Home / Romansa / DI ANTARA DUA SUAMI / 3 - Kedai Pasta

Share

3 - Kedai Pasta

Author: Harina
last update Last Updated: 2025-12-09 18:53:16

Kabar kehamilan Anaya, membuat semua orang senang sekaligus iba. Ia sendiri tertawa bahagia, tapi kemudian untuk pertama kalinya sejak hari kecelakaan, ia menangis. Penantian dan doa panjang agar ia mendapatkan keturunan justru terkabul setelah Damar tiada. 

Marini meminta Anaya tinggal bersamanya, tetapi ditolak tegas. Ia memilih tetap di rumahnya. Mertuanya itu mengalah dan mengirimkan asisten rumah tangga untuk mengurus dan menemani.

Anaya memutuskan keluar dari pekerjaannya. Dengan kehamilannya, ia merasa tidak sanggup bekerja terikat waktu dan dikejar target. Meskipun keluarga Damar berjanji menjamin kebutuhan finansialnya, Anaya tidak mau berdiam diri. Dengan tabungannya, ia berniat membuka kedai pasta dan salad di lokasi bisnis pada kawasan permukiman ia tinggal.

“Kamu lagi hamil, Anaya. Buat apa kerja begitu?” Marini langsung menentangnya.

“Aku bisa gila kalau cuma berdiam diri aja. Lagian dekat dari rumah. juga ada karyawan yang bantu. Ada tukang masak, pelayan dan tukang yang bersih-bersih.” Anaya bertahan. Tak ada yang bisa mencegahnya.

Dalam waktu singkat, Kedai itu menjadi tempat yang ramai dikunjungi. Makanan yang enak, tempat yang nyaman, dan pelayanan yang ramah menjadi daya tarik sendiri pengunjung.

Salah satunya yang sering datang, adalah Arlo. Ia seorang pengusaha berusia tiga puluhan. Entah bagaimana awal mulanya, tahu-tahu lelaki itu sudah menjadi pelanggan tetap yang datang hampir setiap hari.

Ia datang hampir tiap siang, duduk di sudut dan sibuk dengan laptopnya. Lani, pegawai Anaya senang melayaninya, karena tip yang ditinggalkan cukup besar.

Siang itu, Arlo datang lagi. Karena Lani sedang sibuk, Anaya mengambil alih menyambutnya.

“Selamat siang … mau pesan apa hari ini?” tanya Anaya disertai senyum.

Arlo yang baru membuka laptopnya sempat tertegun karena setelah sekian lama, baru kali ini pemilik kedai melayaninya langsung.

“Selamat siang.” Arlo tersenyum. “Bisa pesan tuna salad dan lasagna porsi kecil?”

“Bisa. Ada lagi?” Anaya mencatat.

“Sudah,” jawab Arlo,

“Nggak pesan minum?” Anaya melemparkan matanya ke wajah Arlo. Pandangan mereka bertumbukkan.

“Ya … sebentar.” Arlo menunduk, mengalihkan tatapannya pada daftar menu di atas meja. 

Lama ia membaca, seolah bingung memilih. Anaya dengan sabar menunggu.

“Aku biasanya pesan cappuccino, tapi tadi pagi aku sudah banyak minum kopi. Bisa kasih saran minuman lain?” Arlo menoleh pada Anaya.

“Mungkin bisa coba minuman yang lebih sehat. Kami punya jus buah atau smoothie, teh hijau dan infused water. Jus buahnya sedang ada alpukat, mangga, apel, strawberry, nanas, wortel, kale … maunya apa?” Anaya menyebutkan semua yang tersedia di kedainya.

Arlo diam berpikir. Anaya tidak menyadari bila lelaki itu sengaja melamakan durasi interaksi mereka.

“Jusnya bisa dikombinasi?” tanya Arlo.

“Bisa. Mau kombinasi apa?” Anaya bertanya dengan tetap ramah.

“Kalau apel, enaknya dikombinasi dengan apa?” Arlo tambah dalam menatap Anaya.

“Bisa dengan wortel, nanas, kale juga enak,” jawab Anaya. 

“Oke … apel dengan wortel saja.” Akhirnya, Arlo menyelesaikan pesanannya.

“Baik … akan segera kami siapkan.” Anaya tersenyum.

“Terima kasih.” Arlo terpesona dengan senyuman itu. Ia terus memperhatikan Anaya hingga wanita itu menghilang di balik pintu dapur.

Sejak hari itu, Arlo selalu berusaha mencari cara agar Anaya yang melayaninya langsung. Lani yang kemudian menyadari, hal itu akhirnya memilih mengabaikan bila lelaki itu memasuki pintu kedai.

“Ibu aja. Dia senang kalau ibu yang layani, Kayaknya dia naksir sama Ibu,” kata Lani ketika Anaya mempertanyakan tindakannya.

“Ih, ngaco!” Anaya merengut.

“Ih, aku serius!” Lani bersikeras. “Aku tahu dari caranya dia menatap dan bicara sama Ibu. Penuh pengharapan akan cinta dan kasih sayang.” 

“Sok tahu!” Anaya tidak terpancing dengan kelakar Lani.

“Dia ganteng dan kelihatan lelaki baik. Nggak salah kok membuka diri,” ujar Lani.

Perkataan Lani mengusik Anaya. Statusnya kini adalah perempuan tanpa suami. Benar kata Lani, tak ada yang salah bila ia menjalin hubungan dengan pria lain. Namun demikian, ia haruslah tahu diri. Ia sedang hamil, dan memikirkan mendapatkan pengganti Damar malah membuatnya merasa telah berkhianat. 

Ia jadi penasaran dan menunggu kedatangan Arlo berikutnya. Namun, hingga kedai tutup, lelaki itu tidak muncul. Besoknya dan seterusnya, ia juga tidak datang. Setelah seminggu, Anaya pun melupakannya.

Kandungan Anaya sudah memasuki usia tujuh bulan. Perutnya semakin membuncit, dan ia sudah merasa tak bebas bergerak. Beruntung ia, sebab tidak semua anggota badannya membengkak.

Lani dan yang lainnya, memaksa Anaya untuk duduk mengawasi saja. Ia menurut, sebab Lani mengancam akan mengadu kepada Marini jika ia tetap terlalu aktif. 

Menjelang sore, kedai sepi. Hanya ada tamu dua orang wanita yang asik mengobrol. Anaya duduk di meja kasir, menghitung faktur-faktur pembelian. 

Arlo tiba-tiba muncul. Dengan langkah percaya diri ia masuk, tersenyum pada Anaya dan langsung menuju meja biasanya. 

Lani memberikan kode pada Anaya untuk melayani lelaki itu. Namun, Anaya menolak dengan menunjuk perutnya. Akhirnya, Lani yang menghampiri Arlo. Anaya, kembali fokus pada pekerjaannya.

Ketenangan kedai terganggu oleh kehadiran dua orang pria yang langsung membuat gaduh. Mereka berteriak pada Lani, meminta dilayani cepat. Padahal, gadis itu masih mencatat pesanan Arlo.

Anaya berinisiatif mengambil alih dan menghampiri mereka. 

“Mau pesan apa?” tanyanya.

“Nasi goreng sama sate,” jawab satu pria.

“Maaf, kami tidak menyediakan menu makanan itu.” Anaya menjawab sopan.

“Tempat makan macam apa nggak jual nasi goreng?!” pria itu berteriak dan mengumpat. 

Anaya kaget. Lelaki yang lain ikut membentaknya dengan kata kasar disusul dengan menggebrak-gebrak meja. Anaya menjerit kaget. Tamu yang lain ketakutan, dan Lani segera berlari melindunginya.

Arlo yang sedari tadi memperhatikan, cepat mendekat dan mengecam tindakan kedua perusuh itu. Mereka berdebat ketika diminta keluar. Salah satunya menentang dengan mencoba memukul. Arlo yang sigap, menangkis dan balas menelikungnya. Entah apa yang diucapkannya di telinga lelaki itu, yang sampai membuat keduanya setengah berlari menuju pintu.

Anaya gemetar menyaksikan keributan itu. Jantungnya berdebar cepat hingga dadanya sesak. Lani segera membimbingnya duduk di meja terdekat.

“Mereka itu gila kali, ya!” Lani mengomel.

“Mereka cuma mabuk,” kata Arlo sambil memandangi Anaya. “Kamu nggak apa-apa?”

Anaya tidak bisa menjawab. Dadanya sesak. Arlo duduk di seberang Anaya, menenangkan dan membantunya menata napas. Selang beberapa menit, ia mulai tenang. 

“Terima kasih sudah bantu mengusir mereka itu tadi,” kata Anaya.

“Sama-sama.” Arlo tersenyum.

Lani datang membawakan air minum untuk Anaya. Pelan-pelan ia membantu  meneguknya. Setelah selesai, ia berpaling pada Arlo. “Maaf, Pak. Pesanannya tadi lupa belum saya catat semua.”

Arlo menyebutkan ulang makanan dan minuman yang diinginkannya.

“Mau kembali ke meja sana?” Lani menunjuk ke sudut.

“Boleh aku di sini saja? Sesekali, aku ingin juga makan sambil ngobrol dengan pemilik kedai ini.” Arlo tersenyum berharap.

Anaya jadi teringat dengan penilaian Lani tentang cara Arlo memandang dirinya. Jangan-jangan, gadis itu benar. Anaya jadi dilanda kebingungan. Sambil meraba perut, batinnya bertanya, “Nak, boleh nggak?”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • DI ANTARA DUA SUAMI   23 - Terus Terang

    Abizar melirik Anaya melalui kaca spion. Wajah perempuan itu diliputi ketegangan dan ketakutan. Betapa ingin dirinya memeluk dan membisikkan kata-kata lembut untuk menenangkannya.“Anaya, kamu nggak perlu cemas berlebihan seperti itu,” ujar Abizar.“Bagaimana aku nggak cemas … aku nggak ngerti persoalannya!” Anaya berucap keras.“Oke … aku akan cari tempat yang aman dan cerita ke kamu. Tapi, kamu harus tetap tenang dan merahasiakan semuanya!” tegas Abizar.Anaya mengangguk. “Iya.”Abizar mengemudi dengan sikap waspada melintasi jalan yang tidak terlalu padat. Ia memutar balik arah, menuju mall. Ia membawa Anaya ke parkiran basement. Dicarinya tempat yang tersembunyi. Ia tidak mematikan mesin, namun membuka sedikit jendela agar tetap ada udara yang masuk ke dalam kabin mobil.“Ceritakan!” Anaya memerintah.“Sabar!” Abizar melepaskan sabuk pengaman dan memutar separuh tubuhnya, hingga matanya leluasa menatap Anaya.“Aku nggak sabar!” Anaya merengut.Didesak demikian, tidak membuat Abiza

  • DI ANTARA DUA SUAMI   22 - Rahasia Mulai Terkuak

    “Pembunuhan? …. Siapa yang dibunuh?” Suara Anaya bergetar. Jantungnya berdegup kencang.“Seorang pengusaha.”Kepala Anaya pusing. Otaknya pengar seperti habis terpapar cahaya silau yang tajam menusuk mata.“Bagaimana Kak Damar bisa terlibat?” Anaya tidak percaya. Setahunya, Damar tidak pernah memiliki masalah dengan orang lain. Lelaki itu terkenal berperilaku lembut dan santun. “Itu yang sedang kami dalami. Makanya kami mendatangi Ibu. Saat ini, penyelidikan kami mengarah ke Damar sebagai pelaku. Tapi, karena dia sudah meninggal, maka kami mencari keterangan dan pendukung untuk membuktikan sejauh mana keterlibatannya.”Anaya bingung dan khawatir. Jangan-jangan inilah rahasia yang disembunyikan Damar, yang membuatnya bersembunyi, merubah wajah dan berganti nama menjadi Abizar. Bila benar, artinya dirinya telah bekerja sama dan mempercayai seorang penjahat. Tepatnya, pembunuh.“Kami meminta izin memeriksa barang-barang almarhum Damar. Apakah Ibu masih menyimpannya?”Sesuatu di dalam d

  • DI ANTARA DUA SUAMI   21 - Tindak Lanjut Penyelidikan

    Pagi-pagi, Arlo sudah pergi. Meninggalkan Anaya yang enggan bangkit dari tempat tidur. Mood-nya sudah rusak sejak semalam. Sasha pun seperti tertular rasa malas berangkat ke sekolah. Anak kecil itu, menolak disuruh mandi oleh mbak asisten rumah tangga, dan malah pindah ke tempat tidur Anaya, menggulung dirinya di dalam selimut.“Mama … aku nggak mau ke sekolah hari ini. Sekali-sekali, aku kepengen libur.” Sasha berbisik.“Oke … Mama juga ngantuk. Kita tidur aja lagi, ya.” Anaya mendekap anaknya dan kembali memejamkan mata. Tak ada yang berani mengganggu ibu dan anak itu. Abizar juga cuma bisa menahan gelisah karena Anaya tidak kunjung keluar dan memberikan perintah hari ini. Sementara, hari terus berjalan menuju siang.Jam sepuluh, baru Anaya bangun. Itupun karena Sasha mengeluh lapar. Lekas ia bangkit dan menyiapkan makanan untuk mereka berdua. Asisten rumah tangganya memberi tahu bahwa sedari tadi Abizar menunggu arahannya hari ini.“Bilang ke dia, hari ini, aku nggak pergi kemana-

  • DI ANTARA DUA SUAMI   20 - Perasaan Khianat

    “Boleh nggak, Bu?” tanya Lani lagi.“Kenapa harus meminta izin aku?” Anaya merasa janggal. “Ya, karena saya dan Pak Abizar ‘kan sama-sama kerja sama ibu. Saya takutnya ibu bikin aturan sesama karyawan nggak boleh ada yang pacaran.” Lani menjelaskannya sambil tersipu.“Kamu sudah resmi putus sama pacar kamu sebelumnya?” Anaya memastikan hubungan anak buahnya itu yang memang pasang surut.“Sudah, Bu. Bosan saya sudah diselingkuhin terus,” jawab Lani sambil mengeluh.“Nah, kamu sudah cek belum latar belakang Pak Abizar. Kalau dari rambutnya yang ubanan, kayaknya dia sudah cukup pengalaman. Jangan-jangan sudah punya isteri dan anak.” Anaya sengaja menumbuhkan keraguan di diri Lani.“Sudah kutanya, dia bilang pernah menikah. Sekarang sudah pisah dari isteri dan anaknya. Isterinya juga sudah menikah lagi.” Lani membantah keraguan Anaya.Anaya tertegun dengan jawaban Lani. Jika itu yang memang benar dikatakan Abizar, lelaki itu sebenarnya sudah berkata jujur apa adanya. “Kenapa kamu suka

  • DI ANTARA DUA SUAMI   19- Cemburu

    Udara di dalam kamar jadi hening. Anaya diam, sementara Arlo menunggu jawaban. “Kamu sedang ingat dia?” Arlo mengulang pertanyaannya. “Iya.” Anaya menjawab lirih. “Sebenarnya, aku nggak suka waktu kamu bilang bertemu Mama Marini, apalagi menemaninya ke makam” “Kenapa nggak suka?” tanya Anaya. “Nggak suka aja. Kesannya, kamu belum bisa move on dari dia,” jawab Arlo. “Walaupun kita sudah bertahun-tahun bersama, aku sering merasa kalau kamu masih tetap mencintai dia. Padahal, dia ‘kan sudah mati.” Anaya menggigit bibirnya. Apa yang dikatakan Arlo, memang benar adanya. Persoalannya kini, Damar ternyata masih hidup. “Bukankah dulu, sebelum kita menikah, aku sudah pernah bilang soal perasaanku ke dia? Walau bagaimanapun, aku nggak akan pernah bisa menghapus dia dari ingatan aku.” Anaya mengingatkan. “Iya, kamu memang pernah bilang begitu.” “Jadi, kenapa harus jadi masalah kalau aku bertemu dengan keluarga almarhum suami pertamaku dan mengunjungi makamnya? Mereka keluargaku juga …

  • DI ANTARA DUA SUAMI   18 - Bercabang

    “Aku … aku habis dari rumah mama, ngantar makanan … papa lagi sakit.” Anaya tergagap.“Cepat pulang!” perintah Arlo.“Ya, aku ke harus ke kedai dulu jemput Sasha,” elak Anaya.“Aku sudah di kedai, dan akan bawa dia pulang. Kamu langsung ke rumah!” tegas Arlo.“Loh, kok sudah pulang dari Medan?” Anaya heran. Arlo baru tadi pagi pergi, tetapi sore ini sudah kembali lagi.“Aku nggak jadi pergi,” jawab Arlo.“Oke! Aku otewe pulang.” Anaya memutuskan panggilan.Ia tahu bagaimana karakter Arlo. Tak perlu mengkonfrontirnya seketika. Cukup dipatuhi saja perintahnya.Abizar menginjak gas. Tidak perlahan, tapi tidak cepat juga.“Arlo sudah pulang?” tanyanya.“Iya. Katanya dia nggak jadi pergi ke Medan,” jawab Anaya.“Kenapa?” Abizar heran.“Nggak tahu.” Anaya lebih bingung. “Padahal, besok rencananya aku pengen ke rumah kita dulu.”Abizar diam saja. Ia sepertinya tengah memikirkan sesuatu.“Kak, kalau Pak Arlo menanyakan soal kedatangan polisi, bagaimana?” tanya Anaya. “Aku curiga, anak-anak di

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status