LOGINChapter 4
Kembali Bertemu Rhoney Valley, Perancis. Tiga tahun kemudian. Cuaca di Rhoney Valley cerah dan hangat, awal musim panas adalah sesuatu yang menggembirakan bagi Luna karena bisa berjemur di bawah terik matahari. Luna memakaikan topi pada putranya yang belum genap berusia tiga tahun. “Kau tampan sekali,” ucap Luna pada putranya Liam Adams. “Apa aku setampan ayahku?” tanya Liam. Mata Liam berwarna emas seperti ayahnya, Luciano Genevece dan Luna tidak menampik jika putranya mirip dengan Luciano Genevece yang pernah ia temui satu kali. Luna sengaja memberi nama putranya Liam Adams, tidak mengambil nama keluarga Genevece maupun keluarganya yang sudah membuangnya. Tiga tahun ini ia tinggal di perkebunan angur milik kenalan lama keluarga Julie, bekerja di sana mengurus kebun anggur yang sangat luas. Tentunya Luna bukanlah satu-satunya pengurus kebun anggur, ada puluhan orang yang bekerja di kebun anggur itu dan Luna merasa sangat aman tinggal di sana. Luciano Genevece mungkin sudah melupakannya, sudah tidak tertarik mencarinya lagi dan Luna berbahagia setiap kali memikirkannya. Di Rhoney Valley ada tiga belas kebun anggur yang terletak di perbukitan dan semuanya tampak indah. Di Rhoney Valley setiap bulan Mei akan ada Festival of Vine dan Wine yang dilaksanakan sebagai bentuk syukur masyarakat setempat setelah mengadakan panen raya. Ini adalah bulan Mei ketiganya dan Luna merasa sangat bersyukur karena dapat menyaksikan festival of Vine and Wine. Kali ini ia akan mengunjungi ke Carre du Pallais untuk menyaksikan pembuatan wine setelah tahun sebelumnya ia mengunjungi Paul Jaboulet. “Kalian sudah siap?” tanya wanita separuh baya bernama Aami. “Kami sudah siap, Aami,” jawab Liam. Aami adalah wanita berusia lima puluh tahun yang tinggal sendiri, suaminya sudah meninggal sepuluh tahun yang lalu dan mereka tidak memiliki keturunan. Ketika pertama tiba di Rhoney Valley yang merupakan kota kecil, Luna yang tidak begitu paham bahasa Perancis hampir saja bertengkar dengan pemilik apartemen yang terus saja berbicara bahasa Perancis dan Aami datang menolongnya lalu menawarkan tempat tinggal. Kebetulan Aami memiliki apartemen yang usia bangunannya mungkin sudah ratusan tahun dan harga sewanya juga murah sehingga Luna bersyukur sekali bertemu Aami saat itu. Namun, bersama berjalannya waktu Aami menawarkan Luna untuk tinggal bersamanya karena kandungan Luna saat itu yang sudah semakin membesar. Luna tidak menolaknya apa lagi Aami selama ini sangat baik padanya hingga ia merasa menemukan keluarga baru. Mereka bertiga berjalan menuju halte bus untuk menuju Carre du Pallais, setibanya di sana festival sudah dimulai. Banyak sekali wisatawan asing dan lokal yang ingin menyaksikan produksi wine secara langsung membuat suasana sedikit bising. Entah sejak kapan Luna menyukai kebisingan seperti itu dan di tempat asing itu Luna merasa tetap aman meskipun berada di tengah-tengah kerumunan orang banyak. “Liam, ingatlah untuk tidak berlarian, oke?” kata Luna kepada putranya. “Kau pergilah untuk melihat-lihat pembuatan Wine, biar aku yang menjaga Liam," ujar Aami. “Tapi, Aami.” Luna menatap Aami dengan tatapan memelas. Aami tersenyum kepada Luna. “Seumur hidup aku tinggal di kota kecil ini, Sayang. Aku sudah bosan melihat pembuatan wine. Pergilah, nikmati harimu.” “Terima kasih, Aami. Aku menyayangimu,” kata Luna dengan riang lalu meninggalkan Aami bersama putranya. Selama hampir tiga tahun Luna bekerja merawat kebun anggur dan ia tertarik dengan bagaimana proses pembuatan wine meskipun sudah sering ia baca di artikel jika bahan-bahannya hanya jus buah anggur dan ragi. Tetapi, apa hanya itu saja? Tentu saja tidak, bukan? Dari yang Luna tahu selama bekerja di kebun anggur, ada banyak jenis anggur dengan kualitas yang berbeda-beda yang akan menghasilkan jenis wine yang berbeda kualitasnya pula belum lagi proses pembuatan wine yang memakan waktu tidak sebentar dan memerlukan kesabaran. Luna mendekati seorang pria yang sedang dikerumuni banyak orang, di depan meja yang dialasi taplak meja berwarna putih itu tersusun beberapa jenis wine dan gelas. Sepertinya pria itu akan memberi tahu cara mengetahui kadar alkohol pada wine, meskipun tahun lalu Luna sudah melihatnya, tetapi melihat sekali lagi bukan masalah. Pertunjukan masih menarik di mata Luna. Luna masih ingat bagaimana mengetahui bentuk wine, pertama-tama adalah melihat bentuk wine di atas taplak meja putih, memiringkan gelasnya empat puluh lima derajat lalu periksa bagian tengah anggur untuk melihat kepadatannya, dan bagian pinggir anggur untuk memeriksa ronanya. Konon warna bisa memberitahu apakah anggur itu masih muda atau sudah berumur. Kemudian putar gelasnya, semakin cepat anggur itu mengendap maka semakin sedikit kadar alkoholnya dan jika semakin lamban mengendap maka kadar alkoholnya semakin tinggi. *** Luke membuka kaca mobilnya dan memandangi jejeran tanaman anggur sepanjang jalan di Rhoney Valley atau lembah Rhoney. Ia datang ke sana untuk memenuhi undangan salah satu rekan bisnisnya yang merupakan salah satu pemilik pabrik wine ternama di Perancis dan bisnis mereka sudah terjalin sudah cukup lama. Di bulan Mei, di kota kecil yang terletak di lembah itu ada festival of Vine and Wine. Beberapa pemilik pabrik anggur biasnya mengadakan jamuan pesta untuk mencicipi produksi anggur mereka. Luke dulu pernah datang ke acara mencicipi anggur, tetapi sudah sangat lama. Mungkin tujuh atau delapan tahun yang lalu. “Terakhir ke sini kau menakuti Felix Garent,” ucap Matt yang sedang mengemudikan mobil. Saat itu Luke mengemukakan keinginannya untuk menjadikan dirinya satu-satunya pembeli produksi anggur dari pabrik anggur Felix Garent dan pria itu tentunya tidak bersedia karena merek dagang anggur mereka sudah cukup ternama, mustahil memutus hubungan kerja sama dengan pembeli lain yang tentunya tidak sedikit. Keluarga Genevece adalah satu mafia dari Sisilia yang paling ditakuti, jaringan mereka tidak hanya meliputi daerah Sisilia, tetapi hampir seluruh Italia. Bahkan di luar negeri seperti Perancis, Jerman, Inggris, hingga ke benua Amerika. Siapa pun tidak ingin berurusan dengan keluarga Genevece, apalagi jika menyangkut masalah uang atau daerah kekuasaan, bahkan mafia kuat sekalipun berpikir untuk berurusan dengan klan Genevece. Matt menginjak rem mobilnya, mengumpat karena banyaknya orang di acara festival yang memenuhi jalan hingga kesusahan untuk lewat. “Figlio di puttana!” maki Matt lagi. “Sepertinya kita harus berjalan kaki, Bos,” kata Matt kepada Luke. Matt meminggirkan mobil dengan susah payah, bahkan beberapa kali menekan klaksonnya disertai umpatan kasar. Setelah mobil terparkir, Luke keluar dari mobil. Pria itu berdiri sejenak sambil mengamati keadaan sekitar lalu mengambil rokoknya dan baru saja hendak menyulut rokoknya seorang anak kecil memeluk kakinya. “Papa...,” kata anak kecil itu. *Figlio di puttana= Your mother fucker Bersambung....Chapter 58 Bangun di Genangan Darah Bangunan batu tua itu sunyi, Beata melangkah keluar dengan kaki gemetar dan sepatunya terasa berat seolah setiap langkah menariknya kembali ke dalam ruangan tempat Aami tergeletak. Bau besi masih menempel di tenggorokannya, ia menelan ludah, keras, tapi rasa itu tidak pergi. Udara malam Sisilia dingin dan lembap. Angin membawa suara serangga dan di kejauhan, ombak memukul batu. Beata memeluk tubuhnya sendiri, jaketnya tipis, tangannya masih bergetar—bukan karena dingin, tapi karena kesadaran yang datang terlambat bahwa setelah ini, tidak ada tempat pulang. Ia berjalan menjauh dari bangunan itu, menyusuri jalan tanah yang retak dan gelap. Setiap bayangan tampak hidup, setiap suara seperti langkah yang mengejarnya. Beata mempercepat langkah, napasnya memburu, pikirannya berantakan. Genevece pasti memburunya seperti memburu sisa-sisa pengikut Nicolo, ia benar-benar tidak memiliki tempat lagi di Sisilia. Tiba-tiba lampu menyala dan cahaya put
Chapter 57 Keadilan Gerbang besi mansion belum sepenuhnya tertutup ketika mesin mobil bergetar aneh, seperti tersedak napasnya sendiri. Aami langsung merasakan itu, insting yang entah mengapa terbentuk begiu saja selama beberapa bulan berada di tengah-tengah lingkungan dengan ancaman yang tak pernah benar-benar pergi. Tangannya refleks menahan tubuh Liam yang duduk di kursi belakang, sabuk pengaman sudah terpasang, rambut bocah itu masih berantakan karena baru saja tertidur di perjalanan pulang. "Kenapa kita berhenti?" suara Liam kecil, masih serak, tapi tidak menangis. Aami tersenyum, senyum yang dipelajarinya bukan dari kebahagiaan, melainkan dari cara bertahan hidup. "Mesinnya manja sedikit. Kita tunggu sebentar, ya...." Mobil di depan mereka mendadak memotong jalur. Dari spion, Aami melihat bayangan bergerak cepat untuk disebut sebuah kebetulan kemudian pintu pengemudi dibuka paksa, suara logam beradu terdengar kering dan tajam. Aami tidak berteriak karena tahu teriakan
Chapter 56 Rumah yang Tidak Layak Hujan turun tipis dan malas, seperti ragu apakah layak membasahi kota yang sudah busuk sejak lama. Bangunan rumah susun itu berdiri miring, catnya mengelupas, jendelanya kusam, dan lampu lorong berkedip seolah setiap detik bisa padam. Audrey mengenakan mantel panjang berwarna gelap, rambutnya disanggul rapi seperti wanita yang tidak pernah disentuh kemiskinan dan berhenti di depan pintu besi berkarat di lantai tiga. Ia mengetuk sekali, tidak keras dan tidak ragu. Beata membuka pintu dan wajahnya langsung berubah mendapati Audrey di depan pintu, tetapi tidak kaget. Ekspresinya lebih seperti campuran malu dan marah. Rambut Beata kusut, wajahnya lebih tirus dari terakhir Audrey melihatnya, dan aroma ruangan di belakangnya adalah bau pengap dan sisa hidup yang tidak lagi dirawat. "Kau," kata Beata, nadanya tajam, seolah satu kata itu cukup untuk melampiaskan semua kebencian yang ia simpan. Audrey tersenyum tipis. Senyum yang tidak hangat, tapi juga
Chapter 55 Pemain Lama Dua bulan kemudian. Malam itu Palermo berkilau dengan cara yang dingin. Bukan kemewahan yang hangat, melainkan cahaya lampu kristal yang memantul di marmer putih dan gaun mahal, menciptakan kesan bersih yang terlalu sempurna untuk sebuah kota yang hidup dari darah dan rahasia. Gedung tua peninggalan bangsawan abad lalu itu malam ini menjadi tuan rumah sebuah acara amal. Musik klasik, donasi untuk pendidikan seni, dan deretan nama besar yang tercetak rapi di undangan. Klan-klan lama, pengusaha pelabuhan, pejabat yang pura-pura netral, dan wajah-wajah yang saling mengenal tapi tak pernah benar-benar percaya satu sama lain, berkumpul dalam satu ruang. Luna melangkah masuk bersama Luke. Gaun hitamnya sederhana, tanpa perhiasan mencolok dengan potongan bersih yang jatuh lembut mengikuti tubuhnya. Rambutnya disanggul rendah, memperlihatkan tengkuk pucat yang kontras dengan tatapan matanya yang kini jauh lebih tenang dibandingkan beberapa bulan yang lalu. Namun k
Chapter 54 Bukan Musuh yang Terang Beberapa hari kemudian, Diego datang sendirian ke markas besar Genevece, tidak ada konvoi panjang maupun sirine. Mobil hitam itu berhenti di halaman markas Genevece tepat saat matahari mulai turun, cahayanya pucat dan dingin, memantul di marmer putih seperti kilau pisau. Dari balik jendela ruangan, Luke sudah berdiri sejak lima menit lalu. Ia tidak bergerak ketika pintu mobil dibuka, matanya mengikuti setiap detail, mulai dari sepatu kulit Diego yang menginjak kerikil, sampai caranya berdiri sejenak sebelum melangkah seolah menghitung napas. Luna berada di samping Luke, memeluk lengan pria itu tanpa sadar, jari-jarinya menekan kain jas Luke sedikit lebih erat dari biasanya. Sejak penculikan, tubuhnya seperti selalu mencari titik jangkar, dan Luke membiarkannya. Bahkan sekarang ia menggeser tubuhnya setengah langkah ke depan, posisi protektif yang terlalu halus untuk disebut sadar, tapi cukup jelas untuk dibaca oleh siapa pun yang terbiasa hidu
Chapter 53 Wilayah Abu-abu Malam terlihat tenang meskipun tidak sepenuhnya damai, laut terbentang hitam di bawah balkon mansion, permukaannya memantulkan cahaya bulan yang patah-patah oleh riak kecil. Angin asin naik perlahan, menyusup ke sela-sela tiang balkon dan menyentuh kulit dengan dingin yang lembut. Luna berdiri bersandar pada pagar besi, ia mengenakan cardigan tipis di atas gaun rumah berwarna gelap. Rambutnya tergerai, masih sedikit lembap karena mandi setelah makan malam. Dari balik kaca, lampu ruang makan telah diredupkan. Audrey sudah pulang dan mansion kembali ke ritme sunyi yang hanya dimiliki tempat-tempat dengan terlalu banyak rahasia. Luke keluar tanpa suara seperti biasa, ia berdiri di samping Luna, jaraknya dekat tetapi tidak bersentuhan. Matanya tertuju ke laut dan tangannya bertumpu di pagar balkon, tangan lain memegang segelas whiskey yang belum disentuh sejak tadi. Beberapa saat mereka hanya berdiri, berbagi keheningan. "Apa yang kau lihat darinya se







