Share

2 - Status

Author: Harina
last update Last Updated: 2025-12-09 18:50:15

Udara di sekitar mendadak hening. Semua mata tertuju pada Anaya. Penuh tanda tanya. Sementara, suara Siska timbul tenggelam. Meskipun belum ada kabar terburuk, kata-kata ‘helikopter jatuh’ bagai firasat yang membekukan otak.

“Anaya?!” Marini memanggil sembari mengguncang lengannya.

Ia tersadar. Dengan mata nanar ia menatap mama mertuanya. Wajahnya pucat pasi.

“Ada apa?” tanya Marini dengan nada cemas.

“Kak Damar … kecelakaan …,” jawab Anaya lirih. 

“Ya, Tuhan!” ucap orang-orang di sekeliling Anaya, nyaris serempak.

Suasana sekejap berubah. Semua menahan diri. Bahkan anak-anak kecil terdiam. Tubuh Anaya terasa ringan, sementara pikirannya melayang-layang. Ia diam saja saat Marini mengambil alih ponsel yang masih menempel di telinganya. 

Selanjutnya, semua terasa seperti mimpi panjang yang bernuansa abu-abu. Keributan di sekitarnya, terdengar mengambang. Kakinya tak menjejak bumi. Dirinya seperti berjarak dengan dunia nyata. Namun ia tak berdaya menguasai kembali kenyataan.  

Bersama mertua dan salah seorang suami kakak iparnya, Anaya pergi ke kantor Damar. Di sana, sudah ada tim krisis yang bertampang tegang. Semua sibuk mencari informasi dan berkoordinasi. 

Anaya menunggu di ruangan yang sudah disediakan bersama keluarga dari pilot dan penumpang lainnya. Cemas dan khawatir seperti kabut pekat yang menggantung.

Menjelang Subuh, Manajer Hubungan Masyarakat perusahaan mengumumkan bahwa kecelakaan helikopter terjadi akibat kerusakan mesin ditambah dengan cuaca yang buruk. Tim Search And Rescue (SAR) berhasil mengevakuasi semua penumpang yang telah tidak bernyawa dalam kondisi yang memprihatinkan, kecuali Damar. Jenazah pria tersebut tidak ada di sekitar lokasi bencana. Hanya sepatu dan jaketnya yang ditemukan mengapung. 

Sebagian besar yang hadir meraung berduka. Anaya termasuk yang tidak. Tidak ditemukannya tubuh Damar, membuatnya berharap, suaminya itu masih hidup.

***

Hari-hari berjalan lambat. Seminggu sudah Anaya menanti berita tentang Damar. Atasannya memberikan cuti tidak terbatas agar ia tidak terbebani pekerjaan selama menjalani dukanya. Ia hampir tidak pernah tidur. Malam itu, ia duduk di sofa, dengan ponsel yang selalu berada di genggaman. 

“Anaya … makanlah dulu.” Marini mendekati. Sejak malam terjadinya kecelakaan yang menimpa Damar, ia tidak pernah meninggalkan menantunya.

Anaya menggeleng lemah. Perutnya tidak menjerit lapar walaupun ia belum makan sejak pagi. “Aku nggak kepengen makan.”

“Tapi, perutmu harus diisi. Sita tadi datang, bawain makanan. Ada sup kepiting dan ayam kungpao. Mau Mama ambilkan?” Marini menawarkan. 

“Nggak usah, Ma. Nanti aku ambil sendiri. Kalau sudah lapar, aku pasti makan.” Anaya menolak dengan nada halus.

Marini duduk di sebelah menantunya. Pandangan keduanya terpaku pada televisi yang menyala. Namun, pikiran mereka tertuju pada satu lelaki yang sama.

“Belum ada kabar dari Papa dan Kak Sita, Ma?” tanya Anaya, memecah kesunyian.

“Belum,” jawab Marini. 

Setiap hari, ayah mertua dan kakak iparnya itu menyambangi kantor Damar dan perusahaan penyedia jasa helikopter. Namun, tak ada perkembangan baru. Tak ada secuil pun jejak baru yang ditemukan.

“Besok, aku mau sewa kapal di Marina. Aku mau ikut mencari Kak Dam Dam." Tanpa sadar Anaya menyebut panggilan khas untuk suaminya yang hanya ia ucapkan jika sedang berduaan saja.

“Kamu mau ikut mencari kemana?” Marini menoleh. “Kalau boleh dan bisa, Mama juga pasti sudah ikut mencari langsung. Nggak betah juga hanya menunggu kabar kayak begini.”

“Mencari ke tempat-tempat yang belum didatangi Tim SAR. Mungkin ke pulau-pulau sekitar,” jawab Anaya.

“Tim SAR pasti sudah mencari ke semua tempat. Mereka orang-orang pintar yang ahli dan punya peralatan lengkap. Mama pernah ditunjukkin foto peta pencarian mereka. Sudah pasti mereka punya perhitungannya.”

“Tapi, kenapa Kak Damar belum ketemu juga?” tanya Anaya.

“Aku nggak tahu.” Marini memencet hidungnya menahan tangis.

Tiga minggu kemudian, Tim SAR menyatakan Damar hilang dan kemungkinan besar telah wafat. Pencarian pun dihentikan.

Orang tua dan kakak-kakak Damar kembali menangis. Anaya tidak mengeluarkan air mata. Jauh dan terpencil di lubuk hatinya, ada keyakinan bahwa suaminya masih ada di suatu tempat.

Sebulan lagi berlalu. Meskipun berat, keluarga Damar memutuskan menerima kenyataan bahwa anggota keluarga mereka itu sudah tiada.

Anaya sudah tentu menolak. “Kak Damar masih hidup!”

“Kalau dia masih hidup, pasti dia  sudah ditemukan atau menghubungi kita mengabarkan keberadaannya.” Marini memberikan alasan.

“Kalau Kak Damar sudah mati, juga pasti ada buktinya.” Anaya menyanggah.

“Bukti langsung memang tidak ada Anaya. Tapi, sudah jelas ‘kan bahwa dia memang ada di dalam helikopter nahas itu. Tim penyelamat sudah menyatakan tidak mungkin dia selamat. Kamu harus mengikhlaskan,” balas Marini.

“Nggak, Ma. Aku belum ikhlas.” Hati Anaya jengkel dengan pendapat mertuanya.

“Kamu harus belajar ikhlas!” Suara Marini meninggi. “Jangan sampai kamu pikir, cuma kamu yang kehilangan Damar. Aku ibunya … yang mengandung, melahirkan dan membesarkan dia. Di antara semuanya, hatiku yang paling hancur karena harus kehilangan anak lelaki satu-satunya.” 

Pernyataan Marini membuat Anaya terdiam. Ia tersindir. Kepedihannya seolah tak ada artinya dibandingkan dengan apa yang dirasakan mertuanya. Namun, mungkin memang demikian nyatanya.

“Aku nggak mungkin bisa ngelupain Kak Damar, Ma.” Anaya berkata lirih.

“Aku nggak menyuruh kamu melupakan dia. Tapi, kita … terutama kamu, jangan sampai larut dalam kesedihan. Kamu harus realistis, jangan meratap terus. Relakan kepergiannya. Jalanmu masih panjang.” Marini memberikan wejangan.

Akhirnya, setelah negosiasi panjang, Anaya mempersilahkan Marini dan keluarga besar Damar, membuatkan acara pemakaman simbolik dengan menguburkan sepatu dan jaket yang ditemukan serta satu set pakaian lelaki malang itu.

Selang seminggu kemudian, Marini memberikan akta kematian Damar. “Kamu simpan ini, kami sudah punya salinannya.”

Anaya terpana menerimanya. Selembar kertas itu seperti penegas berakhirnya hubungan ia dan suaminya. Sekaligus juga, pupusnya harapan Damar akan kembali.

“Dengan surat itu, kamu bisa mengurus klaim asuransi dan pesangon Damar. Papa juga akan membantu urus proses balik nama aset keluarga yang sudah dihibahkan menjadi atas nama kamu. Maaf kalau kamu pikir, kami tidak peka karena membicarakan soal harta peninggalan Damar. Tapi, soal begini memang lebih baik disampaikan terbuka dan tidak ditunda-tunda penyelesaiannya. Kami tidak akan mengusik semua yang menjadi hakmu.” ujar Marini.

Tangan Anaya yang masih memegang akta kematian Damar gemetar. Dadanya sesak.

“Mulai sekarang, kamu jadi wanita bebas. Tentukan masa depanmu sendiri. Kami tidak akan keberatan kalau kamu mencari pendamping hidup lagi.” Marini tersenyum tulus.

Pernyataan Marini membuat Anaya jengah. Tanpa sadar, ia memalingkan muka. 

Sepeninggal mertuanya, Anaya berbaring di kamarnya, termenung. Dirinya yang sudah tidak lagi memiliki ibu sedangkan ayahnya tidak peduli, seketika merasa sendirian. Ditinggal suami, dan dilepas mertuanya. Kepalanya mendadak pusing dan perutnya mual. Semakin ditahan, perutnya semakin bergejolak.

Tertatih ia berjalan menuju kamar mandi, dan memuntahkan isi perutnya hingga lemas. Setelah membersihkan diri, ia duduk di meja rias. Ia iba sendiri memandang pantulan sosoknya di cermin. Mata kuyu, wajah pucat dan rambut yang kusut.

Ketika akan mengambil sisir, matanya teralihkan pada kalender meja. Sudah berganti bulan, tapi ia belum membalik lembarannya. Perlahan ia meraihnya. Ia membaca ulang coretan-coretan yang biasa dibuatnya untuk menandai kejadian atau rencana penting. Sebuah perasaan aneh tumbuh di hatinya kala menyadari waktu terakhir ia mendapatkan haid. Sudah dua bulan berlalu. Ia pasti luput memperhatikan karena harus kehilangan Damar tiba-tiba.

Dengan jantung berdebar, Anaya memesan alat tes kehamilan di apotik yang menyediakan layanan online. Begitu tiba, ia langsung menggunakannya. Lima menit kemudian, ia terperangah.

“Positif … aku hamil?!” 

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • DI ANTARA DUA SUAMI   23 - Terus Terang

    Abizar melirik Anaya melalui kaca spion. Wajah perempuan itu diliputi ketegangan dan ketakutan. Betapa ingin dirinya memeluk dan membisikkan kata-kata lembut untuk menenangkannya.“Anaya, kamu nggak perlu cemas berlebihan seperti itu,” ujar Abizar.“Bagaimana aku nggak cemas … aku nggak ngerti persoalannya!” Anaya berucap keras.“Oke … aku akan cari tempat yang aman dan cerita ke kamu. Tapi, kamu harus tetap tenang dan merahasiakan semuanya!” tegas Abizar.Anaya mengangguk. “Iya.”Abizar mengemudi dengan sikap waspada melintasi jalan yang tidak terlalu padat. Ia memutar balik arah, menuju mall. Ia membawa Anaya ke parkiran basement. Dicarinya tempat yang tersembunyi. Ia tidak mematikan mesin, namun membuka sedikit jendela agar tetap ada udara yang masuk ke dalam kabin mobil.“Ceritakan!” Anaya memerintah.“Sabar!” Abizar melepaskan sabuk pengaman dan memutar separuh tubuhnya, hingga matanya leluasa menatap Anaya.“Aku nggak sabar!” Anaya merengut.Didesak demikian, tidak membuat Abiza

  • DI ANTARA DUA SUAMI   22 - Rahasia Mulai Terkuak

    “Pembunuhan? …. Siapa yang dibunuh?” Suara Anaya bergetar. Jantungnya berdegup kencang.“Seorang pengusaha.”Kepala Anaya pusing. Otaknya pengar seperti habis terpapar cahaya silau yang tajam menusuk mata.“Bagaimana Kak Damar bisa terlibat?” Anaya tidak percaya. Setahunya, Damar tidak pernah memiliki masalah dengan orang lain. Lelaki itu terkenal berperilaku lembut dan santun. “Itu yang sedang kami dalami. Makanya kami mendatangi Ibu. Saat ini, penyelidikan kami mengarah ke Damar sebagai pelaku. Tapi, karena dia sudah meninggal, maka kami mencari keterangan dan pendukung untuk membuktikan sejauh mana keterlibatannya.”Anaya bingung dan khawatir. Jangan-jangan inilah rahasia yang disembunyikan Damar, yang membuatnya bersembunyi, merubah wajah dan berganti nama menjadi Abizar. Bila benar, artinya dirinya telah bekerja sama dan mempercayai seorang penjahat. Tepatnya, pembunuh.“Kami meminta izin memeriksa barang-barang almarhum Damar. Apakah Ibu masih menyimpannya?”Sesuatu di dalam d

  • DI ANTARA DUA SUAMI   21 - Tindak Lanjut Penyelidikan

    Pagi-pagi, Arlo sudah pergi. Meninggalkan Anaya yang enggan bangkit dari tempat tidur. Mood-nya sudah rusak sejak semalam. Sasha pun seperti tertular rasa malas berangkat ke sekolah. Anak kecil itu, menolak disuruh mandi oleh mbak asisten rumah tangga, dan malah pindah ke tempat tidur Anaya, menggulung dirinya di dalam selimut.“Mama … aku nggak mau ke sekolah hari ini. Sekali-sekali, aku kepengen libur.” Sasha berbisik.“Oke … Mama juga ngantuk. Kita tidur aja lagi, ya.” Anaya mendekap anaknya dan kembali memejamkan mata. Tak ada yang berani mengganggu ibu dan anak itu. Abizar juga cuma bisa menahan gelisah karena Anaya tidak kunjung keluar dan memberikan perintah hari ini. Sementara, hari terus berjalan menuju siang.Jam sepuluh, baru Anaya bangun. Itupun karena Sasha mengeluh lapar. Lekas ia bangkit dan menyiapkan makanan untuk mereka berdua. Asisten rumah tangganya memberi tahu bahwa sedari tadi Abizar menunggu arahannya hari ini.“Bilang ke dia, hari ini, aku nggak pergi kemana-

  • DI ANTARA DUA SUAMI   20 - Perasaan Khianat

    “Boleh nggak, Bu?” tanya Lani lagi.“Kenapa harus meminta izin aku?” Anaya merasa janggal. “Ya, karena saya dan Pak Abizar ‘kan sama-sama kerja sama ibu. Saya takutnya ibu bikin aturan sesama karyawan nggak boleh ada yang pacaran.” Lani menjelaskannya sambil tersipu.“Kamu sudah resmi putus sama pacar kamu sebelumnya?” Anaya memastikan hubungan anak buahnya itu yang memang pasang surut.“Sudah, Bu. Bosan saya sudah diselingkuhin terus,” jawab Lani sambil mengeluh.“Nah, kamu sudah cek belum latar belakang Pak Abizar. Kalau dari rambutnya yang ubanan, kayaknya dia sudah cukup pengalaman. Jangan-jangan sudah punya isteri dan anak.” Anaya sengaja menumbuhkan keraguan di diri Lani.“Sudah kutanya, dia bilang pernah menikah. Sekarang sudah pisah dari isteri dan anaknya. Isterinya juga sudah menikah lagi.” Lani membantah keraguan Anaya.Anaya tertegun dengan jawaban Lani. Jika itu yang memang benar dikatakan Abizar, lelaki itu sebenarnya sudah berkata jujur apa adanya. “Kenapa kamu suka

  • DI ANTARA DUA SUAMI   19- Cemburu

    Udara di dalam kamar jadi hening. Anaya diam, sementara Arlo menunggu jawaban. “Kamu sedang ingat dia?” Arlo mengulang pertanyaannya. “Iya.” Anaya menjawab lirih. “Sebenarnya, aku nggak suka waktu kamu bilang bertemu Mama Marini, apalagi menemaninya ke makam” “Kenapa nggak suka?” tanya Anaya. “Nggak suka aja. Kesannya, kamu belum bisa move on dari dia,” jawab Arlo. “Walaupun kita sudah bertahun-tahun bersama, aku sering merasa kalau kamu masih tetap mencintai dia. Padahal, dia ‘kan sudah mati.” Anaya menggigit bibirnya. Apa yang dikatakan Arlo, memang benar adanya. Persoalannya kini, Damar ternyata masih hidup. “Bukankah dulu, sebelum kita menikah, aku sudah pernah bilang soal perasaanku ke dia? Walau bagaimanapun, aku nggak akan pernah bisa menghapus dia dari ingatan aku.” Anaya mengingatkan. “Iya, kamu memang pernah bilang begitu.” “Jadi, kenapa harus jadi masalah kalau aku bertemu dengan keluarga almarhum suami pertamaku dan mengunjungi makamnya? Mereka keluargaku juga …

  • DI ANTARA DUA SUAMI   18 - Bercabang

    “Aku … aku habis dari rumah mama, ngantar makanan … papa lagi sakit.” Anaya tergagap.“Cepat pulang!” perintah Arlo.“Ya, aku ke harus ke kedai dulu jemput Sasha,” elak Anaya.“Aku sudah di kedai, dan akan bawa dia pulang. Kamu langsung ke rumah!” tegas Arlo.“Loh, kok sudah pulang dari Medan?” Anaya heran. Arlo baru tadi pagi pergi, tetapi sore ini sudah kembali lagi.“Aku nggak jadi pergi,” jawab Arlo.“Oke! Aku otewe pulang.” Anaya memutuskan panggilan.Ia tahu bagaimana karakter Arlo. Tak perlu mengkonfrontirnya seketika. Cukup dipatuhi saja perintahnya.Abizar menginjak gas. Tidak perlahan, tapi tidak cepat juga.“Arlo sudah pulang?” tanyanya.“Iya. Katanya dia nggak jadi pergi ke Medan,” jawab Anaya.“Kenapa?” Abizar heran.“Nggak tahu.” Anaya lebih bingung. “Padahal, besok rencananya aku pengen ke rumah kita dulu.”Abizar diam saja. Ia sepertinya tengah memikirkan sesuatu.“Kak, kalau Pak Arlo menanyakan soal kedatangan polisi, bagaimana?” tanya Anaya. “Aku curiga, anak-anak di

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status