首頁 / Romansa / DENDAM CINTA MASA LALU / BAB 3 PULANG KE YORKSHIRE 

分享

BAB 3 PULANG KE YORKSHIRE 

作者: Jemyadam
last update publish date: 2025-10-22 19:52:16

BAB 3 PULANG KE YORKSHIRE

  Musim semi selalu berhasil membangkitkan Yorkshire dari tidur panjang musim dingin dengan cara yang memukau. Bunga bluebell dan primrose bermekaran liar di sepanjang jalan menuju tanah kelurga Loghan. Semburat warna ungu dan kuning yang kontras dengan hijau rumput, menghampar seperti permadani raksasa di bawah naungan langit.

Sebuah mobil hitam melaju mulus membelah satu- satunya jalanan aspal yang semakin menyempit. Aron Loghan menatap ke luar dari balik jendela kaca mobil mewahnya. Duduk diam dan tegak, seolah enggan bersentuhan dengan apa pun di luar jendela. Tapi tatapan matanya tajam, melesat jauh, seperti sedang mencari sesuatu yang tidak ingin ia temukan.

Musim semi di Yorkshire memang tidak pernah kehilangan pesonanya. Di masa kecilnya, Aron pernah memuja tanah itu seperti seorang anak memuja negeri dongeng. Sekarang Aron menarik napas dalam-dalam, bukan untuk menikmati udara segar pedesaan, melainkan untuk meredam sesuatu yang menggeliat di dadanya.

Aron memalingkan wajah dari jendela, mencoba menahan denyut emosi yang tiba-tiba datang menyerbu bagai badai musim dingin. Tidak ada senyum, wajahnya kaku, beku seperti serpihan es tajam. Rahang kerasnya sempat kembali berdenyut ketika teringat permintaan ibunya.

"Anak-anakku yang lain memilih dunia masing-masing. Tapi kau, Aron... kau tetap Loghan. Kau yang harus kembali. Aku sakit memikirkan mu."

Sebagai putra tertua keluarga Loghan, tanah ini, kastil ini, dan semua warisan leluhur adalah miliknya. Tapi bagi Aron Loghan warisan itu terasa seperti beban berduri, bukan kehormatan.

Tidak pernah ada yang tahu jika seorang Aron Loghan diam-diam menyimpan trauma yang sangat dalam dari cinta pertamanya di tanah ini

*****

Mobil melambat saat mendekati gerbang berukir besi tempa kokoh dengan lambang keluarga Loghan. Gerbang besi setinggi tiga meter itu terbuka perlahan, menyambut sang pewaris yang enggan pulang.

Geby tersenyum hangat melihat kedatangan putranya dengan hati berdebar antusias.

  "Lihat, akhirnya putramu pulang." Geby bicara pada suaminya.

"Jalankan saja misimu, aku tidak mau ikut campur!"

  "Aku hanya ingin Aron segera memilih istri dan memberimu cucu laki-laki sebagai pewaris nama panjangmu!"

*****

Geby menyambut putranya di ambang pintu. Ia tidak berlari memeluk, tidak menangis dramatik, cukup berdiri anggun dengan senyum tenang.

“Kau pulang,” ucapnya lembut, seolah nada itu menyimpan sepuluh tahun penantian.

“Karena kau yang minta, Mom.” jawab Aron singkat. Dingin seperti angin Yorkshire yang berhembus dari balik jendela kaca besar.

“Kau tidak perlu menunggu aku sakit untuk kembali ke rumahmu sendiri.”

Aron menatap ibunya, cukup lama untuk menyadari bahwa tak ada tanda-tanda sakit serius. Tidak ada wajah yang mengerut lebih dalam. Tidak ada kantung mata letih atau tubuh yang melemah.

"Kau terlihat lebih sehat daripada suara di telepon, Mom.” ucap Aron, nada suaranya datar.

Geby menatap tajam. “Karena aku tidak pernah benar-benar sakit, Aron.”

Aron mendengus kecil, ekspresi di wajahnya nyaris tidak berubah. “Jadi ini semua hanya untuk memancingku pulang?”

Geby menyilangkan tangan di depan dada. “Untuk menyelamatkanmu.”

“Dari apa?"

“Dari kesepian, dari ketakutan yang kau sembunyikan di balik pekerjaan, dari keputusan sembrono yang hendak kau ambil demi seorang bayi.”

Aron terdiam. Kali ini, diamnya bukan karena dingin, tapi karena tidak siap mendengar bahwa ibunya sudah tahu segalanya.

“Aku berbicara dengan Chatrine,” lanjut Geby. “Aku tahu rencanamu, Aron. Kau ingin anak laki-laki. Tanpa pernikahan. Tanpa komitmen. Kau ingin memotong seluruh proses manusiawi dan menggantinya dengan kontrak hukum.”

“Karena pernikahan bukan jaminan kedamaian,” jawab Aron. “Lebih mudah membeli komitmen dengan sejumlah uang.”

Geby menatap putranya dalam diam. “Itu kalimat dari pria yang egois, bukan dari pria yang siap menjadi ayah.”

Aron berjalan ke arah jendela besar, menatap perbukitan dan langit yang terhampar luas. “Aku tidak butuh drama dalam hidupku. Aku butuh kejelasan. Struktur. Kendali.”

“Dan kau pikir seorang bayi bisa tumbuh sehat di dalam rahim yang dipilih dari hasil seleksi wawancara seperti mempekerjakan sekretaris?”

“Justru karena itu aku butuh yang terbaik.”

“Kau tidak sedang memilih pendonor ginjal, Aron. Ini tentang kehidupan. Tentang darahmu sendiri.”

Aron membalikkan badan, menatap ibunya. “Mom... aku tidak akan menikah. Aku tidak membutuhkan pernikahan cuma untuk memberikan pewaris laki-laki untuk keluarga ini. Bayi bisa dihasilkan dari laboratorium, jauh lebih mudah dan aman."

Geby melangkah perlahan mendekati putranya, menatapnya lembut, tapi tetap kuat. “Karena itu aku ingin kau pulang. Agar kau ingat memiliki rumah, ingat memiliki keluarga, ingat memiliki ayah dan ibu. Bukan laboratorium rumahsakit seperti yang kau rencanakan sebagai jawaban utuk anakmu kelak ketika dia bertanya tentang ibunya."

Aron tertunduk. Entah karena lelah, atau karena akhirnya merasa kalah dalam debat yang tidak pernah ia niatkan.

Dari sudut ruangan, Jeremy mengamati percakapan mereka. Dia tidak ikut campur, seperti janjinya. Tapi Jeremy ikut mendengar semua.

Geby menoleh pada Jeremy. “Kau tidak ingin mengatakan sesuatu?”

Jeremy menghela napas. “Kau yang ingin menjebak putramu dengan drama, sekarang jalankan misi besarmu.” Ia menatap Aron sebentar, kemudian menambahkan, “Tapi jangan lupa, pria Loghan selalu punya caranya sendiri untuk memberontak.”

Geby mengabaikan komentar Jeremy, lalu kembali fokus pada putranya. “Dengarkan aku, Aron. Kau butuh keseimbangan dalam hidup. Semua kendali yang kau punya di dunia, tidak akan bisa menggantikan sentuhan seorang istri. Atau senyum anakmu yang lahir karena cinta, bukan rencana.”

Aron tidak menjawab.

Geby lalu mengangkat dagunya sedikit, penuh tekad. “Kau akan tinggal di sini sementara waktu. Aku akan mengatur pertemuan. Bukan dengan dokter, tapi dengan wanita sungguhan. Aku akan mengadakan pesta, mengundang beberapa sahabat lama dengan putri mereka. ”

Aron tertawa pendek. Kering. “Dan kau ingin aku menjadikannya pesta audisi perjodohan?”

“Bukan. Aku hanya ingin kau duduk, berbicara, dan merasakan sesuatu yang nyata. Untuk sekali ini saja demi ibumu!"

Aron menatap ibunya. Tak menjawab. Tapi untuk pertama kalinya Aron Loghan menemukan tatapan keras yang tidak dapat dia kalahkan.

"Atur saja semuanya, aku mau istirahat."

Aron tidak perlu tahu jika diam-diam Geby juga sudah mengundang Chatrine untuk datang ke Yorkshire.

*****

在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP
評論 (4)
goodnovel comment avatar
Fransiska
bukannya anaknya geby sm Jeremy kembar 5 ya kalo gak salah ingat
goodnovel comment avatar
Runituendahsuryani Tau
kak jemy sayangnya aku,tolong lanjutin me and prince lagi di GN dong
goodnovel comment avatar
heni nuneo
knp aku mikir nya jeremy masih muda yaa.. apalagi sifatnya yg ga berubah ...
查看全部評論

最新章節

  • DENDAM CINTA MASA LALU    BAB 170 EXSTRA PART

    BAB 170 EXSTRA PARTMusim semi kembali menyapa Yorkshire dengan kelembutan yang hanya bisa dihadirkan oleh bumi yang tengah bersyukur....Benih yang mati dan kering kembali tumbuh hidup setelah tersiram hujan dari langit.Kuntum-kuntum bunga liar bermekaran di sepanjang lereng bukit, menyemai warna-warni yang lembut... ungu lilac, merah muda pucat, kuning buttercup, dan putih daisy yang bergoyang lembut tertiup angin. Udara membawa aroma tanah basah dan harum bunga liar, dibalut cahaya matahari yang hangat dan tenang. Burung-burung kecil bersahutan dari dahan ke dahan, menciptakan irama pagi yang menggema ke seluruh lembah.Tanah keluarga Loghan, terbentang luas dari kaki hingga puncak perbukitan, terhampar hijau sejauh mata memandang. Kabut tipis pagi perlahan menguap, membuka pandangan akan padang rumput yang tenang, pohon-pohon tua yang rindang, dan kastil tua yang berdiri megah seperti istana. Jendela-jendela besar dibuka lebar, membiarkan angin musim semi ikut masuk membawa serta

  • DENDAM CINTA MASA LALU    BAB 169 PULANG KE YORKSHIRE

    BAB 169 PULANG KE YORKSHIRESenja baru saja turun di langit Yorkshire. Cahaya keemasan menimpa dinding batu tua rumah besar keluarga Loghan yang berdiri kokoh di tengah hamparan padang rumput. Atmosfer musim panas membuat sore terlihat masih benderang.Aron Loghan berdiri tegak di ruang utama, ruang tamu dengan langit-langit tinggi, jendela kaca besar, dan lampu gantung kristal yang berkilauan. Eva ada di sampingnya, mengenakan gaun lembut warna pastel yang sedikit agak longgar dan ringan. Kedua tangan mereka saling menggenggam. Meski wajah Eva tampak tegang, matanya berkilat gugup sekaligus bahagia.Di hadapan mereka, Geby sedang tersenyum memberi sambutan hangat dan pelukan."Jangan terlalu erat,Mom." Aron menegur ibunya yang sedang memeluk Eva. "Nanti istriku sesak nafas, kurang oksigen.""Oh, kau bicara apa?!" Geby melotot pada cara bercanda Aron."Di perut Eva sedang ada calon cucumu."Tangan Geby langsung reflek menutup mulut, air matanya nyaris menetes karena terlalu terkejut

  • DENDAM CINTA MASA LALU    BAB 168

    BAB 168TIGA BULAN BERIKUTNYAPagi di pulau tropis terasa begitu hangat. Matahari baru saja naik dari ujung timur, memantulkan cahaya keemasan di permukaan laut biru yang bergelombang tenang. Angin laut yang lembut mengibaskan tirai tipis kamar resort pribadi itu, membawa aroma asin bercampur wangi bunga tropis.Di dalam kamar, Eva masih bergelung di atas ranjang besar dengan seprai putih kusut. Rambut cokelatnya terurai, pipinya menempel pada bantal, matanya terpejam lelah setelah semalaman bercinta dalam berbagai pelukan, desahan, dan bisikan cinta yang nyaris membuat tubuhnya remuk tapi bahagia.Pagi-pagi Aron sudah segar dengan kemeja putih tipis dan celana santai linen, berjalan menghampiri ranjang. Senyum lembut mengembang di wajah tampannya yang terlalu aristokrat. Ia duduk di tepi ranjang, jemarinya menyibak rambut Eva dengan penuh sayang sebelum mengecup keningnya.“Apa kau tidak ingin berjemur?” suaranya rendah, serak, namun terdengar hangat.Eva hanya menggeliat pelan di ba

  • DENDAM CINTA MASA LALU    167 CHATRINE & LIAM

    167 CHATRINE & LIAMMalam itu kastil megah keluarga Loghan mulai meredup dari hiruk pikuk pesta. Lampu kristal di aula besar sudah dipadamkan, hanya beberapa lilin dan lampu taman yang masih menyala di jalur setapak menuju sayap kastil. Para pelayan, yang sejak pagi sibuk melayani keluarga bangsawan, sudah beristirahat di kamar masing-masing.Udara malam terasa sejuk, langit begitu cerah. Rembulan menggantung tinggi, ditemani taburan bintang yang berkelip di angkasa. Dari kejauhan terdengar suara serangga malam berpadu dengan desir angin yang melewati pepohonan di perbukitan rendah. Kastil keluarga Loghan yang megah dan anggun kini berdiri sunyi, seolah menjadi saksi bisu rahasia keluarga dari generasi ke generasi.Liam, yang tidak bisa tidur, memutuskan keluar dari kamarnya untuk berjalan ke teras samping. Ia hanya ingin menghirup udara segar, menjernihkan kepalanya yang penuh dengan berbagai pikiran. Namun langkahnya terhenti ketika melihat seseorang sudah berdiri di sana.Chatrin

  • DENDAM CINTA MASA LALU    BAB 166

    BAB 166Eva masih terbaring di dada Aron, matanya setengah terpejam, napasnya masih belum sepenuhnya teratur. Aron menyibakkan helaian rambut basah istrinya, lalu menempelkan kecupan singkat di dahinya.“Kita benar-benar akan terlambat,” gumam Eva sambil meringis kecil, meski senyumnya belum juga hilang.Aron mengangkat wajahnya, menatap istrinya dengan mata berkilat penuh kemenangan. “Kalau mereka tahu alasan kita terlambat, mungkin mereka akan memaklumi.”Eva langsung menepuk pelan pipi suaminya. “Jangan konyol! Mereka semua datang jauh-jauh untuk kita.”Aron menggetarkan tawa rendah, lalu bangkit dari ranjang begitu saja. Berdiri telanjang tanpa canggung, tubuhnya yang masih basah oleh keringat sempat membuat Eva ingin mengelak tak percaya. Mereka berdua benar-benar baru mandi peluh lengket bersama.Dengan santai, Aron membopong tubuh Eva ke kamar mandi sambil terus dia lumat bibirnya.“Cukup, Aron! Satu ciuman lagi, dan kita tidak akan pernah sampai ke meja makan.” Eva mendorong d

  • DENDAM CINTA MASA LALU    BAB 165

    BAB 165Sementara Eva masih pergi ke makam ibunya... Liam kembali ke kamar tamu. Kamar tamu pun sangat luas dan mewah.Liam menutup pintu kamar perlahan. Aroma kayu tua bercampur wangi bunga segar dari vas di meja kecil memenuhi udara. Tatapannya langsung jatuh pada beberapa stel pakaian baru yang sudah tersusun rapi di atas ranjang... kemeja berwarna lembut, celana formal yang digantung dengan rapi, bahkan dasi yang dilipat sempurna dan satu kotak pakaian dalam pria.Liam merasa sedikit terganggu membayangkan siapa yang telah menyiapkan pakaian seperti itu untuknya.Di atas tiap stel pakaian dalam memo masing-masing. Salah satunya tertulis..."Untuk makan malam."Liam membaca tulisan tangan Chatrine yang sangat cantik dan rapi.Hanya beberapa kata sederhana, namun cukup membuat dada Liam terasa getir. Ia mengambil memo itu, menimangnya sejenak, lalu reflek menyelipkannya di saku kemeja.Liam kembali memperhatikan pakaian barunya yang harum, licin dengan aroma parfum yang sangat masku

  • DENDAM CINTA MASA LALU    159 KEMBALI DI DEPAN PERAPIAN

    159 KEMBALI DI DEPAN PERAPIANBeberapa bulan yang lalu Aron sengaja menyelipkan foto lama itu utuk Eva temukan. Sebuah trik yang licik namun cerdas untuk mendapatkan istrinya kembali, sekaligus membuat Eva paham dengan segala penderitaan Aron tanpa harus bercerita.Aron masih ingat dengan jelas, ma

  • DENDAM CINTA MASA LALU    BAB 157 MUSIM SEMI

    BAB 157 MUSIM SEMINEW YORK...Musim semi akhirnya tiba, di tengah kota metropolitan yang penuh hiruk pikuk. New York menyambut musim baru dengan berbagai kesibukan yang tidak dapat di tunda.Langit yang semula kelabu, hampir satu pekan ini terus makin benderang. Ranting pohon-pohon yang sebelumnya

  • DENDAM CINTA MASA LALU    BAB 156 DUKUNGAN DARI EVANKA DAN LIAM

    BAB 156 DUKUNGAN DARI EVANKA DAN LIAM[Aku dan Aron akan bercerai musim semi ini]Eva menatap layar ponselnya dengan jantung berdebar kencang. Setelah ia mengirim pesan terakhir tentang perceraiannya, ia menggigit bibir, menyesali sedikit tindakannya. Tetapi sudah terlambat, pesan itu terkirim.Tid

  • DENDAM CINTA MASA LALU    BAB 153 MOMEN BERDUA

    BAB 153 MOMEN BERDUAUdara pedesaan Canterbury pada malam tahun baru terasa begitu dingin hingga tiap hembusan napas membentuk uap kabut tipis. Salju turun perlahan, menutup atap rumah-rumah batu tua, pagar kayu, dan jalan setapak yang sepi. Dari kejauhan, lonceng tua berdentang, bergema menyatu de

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status