Mag-log inHendra yang baru saja pulang dari pasar setelah menjual babi tangkapan nya, namun ketika Hendra melihat keramaian yang ada di depan rumahnya, ia pun penasaran dengan apa yang terjadi.
Lantas Hendra pun langsung berlari untuk melihatnya. "Ada apa ini, kenapa kalian semua berkumpul di rumah ku". "Lah ini si Hendra baru datang aja setelah adiknya di culik". "Apaaa Hanii diculikkk" Hendra yang mendengar apa yang dikatakan oleh ibu-ibu disana, ia pun sangat terkejut dengan apa yang terjadi. "Ndraa, adikmu tadi di culik oleh beberapa orang, dia dibawa ke arah selatan tadi, sedangkan para penculik itu membawa senjata tajam, jadi kami semua tidak ada yang berani untuk membantu menyelamatkan adik mu" ucap bu Ani. Mendengar apa yang dikatakan oleh Bu Ani, Hendra pun langsung berlari ke arah yang ditunjukkan oleh bu Ani. Namun seiring perjalanan, Hendra masih belum melihat adiknya, bahkan suara adik nya pun ia tidak mendengar nya. "Kalau seperti ini terus tidak akan bisa mengejar Hani, yang ada hani sudah di apa-apa kan oleh mereka". "Sistem tukarkan 10 poin dengan kecepatan". *DING*. "Selamat tuan, kecepatan tuan telah naik ke level 2". "Sistem tukarkan 10 poin dengan stamina" dimana Hendra pun merasa takut apabila ia berhasil mengejar adik nya, stamina nya pun habis sehingga ia tidak bisa menyelamatkan adik nya. *DING*. "Selamat tuan, stamina tuan telah naik ke level 2". Lantas Hendra pun langsung berlari dengan kecepatan yang ia miliki saat ini. Tak membutuhkan waktu lama, Hendra pun akhirnya berhasil mengejar adik nya. "Woii lepaskan adik ku". Mendengar suara tersebut, asep dan yang lainnya pun langsung berhenti dan menoleh ke belakang. "Lepaskan adik ku, atau kalau tidak kalian akan menanggung akibatnya". "Hahaha coba lihat siapa yang datang ini". "Ada seorang pahlawan yang ingin menyelamatkan adik nya". "Hendra, Hendra, dengan tubuh kecil mu ini, apakah kamu yakin dapat menyelamatkan adik mu, tadi kamu hanya kebetulan saja bisa melawan kami, tapi lihat sekarang" ucap Asep sambil memperlihatkan orang-orang nya tang membawa senjata tajam. "Kakk, kakk Hendra tolong aku kakk" dengan air mata yang menetes di pipinya, Hani pun menangis ketika dirinya di bawa oleh orang-orang tersebut. "Cepatt lepaskan adik kuu" dengan sorot mata yang sangat tajam, dan suara yang sangat menggelegar, setiap kata yang diucapkan oleh Hendra keluar bagaikan petir yang menyambar. "Hahahaha, apa hanya membentak seperti itu terus kami takut dengan mu, ambil sendiri kalau bisa, atau kalau tidak aku akan mengembalikan adik mu, dengan syarat kamu sujud di depan ku" ucap Asep. Mendengar hal tersebut, Hendra pun melangkahkan kaki nya secara perlahan untuk mendekat ke arah Asep. "Hahahaha emang dasar orang bodoh, gak bisa apa-apa, ya cuma bisa gini, cepat sujud di depan ku dan cium kaki ku, dengan begitu aku akan melepaskan adik mu, dan membiarkan kalian pergi" ucap asep yang merasa bahwa Hendra yang mendekat ke arah nya akan bersujud di hadapan nya. "Hahahaha, hendra, oh Hendra, sungguh malang sekali nasib mu, tapi apa yang bisa kamu lakukan selain mengikuti apa yang dikatakan oleh asep" Haikal dan juga yono pun ikut menertawakan apa yang akan dilakukan oleh Hendra. "Baaaggggg" namun apa yang terjadi selanjutnya membuat semua orang terkejut. Hendra yang mengepalkan tangan nya dengan sangat erat, ia pun melayangkan satu pukulan sekuat tenaga yang ia miliki ke wajah Asep. Setelah itu ketika semua orang sedang terbengong melihat apa yang terjadi, Hendra pun berlari dengan sangat cepat untuk merebut adik nya yang berada dalam dekapan Haikal dan Yono. "Arrgghhhhhhh kamuu..... kamuu berani sekali kamu memukul ku" ucap Asep, dan secara tiba-tiba dar*h pun keluar melalui hidung Asep. "Seppp hidung mu, hidung muu keluar dar*h" ucap Haikal. Asep yang baru tau akan hal itu, ia pun semakin emosi dengan Hendra. "Haiii hendra, baiklah kalau kamu mau mati disini, maka aku akan mengabulkan keinginan mu" ucap Asep sambil menunjuk ke arah Hendra. Namun ia pun sangat terkejut dengan apa yang dilihatnya, hani yang tadi nya masih dalam genggaman nya, tiba-tiba saja sudah berada di tangan Hendra. "Kalian berdua apa yang kalian lakukan, kenapa Hendra sudah membawa adik nya". Mendengar hal tersebut, Haikal dan yono juga baru sadar bahwa hani kini tidak lagi dalam dekapan nya. "Kakkk, kakkk Hendra aku takut kakkk" dengan napas yang pendek dan cepat, matanya yang melebar dan memerah, air mata yang terus menetes dari mata Hani, Hani pun memeluk erat kakak nya sambil terus menangis. "Tenang hann kamu sekarang aman, udah jangan menangis lagi" ucap Hendra sambil mengusap air mata yang membasahi pipi Hani. "Kamii juga gak tau sep, tiba-tiba saja Hendra itu sudah menyelamatkan adik nya". "Ahhh dasar bodoh kalian berdua, menjaga satu perempuan saja tidak bisa" sahut Asep yang langsung memarahi Haikal dan yono. "Ehh Hendra, meskipun kamu telah menyelamatkan adik mu, namun jangan harap kalian berdua bisa pergi dari sini". "Kalian semua cepat habisi dia, tapi kalian jangan melukai adik nya, karena aku ingin bermain dengan adik nya, jadi jangan sampai terluka". Lantas orang-orang yang dibawa oleh asep, dengan senjata parang di tangan nya, mereka semua pun melangkahkan kaki secara perlahan mendekat ke arah Hendra. "Kakk, kakk lari saja kakk, mereka semua bawa senjata, jadi jangan melawan nya" hani pun menarik-narik tangan Hendra untuk mengajak nya pergi melarikan diri. "Hahahaha percuma saja kalian lari, apakah kami akan membiarkan kalian begitu saja" ucap Asep yang tersenyum melihat kondisi Hendra. "Percuma juga kita lari Han, benar apa yang dikatakan oleh Asep tadi, tidak mungkin mereka akan membiarkan kita pergi begitu saja, kalau pun kita bisa lari dari mereka, pasti mereka akan kembali lagi ke rumah kita". "Udah kamu tenang saja han, kamu disini saja jangan bergerak kemana-mana, orang seperti mereka itu harus diberikan pelajaran, biar tau rasa" ucap Hendra. "Tapiii.... kakkkk" Hani pun takut apabila kakak nya kenapa-kenapa. "Hendraa, hendraaa, meskipun kamu tadi dapat berkelahi melawan kami, namun kamu juga harus tau diri, yang kamu hadapi itu senjata tajam, jadi sekuat apapun dirimu pasti akan kami habisi disini hahahaha". "Hahaha dasar bodohh, emangnya kamu mempunyai ilmu kebal sehingga ingin mengahadapi senjata tajam" sahut Haikal. Hendra yang dari luarnya kelihatan tenang, namun di lain sisi ia bingung apa yang harus ia lakukan "bagaimana ini, tidak mungkin aku melawan mereka semua dengan tangan kosong, yang ada aku akan mati konyol disini" ucap Hendra dari dalam hatinya. "Masih muda tapi berani mencari masalah dengan orang yang salah, terimalah nasib mu" ucap salah satu orang suruhan Asep. "Tunggu apalagi cepat habisi diaa hahahaha" teriak Asep. Lantas orang-orang itu pun langsung mengangkat parang nya dan bersiap untuk menebaskan parang tersebut ke arah Hendra. "Kakkk hendraaaaa" teriak Hani yang tidak berani melihat apa yang terjadi. "Praaaakkhhh".Reno yang melihat kedatangan Anisa, ia pun meminta tolong kepada Anisa mengenai hal itu, akan tetapi Hendra pun tidak menerima pertolongan dari Anisa dan temannya, dia yakin sengan surat kepemilikan yang ia miliki. "Sudah aku katakan aku mau lihat villa ku yang ada di dalam, berani sekali kalian menghalangi ku, kalau atasan kalian tau bagaimana". "Hahh atasann? tau? hahahaha dengan surat kepemilikan mu yang palsu ini, sepertinya atasan kami pun tidak akan segan kepada mu". "Udahh cepat pergi dari sini" lantas penjaga keamanan itu pun mendorong-dorong Hendra untuk segera pergi. Reno yang melihat itu, ia pun langsung menghampiri Hendra dan mengajak nya untuk masuk kedalam mobil. "Ren tenang saja, kamu masuk aja kedalam mobil, sepertinya para penjaga keamanan ini terlalu sombong, jelas-jelas aku membawa surat kepemilikan tapi tetap aja gak di terima". "Tapi ndra......" Hendra yang terus-menerus di dorong, ia pun langsung menangkap tangan orang tersebut, dan mematahkan nya.
Reno yang membawa Hendra ke kawasan villa yang ada di kota Anvil, melihat penjaga gerbang di villa tersebut berbadan besar dan terlihat sangat menyeramkan, sehingga hal itu membuat Reno pun ketakutan. Namun berbeda dengan Hendra, ia yang sudah membaca surat yang diberikan oleh sistem, lantas Hendra pun dengan keluar dari mobil dan dengan langkah tegap berjalan menghampiri para penjaga gerbang itu. Sedangkan Reno yang melihat temannya itu, ia pun hanya menepuk jidatnya lantaran tidak tau harus berbuat apa. "Ada urusan apa". "Aku hanya ingin melihat villa ku yang ada di dalam sini apakah aku tidak boleh" sahut Hendra "Hahhh, kalau gitu coba lihat tanda pengenal nya" ucap penjaga keamanan itu yang tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh orang di hadapan nya yang tak lain adalah Hendra. "Hahh tanda pengenal apa itu, aku tidak tau dan sepertinya aku tidak memiliki nya". "Hahahaha sudah aku tebak kalau orang seperti mu itu datang kesini pasti ingin membuat keributan, udah cep
Hendra yang baru saja membeli 3 hp terbaru, dengan merk ipong, ia pun sangat terkejut dengan uang yang ia keluarkan. "Busettt dengan uang sebanyak itu, kira-kira buat makan bisa kali untuk setengah tahun" sahut Hendra, dikarenakan ia sedari kecil hidup sangat hemat dengan makan apa yang ada, sehingga uang 48 JT pun sangat banyak di mata Hendra. "Yaelah ndraa, dengan kemampuan mu saat ini, kamu bisa mengobati orang, kamu bisa judi batu, uang itu tidak ada artinya bagi mu" sahut Reno. Mendengar apa yang dikatakan oleh Reno, Hendra pun baru teringat dengan kemampuan yang ia miliki, ia pun baru terpikirkan untuk mencari uang dengan kemampuan tersebut. "Yaudahh lah pikir nanti, ayo sekarang kita pergi ke pergi ke vila". "Hahh kamu seriusan mau pergi kesana?, buat apa ndraa, kalau mau lihat-lihat bisa lihat di handphone kan gampang". ucap Reno. "sudahh ayoo datang kesana" sahut Hendra. Meskipun reno masih penasaran dengan apa yang akan dilakukan oleh Hendra, akan tetapi Reno pu
Hendra yang mendapatkan hadian berupa sepasang belati kembar, ia pun sangat terkejut mendengar efek dari kedua belati tersebut. "Sistem kalau aku terus-terusan membawa kedua belati ini, yang ada polisi pun akan menangkap ku dikiranya apa". "DING" "Tuan dapat mengeluarkan belati tersebut sesuai kehendak tuan, dalam arti belati itu akan muncul dengan sendirinya ketika tuan memerlukan nya". "Wuihhhhh kerenn banget kalau gituu, hmm sepertinya nya boleh lah kapan-kapan untuk di coba". "Woiiii ndraaa, ngapa diam aja dari tadi, ini kita mau kemana". "Ehh iya renn maaf, inii kita datang ke villa yang ada di ujung kota Anvil, kamu tau gak". "Hahhh mau apa kesana, kalau tau sih tau, karena di kota Anvil hanya terdapat 1 kawasan villa yang di dalam kawasan tersebut terdapat berbagai macam villa, selain itu harganya juga sangat mahal, bahkan ayah ku sendiri pun harus mikir-mikir ketika mau beli villa disana". "Hahhh emang semahal itu renn" "Iya ndraa seriussan, kebanyakan penghuni villa
Setelah Hendra menyembuhkan penyakit pak Slamet dengan 7 jarum putaran naga, Hendra dan juga Reno pun bersantai di dalam rumah bu Ani. Dimana mereka yang sedang asik berbincang, tak sengaja mendengar perbincangan ibu-ibu di luar rumah, hal itu membuat Reno pun memandangi wajah Hendra dengan raut wajah yang tersenyum. "Apa yang kamu pikirkan itu, kenapa kamu melihat ke arah ku dengan eskpresi wajah seperti itu". "Hahahaha tidak aku sangka, ternyata ibu-ibu mengincar mu ndra". "Halahhh udah lah, aneh juga itu ibu-ibu". "Lha lagian perubahan mu ganteng seperti ini" sahut Reno. "Udahh istirahat saja, pulihkan tenaga, nanti langsung lanjut jalan". "Okee baik" dan tak terasa mereka berdua pun tertidur dengan pulas nya di dalam rumah Bu Ani. Ketika waktu sudah menunjukkan pukul 3 sore, Hendra dan Reno pun terbangun dari tidurnya, lantas mereka berdua pun bersiap untuk segera pulang. "Udah bangun ndraa, pulas banget tadi tidur nya". "Hehehehe mungkin karena kecapekan Bu An
Hendra dan juga Reno yang numpang terlebih dahulu di rumah bu Ani untuk beristirahat, di dalam rumah Bu Ani, Hendra pun teringat dengan pak Slamet yang sudah jatuh sakit sedari lama. Lantas Hendra pun meminta Bu Ani untuk mengantarkan nya melihat kondisi dari pak Slamet. "Ini.... kenapa bisa seperti ini, kalau tidak segera di tangani, gak ada waktu satu Minggu pak Slamet tidak dapat di selamatkan" ucap Hendra dari dalam hati nya yang melihat kondisi dari pak Slamet yang sudah sangat parah. Alhasil Hendra pun turun tangan untuk membantu menyembuhkan pak Slamet dengan ilmu pengobatan yang ia miliki. "Ndraa kamu seriuss bisa menyembuhkan bapak" sahut Bu Ani yang ragu-ragu dengan apa yang akan Hendra lakukan, pasalnya bu ani sudah sangat mengenal Hendra sedari kecil. "Tenang saja Bu Ani, aku akan berusaha untuk menyembuhkan pak Slamet, bu Ani tinggal lihat aja" sahut Hendra. "Tapi ndra....." "Sudahh tenang aja bu, percaya aja sama Hendra, pasti nanti Bu ani akan terkejut melihat pe
Asep yang sudah sangat kesal dengan Hendra, ia pun langsung menyuruh semua anak buahnya untuk segera menghabisi Hendra. Sedangkan Hendra sendiri yang tidak tau harus melawan orang-orang yang membawa senjata tajam itu dengan cara apa, tiba-tiba ia pun melihat sepotong kayu di bawah kaki nya, lant
Hendra yang menjual babi yang ia dapatkan di gunung, babi itu pun dibeli oleh bos Cahyo dengan harga 200.000 ribu. Mendapati uang sebanyak itu, Hendra pun masih tidak menyangka dengan uang yang ia dapatkan ini. "Terimakasih bos, kalau gitu aku pergi dulu". "Okee sama-sama, besok kalau ada bab
Hendra dan juga Hani yang bingung bagaimana cara mereka menghabiskan banyak daging yang di dapatkan pada hari ini, akhirnya Hendra pun terpikirkan sebuah ide. "Kalau gitu aku jual saja di pasar, siapa tau dapat uang dan lumayan buat kita jajan". "Wahh iya itu kak benar, sekalian bisa melunasi u
Hendra dan juga Hani yang akhir-akhir ini kerap berpergian di gunung, mereka berdua pun menjadi bahan omongan oleh ibu-ibu yang sedang berbelanja di warung Bu Ani di pagi hari. Hendra dan juga Hani yang sudah sampai di area pegunungan, mereka berdua langsung menbagi tugas. "Han gini aja, kamu c







