ログインBunda benar-benar ingin Mas Tian bersama Giselle. Dan Mas Tian... Ia mengatakan akan mempertimbangkannya. Aku menunduk, berusaha menahan air mata yang mulai memenuhi pelupuk mataku. Aku tidak boleh menangis di sini. Tidak di depan mereka. Aku menarik napas panjang beberapa kali sebelum akhirnya mengusap sudut mataku. Setelah merasa sedikit lebih tenang, aku kembali menuju ruangan. Begitu pintu kubuka, semua orang langsung menoleh kepadaku. Bunda tersenyum. “Lama sekali, Sayang?” Aku membalas senyumnya. “Tadi agak ramai di toilet.” Bunda mengangguk. “Duduklah.” Aku kembali ke tempat dudukku. Aku berusaha bersikap seperti tidak terjadi apa-apa. Mas Tian yang duduk di seberangku langsung menatapku. Tatapannya membuatku sedikit gugup. Seolah ia menyadari ada sesuatu yang berbeda dari diriku. Aku memilih menunduk dan mengambil gelas air. Aku meneguknya perlahan. “Rania.” Suara Kak Giselle membuatku menoleh. Ia tersenyum manis. “Iya, Kak?” “Kamu kuliah di mana?” A
Aku sama sekali tidak tahu akan makan malam dengan siapa malam ini. Bunda hanya mengatakan bahwa aku harus ikut makan malam bersama keluarga. Tidak ada penjelasan lebih lanjut. Aku sempat bertanya, tetapi Bunda hanya tersenyum dan mengatakan bahwa semuanya akan aku ketahui setelah sampai di restoran. Entah kenapa, jawaban itu justru membuatku semakin penasaran. Apalagi setelah percakapan kami semalam. Tentang seseorang yang ingin diperkenalkan Bunda kepada Mas Tian. Aku mencoba membuang pikiran itu jauh-jauh. Mungkin saja makan malam ini hanya berkaitan dengan urusan bisnis. Mungkin aku terlalu banyak berpikir. Sore itu, kami berangkat menuju restoran secara terpisah. Papa dan Bunda naik mobil mereka sendiri. Sementara aku diminta ikut bersama Mas Tian. Aku berdiri di samping mobilnya ketika Mas Tian membukakan pintu untukku. “Masuk.” Aku mengangguk kecil. “Terima kasih, Mas.” Aku masuk ke dalam mobil. Mas Tian kemudian berjalan ke sisi pengemudi dan masuk beberapa d
Suasana di meja makan malam terasa tenang seperti biasa.Lampu kristal di atas meja memancarkan cahaya hangat yang memantul di permukaan piring porselen dan gelas kristal. Bau lembut sup jamur dan daging panggang memenuhi ruangan, tapi aku hampir tidak merasakannya.Bunda menyendok sedikit salad ke piringnya dengan gerakan yang tenang, sementara Papa berbicara tentang beberapa pertemuan bisnis yang akan datang di Singapura dan Amsterdam.Mas Tian menjawab singkat dan sopan, wajahnya kembali datar, seolah beberapa menit sebelumnya kami tidak berdiri berhadapan di kamarku dengan kenAku mencoba fokus pada makananku.Tapi setiap kali sendok beradu dengan piring, aku merasa seolah suara itu terlalu keras di telinga.Jari-jariku sedikit gemetar ketika memotong daging. Rasa bersalah yang sejak pagi menggerogoti kini bercampur dengan kecemasan yang lebih dalam, seolah ada sesuatu yang akan pecah kapan saja.“Tian,” kata Bunda tiba-tiba, suaranya lembut namun jelas, memutus percakapan Papa.
Pagi datang dengan rasa bersalah yang menusuk. Aku terbangun lebih dulu di ranjang Mas Tian. Tubuhku masih terasa pegal, leher dan dadaku penuh jejak yang ditinggalkannya semalam. Aku menatap wajahnya yang tertidur tenang di sampingku, lalu perlahan menyelinap turun dari ranjang. Aku harus kembali ke kamarku sebelum pelayan mulai beraktivitas. Mas Tian mengerang pelan ketika merasakan kepergianku. Tangannya sempat meraih udara kosong, tapi ia tidak terbangun sepenuhnya. Aku memakai kembali piyama dan cardiganku dengan tergesa, lalu keluar tanpa suara. Lorong masih sepi. Begitu sampai di kamarku, aku langsung masuk ke kamar mandi dan berdiri di bawah air dingin. Aku membiarkan air itu mengalir di tubuhku, seolah bisa mencuci bersih jejak semalam. Tapi tidak. Jejak itu masih ada.
Pagi Senin datang terlalu cepat. Aku terbangun lebih dulu dari Mas Tian. Sinar matahari sudah menyelinap masuk lewat celah gorden, menyentuh wajahnya yang masih tertidur di sampingku. Lengan kanannya masih melingkari pinggangku, seolah bahkan dalam tidur ia enggan melepaskanku. Aku menatapnya lama. Dalam dua hari di tempat ini, aku sudah hafal setiap detail wajahnya dari dekat. Bulu mata yang lentik, garis rahang yang tegas, bahkan sedikit bekas luka kecil di dekat alisnya yang biasanya tidak kelihatan. Dadaku sesak. Hari ini kami harus kembali. Mas Tian mengerang pelan, lalu membuka mata. Pandangannya langsung menemukan wajahku. Ia tersenyum tipis, masih setengah mengantuk, lalu menarikku lebih dekat dan mengecup keningku. “Pagi,” bisiknya serak. “Pagi, Mas…” Ia terdiam sejenak, menatapku seolah ingin mengucapkan sesuatu. Tapi akhirnya ia hanya menghela napas dan bangkit duduk. “Kita harus pulang.” Aku mengangguk pelan. “Iya.” Suasana di penthou
Aku terbangun dengan tubuh yang terasa sangat hangat.Bukan karena selimut.Melainkan karena lengan yang masih melingkari pinggangku dengan erat.Napas Mas Tian terasa di tengkukku.Pelan.Stabil.Seolah ia sudah lama berada di posisi itu, menjaga diriku yang tertidur.Aku menahan napas. Tidak berani bergerak.Beberapa detik berlalu sebelum aku mendengar suaranya yang serak pelan.“Sudah bangun?”Aku mengangguk kecil, masih membelakanginya. “Iya…”Mas Tian tidak langsung melepaskanku.Ia justru menarikku sedikit lebih dekat, hingga punggungku sepenuhnya menempel di dadanya.“Hujannya sudah berhenti,” bisiknya. “Tapi kamu tidur dari malam sampai sekarang.”Aku tersipu. “Maaf… aku tidak sadar.”“Tidak usah minta maaf.” Jemarinya mengusap pelan perutku di atas kain baju.“Aku yang membiarkanmu tidur.”Keheningan menyelimuti kami.Hanya detak jantungnya yang kudengar, dan detak jantungku sendiri yang semakin kencang.Akhirnya Mas Tian menghela napas pelan, lalu melepaskan pelukannya.Ia d







