LOGINBAN 2 GEBY
Proses seleksi berjalan intens. Chatrine duduk tegak di ruang rapat pribadi lantai 85, di hadapannya deretan wanita berpenampilan mengesankan. Semuanya cantik, cerdas, dan memiliki latar pendidikan mengesankan. Beberapa berasal dari keluarga diplomat, lainnya doktor muda dari universitas Ivy League. Kriteria yang Aron tetapkan dijaga ketat. * Tidak boleh terlalu muda. * Tidak boleh terlalu ambisius. * Tidak boleh terlalu haus sorotan. Namun, semakin banyak yang duduk di hadapannya, semakin hampa perasaan Chatrine. Tak satu pun dari mereka yang cukup memenuhi kriteria. Chatrine sedang memeriksa berkas salah satu kandidat saat pintu lift pribadi berbunyi. Seorang wanita elegan muncul, berjalan anggun dengan aura yang langsung menyita perhatian seluruh ruangan. Gabriela Loghan. Rambut gelapnya disanggul rapi, matanya kelabu tajam penuh wibawa. Meski usianya sudah mendekati enam puluh, Geby tetap terlihat menawan dengan mantel krem panjang dan syal sutra halus di leher. Geby tidak perlu membuat janji apa pun utuk bertemu putranya. “Chatrine?” sapa Geby pada sekretaris Aron. Chatrine berdiri refleks. “Mrs. Loghan, sungguh kejutan melihat Anda hari ini.” “Aku baru saja melewati Madison Avenue dan teringat belum pernah melihat kantor baru Aron. Jadi kupikir, mengapa tidak mampir?” Senyum tipis Geby mengambang, menunjukkan kesan ibu yang lembut dan hangat. "Mr. Loghan sedang dalam pertemuan di luar." Chaterine memberitahu, kemudian melirik arloji di lengannya. "Setengah jam lagi baru kembali." "Aku akan menunggu!" Geby lanjut melirik ke sekeliling ruangan, melihat ada hampir dua puluh wanita muda cantik sedang duduk berbaris dalam antrian. “Sepetinya ini bukan suasana biasa. Kau sedang merekrut karyawan baru?” Chatrine terdiam sesaat. Dia tahu tidak akan bisa berbohong kepada wanita cerdas setajam Geby. “Ya, semacam itu.” Chaterine menarik napas. “Ini permintaan mendadak dari Mr. Loghan.” Geby menaikkan alis. “Permintaan seperti apa?” Chatrine ragu sejenak, lalu memutuskan untuk menjawab dengan jujur. “Mr. Loghan meminta saya mencari wanita untuk menjadi ibu pengganti bagi ahli warisnya.” Hening. Tatapan Geby tak berubah, namun tubuhnya membeku. “Ibu pengganti?” ulang Geby dalam pertanyaan menggantung. Chatrine mengangguk, penuh kehati-hatian. “Tanpa pernikahan. Hanya kontrak. Syarat utamanya wanita itu harus bersedia mengandung anak laki-laki, dan melepas hak penuh setelahnya.” Sejenak Geby tak mampu berkata apa pun. Matanya menatap kosong ke arah jendela besar. Kemudian tanpa sepatah kata, Geby membalikkan tubuhnya dan melangkah keluar begitu saja. Tidak sempat bertemu Aron. Tidak sempat menoleh kembali. Tidak sampai satu jam kemudian, sebuah mobil klasik berwarna navy berhenti di depan rumah tua bergaya Victoria di Upper East Side. Geby masuk tanpa melepas mantel. Di ruang baca, Jeremy Loghan tengah duduk di kursi favoritnya, membaca dengan secangkir kopi seperti setiap pagi. Tanpa menurunkan kacamata, ia bertanya datar, “Ada apa? Kau tampak seperti hendak menggugat dunia.” Geby menutup pintu ruang baca dengan gerakan pelan namun penuh tekanan. “Jeremy. Putra kita Aron, berencana memiliki anak lewat ibu pengganti,” Geby bicara tegas, nyaris gemetar. “Tanpa menikah. Tanpa membentuk keluarga. Hanya dengan bayi tabung.” Jeremy menurunkan gagang kacamata. Tapi pandangannya tetap netral. “Begitu?” “Begitu? Itu saja yang kau katakan?” Geby nyaris tidak percaya dengan ucapan suaminya yang terlampau santai. “Apa lagi yang perlu dikatakan? Dia lelaki dewasa.” “Tidak, Jeremy. Ini bukan sekadar keputusan pribadi.” Geby mulai berjalan mondar-mandir. “Aron tidak pernah terlihat dekat dengan satu pun wanita. Tidak pernah membicarakan cinta, hubungan, apalagi pernikahan. Dan sekarang dia memutuskan untuk membeli rahim wanita asing demi seorang pewaris?” Jeremy menyesap kopi panasnya. “Setidaknya dia tidak menikahi bintang realitas TV.” “Jeremy, aku serius. Bagaimana jika putramu tidak tertarik pada wanita cantik?" Jeremy menghela napas malas. “Itu tidak mungkin." "Aron sudah tiga puluh delapan tahun, ini sudah sangat tidak sehat!" "Kau berpikir terlalu jauh. Aron hanya terlalu sibuk.” Geby berhenti, menatap suaminya tajam. “Tepat. Aron terlalu sibuk. Terlalu dingin. Terlalu logis. Itu sebabnya dia harus kembali ke Yorkshire!” Jeremy tertawa pendek. “Kau tahu dia tidak akan betah. Dia benci kampung terpencil. Bahkan suara burung di halaman belakang membuatnya gelisah ingin kabur.” “Aku tidak akan meminta Aron untuk menetap. Hanya tinggal untuk berlibur.” "Dia akan pilih berlibur ke Monaco." Jeremy terus mematahkan semangat Geby. "Aron perlu rumah, perlu keluarga yang bisa dia lihat sebagai contoh nyata kehidupan!" Geby berkacak pinggang. “Oke, bagaimana kau akan membujuknya?” Geby menghela napas. “Aku akan berpura-pura sakit.” Jeremy menatap istrinya beberapa detik. “Itu cara rendahan.” “Ya. Tapi efektif. Aku ibunya. Jika aku sakit, dia pasti pulang.” Jeremy kembali memakai kacamatanya. “Semoga kau berhasil.” Geby memutar bola mata. “Kau tidak akan membantuku sedikit pun?” Jeremy lanjut menyibak halaman bukunya tanpa menoleh. “Aku sudah selesai ikut campur sejak dia mengambil alih perusahaan dari tanganku tanpa berkedip. Dia pria dewasa, Geby. Dan kadang, satu-satunya pelajaran yang bisa membuat pria berubah adalah ketika mereka dihadapkan pada pilihan yang tidak bisa mereka kendalikan.” Geby berdiri lebih tegap. “Justru itu. Aku akan menciptakan pilihan untuk putramu.” Jeremy tidak menjawab. Ia hanya menyesap kopinya yang mulai hambar. Geby melangkah keluar ruangan dengan satu keputusan bulat. 'Aron harus pulang ke Yorkshire!'BAB 134 AKHIRNYA KETAHUANSetelah menyingkirkan batang pohon besar yang melintang di tengah jalan, Liam menawarkan tumpangan untuk Chatrine."Kalau mau, ikut denganku. Aku bisa memberimu tumpangan.”Sungguh, Chatrine tidak mau ikut. ingin sekali menolak. Ia ingin berkata bahwa ia akan menunggu di sini, atau berjalan sendiri, atau bahkan menunggu keajaiban lain. Tapi realitasnya kejam. Di tengah badai, dengan ban depan mobilnya yang rusak, tidak ada opsi lain selain menerima tawaran pria berbahaya yang seharusnya ia hindari.“Aku… harus ke bandara. Penerbanganku… dua jam lagi,” ucapnya pelan, berharap Liam menganggap itu alasan untuk tidak ikut.“Akan kuantar,” jawab Liam tanpa sedikit pun keraguan, suaranya dalam, seolah badai di luar hanyalah gangguan kecil.Chatrine membeku sejenak. Ia tak menyangka pria itu akan setuju semudah itu. Pilihan pun sudah tertutup rapat. Dengan anggukan ragu, ia setuju untuk pindah ke pickup Liam.Tanpa banyak bicara, Liam membuka pintu mobilnya, lalu me
BAB 133 BERSAMA PRIA DI TENGAH BADAISuara badai memukul-mukul jendela, gemuruh hujan dan ledakan petir terasa seperti lecutan gila. Liam masih tertancap dalam, sementara wanitanya mulai menggeliat panik."Liam, kita tidak pakai pengaman...!"Liam tetap menumbuk keras, mencengkeram pinggul wanita yang sedang dia tunggangi di atas lantai licin."Oh...kau sangat keras!"Liam terlalu mabuk untuk mendengarkan rintihan. Bibir Liam sibuk berdesis sendiri, meledakan rasa terbakar di sekujur tubuhnya dengan geraman hebat. Pinggul mengejang kaku, bergetar seperti guncangan badai. Pemuda itu bukan hanya sangat keras, tapi juga sangat kuat mengungkit pinggul wanita."Oh, tidak...!"Rasa panas mengalir deras, sudah tidak bisa dihentikan. Terus mengisi, melemaskan otot hingga ke tulang sungsum."Kau bisa membuatku hamil!"Liam baru mencabut dirinya setelah pinggul wanitanya merosot, berguling, menggeliat, menahan perih berdenyut-denyut sementara dia sendiri jatuh telentang di lantai. Pangkal paha
BAB 132 WANITA YANG PERGI TERBURU-BURUPagi datang dengan mengejutkan, menekan seperti udara penat tanpa oksigen.Terlalu banyak meneguk anggur membuat otak Liam sinting, hilang kendali, sulit mengingat dengan benar. Tapi dia yakin sex panas di tengah badai itu bukan sekedar mimpi.Liam bangkit berdiri dengan sekujur tubuhnya yang masih telanjang dan lengket oleh jejak sex. Dia kembali memperhatikan ke sekeliling ruang kerjanya yang berantakan. Botol anggur pecah di lantai, bantal sofa berantakan dan pakaian dalam wanita robek terkoyak di bawah kaki sofa."Oh Tuhan...."Kepala Liam benar-benar gelap, dia tidak ingat samasekali telah bercinta dengan siapa, tapi jelas masih ingat gairah dan rasanya.Setelah sama-sama meledak dalam gairah gila yang sangat liar, Liam ditinggalkan seorang diri dalam kondisi kacau berantakan.Wanita yang pergi terburu-buru?******Evana terbangun lebih dulu. Terbangun dalam tubuh lemas tanpa sisa pakaian. Pinggang terbelit kaki kokoh pria yang juga masih te
BAB 131 DITINGGALKAN SENDIRIANHujan masih mengguyur ringan saat Aron dan Eva pulang dari restoran. Udara lembap membawa aroma tanah dan dedaunan basah khas pedesaan tanpa asap polusi. Mereka baru saja menapaki teras ketika ponsel Aron bergetar di dalam saku celana.Nama Chatrine muncul di layar.Aron lekas menjawab dengan suara tenang, “Ya?”"Anda Harus segera kembali Mr. Loghan." Chaterine bicara dari ujung telepon.Tidak sampai tiga detik ekspresi Aron tiba-tiba berubah. Rahang mengeras tegang, seperti seseorang yang tiba-tiba ditarik kembali ke medan perang.Eva memperhatikan, hatinya mulai merasa tidak enak. “Ada apa?” tanyanya pelan, mencoba mencari jawaban dari sorot mata Aron.Telepon itu berlangsung singkat, tapi setiap kata dari Chatrine seolah memberi beban yang berat. Aron menutup panggilan, menarik napas dalam, lalu menatap Eva dengan keseriusan yang jarang ia tunjukkan.“Ada pekerjaan yang tidak bisa aku wakilkan,” katanya singkat.“Sekarang?”Aron mengangguk lembut namu
BAB 130 CEMBURUAron Loghan benar-benar melepas kemeja serta cena panjang milik Liam. Kemudian dia duduk di sofa. Benar-benar duduk telanjang dengan ereksi mencuat tanpa pakaian dalam."Aron kita tidak sedang tingal di mansion atau pulau privat. Siapapun bisa tiba-tiba berdiri di ambang pintu!"Eva panik, buru-buru memungut bantal dari punggung sofa utuk menutup organ besar di pangkal paha lelakinya."Aku tidak mau memakai pakaian tukang kayu!"Aron tetap santai, membiarkan Eva sibuk menumpuk dua buah bantal. Menekan ereksi Aron yang membuat Eva malu meskipun dia sudah sering bermain mengunakan itu. "Tolong jangan sembarangan membuka celana di rumahku!""Pintunya sudah ditutup." Aron malah memberi tatapan intim. "Buka saja."Aron minta Eva membuka tumpukan bantalnya.Sialnya jantung Eva langsung berdegup kencang. Aron Loghan membuka kakinya lebih lebar, pangkal pahanya meregang, menampilkan otot-otot keras dengan taburan bulu maskulin merata."Aku akan belikan pakaian untukmu."
BAB 129 HANYA BISA DIAM-DIAM MENCINTAI.Antara percaya dan tidak percaya...Ketika seseorang bertekad untuk memperbaiki diri, seringkali ujinya malah datang bertubi-tubi. Nampaknya hal seperti itu yang sedang dialami oleh Aron Loghan. Bahkan akal liciknya pada Liam juga langsung harus dia bayar kontan.Ingat bagaimana kemarin Aron menyabotase listrik di galeri, mengunci Liam di gudang, dan membuat mesin mobilnya mati.Hari ini, akhirnya Aron terpaksa pasrah duduk di sofa, mengenakan kemeja flanel milik Liam yang sedikit kusam. Motif kotak-kotaknya juga terasa asing menempel di tubuh seorang Aron Loghan. Aron merasa seperti badut yang sangat mencolok dengan kemeja bermotif seperti itu, tapi dia terpaksa tetap harus memakainya karena tidak ada pilihan.Akhirnya Liam juga yang menyelesaikan pekerjaan membenahi jendela. Aron hanya bisa mengamati sebagai penonton.Liam bekerja dengan sangat cekatan dan efisien. Aron sempat merasa payah tidak berguna dan kalah.Eva datang membawa nampan ber







