Beranda / Romansa / Coach, Sentuh Aku Lebih Dalam! / Bab 7: Bisa Membuatmu Lebih Lihai

Share

Bab 7: Bisa Membuatmu Lebih Lihai

Penulis: Salwa Maulidya
last update Terakhir Diperbarui: 2025-11-15 11:11:18

Jane menelan salivanya dengan pelan menatap Brian yang masih berdiri di hadapannya.

“Sebelum aku menjawab, aku ingin tahu lebih dulu,” ucap Jane dengan suara pelan.

Pintu lift terbuka. Brian menoleh dan menarik tangan Jane untuk keluar dari sana, seolah ia tidak ingin pembicaraan itu terputus oleh siapa pun yang mungkin masuk ke dalam lift.

Sentuhan tangan mereka terasa hangat sampai membuat Jane terkejut sekaligus gugup.

“Buka pintunya,” ucap Brian pada Jane begitu mereka tiba di depan unit apartemen itu.

Entah karena dorongan apa, atau mungkin karena matanya yang teduh membuat Jane kehilangan kemampuan untuk berpikir jernih, dia menurut dan membuka pintu apartemennya.

Aroma debu dan ruangan yang cukup lama tak berpenghuni langsung menyergap, tetapi itu bukan hal yang paling menyita pikirannya. Dia terlalu sibuk mengatur napasnya sendiri.

Keduanya masuk ke dalam. Brian menoleh ke kanan dan kiri apartemen tersebut, seolah menilai keadaan ruangan sekaligus menyelami kehidupan baru Jane yang dimulai dari tempat itu.

“Maaf, masih sedikit berantakan karena aku baru mengisinya lagi setelah pergi dari rumah suamiku,” ucap Jane sedikit malu karena apartemennya memang tidak layak dibilang rapi.

Kardus berisi barang-barang belum dibongkar, meja makan berdebu, dan tirai sedikit kusut seolah sudah berbulan-bulan tak tersentuh.

“Tidak masalah, aku mengerti,” jawab Brian tenang. Ia melangkah mendekat bahkan terlalu dekat hingga Jane bisa merasakan hawa tubuhnya.

“Kau mau tanya apa?” tanyanya kemudian dengan suara yang rendah namun tegas, sampai membuat tulang belakang Jane serasa dialiri listrik halus.

Jane menelan ludahnya. Dia tidak pernah merasa seperti ini sebelumnya.

Jantungnya berdebar tak karuan, tubuhnya membeku karena Brian atau mungkin karena cara Brian melihatnya, seperti dia adalah satu-satunya fokus pria itu malam itu.

“Kau … apakah kau tidak punya kekasih?” tanyanya pelan. “Aku tidak ingin jadi perusak hubungan orang—”

“Aku masih sendiri,” jawab Brian memotong ucapan Jane tanpa ragu, tanpa jeda, tanpa keraguan sedikit pun.

Wanita itu langsung terdiam. Pertanyaan lain sudah menunggu di bibirnya, tetapi suaranya seakan menghilang begitu saja.

Ia hanya mampu menatap wajah Brian yang begitu dekat dengannya; garis rahang pria itu, mata yang dalam, dan cara dia mengamati Jane seolah bisa membaca isi hatinya.

Tangan Brian kini melingkar di pinggang Jane, lembut tapi tegas, membuat tubuh Jane kaku seketika. Pria itu menatapnya dengan lekat, tanpa niat untuk memalingkan pandangannya.

“Jadi, mulai detik ini aku resmi jadi kekasih sekaligus mentormu, hm?” bisiknya dan suaranya turun satu oktaf, membuat dada Jane bergetar.

Jane masih diam membeku. Dia tidak tahu harus mengatakan apa pada lelaki itu.

Semua terasa terlalu cepat, tetapi jauh di dalam hatinya ada bagian kecil yang merasa aman berada di dekat Brian, bagian yang sangat ingin percaya pada seseorang setelah patah berkeping-keping.

“Anggap saja begitu,” ucapnya akhirnya dengan pelan, hampir tak terdengar.

Brian menyunggingkan senyum tipis lalu menyibakkan surai rambut yang menutupi wajah indah Jane dan membuat mata Jane memejam refleks ketika ujung jarinya menyentuh kulit pipinya.

“Jangan gugup begitu, Jane. Anggap saja kita sudah saling kenal sejak lama,” bisiknya tepat di depan wajah Jane hingga deru napas Brian begitu terasa.

Jane menelan ludahnya kembali. “Bagaimana mungkin aku tidak gugup. Ka-kau terlalu dekat, Brian.”

Brian terkekeh, suara rendahnya membuat perut Jane bergejolak. “Apakah suamimu tidak pernah melakukan ini padamu? Bicara dengan jarak yang begitu dekat justru menambah tensi hubungan yang lebih kuat, kau tahu?”

Jane menunduk sedikit. “Ta-tapi … aku masih jadi istri orang, Brian. Aku baru akan menceraikannya.”

“Tidak masalah,” ucap Brian dengan ketegasan yang membuat Jane merasa dipeluk meski belum disentuh lebih jauh.

“Aku akan menemanimu sampai kau resmi berpisah dengan suami yang telah mengkhianatimu itu.”

Jane mengerjap. Kata-kata Brian terasa seperti pernyataan perlindungan, bukan rayuan. Ada ketulusan di sana, walau pria itu jelas-jelas memiliki daya tarik yang terlalu kuat untuk ditolak.

Ia ingin berkata sesuatu tetapi tidak tahu apa. Semua kalimatnya menumpuk di dada, tertahan oleh degupan jantungnya sendiri.

“Besok pagi, pukul sembilan, datang lagi ke tempat gym,” ucap Brian setelah keheningan singkat. “Aku akan melatihmu membentuk tubuh yang ideal dan ….”

Brian sengaja menghentikan kalimatnya sementara matanya mengunci pandangan Jane.

Jane mengangkat alisnya pelan, gugup. “Dan apa?” tanyanya.

“Alasan pria atau wanita berselingkuh dari pasangannya biasanya urusan ranjang, bukan?” tanya Brian kemudian, matanya tidak berkedip saat mempelajari ekspresi Jane.

Wajah Jane memanas. Ia tahu pertanyaannya mengarah ke sana, tapi tetap saja mendengarnya langsung dari mulut Brian membuat tubuhnya bereaksi aneh.

“Aku akui … aku memang kalah dalam hal itu.”

Brian tersenyum tipis, sebuah senyum yang tidak sinis, tetapi justru terlihat berbahaya dan terlalu karismatik. “Kalau begitu, aku bisa membuatmu jadi lebih lihai di atas ranjang.”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (6)
goodnovel comment avatar
wieanton
weehhh lebih lihai di ranjang, trs klo udah lihai mau uji coba sm Andrew? oh no...udah gpp latihan sm Brian tp selamanya sm Brian aja deh klo bisa
goodnovel comment avatar
SumberÃrta
eheemmm... ikut dilatih juga ini di ran jang nyaaa wkwkkw
goodnovel comment avatar
MAIMAI.
ajakan mu Brian, menantang banget . heheh
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Coach, Sentuh Aku Lebih Dalam!   Bab 153: Keajaiban yang Nyata

    Pagi itu, penthouse keluarga Hills riuh dengan perdebatan yang tidak biasa.Di ruang makan yang luas, Brian sedang duduk di hadapan Dave yang kini sudah berusia lima tahun.Bocah itu tampak menggemaskan namun keras kepala, mengenakan kaos bergambar pahlawan super favoritnya.“Dave, sekolah ini punya lapangan bola yang besar. Kau bisa jadi kapten di sana,” bujuk Brian sembari menunjukkan brosur sekolah TK internasional ternama di tabletnya.“Tapi Dave mau yang ada kolam renangnya, Papa! Yang airnya hangat!” bantah Dave sembari melipat tangan di dada, meniru gaya bicara Brian saat sedang negosiasi bisnis.Brian menghela napas, menatap Jane yang sedang duduk di kursi seberang sembari menyesap teh jahe hangat.“Jane, lihat anakmu ini. Belum juga masuk TK sudah pintar menawar seperti pialang saham.”Jane hanya tersenyum tipis, namun wajahnya tampak sedikit pucat. Dia merasakan sensasi aneh di perutnya sejak bangun tidur, sesuatu yang sudah ia rasakan selama dua minggu terakhir.Pikirannya

  • Coach, Sentuh Aku Lebih Dalam!   Bab 152: Telah Mutlak menjadi Anak Mereka

    Hari itu, ruang tengah penthouse Hills Group tidak dipenuhi oleh aroma parfum mahal atau suara tegang para kolega bisnis.Sebaliknya, ruangan itu berbau kue cokelat yang baru dipanggang dan dipenuhi balon-balon berwarna biru kehijauan. Di atas meja kerja Brian yang biasanya sakral, kini tergeletak sebuah map kulit berlogo negara.Dave Leandra Hills.Nama itu tertulis tegas di atas sertifikat adopsi yang baru saja disahkan oleh pengadilan pagi tadi. Brian menatap dokumen itu dengan binar mata yang lebih terang daripada saat ia memenangkan tender triliunan rupiah.“Sudah resmi, Sayang,” ujar Brian sembari memeluk pinggang Jane dari belakang.Jane mengusap air mata harunya. “Dave Leandra Hills. Kedengarannya sangat indah, Brian.”“Ayo, tamu-tamu sudah datang!” seru Sita yang muncul dari arah dapur membawa piring-piring kecil, diikuti oleh James yang tampak sibuk meniup balon terakhir.Pesta itu sangat privat. Tidak ada wartawan, tidak ada bibi-bibi Hills yang nyinyir, hanya ada orang-ora

  • Coach, Sentuh Aku Lebih Dalam!   Bab 151: Kita akan Baik-baik saja

    Layar ponsel di atas nakas itu tampak seperti hakim yang menjatuhkan vonis mati.Pesan singkat dari Dokter Sarah baru saja masuk, menyampaikan hasil tes darah pasca-transfer embrio yang dilakukan dua minggu lalu.NEGATIF.Jane terduduk lemas di tepi ranjang, ponselnya terlepas dari genggaman dan jatuh ke atas karpet tebal tanpa suara.Bahunya gemetar, napasnya mulai terasa sesak oleh gelombang kekecewaan yang sudah sangat ia kenal, namun kali ini terasa lebih menghujam.“Hanya angka, Jane, itu hanya angka,” bisiknya pada diri sendiri dengan suara parau. Namun, air mata tetap saja lolos membasahi pipinya.Pintu kamar terbuka pelan. Brian masuk dengan wajah cemas, namun langkahnya terhenti saat melihat bahu istrinya yang berguncang. Dia segera menghampiri, berlutut di depan Jane, dan menggenggam kedua tangannya.“Jane? Hasilnya sudah keluar?” tanya Brian lembut.Jane hanya bisa mengangguk pelan sembari terisak. “Gagal, Brian. Semuanya ... semua suntikan itu, rasa sakit itu, hasilnya nol

  • Coach, Sentuh Aku Lebih Dalam!   Bab 150: Kedekatan Brian dan Dave

    Perubahan di dalam penthouse Hills Group terjadi bukan melalui ledakan besar, melainkan melalui langkah-langkah kecil yang sunyi namun berarti.Brian, pria yang biasanya memimpin ribuan karyawan dengan instruksi tegas, kini harus belajar menjadi “raksasa ramah” di hadapan Dave Leandra.Menyadari bahwa postur tubuhnya yang besar menjadi pemicu trauma bagi Dave, Brian mulai menerapkan strategi “pendekatan rendah”.Setiap kali dia pulang dari kantor, Brian segera menanggalkan jas dan kemeja kaku miliknya, menggantinya dengan kaos katun lembut berwarna cerah.Dia tidak lagi berjalan tegak dengan langkah kaki yang menggema; sebaliknya, Brian akan segera duduk bersila di lantai karpet, mensejajarkan tinggi badannya dengan bocah tiga tahun itu.“Lihat, Dave. Papa punya kereta baru. Dia bisa berbunyi jika kita menekan tombol ini,” bisik Brian suatu sore.Dia lalu meletakkan sebuah kereta kayu sederhana di tengah karpet, membiarkan Dave yang mendekat atas kemauannya sendiri.Brian belajar untu

  • Coach, Sentuh Aku Lebih Dalam!   Bab 149: Kedatangan Dave ke Rumah Mereka

    Setelah melalui proses administrasi yang ketat dan jaminan mutlak dari pengaruh Hills Group, masa percobaan adopsi akhirnya disetujui.Pagi itu, Brian dan Jane menjemput Dave dari panti asuhan.Seluruh staf panti melepasnya dengan haru, namun Dave tetap diam, menggenggam erat boneka beruang lusuh miliknya sembari menatap ke arah gerbang yang akan membawanya ke kehidupan baru.Begitu pintu penthouse terbuka, suasana apartemen yang biasanya steril, sunyi, dan penuh dengan aroma kemewahan yang dingin, mendadak berubah.Jane telah menyiapkan sebuah kamar khusus di dekat kamar utama. Ia memberikan nama tengah yang indah untuk bocah itu: Dave Leandra.Leandra yang berarti “pelindung”, sebuah doa agar Dave tumbuh dengan keberanian untuk menghadapi trauma masa lalunya.Namun, transisi itu tidak berjalan semulus yang Jane bayangkan.Masalah utama muncul bukan dari fasilitas, melainkan dari sosok Brian. Bagi Brian, kehadirannya adalah bentuk perlindungan, namun bagi Dave, Brian adalah perwujuda

  • Coach, Sentuh Aku Lebih Dalam!   Bab 148: Sebuah Ikatan Batin yang Kuat

    Di sela-sela jadwal suntikan hormon yang melelahkan dan kunjungan rutin ke rumah sakit, Brian memutuskan untuk mengajak Jane kembali ke panti asuhan “Kasih Bunda”.Dia berharap udara segar dan tawa anak-anak bisa sedikit mengalihkan rasa mual dan kelelahan yang dialami Jane akibat prosedur IVF. Namun, sore itu, suasana di panti terasa lebih tenang dari biasanya.Saat mereka melangkah menyusuri lorong yang bersih namun bersahaja itu, mata Jane langsung tertuju pada sebuah sudut di ruang bermain.Di sana, jauh dari kerumunan anak-anak lain yang sedang berebut balok kayu, duduk seorang anak laki-laki kecil. Dia mengenakan kaus biru pudar yang tampak sedikit kebesaran di tubuhnya yang mungil. Namanya Dave.Dave tidak bermain. Ia hanya duduk bersila, menatap lurus ke arah jendela besar yang memperlihatkan dedaunan yang berguguran.Tatapan matanya tidak seperti anak berusia tiga tahun pada umumnya; tidak ada binar rasa ingin tahu yang meledak-ledak. Sebaliknya, ada kedalaman yang sunyi, seb

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status