garang."Sialan, dasar jalang! Berani sekali kamu memukulku!"Sambil berkata demikian, dia mengangkat kaki yang mengenakan sepatu berpaku dan hendak menginjak lengan Alena yang ramping.Alena sudah tidak punya tempat untuk m

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status