เข้าสู่ระบบPenthouse Perbukitan Sisilia, Pukul 3 Sore.Mobil SUV hitam yang ditumpangi George meluncur cepat memotong gerbang besi tinggi gedung apartemen mewah dan berhenti secara mendadak di pelataran utama.George melompat keluar dari kabin mobil sebelum pintu terbuka sempurna. Pria itu berlari kencang menuju lift khusus yang terhubung langsung ke penthouse Bella.Langkah kakinya yang biasanya tenang dan berwibawa kini terdengar sedikit gemetar dan tidak beraturan saat melintasi lantai marmer. George telah tiba di penthouse.Manik mata birunya menyapu pemandangan di depannya—dan jantung sang Raja Mafia seketika berdesir hebat dalam cengkeraman horor.Lantai lorong dan area ruang tengah menuju kamar utama berada dalam kondisi yang teramat sangat berantakan. Pecahan kaca vas bunga dan cermin rias berhamburan di mana-mana.Meja-meja kaca hancur berkeping-keping, sementara sofa-sofa kulit mahal terbalik dalam kondisi robek-robek parah, memperlihatkan bekas cakaran buas yang disengaja.Namun, satu
Pukul dua sore tepat. Suasana di Kantor Kepolisian Pusat Palermo tampak sibuk dengan lalu lalang para penyidik dan staf administrasi. Sebuah sedan kepolisian berhenti di area parkir. Edoardo melangkah keluar dari pintu pengemudi, ponselnya menempel erat di telinga kanan. Matanya menatap tajam ke arah bangunan markas seraya mendengarkan laporan dari saluran telepon rahasia. Pria di seberang telepon adalah Hardian—seorang mata-mata intelijen kepolisian terpercaya yang sengaja ditugaskan oleh tim Jacobs untuk mengawasi pergerakan keluarga klan Riciteli di kota Roma. "Edoardo, dengarkan aku baik-baik," ujar suara Hardian dari seberang telepon dengan nada yang teramat tegang. "Bella Riciteli... Nyonya Besar klan Riciteli itu telah resmi meninggalkan kota Roma sejak kemarin pagi menggunakan jet pribadi. Dan tujuan penerbangannya adalah Pulau Sisilia!" Edoardo menghentikan langkah kakinya di tengah pelataran parkir. Wajahnya menegang tajam. "Apa?! Bella pergi ke Sisilia?! Apakah kau yak
Sinar matahari tepat berada di puncaknya saat jarum jam menyentuh angka 12 siang. Udara hangat kota Palermo bertiup pelan membawa aroma garam dari laut Mediterania yang tak jauh dari area pusat kota.Sebuah taksi kuning lokal berhenti mulus di pelataran parkir Rumah Sakit Pusat Palermo. Pintu penumpang belakang terbuka cepat, dan Elena Botticelli melangkah keluar dengan tergesa-gesa.Dress kasual sederhananya berkibar tertiup angin sore, sementara tangan kanannya menenteng erat sebuah rantang makanan stainless steel tiga tingkat.Wajah beningnya memancarkan rona kecemasan sekaligus kebahagiaan yang membuncah—pikiran gadis itu sepenuhnya tertuju pada sang kakak yang masih berada di dalam ruang perawatan intensif.Tanpa Elena sadari sedikit pun, hanya berjarak lima puluh meter dari tempatnya berdiri, sebuah sedan SUV hitam bermerek Cadillac Escalade ber-kaca gelap tebal menepi tenang di bawah rindangnya pohon maple yang gugur.Di dalam kabin mewah berpendingin udara yang senyap, George
Sementara itu, di dalam mobil SUV kedua yang mengikut di belakang.Luca duduk di jok depan dengan tubuh kaku bagaikan patung. Di jok belakangnya, terdapat sebuah kandang besi tebal berisikan macan tutul Afrika bernama Luna. Hewan buas itu sesekali menggeram rendah, membuat keringat dingin menetes di leher Luca.DRRRR... DRRRR...Ponsel di saku jas Luca bergetar. Ia buru-buru mengangkatnya. "Hallo?"Suara Genio terdengar dari seberang telepon. "Tuan Luca... saya baru mendapat kabar dari mata-mata di dalam rumah sakit. Detektif Jacobs Botticelli sudah sepenuhnya siuman dan kondisinya dinyatakan stabil oleh tim dokter."Luca mengepalkan tangannya, memaki dalam hati. "Sialan! Kita harus mengeksekusinya lagi nanti malam!""Tidak bisa, Tuan Luca!" tolak Genio cepat. "Pihak kepolisian sudah menempatkan lima detektif bersenjata di depan pintu kamar ICU. Melakukan aksi lanjutan malam ini sama saja dengan bunuh diri!"Luca menggeram frustrasi sebelum mematikan telepon secara sepihak.Pada saat
"Bella sudah sampai di pulau ini..." gumam George seraya menggeram.Istrinya yang tidak stabil dan pencemburu gila itu telah berada di tanah yang sama dengannya. Seluruh rencana pernikahan rahasianya dengan Elena berada di ambang kehancuran total jika Bella sampai mencium keberadaan gadis itu."Dengar, Luca." tegas George, memaksakan otaknya berputar cepat. "Kita harus menunda seluruh rencana mengenai Elena untuk sementara waktu. Aku harus menjinakkan dan meyakinkan Bella terlebih dahulu bahwa tidak ada wanita lain dalam hidupku!""Aku paham, George. Aku akan mengatur makan siang penyambutan yang sangat istimewa untuk Bella," jawab Luca patuh."Ingat," tambah George dengan tatapan mematikan. "Bersikaplah seperti biasa di depan Bella. Jangan sampai ada satu patah kata atau gerak-gerik mu yang memicu kecurigaannya."Pukul tujuh pagi tepat. Bandara Internasional Palermo yang megah dipadati oleh lalu lalang penumpang.Namun, suasana di koridor kedatangan VVIP mendadak berubah menjadi ceng
Suasana Rumah Sakit Pusat Palermo saat jarum jam menyentuh angka dua dini hari terasa begitu sunyi dan mencekam.Binar lampu neon di lorong-lorong utama dipadamkan sebagian, meninggalkan lorong yang diterangi remang cahaya kekuningan.Di dalam ruang ICU Jacobs Botticelli terbaring kaku di atas ranjang medis. Monitor detak jantung berbunyi konstan dengan nada teratur yang rendah: Bip... Bip... Bip...Di balik selang oksigen yang menutupi separuh wajah pucatnya, jari-jari tangan kanan Jacobs mulai bergerak-gerak kecil secara perlahan—sebuah tanda vital bahwa kesadarannya mulai merayap naik kembali dari dasar koma.Sementara itu, di koridor luar ruang ICU, Elena Botticelli tertidur lelap dalam posisi meringkuk di atas kursi besi dingin.Blazer kuningnya dijadikan selimut rakitan untuk menepis hawa dingin ber-AC. Rasa lelah yang teramat sangat serta efek guncangan emosi sejak malam tadi membuat gadis polos itu terlelap dalam gelombang mimpi buruk.Di dekat pintu masuk lorong, Detektif Mia







